ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(219)


__ADS_3

"Kamu tidak tahu? Serius!? Kamu meledak banget membuat Alex berkali - kali ambruk. Waktu kamu marah, terbagi dua bagian marah satu itu bukan efek jin yang menempel tapi berasal dari rasa kecewa dan kesedihan yang sudah menumpuk. Lalu sisi lainnya Jin yang marah karena kelakuan kita yang terlalu Memaksa kamu untuk mengakui kalau kamu salah. Aku sempat menyadari ada sesuatu yang keluar bersamaan dengan itu juga," kata Arnila yang serius.


"Kamu takut?" Tanya Rita.


"BANGET! Aku kaget tapi sepertinya hanya Ney yang sama sekali tidak tahu, Alex sepertinya tahu. Dia bilang ke aku, ada sesuatu yang keluar bersamaan tapi lebih berbahaya makanya dia bilang kan menyarankan kita minta maaf sama kamu. Yah, mungkin sudah jalannya juga dan akibat kita terlalu memaksa itu, akhirnya kita semua dapat hukuman setimpal. Takut terjadi sesuatu yang lebih parah. Kamu benar - benar tidak merasakan yang aneh?" Tanya Arnila yang keheranan. Padahal yang dia lihat ada energi besar yang keluar dari Rita.


"Hmmm tidak ada. Serius! Hanya tiba - tiba energi ku seperti low bat saja sudahnya pusing," kata Rita kembali mengenang kejadian tidak mengenakkan itu.


"Oh iya setelahnya kamu sakit ya? Raden yang memberitahu aku. Kamu demam tinggi kan," kata Arnila dengan khawatir.


Rita tertawa mendengarnya. "Iya begitulah. Aku juga merasa aneh, kenapa kok sensi banget ya masalah begitu saja sampai aku sakit hahahaha," kata Rita merasa tidak enak.


"Kamu tidak tahu sebabnya kenapa kamu bisa jatuh sakit?" Tanya Arnila.


Rita menggelengkan kepala. "Ya sudah saatnya sakitlah. Apalagi coba?"


"Hmmmm... nanti kamu akan tahu kenapa kamu merasa energi kamu selalu terasa seperti berkurang. Pokoknya aku hanya ingin minta maaf saja sama sekali tidak tahu setelah kejadian itu kamu sampai demam tinggi. Pasti jadi trauma banget ya," kata Arnila yang merasa bersalah meski sudah berlalu


"Khodam kamu kepo ya🙄🙄🙄," kata Rita.


"Hohohoho penasaran katanya kamu lagi apa kan kita biasanya chat. Tapi karena masalah itu jadinya jarang. Kamu tidak bisa merasakan khodam aku datang? Padahal dia cemas lho, Rita," Tanya Arnila. Dia merasa heran padahal Rita punya kekuatan besar tapi sama sekali tidak bisa merasakan hawa keberadaan khodamnya.


"Tidak ada. Memangnya hawanya seperti apa?" Tanya Rita.


Arnila bengong mendengarnya sama sekali tidak percaya. "Kamu kok aneh ya... heran aku. Sepertinya kamu gunakan Spirit kamu hanya beberapa saja ya padahal banyak lho yang kamu bisa," kata Arnila.


"Hahahaha tidak ah malas pasti akan ribet kan. Kamu gabungnya pertengahan sih ya itu juga karena Ney yang ajak masuk kan? Aku cerita ke kamu waktu itu hanya untuk meminta pendapat karena aku tahu kalau pendapat Ney itu kurang kena. Maaf ya aku juga salah sudah seret kamu tapi aku jujur tidak ada niat menjadikan kamu tameng," jelas Rita.


"Iya aku tahu karena kamu menghadapi kita saja sendirian. Harusnya saat itu aku netral ya, entahlah aku peringatkan kamu, kamu harus lebih waspada terhadap Ney. Dan jangan terlalu dekat dengan aku sewajarnya saja, aku takut nanti kamu terus disalahkan. Aku sudah bilang berapa kali sama Ney juga tidak digubris. Kalau nanti Ney bicara macam - macam lagi, jangan didengarkan. Perihal Alex kamu jangan mudah ceritakan ke dia nanti dia jadikan itu sebagai alat untuk melawan kamu," kata Arnila.


Rita mendengarkan, dia lagi - lagi mendapat firasat aneh. Arnila seperti tahu akan ada yang terjadi dengan mereka bertiga nanti tapi Rita tidak bisa menduga apakah itu. Menurut Rita, Arnila misterius juga semua omongannya seperti ada makna tersembunyi. Tapi apa ya?


"Kenapa ya aku dapat kesan kamu seperti takut banget?" Tanya Rita.


"Dia itu bisa kirim santet! Itulah kenapa aku sengaja nunduk sama dia supaya kamu tidak kena. Tapi ada kalanya juga dia keterlaluan seperti tadi. Banyak orang yang bermasalah sama dia, dikirim santet dan mereka banyak cerita juga," kata Arnila yang merendahkan suaranya.


Rita kaget mendengarnya. Hah!? Santet masih ada di abad modern begini!? Rita masih terus terkejut dan Ney kemudian memandangi mereka dan melihat Rita yang sedang terkejut. Dia penasaran juga lagi bicara apa sih, karena terlalu kepo-an akhirnya Ney pun berjalan keluar untuk memastikan. Sambil berpura - pura beralasan pada pegawai tokonya untuk menunggu.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih bengong begitu? Kalian lagi cerita apaan," kata Ney yang kepo.


"Hah, masalah buat lu? Sudah selesai transaksinya?" Tanya Rita melihat Ney yang pastinya penasaran.


"Ya aku ingin tahu kamu kenapa, soalnya wajah kamu terkejut begitu. Belum selesailah aku tadi lihat kalian takut ditinggal," kata Ney berharap mendapat jawaban.


"Tumben takut biasanya juga kita tinggal, kamu cuek saja. Arnila lagi cerita soal binatang yang punya kaki 6 ya aku kagetlah. Dimana - mana binatang kakinya kan 4," kata Rita menunjuk ke Arnila yang bersantai.


"Hahahaha aneh kan. Aku juga lihat itu dari Utub. Nih," kata Arnila menunjukkan video dan memang iya ada.


"Oh, aku kira apaan. Aku masuk sana ya kalian mau tunggu disini?" Tanya Ney yang melirik ke sebuah kantong yang Rita pegang. Kedua matanya jelalatan memang kalau soal apapun yang Rita pegang, kalau makanan tanpa adanya rasa malu akan dia ambil begitu saja.


Rita tahu daripada dia ambil seenaknya, langsung saja Rita berikan. "Nih roti hanya ini yang tersisa, Arnila tadi pilih kue. Mau?"


Ney lalu mengambilnya dan berjalan ke toko emas lagi. Dan memakannya dengan lahap tanpa adanya ucapan terima kasih. Mereka berdua sudah terbiasa tapi memang tidak sopan. Dengan teman sendiri saja begitu apalagi dengan orang lain?


"Sama sekali tidak bilang terima kasih," kata Arnila yang masih memandangi Ney.


"Kan memang tidak punya rasa malu. Aneh saja soal kelakuan aku dia pernah bilang malu, ingin sekali aku tertawa meledak. Dirinya sendiri lebih parah mana orangnya juga tidak sadar diri," kata Rita menyengir melihat Ney pergi. "Lanjut yang tadi. Terus?"


"Ada. Tapi jelek ya sesuai yang kamu bilang, aku juga kan sedang jaga jarak," kata Rita yang mengeluarkan makanan lain.


Arnila melihatnya dengan ekspresi datar. "Makan lagi? Berhenti deh! Nanti perut kamu kepenuhan, kan kita mau makan Pizza Hut! Alex aku yakin sudah tahu sifat aslinya. Apa dia pernah kasih peringatan ke kamu soal Ney?" Tanyanya.


"Pernah, katanya aku jangan terlalu dekat dengan Ney. Aku kira itu karena dia cemburu kalau aku terlalu sering chat sama kalian," kata Rita.


"Lah, kalau Alex sih memang cemburuan dan memang iri sama kita berdua. Makanya alasan lain jangan terlalu banyak cerita ke kita ya karena Alex cemburuan! Ney sih senang kalau Alex marah - marah ke kamu dari situ kamu juga pasti merasa kan kalau Ney agak error pikirannya. Kamu lihat ada yang lain lagi pada Ney?" Tanya Arnila penasaran.


"Tidak ada karena dia menutup rapat orangnya. Sedikit yg bisa terlihat sih," kata Rita mengungkapkan. Ney memang tertutup dan dia tahu itu disengaja.


"Ih jadi harus terbuka dulu ya. Auranya menurut kamu bagaimana?" Tanya Arnila yang banyak bertanya karena Rita memang sangat sensitif.


"Tidak tahu kalau auranya lah orangnya saja seperti benang kusut! Kalau kamu sih yang aku rasa enak tapi kamu juga lebih baik jangan terlalu dekat sama Ney deh, soalnya aku sulit lihat kamu yang aslinya bagaimana," kata Rita memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya.


"Oh begitu ya. Ya aku memang lebih lama kan sama dia dari SMA sampai sekarang tapi dia lebih inginnya disebut Sahabat sama kamu. Tapi sepertinya tidak ada kesempatan ya. Justru aku juga sama, bingung kenapa dia jadi orang seperti itu ya," kata Arnila memandang Ney yang sedang mengantri sambil makan.


"Ney kalau makan tidak rapih ya? Makanannya berjatuhan juga ya begitu," kata Rita memperhatikan.

__ADS_1


"Sama makana itu lho, dengan orang lain juga sama saja kan," kata Arnila.


"Eh, jangan - jangan kamu juga pernah dikirim santet?" Tanya Rita asal menebak kalau memang tidak pernah kejadian mana mungkin Arnila sampai memberi peringatan kan.


"Aku kan sering di ruqyah sampai kepalaku dibotakin juga," kata Arnila menatap arita yang bengong.


"Dibotakin?! Memangnya harus? MAYGAT!! Tapi kenapa kok bisa dia punya ilmu seperti itu? Buat apa? Tidak takut akibatnya?" Tanya Rita dengan heran dia mengusapkan tangan kirinya ke kepalanya.


"Ya itu karena ayahnya sendiri yang mengajarkan. Dia dipaksa begitu Ri, buat belajar. Ayahnya kan tahu kalau Ney punya bakat Spiritual kebayang kalau ayahnya tahu kamu juga punya bahkan lebih dari anaknya. Tidak terbayangkan deh! Bersyukur saja deh sampai saat ini kamu masih belum dipertemukan sama bapaknya," kata Arnila.


"Ah, Gila! Mana ada sih orang tua berbuat begitu sama anak sendiri? Buat apa sih?" Tanya Rita tidak percaya.


"Jangan kasih tahu Ney ya kalau aku kasih tahu kamu soal ini. Aku juga heran Ney tidak pernah cerita apapun soal keluarga dia? Aku kira waktu Ney bilang dia sahabat kamu, kamu sudah tahu semua soal dia," kata Arnila


"Bukti dia lebih terbuka sama kamu, karena dia lebih percaya kamu daripada aku. Jangan dianggap tulus deh kalau dia bilang sahabat aku, aku yakin itu karena ingin punya pamor. Kan lumayan bisa kenal aku kalau jadi sama Alex, dia punya kebanggaan tersendiri, Nila. Lalu?" Rita penasaran jadinya.


Benar juga sampai mereka bekerja pun, Rita masih belum pernah sekalipun melihat bapaknya Ney. Kesannya seperti misterius sekali sampai - sampai Rita berpikir apa mungkin bapaknya sudah tidak ada? Karena yang sudah pernah ditemuinya hanyalah ibunya saja.


"Ayahnya memang suka ke Bandung?" Tanya Rita.


"Sering kok. Makanya heran apa kamu sudah bertemu bapaknya atau belum tapi mungkin tidak ada takdirnya ya kamu harus bertemu sama bapaknya. Ada kesan menakutkan sih, Rita. Aku bingung jadi Ney sering berbohong ya sepertinya sama kamu tapi dia lebih jujur ke aku," kata Arnila merasa aneh.


"Iya biarkan sajalah. Aku juga tidak mempermasalahkan itu toh Alex juga sudah tahu teman dekat Ney ya memang kamu bukan aku. Aku jelaskan sama Alex pun dia baru sadarnya tahun sekarang. Hadeuh!" Rita menepuk dahinya dan menghela nafas.


"Hahahaha slow juga dia mengerti nya😆😆😆. Kalau begitu sekalian aku ceritakan saja ya mumpung Ney sedang sibuk menunggu," kata Arnila yang mendapatkan ide. Kalau Ney memang menganggap Rita sebagai sahabatnya kenapa masih terus berbohong ya?


"Ney tidak akan tahu?" Tanya Rita.


"Tidak akan. Dalam toko itu kan banyak suara, Rita kalau sepi baru deh," kata Arnila.


"Nanti saja deh, takutnya nanti dia tiba - tiba datang lagi bagaimana? Yang tadi saja untung aku dapat ide dan memang ada kan binatang berkaki 6," kata Rita membuat Arnila menunggu saatnya.


"Iya juga ya. Dia memang suka datang tiba - tiba sih kalau dibicarakan baru peka tapi soal perasaan orang lain malah tumpul," kata Arnila tidak mengerti.


"Dia kan orangnya tidak suka dikritik jadi wajar dia bakalan sensitif kalau lihat kita bicara berdua antara tertawa, terkejut sampai seperti tadi. Eh,kita masuk yuk aku penasaran bisa tidak dia jual perhiasan milik Syakieb itu," ajak Rita. Lalu mereka berdua masuk dan duduk. Ternyata Ney sudah mendapatkan kesempatan untuk maju.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2