
Mereka semua terdiam sesaat dan tidak terasa tiba - tiba perut mereka berbunyi. Suasana memanas pun akhirnya bisa mereda dengan rasa lapar yang keluar.
"Sudah deh obrolan beratnya. Sekarang kita makan saja bagaimana?" Tanya Arnila yang disambut dengan anggukan Rita dan Ney, mereka juga sangat lapar setelah berdebat panas.
Rita melihat menu Ney itu adalah menu yang Rita buat sewaktu SMP dan Ney sama sekali tidak berpikir Rita masih ingat. Tapi Rita berpikir wajar bila Ney atau orang lain membuatnya karena menu itu memang lebih biasa di kalangan banyak orang jadi Rita tidak mengomentarinya. Meskipun Ney sudah siap untuk membela bila Rita kembali mengoceh tapi ternyata meleset.
"Wow! Kentang goreng! Lho ada 2 versi ya?" Tanya Rita.
"Eh? Oh... i-iya itu tuh memang begitu supaya jadi lebih banyak saja," kata Ney membalas sambil tergagap. Arnila kemudian melihat juga kentang goreng yang ada 2 versi itu.
Dia melihat sisi kentang satu bersih dan taburan garamnya sedikit sedangkan sisi lain kentangnya sedikit hitam dan sangat banyak bertaburan garam. Kentang dua versi itu disatukan secara acak tapi tetap saja terlihat karena potongannya pun berbeda - beda. Arnila sedikit ragu kalau Rita memakan itu, alerginya akan kambuh begitu juga yang dipikirkan oleh Rita.
"Itu semua aku yang buat ya," kata Ney yang cuek dengan reaksi mereka, yah sedikitnya agak gemetaran.
Arnila dan Rita saling bertukar pandangan saat melihat kentang Ney. Dalam hati Ney, dia merasa bersalah terhadap Rita tapi dia sulit mengaku soal taburan garam.
"Kamu kan sudah bilang kenapa harus berkali - kali sih? Hanya kenapa berantakan?" Tanya Rita. Mereka melihat susunan makanan dalam bekal Ney lumayan tidak rapi. Saus mayones burger atau sejenis itu bertumpah - tumpah.
"Pasti kamu sudah terlambat lalu berlari - lari ya?" Tanya Arnila menatap Ney yang gelagapan.
"Itu sih pasti yang penting dia benar - benar membuat ini semua sendiri, kan. Kentangnya bagus ini digoreng sempurna warnanya keemasan gitu. Nah ini buatan aku," kata Rita membuka punyanya dan mereka berdua berdecak kagum. Ney juga keceplosan mengagumi buatan Rita.
"Wow! Buatan kamu tampak enak," kata Ney yang secara tidak sadar lalu langsung terdiam. Lalu memalingkan mukanya ke arah lain, Arnila menahan tawa melihatnya.
"Iya enak banget sepertinya, Ri. Jadi tidak sabar buat memakannya," kata Arnila.
"Hehehe makasih Ney. Iya Arnila, ini semuanya dapat jatah 2 buah semua ya atau aku satukan saja ya biar lebih banyak dengan punya kalian," kata Rita sambil membuka semua tempat bekalnya lalu mencampurkan buatannya ke dalam tempat yang lebih besar. Ney kembali melihat lagi dan semua buatan Rita menggugah seleranya. Dan mulailah mereka memakan makanan yang lain, saling bertukar makanan juga agar merata. Makanan yang dibuat Arnila lebih masuk ke dalam permanisan. Ney perasinan sedangkan Rita campur. Semuanya enak!
Kemudian Rita mengambil kentang goreng milik Ney, Ney tampak mematung. Rita tahu kentangnya bertaburan garam dan dia mengetuk - ngetuk di pinggiran tupperwarenya Ney. Kalau masih ada yang menempel, Rita sapukan menggunakan tangannya dan memakannya. Setiap masalah pasti ada solusi tidak perlu sampai koar - koar malah malin panjang kan.
"Hmmm! Enak!" Kata Rita dengan nada yang senang. Dia sangat menyukai semua olahan kentang.
__ADS_1
Ney tampak senang buatannya dipuji oleh Rita meskipun yah, sangat asin. Tapi juga takut alerginya kambuh dia tahu kalau apa yang Rita ceritakan itu memang benar adanya bukan dilebihkan. "Alergi kamu tidak akan kambuh seperti waktu itu?" Tanya Ney dengan hati - hati.
Rita yang sedang asyik memakan kentang, melirik Ney. "Kan ada makanan buatan Arnila hampir manis - manis semua kan jadi pasti aman," jawabnya yang mengambil lagi kentang gorengnya.
Ney tampak bernafas lega setidaknya tidak akan ada masalah dan Arnila melihat itu, dalam hatinya semoga saja Ney bisa berubah jadi dia tidak akan kehilangan dirinya dan Rita. Arnila pun menikmati semua buatan Rita dan Ney juga dirinya sendiri.
"Bagus deh," kata Ney yang mengambil makanan buatan Rita, dia sangat senang sekali memakan banyak makanan yang terhidang.
"Ini kentangnya pasti ibu kamu yang buat ya," kata Rita menunjukkan kentang goreng yang bersih dan digoreng sempurna.
"Iya itu buatan mamaku. Supaya lebih banyak aku bawa kentangnya. Mamaku maksa untuk buat juga," kata Ney sambil memandang Rita dengan persiapan bila Rita mulai merecokinya.
"Oh. Enak," kata Rita yang sibuk mengunyah dan mengambil dessert punya Arnila. "Arnila sudah jago masak ya. Soalnya beda hehehe,"
"Dia sih sudah sejak SD bisa masak apapun," kata Ney yang kemudian minum air.
"Wah asyik dong!" Kata Rita yang berbinar - binar kedua matanya.
"Kamu harusnya bersyukur punya teman yang bisa masak dan buat kue. Tiap hari bisa kan makan enak tuh," kata Rita sambil melihat hpnya.
"Alex?" Tanya Ney. Rita ketawa saat membaca apa yang dia kirimkan.
"Foto yuk! Sambil pegang makanan yang kalian makan," mereka berdua memegang makanan dalam kedua tangan mereka sedangkan Rita menunjukkan satu tangan yang memegang kentang dan difoto bersama lalu dikirimkan.
Mereka tertawa dan mengobrol dengan ringan. Rita lalu mengambil sandwich yang mungkin tadinya mau menyerupai buatan Rita dahulu tapi gagal. Jadinya ya seperti sandwich dengan isian yang lumayan... tidak... bagus. Roti, selada yang secuil lalu tomat yang penuh dan ham beef yang tercabik - cabik. Rita berpikir 'Ini ham kenapa ya? Seperri habis dicolek - colek. Jangan memikirkan hal yang lain. Makan saja semoga tidak ada yang salah dengan rasanya.' Pikir Rita. Meski agak mengerikan memakannya. Rita melihat Ney yang senang dengan makanan buatan Arnila atau Rita. Tapi Rita agak sedikit ngeri dengan sandwich yang dia makan.
Arnila melihat mimik wajah Rita dan melihat sandwich yang dipegangnya lalu melihat ke tempat bekalnya. 'Kenapa ya dengan wajah Rita seperti tidak mau memakan tapi terpaksa harus?' Pikir Arnila. Setelah makanannya habis, dia juga mengambil sandwich Ney dan mengobservasinya. Tampaklah apa yang Arnila lihat, apa yang Rita khawatirkan.
'Ya Allah asin!!' Teriak Rita dalam hati. Dengan cepat dia minum air aquanya. 'AAAAAAA!! Seriuslah ini semua buatan dia dahsyat keasinan. Nih orang apa indera perasanya sudah mati ya? AAAAAA!' Pikir Rita dengan perasaan yang tidak senang. Itulah yang dilihat Arnila ke arah Rita yang seperti lelah memakan makanan punya Ney.
Saat dicoba sama dengan Rita, Arnila pun merasakan sesuatu yang dahsyat dan cepat - cepat minum air. Arnila melihat Rita tidak menghabiskan sandwichnya dan menaruhnya di dalam tupperwarenya. Gila banget rasa asinnya seperti minum air laut satu galon. Arnila pun tidak tahan dengan rasa asin yang menyengat dan melakukan hal yang sama. Ney tidak sadar sama sekali karena dia sedang menikmati makanan yang lebih enak darinya.
__ADS_1
'Pantas saja kalau Rita sampai mimisan sih,' Pikir Arnila yang lalu memakan makanan manis. "Ney, indera perasa kamu sudah mati ya. Ini semua makanan yang kamu buat dahsyat keasinan! Kamu tuh suka belajar masak tidak sih?" Tanya Arnila yang melap bersih mulutnya. Rasa asinnya garam masih tersisa di tenggorokan.
"Hah masa sih keasinan?" Ney tidak mempercayainya lalu melihat Rita yang sedang memakan makanan manis dengan penuh perjuangan.
"Asli asin banget. Aku kira keasinan yang ringan tapi ini sumpah! Kamu buatnya sambil dicicipi tidak sih?" Tanya Rita.
Ney terdiam lalu memakan hasil buatannya dan benar saja dahsyat. Dia sendiri pun minum air dan meletakkan kembali makanannya sendiri.
"Kalau kentang sih masih bisa dibersihkan tapi ini? Kulit Sandwich kamu pakai berapa sendok garam? Penyedapnya? Kalau pakai penyedap tidak perlu pakai garam juga. Pilih salah satu memangnya di resepnya harus pakai semuanya?" Tanya Arnila yang menyipitkan kedua matanya karena tidak tahan.
Ney bengong melihat mereka berdua yang seperti kesakitan begitu juga dengan dirinya. "Iya di resepnya pakai semuanya," jawab dia beralasan yang sebenarnya dia asal meramu semuanya.
"Masa sih? Setahu aku, tepung itu garam sama penyedap tidak disatukan deh," kata Rita yang akhirnya penderitaannya berkurang.
"Sandwich andalan kamu buat kulitnya seperti apa?" Tanya Ney yang penasaran karena menurut dia caranya diperkirakan sama.
"Nih ya tepung terigu perkiraan 4 sendok, campur garam setengah sendok teh dulu kalau sudah jadi adonan kurang asin, tambah sedikit saja. lalu tambah air. Aduk! Ohok ohok... Aaaaa asinnya masih kerasa. Kamu mau bunuh kita ya. Sudah berupa adonan cair, aku cicipi. Sudahnya sandwichnya aku lumuri pakai adonan tepung cair. Keluarga aku bebas micin penyedap itu tidak pernah pakai," kata Rita yang mengerjap - ngerjapkan kedua matanya yang memerah.
Ney diam mendengarkan ternyata dia selama membuatnya salah. Ney memejamkan kedua matanya yang menyalahkan dirinya sudah terlalu sok tahu.
"Jadi kamu bisa memilih pakai penyedap atau garam tidak mungkin dua - duanya kamu pakai. Kamu dapat resepnya dari mana sih? Ada ya sandwich yang resepnya harus memakai garam dan penyedap sebanyak itu?" Tanya Arnila yang merasa aneh.
"Ini yang aneh kenapa aku merasa ada garam juga didalam sandwichnya sih? Ada taburan juga ya penyedap bukan garam. Buat apa? Kalau mau lebih enak, sudah ada mayones buat apa kamu tabur penyedap? Terus ini ham kenapa? Ko bentuknya terkoyak sih? Punya kamu bagaimana?" Tanya Rita. Takutnya hanya punyanya saja yang begitu bisa dikatakan kalau Ney memang punya niat jelek.
"Aku juga sama. Jadi?" Mereka berdua menatap Ney yang mulai salah tingkah.
"Memang adanya segitu hamnya ya sudah aku kan pakai apa yang ada dalam kulkas. Ingat ya itu bukan koyakkan kucing, aku tidak akan beri kalian ham bekas!" Kata Ney yang sempat menangkap pikiran mereka.
Mereka berdua bernafas lega dari tampilan makanannya yang berantakan memang bisa dipastikan Ney bukan tipe perempuan rapi. Berantakannya super berantakan banget, kulit sandwichnya juga asal seperti lumuran keju tapi agak gosong.
"Terus kalau sandwich aku sih pakai tepung panir lagi setelah tepung. Kamu sepertinya memang tepungnya dibuat cair ya. Berbeda memang dengan buatanku. Baguslah aku kira kamu plagiat lagi karya aku," kata Rita membuat Ney menganga. Padahal aslinya dia memang plagiat punya Rita tapi ternyata semuanya berbeda.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...