
Setelah itu Arnila mencari keberadaan Ney, perutnya keroncongan rencananya dia mau ajak Ney makan di suatu tempat. Ney tengah meminum Thai Tea sambil duduk dekat tempat aksesoris yang lain. Dengan lemas menatap temannya itu, Arnila duduk disana. Untunglah air minum selalu dia bawa kemanapun.
"Lama ya?" Tanya Arnila setelah selesai minum.
"Banget! Sudah kan? Setelah ini mau kemana?" Tanya Ney memandangi Arnila.
"Makan siang yuk, aku yang traktir karena kan aku yang ajak kamu ketemu," kata Arnila berdiri.
"Makan dimana?" Tanya Ney penasaran. Sudah pasti yang murah padahal Arnila ini anak seorang pengusaha.
"Di The Cost yuk," ajak Arnila
Ney menghela nafas, "Betul saja." Pikirnya. Karena dia merasa tidak ada perkembangan pada Arnila, dia berdiri cepat.
"Aku saja yang traktir kamu. Sambil menunggu, aku sudah pesan tempat di restoran yang sudah aku targetkan. Yuk," kata Ney yang berjalan duluan.
"Restoran? Tumben," kata Arnila lalu mengikutinya.
Mereka berdua menuju pintu luar mall lalu pergi ke restoran yang letaknya hanya beberapa rumah. Arnila kebingungan dia baru tahu kalau ada restoran disini. Sedangkan Ney terus berjalan menuju sebuah taksi
"Jauh memangnya?" Tanya Arnila yang curiga.
"Lumayan restorannya berkelas lho kamu pasti terkejut kalau aku bisa membayarnya," kata Ney dengan nada yang agak sombong.
"Dimana itu?" Tanya Arnila. Dia tidak suka dengan nada yang dikeluarkan oleh Ney, biasanya kalau dia sudah begitu pasti ada yang aneh.
"Di Jalan Asia Afrika. Sudah deh ya jangan banyak tanya ikuti saja," kata Ney yang terus bertingkah angkuh.
Mereka sampai pada sebuah taksi yang diberhentikan oleh Ney lalu naik. Meski keheranan tapi Arnila terdiam, suara tempat yang dia lihat tidak pernah dia lihat sebelumnya. Apalagi mereka mulai memasuki lingkungan perumahan yang mewah.
"Kita tersesat ya?" Tanya Arnila memperhatikan sekitarnya.
"Ya tidaklah, aku sudah cek kok tempatnya. Memang begini alurnya," kata Ney yang mulai kesal melihat Arnila gelisah. "Kita sampai!" Kata Ney pada akhirnya.
Mereka lalu turun dan Arnila melongo memandangi pemandangan bangunan megah di depannya. Cafe mewah yang memang tidak jauh dari mall tempat mereka bertemu.
"Kamu yakin disini? Tapi ini kan tempatnya. Ney, kamu punya uang dari mana?" Tanya Arnila yang semakin curiga.
"Ada ada sudah yuk masuk saja. Jangan cemas begitu deh. Masuk yuk," kata Ney berjalan duluan.
__ADS_1
Akhirnya Arnila juga masuk meski tidak yakin Ney mampu membayar makanan disini. Uang pun sudah dia siapkan takutnya sesuai perkiraannya, Ney pura-pura.
Tempat yang mereka masuki adalah resto termewah dengan pemandangan seperti danau buatan dan kolam renang. Arnila masih belum percaya bila mereka berdua akan makan disini apalagi target Ney? Mana mungkin juga. Karena Ney lebih suka dengan makanan Indonesia bukan barat.
"Ney, ini kan tempatnya mahal kita cari yang murah saja yuk," ajak Arnila takutnya sama dengan kejadian lalu, dia pura-pura ketinggalan dompet.
Tapi Ney sama sekali tidak mendengarnya dan memilih tempat dimana mereka akan duduk. "Aduh, kamu kenapa sih? Aku yang akan bayar makanannya, tenang saja. Pilih deh nih makanannya yang belum pernah kamu makan. Terserah," kata Ney dengan agak angkuh.
Cook & Screw Country Club Senayan adalah cafe mewah yang letaknya di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, dan menunya juga dijamin membuat kalian para pembaca pasti ngiler. Belum lagi harganya yang bikin sesak nafas tiba-tiba.
Dengan elegan, Ney memesan makanan tentu sebelumnya dia sudah searching penampakan makanannya seperti apa. "Saya pesan Wagyu Beef Maranggi Satay, Nachos dan minumnya Coffee Tonic. Kamu apa? Santai saja sambil menikmati pemandangan, kapan lagi kamu bisa makan mewah kaaan," kata Ney bergaya layaknya putri.
Pelayan menunggu Arnila memutuskan pesanan dengan sabar karena tampaknya Ney yamin bisa membayarnya, Arnila memutuskan memesan cemilan saja. "Saya pesan Brie Cheesecake saja," katanya menutup menu makanannya.
Pelayan itu lalu mencatat. "Minumnya?" Tanya pelayan itu tersenyum.
Arnila nampak akan menolak. "Sudah, pesan saja. Kamu kenapa sih masih tahu aku bisa membayar? Yang seperti ini sih kecil," kata Ney memperlihatkan jentikan jarinya.
"Benar ya kamu bisa bayar jangan ke aku lagi," Arnila mengingatkan.
"Iya dooong. Kamu pikir aku miskin apa," kata Ney memperhatikan jemarinya dengan tatanan kuku yang terpoleskan kuteks.
"Ya sudah. Tea Chamomile. Sudah," kata Arnila menutup lagi.
Arnila terkesan sebal karena Ney mengatakannya dengan suara yang keras, tahu kalau dia memang ingin mempermalukannya. Apalagi beberapa orang kini menertawainya dan seakan Ney puas dengan yang dia lakukan.
Akhirnya Arnila menetapkan makanan paling mahal, "BBQ Chipotle Chicken," pesan Arnila.
"Baik, ditunggu sebentar ya," kata pelayan itu lalu mengantarkan pesanan ke kasir depan.
"Kamu bisa tidak sih suaranya di pelankan. Kamu sengaja ya?" Tanya Arnila dengan marah.
Ney langsung bersikap biasa. Tidak kok, kan aku memang begini. Suara juga biasa," kata Ney lalu membuka ponselnya lagi. Suaranya tidak lagi bernada angkuh dan volumenya menjadi biasa saja. Pantas Rita sudah tidak mau berdekatan dengannya karena memang Ney selalu sengaja melakukannya, entah untuk menarik perhatian atau menjatuhkan.
Arnila melihat ke sekeliling memang hebat sekali pemandangannya apalagi tamannya. "Kamu serius? Tempatnya, harga makanannya. Kamu ingat kan yang tahun lalu beralasan dompet tidak dibawa alhasil aku yang bayar, terus kamu belum bayar lho," kata Arnila menatap tajam.
Ney terlihat salah tingkah mendengarnya. Dia lupa kalau punya hutang kepadanya lalu malah mentraktirnya. "Nih, aku bayar deh supaya kamu tidak berisik lagi. Kan? Aku punya uang banyak kok," kata Ney mengambil uang Rp 400.000 lalu dia lempar begitu saja di atas meja.
Meski tidak enak dilihatnya tapi Arnila menerimanya dan memasukkannya dalam dompet. "Makasih gitu benar-benar deh minus sekali perilaku kamu," kata Arnila tapi Ney tidak mau mendengarnya.
__ADS_1
"Aku yakin ya makan disini, tidak seperti seseorang yang memang sudah kaya dan banyak uang, selalu ajak makan di cafe murah. Sama sekali tidak peka ya kalau aku kan tidak cocok makan di tempat begituan," kata Ney dengan nada yang membuat Arnila ingin sekali pulang.
"Kamu kan tidak suka makanan barat dan Asia berbeda dengan Rita, jadi bukannya kalau aku tawari tempat lain kamu sendiri yang bilang tidak suka Western?" Tanya Arnila dengan wajah datar.
Ney kemudian bersikap biasa, orang yang duduk dekat mereka mulai pelan menertawai. "Yaaa itu ya dulu memang aku tidak suka, tapi sekarang berbeda. Aku suka kok, lagipula suasana mewah dan glamor begini nanti kan aku hidupnya jauh sekali. Mungkin di atas kamu tuh," kata Ney.
"Mulai lagi deh berkhayal. Maksudnya kamu menikah dengan Alex? Hahaha mana mungkin dia kan ada hatinya sama Rita," kata Arnila tertawa.
Ney diam, dia tahu tidak bisa membuat Alex melihat ke arahnya. Dia bisa tahu bahwa hatinya tulus menyukai Rita, yang Alex perlukan adalah seorang perempuan yang bisa menjaga hatinya. Tidak dengan Ney, yang genit dan gatal melihat lelaki lain.
"Aku ini bukan termasuk orang yang pelit ya punya banyak uang tidak mungkin dong beli yang murahan termasuk makanan. Kalau kamu bagaimana?" Tanya Ney tanpa melihatnya.
"Aku lebih suka menabungnya karena pasti ke depannya akan butuh banyak kebutuhan. Seperti nanti kamu setelah praktek mengajar pasti akan disuruh mengulang membuat laporan, itu kan bayar. Jadi daripada mentraktir orang makan mahal lebih baik menabung saja. Kamu sudah bayar untuk wisuda belum plus seragamnya?" Tanya Arnila mengetikkan sesuatu.
Ney diam, dia lupa kalau dia sudah menunggak SPP selama 2 bulan kalau ketahuan oleh ayahnya bisa gawat! "Sudah. Baru dikasih buktinya nanti mah aku kasih ke Ayah," kata Ney membalas.
"Ya sudah kalau memang itu mau kamu," kata Arnila yang enggan memanjangkan masalah soal pemberat angsa yang dia beli.
Dari pembicaraan mereka juga Arnila mengetahui kalau pelayan itu telah berbohong untuk kebaikannya. Arnila tidak nyaman di tempat itu lalu dia juga memberitahukan dimana dia berada pada calon suaminya dan akan dijemput.
Pelayan tadi datang dan mengantarkan pesanan makanannya. Semua pesanan mereka nampak mewah dan indah, membuat mereka terasa sayang sekali bila dimakan. Ney memfotonya untuk dijadikan bukti ke grupnya, pada akun PBnya pun dia kirim.
Mereka memakannya lalu merasakan rasa yang sangat luar biasa enak. Lalu dia melihat Ney yang selebor jauh sekali dengan gayanya yang elegan tadi, membuat Arnila malu sekali. Orang yang ada disana menatap Ney dengan wajah agak jijik.
"Ney, makannya yang benar dong. Masa tangan kamu dua-duanya bekerja sih? Kan ada pisau pakai itu," kata Arnila berbisik.
"Iya iya," katanya menggunakan pisau dengan suara yang lumayan miris. "Bagaimana? Enak sekali kan nah ini selera aku. Aku sudah mengirimkan foto ke grup, mereka pasti iri," katanya sambil tertawa.
"Ini benar tabungan kamu? Bukan lalu bukannya habis karena kamu beli banyak baju? Yang sekarang dapat uang dari siapa? Ayah kamu kan sudah memotong uang jajan," kata Arnila menikmati kuenya.
"Aku masih punya tabungan kok sekitar Rp 4.000.000 aku pikir sudah habis, ternyata masih ada makanya aku bisa traktir kamu," kata Ney memotong daging dengan susah payah.
"Kalau begitu bisa dong kamu traktir Rita," kata Arnila.
Ney terhenti makannya dan menatap Arnila yang juga menatapnya sambil melahap kue. Dia terlihat agak bagaimanaaa tidak ingin mendengar nama Rita.
"Kalau Rita sih bukan levelnya makan mewah, sama sekali tidak cocok. Nanti deh aku traktir dia ke warung pinggiran," kata Ney meletakkan pisaunya.
"Kamu yakin? Kalau dia dengan Alex nanti hidupnya lebih mewah lho dan makanan seperti ini akan menjadi makanan sehari-harinya dia. Alfarizki itu kan nama keluarga yang sangat terpandang di Malaysia," kata Arnila yang mencicipi tehnya.
__ADS_1
"Ah, mana mungkin dia bisa jadi dengan Alex. Alex itu begajulan parah! Sedangkan Rita kan agamis," kata Ney.
"Justru itu uniknya. Lelaki begajulan versus perempuan agamis. Banyak kok akhirnya mereka menyambung apalagi lelakinya langsung insaf. Kamu takut ya kalau nanti Rita ada di atas kamu," kata Arnila cengengesan.