ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
501


__ADS_3

"Apa kita bertemu saja supaya kamu tidak diganggu oleh dia lagi," kata Alex dalam chatnya setelah Rita menceritakan semuanya.


Ale tidak masalah biarpun dia harus melanggar semua aturan keluarganya. Demi bertemu Rita.


"Eh, jangan! Biarkan saja," balas Rita tidak enak.


Alex lesu ternyata tidak sesuai dugaannya, Rita malah tidak ingin mengganggu pekerjaannya.


"Lho? Kenapa?" Tanya Alex.


"Aku tidak mau mengganggu kerja kamu hanya untuk bertemu denganku karena keegoisan seseorang," jawab Rita. Yah, dia saja jadi berdebar-debar bila harus bertemu dengan Alex.


Alex tertawa. "Apa kamu gugup bertemu denganku? Rita, kamu malu ya," kata Alex tertawa dengan pelan.


"Huh! Ya.. begitulah," kata Rita yang wajahnya memerah.


"Hahaha sebenarnya ada yang ingin aku pastikan soal dia. Hmmm nanti deh," kata Alex penuh teka teki.


Rita berpikir jangan sampai dia membuat masalah lagi deh. "Jangan buat masalah lagi ya. Ingat kamu membuat keonaran dengan kita bertiga, hasilnya menjadi kita semua menjauh," peringat Rita.


"Hehehe kan itu juga akhirnya kamu tahu kan orangnya bagaimana," kata Alex.


"Iya sih. Aku banyak tugas nih besok aku harus ke Aquaria entah di mana tempat ini," kata Rita menatap lembaran tugasnya.


Alex kaget itu kan... dekat dengan tempatnya berada sekarang. Alex menatap ibunya yang menatap tajam padanya dan menundukkan kepalanya.


"Tidak mungkin bisa menemaninya ke sana," gumam Alex agak sedih. "Kamu di sana untuk apa?" Tanya Alex.


"Menulis semua nama-nama ikan, mana aku agak spooky kalau lihat tabung besar isi ikan," kata Rita.


"Kamu banyak ketakutannya ya. Tabung di sana tidak terlalu besar kok ada bagian yang tidak memakai tabung seperti akuarium biasa," jelas Alex.


"Ya kita lihat saja nanti," kata Rita kemudian rebahan di kasur. Rita sadar cuaca sudah mulai memasuki waktu Maghrib.


"Aku juga ingin bantu uuu," balas Alex dengan emoji mengiba.


"Bantu doa saja. Kamu sibuk kerja kan," kata Rita.


Alex mengirimkan emoji menangis sangat banyak. Rita sama sekali tidak membantunya untuk kabur tapi Alex mengerti.


Pukul 8 Rita keluar dari hotel. Prita dan Tyas sedang me time sendiri. Sedangkan Rita ingin membeli beberapa makanan cemilan ke luar, tirai kamar mereka tutup sengaja agar Ney tidak mengintip.


Rita keluar memakai jaket tebalnya dan menuju Seven di tengah kota. Beberapa orang pengawal Ibu Alex juga memasuki Seven dan kebetulan Rita masuk, memandangi mereka berenam.


Para pengawal itu untungnya memakai kacamata hitam dan bergegas membeli makanan juga. Mereka tidak menyangka harus bertemu langsung dengan Rita yang menatap mereka dengan tatapan aneh.


"Aneh sekali malam hari begini pakai kacamata hitam," kata Rita sambil tertawa dan mengambil makanan.


Mereka berenam lalu membayar makanan dan bergegas keluar market. Saat yang sama Rita juga selesai membayar dan keluar market. Mereka seperti menunggu sesuatu, dan melirik Rita masih memandangi mereka.


Dirasa Rita mulai curiga, mereka semua berjalan dengan tergesa-gesa. Rita semakin curiga akhirnya mengikuti mereka semua. 🤣🤣🤣


"Kamu sedang apa?" Tanya Alex malam itu.


"Mengikuti beberapa orang yang mencurigakan," kata Rita.


"APA!? Kenapa kamu lakukan itu? Ayo pulang!" Kata Alex yang tahu dari pengawal lainnya, bahwa Ibunya menyuruh beberapa orang mengawasi Rita.


"Tidak mau aku heran siapa mereka? Lagian mereka sadar aku mengikuti sekarang mereka tampaknya sedang panik hehehe," kata Rita tertawa jahil.


Alex panik dan gugup juga akhirnya menelepon Syakieb untuk membuat suatu tipuan agar Rita berhenti mengikuti kemana mereka pergi.


Di jalan, mereka berenam berusaha mungkin tidak ke tempat yang sangat sepi. Salah satu pengawal memberikan ide pada kelimanya untuk mengarah ke taman kota, di situ Rita tidak akan diganggu oleh jahat.


Sampailah mereka di sebuah taman kota yang masih lumayan ramai. Ruta juga yang berlarian memasuki taman itu dan terpesona dengan tampilan layar Televisi.


"Wow!" Kata Rita berjalan ke arah tengah melihat Televisi itu lebih jelas.

__ADS_1


Syakieb sudah sampai dan menepuk dahinya, Rita berada sendirian di taman itu dan beberapa pengawal sudah bersembunyi sampai terengah-engah.


"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Syakieb yang setengah tertawa.


"Dia mengikuti kami. Kami arahkan kemari karena takut dia tidak bisa kembali ke hotelnya," kata Paw yang adalah nama samarannya.


"Hahaha bagaimana? Langka kan. Dia sedang makan, biar aku yang urus kalian kembalilah," kata Syakieb menepuk bahu salah satu juniornya.


Mereka mengangguk dan sembunyi-sembunyi pergi ke arah lain. Syakieb tertawa melihat mereka berenam yang mengendap-endap agar Rita tidak sadar mereka telah pergi.


"Rita," sapa Syakieb.


"Oh! Pakcik," kata Rita tertawa.


Syakieb memandangi Rita, dia tampaknya tidak terlalu kelelahan karena mengejar orang-orangnya. "Sedang apa kamu di sini? Sendirian," katanya.


"Jalan-jalan," kata Rita lalu melihat sekitarnya dan duduk di rerumputan. "Mau?" Dia bertanya.


Syakieb lalu duduk juga berjaga jarak dengan Rita. "Kamu kenapa kemari? Lumayan jauh lho dari hotel," kata Syakieb yang menolak tawarannya.


"Oh, itu ada beberapa orang aneh yang memakai kacamata hitam di malam hari begini. Sudah gelap begini ditambah kacamata hitam, memangnya bisa lihat?" Tanya Rita tertawa.


Syakieb tertawa keras. "Kamu senang di sini?" Tanyanya.


"Senang. Banyak yang jual makanan," kata Rita membuka beberapa makanan lainnya.


"Kamu ada kenalan di sini?" Tanya Syakieb memancing.


Rita mengangguk. "Ada sih tapi tidak mungkin bisa bertemu," katanya memakan kacang koro.


"Kenapa? Tidak janjian?" Tanya Syakieb.


"Sibuk dianya. Nih. Pakcik pon tahu kan ada yang selalu mengikuti aku," kata Rita menampilkan foto Ney.


Syakieb mengerti maksudnya. "Besok Rita mau kemana lagi?" Tanyanya.


"Oh iya! Hampir saja lupa. Pemandu kan orang sini ya apa pak Pemandu tahu tempat yang saya bisa melihat banyak ikan ada dimana?" Tanya Rita yang memperlihatkan isi tugasnya.


Ya, dia punya rencana. "Ah, saya tahu tempat ini. Besok akan saya antar kan dengan ditemani keponakan saya. Dia bisa bantu kamu untuk soal tugas ini. Bagaimana?" Tanya Syakieb.


"Boleh boleh," kata Rita tanpa berpikir ataupun bertanya soal keponakannya.


Setelah itu sudah cukup puas di taman, Syakieb mengantarkan Rita menuju hotelnya. Dari kejauhan Rita mendengus melihat ney menunggunya di depan hotel. Ney mendatangi Rita dengan wajah kesal sekali.


"Kamu kemana saja sih? Kenapa keluar tanpa bilang aku? Aku kan cemas," kata Ney pura-pura peduli.


"Terima kasih ya, Pak sudah diantar hehehe," kata Rita tidak peduli dengan omongan Ney.


"Jangan keluyuran lagi ya," kata Syakieb.


"Itu bukan keluyuran," kata Rita menatap datar.


"Eh, ada apa sih? Kamu keluyuran kemana, Rita? Kalau mau keluar kan kamu bisa ajak aku. Tadi kemana sih? Apa kamu diam-diam beryemu dengan Alex ya," kata Ney.


Tapi saat itu Rita sudah masuk ke hotel menuju kamarnya. Ney kesal lalu mengikutinya. "Rita, aku kan namya! Jawab dong itu kan salah satu dasar sopan santun," kata Ney dengan nada menyindir.


Rita tidak peduli dan memasukk lift saat hendak memencet tombol, seketika itu juga para guru menahan dan menyapa Rita lalu mengobrol.


Ney untung langsung bisa masuk dan bergabung sebelum mereka masuk. Dia merapat dengan Rita, dan mereka saling menyapa.


"Besok bagaimana?" Tanya A bertanya pada Rita.


"Tenang, tadi waktu aku sedang jalan-jalan beli makan malam kebetulan bertemu Pak Pemandu," kata Rita dengan ceria.


"Waaaah jadi kamu juga jalan-jalan ya. Kita juga hehe," kata guru Bp.


"Oh, jadi kamu jalan-jalan Rita kenapa tidak jelaskan saja sih sama aku," kata Ney menatap Rita.

__ADS_1


"Habis kapan lagi kan kita kemari, ya harus dimanfaatkan dong daripada kepo mengganggu orang. Ya tidak?" Tanya Rita ke guru yang lain.


"Iyalah, itu orang memang tidak punya kerjaan lain saja. Ngikutin kamu kemana-mana, benar kan tebakanku. Ada bisnis apanya, stalking orang bicara seenak hati," celetuk Tisha guru kelas A.


Mereka semua tertawa Ney hanya diam, tidak menghiraukan mereka.


"Waktu jalan-jalan malam kebetulan bertemu Pak Pemandu jadi aku bilang saja soal tempat ini. Dan katanya dia tahu, jadi besok akan antarkan aku ke sana. Kalian bagaimana?" Tanya Rita.


"Kita juga sudah tahu alamatnya dimana tapi karena masih bingung sama kendaraan disini. Kita mau ikut Bu Rita saja sekalian kita minta tolong pak pemandu antar," kata guru lainnya.


"Okelah kalau begitu, besok pagi mita kumpul di lobby bawah ya," kata ketua.


"Siap!" Jawab semuanya.


Mereka semua keluar lift saat Rita keluar, Ney memeganginya.


"Tunggu, kamu mau masuk kamar begitu saja? Aku bagaimana?" Tanya Ney.


"Ya aku lelah. Besok masih bertugas, memangnya siapa yang suruh kamu ke sini? Aku mau pergi kemana ya terserah aku. Memangnya kamu babysitterku?" Tanya Rita.


"Ya bukanlah. Kalau tahu kamu jalan-jalan, bisa kan ajak aku tanpa perlu kamu sama pak pemandu itu," kata Ney.


"Ogah. Kamu pengganggu yang rese! Aku capek dengar kamu bicara soal Alex terus. Sudah ya aku mau tidur terserah deh kamu mau pergi kemana juga," kata Rita lalu jalan menuju kamarnya.


Ney sebal kemudian dia menaiki lift lagi dan menuju hotelnya. Hari ini dia sama sskali tidak mendapatkan apa yang dia mau, dia tidak menyerah sampai bisa bertemu langsung dengan Alex.


Setelah mengantarkan Rita, Syakieb kembali ke kediaman Alfarizki yang mewah. Ternyata Ibunya Alex telah berada di rumah.


"Kamu dari mana?" Tanya Ibu Alex.


"Saya dihubungi oleh para pengawal lain kalau Rita tengah mengejar para pengawal," kata Syakieb.


Ibu Alex lalu tertawa dengan keras. Dan mereka berenam ada disana menundukkan kepalanya karena malu. Karena mereka lengah.


"Kalian harus hati-hati selama dia berada di sini meskipun dia hanya orang biasa tampaknya dia mencurigai kalian. Besok, kalian pakai baju biasa san membaur ddngan orang-orang. Kamu tahi besok ada kegiatan apa kan?" Tanya Ibu Alex pada Syakieb.


Syakieb mengangguk. "Tentu," jawabnya singkat.


Keenam pengawal menganggukkan kepalanya. "Baik, Nyonya," katanya serempak.


Ibu Alex lalu berpikir sambil memakan sebuah cokelat mahal. "Saya jadi penasaran, saya akan coba uji dia seperti apakah kepribadiannya," gumamnya sambil tersenyum menatap foto Rita.


Mereka semua yampak tegang termasuk Syakieb karena penilaian Ibu Alex sangat ketat.


"Lalu Tuan Muda bagaimana?" Tanya Syakieb.


"Batalkan semua kegiatannya. Saya ijinkan dia menemui Rita," kata ibunya lalu menuju kamarnya.


"Pak, kira-kira apa yang akan terjadi dan apa yang akan Nyonya rumah lakukan?" Tanya Ei pengawal yang paling muda.


"Kalian sudah tahu jadi bersiaplah. Dan ingat besok berbaur dengan banyak orang," kata Syakieb.


Syakieb lalu menelepon Fernando. "Yo! Tuan Muda ada?" Tanyanya.


"Ada. Tunggu sebentar," kata Fernando mendatangi Alex yang sedang berpikir.


"Halo," jawab Alex.


"Alex, besok temani aku ke suatu tempat," kata Syakieb langsung.


Alex tampak malas sekali. "Ah, kenapa? Eh tunggu kalau kamu meminta bantuan aku berarti besok..." katanya dengan nada yang semangat.


"Ya, besok kamu tidak perlu datang menghadiri rapat. Bagaimana?" Tanya Syakieb.


"Mungkin kita bisa ke tempat Rita!" Soraknya dalam telepon.


"Maaf Alex, sepertinya kamu akan kecewa. Saya akan ajak kamu ke tempat yang jauh dari lokasi Rita. Aku ada urusan dan hanya kamu yang bisa membantu. Baik saya tunggu di rumah pukul 7 pagi," kata Syakieb yang tidak memberikan kesempatan bicara pada Alex.

__ADS_1


"Baiklaaaaah," jawab Alex dengan malas. Setelah menutup telepon, Alex menjitak kepalanya karena tidak mungkin bisa kabur bila berhadapan dengan Syakieb.


Bersambung ..


__ADS_2