ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(224)


__ADS_3

Rita memandangi mereka dari jauh dan sempat melihat Arnila menarik Ney memasuki toko. Pastinya Ney mau menyusul ke sini buat mengganggu atau melihat chat dengan siapa Rita.


"Paman bisa memberi waktu sebentar? Dia lagi sibuk tapi saya jamin akan mengembalikan perhiasan paman nanti. Boleh minta alamat rumah paman? Ada kemungkinan saya akan datang dengan teman lain, dia mungkin terlalu malu dan memang orangnya super pelupa," balas Rita dalam WAnya.


"Baiklah. Ini alamatnya sayang tunggu kedatangannya.Terima kasih." Balas Syakieb.


"Buset dah tuh anak benar - benar barang orang mau dijual gitu saja! Kenal sama orang yang tidak dikenal, merasa pacarnya padahal siapa juga uang mengejar eh ternyata... perhiasan tadi harus dikembalikan kalau tidak, entah bagaimana nanti jadinya," kata Rita lalu memasukkan ponselnya ke tas dan segera menyusul kemana Arnila berada.


Beberapa saat kemudian, "Mbak, temannya yang tadi ya? Yang memaksa mau jual perhiasan?"


Rita melirik ke arah pegangan itu dan melihat pegawai dari toko emas pertama. "Iya ada apa ya?"


"Kita mau tanya, yang tadi masuk ke sini itu temannya? Yang bawa perhiasan mahal ke toko ini?" Tanya beberapa pegawai yang bergabung. Untungnya hanya ada 2 orang pegawai sisanya tampak sedang istirahat.


Ada perasaan tidak enak nih. "Eh? Iya mbak kenapa ya? Oh ya tadi sepertinya mbak menolak membelinya. Kenapa?" Tanya Rita penasaran ingin meyakinkan apa benar mereka kenal Syakieb?


"Itu setelah dicek ternyata pemilik perhiasan itu meminjamkan perhiasan tersebut kepada temannya yang bernama Mr. Muhammad Syakieb. Perhiasan semahal itu di toko manapun tidak ada di Bandung, hanya ada di luar negeri dan itu perhiasannya persis banget kepunyaan owner kami. Apa benar perhiasan itu diberikan kepada teman mbaknya? Kok saya merasa tidak seperti itu ya?" Tanya pegawai itu. Ya pastilah aneh karena tidak ada suratnya.


"Karena tidak ada suratnya ya?" Tanya Rita menebak.


"Iya! Orang kalau benar - benar memberi sudah dengan keterangannya. Lah ini tidak makanya tadi teman saya memberi laporan juga. Karena di setiap toko emas khusus toko besar, ada selembarannya. Saya mau minta kembali tapi bingung untung bertemu mbak," pegawai satunya tersenyum.


"Waduh! Untung dia masuk toko ini ya. Saya juga baru tahu kalau katanya itu dikasih tapi memang aneh sih tidak ada suratnya. Pemiliknya minta dikembalikan ya?" Tanya Rita yang menghela nafas lagi.


"Iya karena perjanjiannya hanya dipinjamkan sekitar 3 hari dan ini sudah hari ke-3," kata pegawai.


"Oh iya sudah saya nanti akan langsung kembalikan kebetulan tadi saya baru saja dikontak langsung oleh yang meminjamkannya," kata Rita sambil memberikan bukti chat kepada mereka.


"Oh iya benar ini nomor telepon Mr. Syakieb. Mbak kenal dekat dengan tuan ini?" Tanya pegawai awal dengan penasaran.


"Hmmm dia pamannya teman saya. Urusan perhiasan itu biar saya yang atasi. Teman saya baru ditolak sama orang ini tapi barang pemberian dia ada yang teman saya sangat sukai," kata Rita yang merasa tidak bersalah menceritakannya karena sudah sangat kesal tentang apa yang Ney tuduhkan kepadanya tadi.


"Ya ampun! Tolak pacaran apa menikah? Tapi Mr. Syakieb kan sudah menikah ya," kata pegawainya keheranan.


"Iya saya tahu kok, itu teman saya saja yang terlalu percaya diri. Tolak pacaran sih padahal saya sudah bilang kalau pamannya sudah menikah. Terima kasih ya, mbak saya permisi." Kata Rita.


"Iya kami juga terima kasih nanti saya akan kabarkan kepada pemiliknya kalau perhiasannya akan dikembalikan hari ini."


Mereka berdua menunduk lalu sibuk bergosip dan mereka kaget mengetahui kebenarannya. Rita ingin sekali menceritakannya pada Alex tapi mengingat Alex sedang tidur karena lelah buang hajatnya, nanti saja malam.

__ADS_1


Saat itu di tempat Alex, Alex tidur tanpa mengenakan baju atasannya dengan wajah yang tersenyum senang. Ibunya datang ke dalam kamarnya dan lagi - lagi menemukan seprai yang sudah diganti. Ibunya lalu membelai wajah anak kesayangannya itu dan mencium bau parfum di badan anaknya. "Pasti baru keluarin itu lagi." Kemudian menaruh tube obat yang baru di atas meja beserta air minumnya lalu meninggalkan anaknya tidur terlelap.


Setelah itu Rita menemukan mereka berdua yang sedang menunggu di depan Pizza Hut. Ney membuka ponselnya dengan kesal begitu juga Arnila. Rita menyambut mereka dengan senang.


"Kami tadi chat sama siapa? Sepertinya orang penting ya," kata Ney yang terus memperhatikan ponsel dia sendiri.


"Kita makan! Aku sudah lapar banget!" Kata Rita yang langsung masuk dan duduk lalu memesan paket untuk ber-4.


Ney ingin sekali bertanya tapi selalu dihalangi oleh Arnila. Dia kesal sekali tapi Arnila tidak perduli akhirnya Rita katakan saja karena Ney memang sangat kepo sekalian biar dia tahu.


"Paman Alex tadi char aku katanya ada beberapa perhiasan yang masih belum kamu kembalikan," kata Rita sambil makan.


Ney kaget. Ternyata perhiasan yang dia bawa ingin dikembalikan, apa Rita tahu alasan lainnya. "Terus kamu bilang apa? Kamu bilang perhiasannya mau aku jual pasti,"


"Oh, kamu mau aku bilang begitu? Ya sudah aku chat lagi buat kasih tahu dia," kata Rita lalu mengeluarkan ponselnya.


"Jangan!! Aku hanya bercanda!" Ney terlihat panik ternyata Rita tidak mengatakan apapun dan dia malu banget sudah salah.


"Terus Syakieb bilang apa lagi?" Tanya Arnila yang mulutnya penuh salad.


"Dia meyakini kamu menyimpannya jorok makanya tidak teliti saat dikemas lagi dan meminta hari ini dikembalikan. Karena dia mau berangkat bekerja juga plus semua perhiasan akan dikembalikan ke orangnya Ownernya juga minta secepatnya dikembalikan karena sudah diberi waktu selama 3 hari. Tuh! Kamu lebih baik berhenti pura - pura tidak tahu deh, tidak malu apa barang orang kamu beranggapan punya kamu? Aku malu tahu! Mana tadi aku juga dipanggil sama toko emas yang pertama," kata Rita.


"Pantas saja kamu mau jual kemana juga sudah pasti harus lebih lengkap. Ternyata terlalu mahal harganya untuk di Indonesia. Pemiliknya aku menebak orang luar juga sih," kata Arnila melirik Ney yang diam sambil makan.


"Itu sudah jadi pertanda kecil juga kalau kamu harus kembalikan sekecil apapun yang kamu dapatkan dari dia. Kalau memang ada barang yang bisa kamu miliki itu tergantung dari Syakieb nya juga," kata Rita menenangkan.


"Iya jangan kamu yang pilih. Dari awal dia tidak ada maksud mempermainkan kok hanya kamunya saja yang terlalu genit. Dan menurut aku sib, kamu bukan tipenya banget. Coba kamu rawat diri dari sekarang bukan untuk Syakieb tapi menyambut calon kamu," kata Arnila yang menyenggol bahunya Ney.


Ney hanya terus makan pastinya sedih banget sih setelah tahu kebenarannya tapi kan itu yang selalu dia inginkan. Disamping kekepoannya.


"Kalau aku sih tidak bangga kalau ada yang kasih barang apalagi mahal. Pasti ada sesuatunya, lebih baik beli perhiasannya pakai usaha sendiri," kata Rita yang membuka ponselnya.


"Aku setuju! Kamu kan bisa minta Dins selama ini juga kalau kamu pacaran sama Dins, dia selalu mengusahakan," balas Arnila.


"Pamannya Alex malam ini harus take off, daripada pihak pemilik toko perhiasan ini datang mengunjungi rumah kamu kan itu lebih memalukan," kata Rita.


"Ibu kamu pasti lebih meledak dari sebelumnya. Kamu mau?" Tanya Arnila yang sudah tahu kebiasaan ibunya Ney kalau sudah meledak.


"Tapi aku malu datang kesananya," kata Ney dengan suara pelan, terdengarnya sangat menyesal pada keputusan egoisnya.

__ADS_1


"Biar aku saja yang kesana. Sini, aku sudah janji mau kerumahnya untuk kembalikan sisa perhiasan yang belum kamu kemas," kata Rita meminta.


Ney lalu dengan lemas memberikan perhiasannya pada Rita. "Yang lainnya mana? Syakieb memberitahukan perhiasan apa saja yang tidak ada dan kamu punya semuanya,"


"Keluarkan Ney! Kamu mau masalahnya kelar atau keluarga kamu yang menanggung akibatnya?" Tanya Arnila sebal. Kemudian Arnila jugalah yang mengeluarkan perhiasannya ke atas meja. Dengan menggelengkan kepala, Rita meninta bungkusan kecil pada pegawai Pizza. Lalu memasukkan semuanya ke dalam bungkusan itu.


"Ikhlas ya karena ini bukan punya kamu!" Kata Rita memasukkannya ke dalam tas. Ney mengangguk dengan lemas, dia sudah pasrah pada semuanya.


"Oh jadi benar ya yang chat kamu itu Syakieb?" Tanya Ney yang sudah lemas.


"Kenapa Syakieb tidak chat Ney saja ya?" Tanya Arnila.


"Malaslah pasti Ney akan tolak jadi ya lebih baik ke orang lain yang menurut dia dekat kan. Dia juga cerita kalau barang yang kamu kirim sudah sampai tapi ternyata masih ada beberapa perhiasan yang kabarnya tidak ada. Aku yakin itu adalah perhiasan yang kamu pamerkan ke kita kan," kata Rita memandang Ney.


Kalau itu yang terjadi pada Rita dia lebih malu karena temannya ketahuan kebenarannya. Apalagi pakai menganggap barang orang sebagai barang miliknya. Orangnya ditolak tapi barangnya diterima yah matre itu namanya. Rita hanya menggelengkan kepalanya saja memandangi Ney. Dirinya berpendapat kalau Ney memang bukan teman yang baik, dia harus berhati - hati tidak mau lagi terinjak olehnya seperti dulu.


"Ada lagi sih yang pernah dia kasih. Itu bagaimana ya?" Tanya Ney dengan lemas. Dia bingung masa harus diganti juga?


"HAH? APA?" Tanya mereka berdua kaget. Apa mobil? Laptop? Oalaaaa...


"Dia pernah kasih kue dan cokelat. Masa aku harus kembalikan juga? Mana mahal," kata Ney kebingungan.


Mereka berdua bengong mendengarnya. Diberi kue dan cokelat lalu menendang mereka berdua dan bersenang - senang sendiri? Sungguh Allah SWT itu Maha Adil, sekarang semua perilakunya dibalas lumayan memalukan.


"Dia hanya bilang soal perhiasan kok. Sepertinya kalau itu sih tidak dia pikirkan nanti kalau dia meminta dibalikkan, aku yang kasih saran," kata Rita setengah tersenyum.


"Seperti apa?" Tanya Ney yang curiga pada Rita.


"Kamu memang selalu suudzon ya sama orang bukan hanya Rita tapi SEMUA ORANG. Itu jelek banget!" Kata Arnila yang menangkap kesannya.


"Aku tidak akan mencelakakan siapapun ya. Aku akan bilang padanya, 'Ikhlaskan apa yang sudah kamu beri meski Ney yang meminta.' Cukup?" Tanya Rita pada Ney dengan nada ketus.


"Aku ikut tapi sampai depan sekolahnya saja aku tidak mau bertemu dengan istrinya yang menyebalkan. Aku tunggu di cafe," kata Ney yang tahu kalau Rita sudah malas berdebat.


"Kamu mau ikut Nil?" Tanya Rita yang tidak peduli.


"Bolehlah. Aku kan sudah kepalang tanggung diseret kalian kemana - mana," kata Arnila.


"Aku kirim chat dulu ke pamannya Alex kalau kita sebentar lagi kesana." Rita lalu menchat dan pamannya tersenyum.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2