ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(104)


__ADS_3

Sebaik apalagi jugalah Arnila yang selalu ada di sisinya tapi tidak pernah dihargai kehadirannya? Ney tipe yang kurang bersyukur kalau saja dia bisa kembali pikirkan, apa yang dia sudah punyai bukan hanya soal tidak mau tersaingi. Kadang Rita ingin tahu apa sih yang sebenarnya Ney pikirkan tentang mereka berdua lalu apa yang dia inginkan pada kita berdua.


"Nanti deh aku beli juga," kata Ney sambil memperhatikan tangannya.


"Jangan nanti, sekarang. Kalau ada uangnya ya langsung beli, dipakai bukan buat pajangan! Nanti pasti suatu hari, Dins meminta kamu lebih merawat tangan kamu. Asli! Parah banget tangan kamu, Ney!" Kata Rita yang memandanginya mengerikan. Apa yang dilihat Dins ke Ney ya? Tangannya begitu, penampilannya seenak jidat, bahasa omongannya kadang nyelekit bikin sakit orang yang mendengarnya. Kadang Rita ingin bertanya tapi diurungkan, tidak enak.


Kurang baik apa untuk Ney, Rita yang tulus banyak memberi saran untuk kebaikannya malah dianggap sebagai saingan? Aneh banget!


"Aduuuuh... kamu cerewet banget sih, Rita! Sudah ya kelar. Kita lanjut deh obrolan yang tadi! Soal ini biar aku yang atasi ye," kata memandang Rita dengan sebal.


"Ya sudah jadi maaf ya Ney, kamu benar - benar tidak akan pernah bisa sama Anggara. Kamu kan sudah ada Dins yang bisa nerima kamu, ya sudah buat apa kamu masih mencari yang lebih baik? Anggara itu dari keluarga yang sebenarnya serba kekurangan. Tidak seperti yang kamu kira," kata Rita melanjutkan obrolan yang sebelumnya. Ney memandangi Rita dengan wajah yang tidak percaya.


"Tapi kemarin dia bawa mobil bukan punya pacarnya kan?" Tanya Ney yang mengira Rita sengaja berbohong untuk sengaja menyembunyikannya.


"Itu orang tuanya yang belikan tapi masih terlilit bayaran per bulan dan Anggara sekarang diberi pekerjaan sama orang tuanya Merlin untuk membantu dia melunasi mobil. Asalnya sih mau dibayar lunas oleh orang tua Merlin tapi Anggara tidak mau, dia sebagai lelaki ingin berusaha sendiri," kata Rita. Ney dan Arnila mendengarkan tanpa memotong. Ney manggutkan kepala, dia juga kagum dengan sosok Anggara.


"Bagus sih menurut aku, Anggara hanya ingin membayar segalanya hanya dengan kerja keras dia," kata Ney.


"Banget! Jadi materi buat kamu, Ney jangan pandang siapapun dari materinya dulu sama fisik. Tidak semua yang tampan itu kehidupannya mapan," kata Rita mengguncangkan bahunya Ney. Ney hanya mengiyakan, membiarkan Rita memainkan bahunya. Rita lalu menyenderkan tangannya diatas bahunya Ney.


"Kalau tidak salah ada kan filmnya apa sih judulnya?" Tanya Arnila.


"Oh tahu tahu yang orangnya tampan tapi miskin kan? Apa ya judulnya? Kamu tahu tidak?" Tanya pada Rita. Ney tahu kalau Rita sangat suka film Jepang semua genre dia sukai.


"Poor Prince Taro," jawab Rita.


"NAH ITU!" Seru mereka berdua yang langsung menutup mulut karena terlalu keras.


"Tapi itu mah parah! Memang sih ganteng tapi miskin tapi kalian perhatiin tidak sih rumahnya? Sepetak terus tidak ada kamar mandi, aku heran mereka mandinya bagaimana," kata Rita menyingkapkan tangannya.

__ADS_1


"Iya juga ya. Itu kan yang paling mistisnya. Masa seperti kantong Doraemon?" Arnila juga berpikir terasa janggal itu film.


"Lah elah, bukan cuma kamar mandinya juga kali! Sampai ibunya hamil lagi, coba kalian pikirkan. Rumah sepetak, tidur di ruangan itu saja, lalu ibunya melendung sama bapaknya. Kebayang mereka lakukan itu di ruang mana? Di mana coba? Heran memang itu film bikin banyak yang janggal," mereka bertiga lalu tertawa keras bersama.


"Tapi bisa tanpa mandi aura mereka glowing," kata Ney yang kemudian mereka kembali tertawa lagi. Dalam hal begini, Rita dan Ney bisa kompak tapi kalau sudah soal Alex dan semua per-sifat-an jadinya hancur!


"Kalau bisa seperti itu, aku mau deh tanpa harus mandi bisa bikin glowing," kata Rita membayangkan.


"Iya glowing menurut kamu, orang lain lihatnya kamu dikelilingi awan hitam," kata Arnila dan Ney juga Rita tertawa lagi.


"Ke atas yuk! Disini terlalu banyak orang tidak enak setiap kita ketawa dilihatin terus," ajak Ney. Mereka bertiga lalu pergi ke atas dan masih tertawa. Sambil berjalan, mereka masih terus berbicara kadang hanya Ney dan Arnila, kadang Ney dan Rita, kadang juga Arnila dan Rita. Yah seperti itulah.


"Kalau Alex sudah beda," kata Arnila. Disetujui anggukan Rita dan Ney.


Alex oh Alex. Hahahahaha!!


"Kerena ya teman kamu meski serba kekurangan tapi wajah ganteng plus punya otak encer," kata Arnila. Ney langsung melihat - lihat buku tidak jauh Rita yang langsung mencari komik.


"Iya aku lupakan deh. Aku pikir juga buat apa mengejar teman kamu yang sudah jauh. Aku lihat Dins bersungguh - sungguh sama aku, Minto juga sudahlah tidak ada harapan pasti sama dia," kata Ney. Akhirnya setuju juga. Rita bisa tahu secara aneh kalau Ney meragu, kurang jujur, Rita hanya ingin dia selalu terbuka. Kalau ada masalah, ya keluarkan siapa tahu Rita bisa membantu meski tidak banyak.


Arnila menatap Rita dan Ney dari kejauhan, Arnila berdoa dalam hati semoga mereka berdua bisa akrab seperti ini. Karena melihat Rita adalah teman yang baik bagi Ney, dan berharap Ney bisa lebih menghormati orang yang membantunya.


"Benar ya kamu harus lupain Anggara. Kamu benar - benar harus tepati janji lho," kata Rita terus mengingatkan.


"Iya. Busyet tidak percaya banget kamu? Meski aku memang selalu ingkar," kata Ney yang disambut getokkan kepala dari tangannya Rita. Rita pun berharap bentrokan dengan Ney tidak terlalu parah jangan sampai tapi tetap Rita berharap, Ney sedikitnya memiliki rasa empati dengan semua orang.


"Kamu tea begitu," jawab Rita yang mudah membaca karakter orang.


"Hehehehe," kata Ney sambil tertawa. Rita lalu pindah ke tempat komik lagi dan memilih mana yang akan dia beli. Ney memandangi Rita lagi sekilas dia tersenyum benar - benar tulus, setulusnya teman. Arnila juga memperhatikannya mungkin dia tahu kalau kadang Ney memang bisa diandalkan tapi sisi lain, ada sesuatu yang membuat Arnila merinding. Tapi kemudian Arnila melihat Ney yang kemudian menggelengkan kepalanya dan senyumannya berubah menjadi orang yang kembali seperti musuh.

__ADS_1


Arnila tidak mengerti kenapa Ney menjadi seperti itu. Toh Rita bukan orang yang akan pergi bila kamu punya banyak masalah, dia akan senang sekali membantu membuat solusi asalkan kamu terbuka dengannya. Mimik wajah Ney kembali dengan wajah yang bersaing dan menatap tajam Rita yang saat itu membelakanginya. Arnila menghela nafas, apa yang terjadi pada Ney? Padahal sekejap perilaku Ney, sangat baik seharusnya dia percaya diri sendiri kalau Rita orang yang bisa dia percayai.


"Selama dia pacaran sama perempuannya yang kaya itu bagaimana soal membelikan Merlin banyak barang?" Tanya Ney yang nadanya kembali menjengkelkan.


Rita mengernyitkan dahinya tampaknya dia juga merasa aneh kenapa nada suaranya kembali mengganggu. Kenapa sih dia itu? Tapi Rita tidak terlalu banyak memikirkannya dan menjawab apa yang Ney tanyakan.


"Dia tidak pernah membelikan apapun, Merlin juga tidak pernah menuntut apapun sama Gara. Pokoknya Merlin tuh sabar banget meski tampilannya WAH! Awalnya sih Anggara tidak enak dia menganggap dirinya tidak pantas saat tahu siapa Merlin. Tapi Merlin bilang tidak perlu risau kalau tidak bisa membelikan dia apapun yang penting, dia mendukung apapun yang Anggara mau lakukan. Ikut ke Amerika juga kan pakai ongkos sendiri, sejak kenal Gara, Merlin juga jadi suka bekerja mandiri terus menabung juga katanya biar tidak merepotkan Gara. Pokoknya top banget deh mereka!" Kata Rita sambil menunjukkan jempolnya.


Ney tampak memandangi Rita yang menjelaskannya sambil mencari komik yang dia suka. Tampak Ney sambil berkacak pinggang ke arah Rita membuat Arnila yang melihatnya menggelengkan kepalanya. Untung saja Rita tidak melihat, kalau lihat pasti keluar masalah lagi. Jalannya dan tingkahnya pun kembali ke gerakan yang angkuh sambil meliukkan lehernya.


"Wah, Merlin super sabar ya. Dia tidak tergiur mencari lelaki lain?" Tanya Ney sambil terus memperhatikan Rita.


"Tidak! Karena Anggaranya membuat Merlin mengerti dan kalau sukses, dia pasti memberi banyak Merlin apapun tapi Merlin orangnya tidak pernah menuntut. Baik banget deh!"


"Oh, begitu," jawab Ney yang terus memperhatikan Rita dari belakang.


"Apa maksud kamu dengan berkacak pinggang segala? Mau berantem lagi? Atau ada sesuatu yang mau kamu tanyakan? Kamu mau bertanya tidak perlu kan sampai kamu berkacak pinggang lalu nada suara kamu tinggikan lagi?" Tanya Rita menatap Ney kebelakang.


Arnila takjub ternyata Rita menyadari keanehan pada Ney lalu Ney tampak panik dan berubah lagi sikapnya.


"Tidak ada maksud apa - apa cuma aku penasaran saja kamu kok bisa sampai tahu banyak ya? Padahal kamu kan pasti jarang bertemu mereka dan kamu memberitahu aku seperti yang tidak mau banget aku bisa dekat dengan Anggara," kata Ney sambil memainkan jarinya.


Rita menghela nafas. "Soal aku tahu tidaknya karena jarang bertemu, aku kan selalu memperhatikan Anggara dan Merlin. Pertama ketemu Merlin, dia kan sempat anggap aku saingan juga karena Anggara tampak begitu menomorsatukan aku. Tapi setelah kenal, Merlin sadar dia salah paham. Teman yang sebenarnya itu tidak perlu diberitahu bagaimana sifat temannya, perilaku, kebiasaan. Dia akan otomatis tahu dengan sendirinya itulah kenapa aku bisa tahu banyak. Soal kamu yang aku tidak mau kamu dekat dengan Anggara, mana mungkin aku setega itu pada mereka. Mereka sudah lama dekat, lalu aku setuju Anggara dekat dengan kamu? Memangnya kamu bisa sabar menunggu Anggara jadi kaya?" Tanya Rita pada Ney.


"Bukannya Dins juga sedang berproses?" Arnila tiba - tiba datang dan ikut dalam obrolan mereka. Dia tidak bisa tahan pada kemungkinan Ney yang mulai berperilaku panas.


"Iya sih.. ya kalau Anggara mungkin aku bisa dia kan ganteng," jawab Ney seenaknya sambil membuka buku yang dia ambil tadi.


"Jangan lihat fisik kalau kamu mau mulai ke jenjang lebih serius alias pernikahan," kata Rita.

__ADS_1


"Sambil duduk yu!" Ajak Arnila dan mereka masing - masing memegang 1 buku lalu duduk di pojok.


BERSAMBUNG ....


__ADS_2