
Rita dengan senang hati mengambil burger Cheese kesukaannya, pasta lalu jus stroberi. Ney biasa makan dengan bersuara menikmati semuanya tanpa ada rasa bersalah pokoknya perutnya keroncongan habis. Saat mereka tengah menikmati hidangan itu, Bos, Aura dan Apollo datang sambil membawa setumpuk amplop cokelat yang lumayan.
"GAJIAN!" Teriak Aura memecah keheningan.
Mereka semua duduk rapih dengan senang menunggu giliran untuk dipanggil. Tiba - tiba Rita merasa kurang enak badan rasa - rasanya dia ingin muntah padahal dia sedang makan. Aneh sekali dalam hatinya.
"Rita!" Kata Aura yang memanggil namanya.
Dia menuju Aura agak sedikit tidak semangat padahal hari ini gajian. "Ya,"
"Kamu sakit? Padahal sekarang kan gajian," kata Aura mengamati wajah Rita yang agak lemas.
"Iya tapi tidak apa - apa aku nanti mau meneruskan makan lagi. Aneh juga sih," kata Rita yang lalu menandatangani formulir untuk gaji bulan Februari. Lalu menerima amplop gajinya kemudian meneruskan makannya yang belum selesai. Aneh sekali setiap makan, kenapa Rita selalu merasa energinya turun ya.
"Ney Grizelle!" Panggil Aura sambil diawasi oleh bosnya.
Ney datang dengan agak segan lalu sama seperti yang dilakukan oleh Rita, kemudian menerima amplop yang sama. Aura agak sebel karenanya tapi apa boleh buat bosnya berada di sampingnya mengawasi semuanya. Bulan lalu gajinya Rp 650.000 sekarang gajinya naik mungkin karena bulan nanti dia akan dikeluarkan. Menjadi Rp 950.000 tapi tetap saja berbeda sedikit dengan yang didapatkan oleh Rita. Ney kembali ke mejanya sambil menatap Rita yang agak pucat. Dia melemparkan gajinya ke dalam tas dengan kesal tapi langsung menghitung kembali ternyata gajinya bertambah dengan beberapa keterangan.
Uang transportasi, uang makan, uang lembur semuanya menjadi Rp 1,6 juta tentunya membuat Ney bersorak senang takutnya dia dipotong karena kesalahan data yang dia buat. Dalam pikirannya dia mengira Rita dan Sona akan membalas perbuatannya tapi ternyata tidak, mereka benar - benar menghitung segalanya sesuai data. Sedangkan yang Rita terima Rp 1,8 juta karena mendapatkan bonus. Meski kecewa karena tetap saja gajinya masih kalah dengan Rita, Ney menerima karena memang pekerjaan Rita lebih berat. Ney lalu mendekati Rita yang sedang menikmati makanannya.
"Rita, besok kita jalan - jalan yuk. Traktir aku gitu kamu kan gajinya lebih banyak," kata Ney menyebalkan. Saat Rita mau menjawab, tiba - tiba bos datang.
"Ney, kamu ikut saya ke kantor," kata bosnya yang kemudian menuju kantornya. Dengan cepat Ney menurut dan meminta Rita menunggunya.
"Aku kan ada kuliah," kata Rita yang melirik jam 4 sore. Lalu ingin mentraktir kedua sahabatnya makan. "Kom, Diana, makan yuk! Aku baru gajian nih!" Kata Rita.
Dengan kilat mereka berdua mengiyakan dan berencana makan di Seafood Restaurant. Setelahnya Rita ijin mau keluar duluan karena memang setelah pembagian gaji, pegawai dibebaskan untuk pulang. Ternyata dia tidak enak badan karena energinya secara diam - diam diambil oleh Alex yang mendatanginya. Tanpa memikirkan akibat dari perilakunya yang mengambil energi Rita sampai 80%, Rita akan sakit. Setelah 'putus' dengan Ameera, Alex pun drop. Energinya menurun karena lelah dari bekerja. Tentunya Alex tersenyum saat memakan energi Rita tanpa dipikirnya Rita tidak baik - baik saja.
Di restoran tersebut, Rita membebaskan mereka berdua mau memesan ramen, atau apapun. Keduanya sangat sumringah.
"Asyiiik untung aku belum makan," kata Diana yang kemudian memesan sushi yang isinya 10 biji lalu tempura Cheese dan jus. Sedangkan Komariah memesan curry ramen dengan katsu, dimsum dan jus juga.
Rita memesan pizza MacNCheese, hotang mozarella, takoyaki dan jus juga. "Aku tidak enak badan jadi aku akan memesan makanan lebih banyak ya. Disini ternyata murah semua," kata Rita.
__ADS_1
"Memangnya tadi kamu tidak disediakan makanan?" Tanya Komariah yang penasaran juga. Wajah Rita pucat sekali.
"Sudah tapi seperti hasil dari makanan tidak menjadi energi," kata Rita yang lalu merebahkan kepalanya di meja yang terdapat kain.
"Kamu pucat banget. Nih, aku kebetulan beli kue dorayaki sebelum kamu ajak kita makan," kata Diana yang mengeluarkan kue itu.
"Aku mual, mau muntah tapi tidak ada yang bisa dikeluarkan," kata Rita yang kemudian membuka kue itu dan memakannya sambil lemas. Karena mengkhawatirkan, Komariah mengipaskan bukunya pada Rita.
Datanglah seorang bapak - bapak dengan mata yang sipit sambil membawa sesuatu ke arah meja mereka. "Kamu pucat. Coba makan ini,"
Bapak itu menyodorkan semacam pasta yang dihias sayuran segar dengan mayonaise yang bening. Meskipun masih mual, Rita mencoba memakannya. Tiba - tiba dirinya agak ceria tidak lemas lagi, meski aneh Rita memakannya dengan enak. Diana dan Komariah bernafas lega mereka pun minta ijin untuk ikut memakannya.
"Enak! Apa ada rahasianya?" Tanya Rita yang terus memakannya. Agak banyak sih makanannya meski hanya satu piring kecil.
"Tidak ada. Silakan dimakan saja. Habiskan dan ini gratis." Kata bapak sipit itu tersenyum senang lalu masuk ke suatu tempat.
Rita memperhatikan bapak itu dengan aneh. Masakannya biasa saja tapi kenapa saat dimakan satu suap, dirinya tidak sakit lagi ya? "Enak?"
"Ini tumis pasta yang biasa kan? Tapi kenapa saat kamu makan, nampaknya langsung ceria ya. Padahal kan belum makan yang berat," kata Komariah tampak aneh. Diana juga berpendapat sama.
Kemudian semua pesanan mereka terhidang kan untungnya mereka memilih meja yang agak besar. Sambil makan, Rita bercerita mengenai Ney, mereka mendengarkan sampai selesai.
"Aku sama sekali tidak suka ya dengan yang namanya Ney itu. Kamu jangan terlalu dekat, Ri," kata Komariah.
"Sama. Tampaknya dia mendekati kamu hanya untuk kepentingan dia saja. Pasti dia ajak kamu pergi ya setelah tahu gaji kamu lebih besar dari dia," kata Diana menebak.
"Kok tahu?" Tanya Rita merasa aneh. Memangnya aneh kalau dia mengajak kemana - mana?
"Tahu dong. Dari awal kita lihat saja memang orangnya kurang peduli sama orang," kata Diana.
"Kalau peduli biasanya kalau dia merasa kamu bisa membuatnya lebih berharga. Seperti kamu kenal Alex waktu sebelum Alex ada, bagaimana perlakuan dia sama kamu?" Tanya Komariah sambil makan.
"........" kata Rita. Memang begitu sewaktu SMA meski mereka berbeda sekolah, kadang bertanya apa aku sedang banyak uang? Tahu karena aku sering menabung kalau ada, dia ajak kemana saja dan meminta traktir tapi kalau tidak, sampai sebulan pun tidak akan ada kontak. "Dia suka minta traktiran terus tapi kalau aku yang minta, dia suka banyak alasan,"
__ADS_1
"Ya memang begitu orangnya," kata Diana.
"Tapi pernah sih dia traktir waktu SMP, itu adalah traktirannya yang terakhir," kata Rita sambil minum jusnya.
"Hanya sekali saja? Padahal kalian kan lebih lama kenalnya tidak seperti kita. Lagipula dia dekat sama kamu untuk keuntungannya saja tapi kamu selalu salah paham. Pernah dia paham sama masalah yang kamu punya?" Tanya Komariah lagi.
Rita berpikir banyak hal saat dia memiliki masalah lalu respon Ney sama sekali tidak diharapkan dan Rita menggelengkan kepalanya. Mereka berdua menghela nafas bersamaan.
"Untung kamu bertemu kita ya. Eh untungnya kamu kuliah di jurusan TK jadi kita bisa bertemu," kata Diana tertawa.
"Kamu terlalu baik, Rita makanya tidak sadar kalau selama ini sudah banyak dimanfaatkan," kata Komariah yang menepuk bahunya.
"Iya ya aku bodoh," kata Rita yang makan lagi makanannya. Mereka bertukar menu dan mencoba satu sama lainnya. Saat mereka makan, Diana melihat Ney yang sedang naik angkot.
"Eh, itu Ney!" Kata Diana sambil menunjuk ke sebuah angkot Lembang - Bandung. Saat itu Ney duduk paling pojok Ney pun melihat Diana dan yang lain namun dia tidak bisa turun karena di angkot sangat penuh dengan barang - barang.
"Wah, gawat! Dia turun tidak?" Tanya Rita yang tidak mau bila Ney datang.
"Yang aku lihat sih angkotnya penuh banget! Tenang saja tidak akan datang," kata Diana menenangkan Rita dan Komariah. Mereka bertiga tertawa bersama lalu menghabiskan sebisa mereka. Tetap saja mereka bertiga akhirnya membungkus sisa makanan yang mereka pesan.
Sebelum keluar restoran itu, kakak yang menyambut mereka bertanya, "Tadi Bapak saya kasih kalian sepiring tumis sayur pasta? Bagaimana rasanya?"
Diana dan Komariah merasa biasa saja tapi berbeda dengan Rita. "Enak banget! Masakannya biasa tapi saat memakannya entah kenapa saya jadi ceria lagi!" Kata Rita sambil tertawa.
Kakak itu agak sedikit terkejut tapi lalu tersenyum dan mengatakan silakan datang kembali. Lalu kembali ke kantor bapak yang tadi. Ternyata bapaknya itu juga melihat Rita dan teman - temannya pergi. Bapaknya sangat bangga telah menolong Rita.
"Ayah, melakukan itu lagi? Tidak akan apa - apakah?" Tanya kakak yang tadi.
Bapak itu tersenyum bangga melihat kepergian Rita dan teman - temannya yang merasa kekenyangan. "Tidak apa, Ayah senang bisa membantunya. Anak itu memiliki energi yang sangat besar tampaknya ada seseorang yang seenaknya mengambil energinya tanpa berpikir efek negatifnya,"
"Lalu? Siapa yang mengambilnya apa tidak kita tutup saja?" Tanya anaknya.
"Kita tidak berhak, Ayah hanya menambahkan sedikit energi agar dia tidak terlalu sakit nanti. Orang itu tampaknya sering sekali mengambil energinya. Ayah hanya menaruh energi agar saat tersisa minim tidak akan membuatnya ambruk. Semoga orang yang mengambil energinya tahu akibat dari pengambilan tanpa dia hitung dahulu." Katanya sambil meminum teh hijau yang mengeluarkan asap berwarna putih.. ini bukan asap karena panas karena ternyata tehnya dingin dan bukan asap dari es juga.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...