
"Tidak biasa saja hanya diganggu saat tidur,"
"Teteh ada kemauan buat ruqyah tanpa paksaan?"
"Tidak ada paksaan justru saya yang memaksa orang tua untuk diijinkan ikut ruqyah ini," kata Rita yang sudah memakai mukena.
"Oalaa hahaha iya iya... sudah wudhu, teteh gunakan baju yang bersih, rendahkan hati kepada Allah SWT, pasrahkan ya teh jangan melawan yang bisa menyembuhkan hanya Allah SWT saja. Teteh sudah memakai mukena agar auratnya tertutup. Teteh punya semacam jimat?" Tanyanya takutnya Rita punya entah bisa jadi diberi oleh seseorang.
"Tidak ada." Jawab Rita mantap.
"Kita sama - sama membaca sholawat dan Hamdalah setelahnya mereka akan membacakan ayat - ayat Al Qur'an dan di akhir akan dibacakan surat Jin."
Disini Rita agak aneh dia hanya ingin jinnya diusir dan tidak perlu diajak berkomunikasi tapi karena belum pernah jadi pengalamannya juga. Kemudian dimulailah mereka semua mulai membacakan ayat Ruqyah, diantaranya :
An Nisa ayat 56, lalu disambung ke ayat 166-169
Al Baqarah ayat 206
Al Maidah ayat 33-37
Al Anfal ayat 9-14
Al Hijr ayat 16-18
Al Isra ayat 110-111
Al Anbiya ayat 70
As Saffat ayat 1-10
Dari atas kepala sampai badan bawah, Ustadz itu seperti meniupkan udara dari bacaan surat - surat tadi sesekali, Ust Vodiy memandangi Rita melihat apakah ada reaksi. Yang Rita rasakan hanya ada yang panas keluar dari punggungnya tapi hanya sedikit.
__ADS_1
"Teh, ada reaksi?" Tanya Ust. Vodiy yang penasaran karena sedari tadi tidak ada gerakkan yang mencurigakan padahal sekelilingnya banyak muridnya yang mengumandangkan ayat beserta alunan gendang. Menurut lo? Memangnya bisa ruqyah dialunkan lagu gendang?
"Paling punggung yang hanya panas saja," jawab Rita tapi tidak mengganggu sih dan sedikit mengantuk.
"Mual?"
"Tidak ada," jawab Rita singkat.
Akhirnya Bapakku membawakan segelas air putih dan Rita pun meminumnya sampai habis. Semua orang menganga melihat Rita yang menghabiskan airnya minumnya begitu juga Bapaknya. Entah kenapa Rita merasa energinya seperti setengah habis padahal hanya diam saja dan mendengar. Biasanya Rita selalu mengantuk tapi ini tidak, Rita menutup matanya dan terus berdoa surat ayat Kursi.
Sekitar 3 jam kemudian, semua anggota istirahat dan melihat reaksi pada Rita tapi Rita tidak merasakan apapun. Guru besarnya berkata, "Jinnya tidak ada. Teteh sendirian sekarang. Pusing?"
"Sedikit sih hanya energi seperti habis. Kenapa ya?" Rita tidak mengerti kenapa energinya seperti hilang setengah.
Ust. Vodiy terheran - heran karena Rita seakan - akan tidak memberikan reaksi yang kebanyakan mereka setelah di ruqyah akan menunjukkan reaksi heboh. Guru besarnya sangat penasaran tentang Rita.
"Saya lihat ada sesuatu di dalam diri anak Bapak," Bapak lalu kaget dan memperhatikan Rita dengan wajah datar.
"Apa itu, Ustadz?" Tanya Bapak yang menenangkan diri.
"Oh, begitu. Yah dia mah memang cuek anaknya mau punya mau tidak lebih inginnya normal sajalah! Memangnya kebanyakannya seperti apa?" Tanya Bapakku keheranan.
"Yah seperti yang Bapak lihat. Murid kami sebagian ada yang punya keistimewaan dan mereka mempelajarinya tapi yang saya lihat ada teteh, dia tidak punya minat sama sekali,"
Rita bertanya - tanya kekuatan macam apa yang tersembunyi lalu guru besar itu duduk menghadap Rita mereka bergantian untuk mencoba mengetes.
"Teh, saya ingin teteh menutup mata dan jangan berpikir apapun. Saya akan mencari tahu apa yang ada di sisi teteh. Kalau ada perasaan apa - apa, katakan "berhenti". Bisa?"
Rita mengangguk. Ust Vodiy kemudian mundur namun dengan pandangan yang sangat aneh. Dalam hati, Rita mengucapkan 'Kenapa bukan guru besar saja yang meruqyah daripada Ust Vodiy? Karena saya tidak merasakan apapun'. Guru besar itu tersenyum dan mulai mengucapkan ayat ruqyah tanpa diiringi murid - muridnya.
"Tidak apa - apa kita bacakan lagi bersama - sama, saya penasaran. Ayo kang, jangan pakai gendang bacakan saja 1 surat," dengan rasa aneh dan sedikit kesal, Ust Vodiy pun akhirnya ikut bersama. Rita menutup matanya dan terus mengucapkan bacaan ayat kursi. Guru besar itu juga menutup mata dan merasakan sesuatu. "STOP! STOP!" Seru guru besar itu, dia menatap Rita dan mundur.
Murid - muridnya terlihat panik sepertinya guru besar mereka melihat sesuatu. Keluar keringat yang lumayan banyak tapi guru besarnya hanya melongo dan mengucapkan, "Astagfirullah, Subhanallah, Allahu Akbar". Semua orang yang disana kebingungan apa yang dilihat oleh guru besarnya? Begitu juga Rita yang tidak tahu kenapa. Tampak Rita melihat di wajah guru besar itu sangat ketakutan seperti sudah melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat.
Jangan - jangan keberadaan jinnya? Setelah itu guru besarnya memberikan kode untuk meneruskan ruqyahnya dan dia duduk di belakang sambil terus menggumamkan Shalawat terkadang Istighfar lalu menundukkan kepalanya. Ust Vodiy kemudian melanjutkan dan akhirnya di bagian terakhir, beliau berkata, "Teh sekarang bagian terpentingnya. Jinnya akan saya undang untuk berkomunikasi, teteh duduk menghadap kiblat dan membacakan surat biasa yang teteh gunakan untuk sholat."
__ADS_1
Rita mengangguk dan duduk menghadap kiblat, depannya terdapat baskom berisi air, sampingnya ada pulpen dan kertas. "Bacakan dalam hati surat rakaat pertama pada solat setelahnya teteh duduk seperti biasa," Rita mengerti dan mengerjakannya. Selesainya Ust Vodiy memperhatikan semua benda di depan Rita tidak ada respon yang diharapkan itu membuat Ustadz semakin kecewa, mungkin merasa dipermainkan tapi Ust lalu memperhatikan pulpennya lalu kertas.
"Tidak ada reaksi ya. Aura teteh bagus sekali cemerlang. Teteh suka baca Al Qur'an, ya?"
"Iya, kalau sedang tidak ada kerjaan," jawab Rita.
"Bagus Teh, banyak sekali orang yang diruqyah tidak pernah mengerjakan sholat meski hanya sekali dalam seumur hidupnya, kalau teteh bagus sekali. Bagaimana perasaan teteh?"
"Lebih enak. Terasa ringan, apa jinnya sudah keluar?"
"Sepertinya sudah. Coba saya pegang pulpen dan kertasnya," Ustadz memegang kertas dan kemudian tiba - tiba terlempar ke samping, murid - muridnya kaget ada apa ya. "Pulpennya panas sekali. Teteh coba pegang takutnya tidak percaya,"
Rita lalu memegangnya begitu juga Bapaknya dan terkejut memang sangat panas.
"Seperti ada yang memegang. Saya pikir jinnya hanya ingin menulis lewat pulpen saja dan kertas. Mungkin dia tidak mau teteh kenapa - kenapa kalau berbicara. Teteh mau lihat dia menulis apa? Silakan teteh duduk lagi, saya akan bacakan surat Jin untuk memanggilnya."
Kemudian Ustadz tersebut komat kamit membacakan surat Jin sebanyak 3x. Guru besar lalu menengadahkan kepalanya dan tampak iba memandangi Rita. Guru besar itu tahu kalau Rita sama sekali tidak menyadari kehadiran "kekuatan" murni itu dan guru besar tampaknya tidak bisa berkata apa - apa lagi.
"Jang, kalian semua selesai tugasnya. Terima kasih sekarang istirahat saja dulu,"
Semua muridnya lalu bubar dan meminum Aqua yang mereka bawa. Sebagian keluar rumah dan berbicara bahasa Sunda, kebanyakan isi obrolan mereka tentang Rita yang tidak bereaksi berlebihan. Tenang tapi aneh. Ada salah satu muridnya yang katanya istimewa tampak enggan berdekatan dengan Rita meski hanya menatapnya. Rita sama sekali tidak menggubris hanya tatapannya ditangkap oleh teman - temannya. Dia langsung menuju keluar rumah dan meminum air, sekilas Rita mendengar obrolan seru mereka.
Meski dengan menggunakan bahasa Sunda, tapi terdengar jelas oleh Rita. Bapaknya sedang berbincang dengan dua orang di ruang tengah.
"Kunaon ai maneh? Sigana sieun ( kamu kenapa? Sepertinya ketakutan )," salah seorang temannya bertanya, kita sebut saja dengan abjad ya.
"Mun maneh tiasa ningali sateuacanana ( coba kalian bisa lihat tadi)," kata anak yang kecil istimewa itu. Terlihat sekali perbedaannya karena badan yang kecil hanya anak itu saja sedangkan yang lain seniornya.
"Ningali naon? ( lihat apa? )" Semua teman - teman dan juga seniornya keheranan. Lalu mereka menatap Rita meski Rita tidak melihat mereka, tapi telinganya jelas menangkap obrolan mereka.
"Sieun. Teteh eta gaduh kakuatan nu gede pisan, saleresna mah teu tahan urang dugi ka kesangan teh ( Menakutkan. Teteh itu punya kekuatan yang sangat besar! Aku sampai keringatan yang sudah tidak tahan lagi )," katanya sambil ngos - ngosan. Kemudian guru besar mendatangi murid kesayangannya.
"Kamu tidak apa - apa?" Tanya guru besar itu memeriksa takut anak itu terluka.
"Aku mual!" Seru anak itu kemudian sambil memegang perutnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...