
"Dins bagaimana?" Tanya Arnila yang ingin tahu bagaimana jawabannya Ney. Kali saja Ney ingat kalau dia sudah ada dengan Dins.
"Yaaa habis ternyata masih banyak di luar sana yang lebih dari dia. Aku agak menyesal saja sih cepat banget menerima lamarannya Dins," kata Ney yang membuat teman dekatnya kaget. Kalau Rita sih sudah tidak aneh mendengar jawabannya.
"Kok kamu gitu sih? Kan kamu lho yang maksa - maksa dia buat cepat menikahi kamu. Sekarang kamu malah terus saja tergoda. Kamu tahu? Dins cerita ke aku kalau sedang kerja keras buat mengumpulkan uang menikah? Dia sudah punya banyak terus kamu malah mau meninggalkan dia gitu aja, hanya karena ada yang lebih dari dia? Asli kamu jahat banget!" Arnila marah baginya Dins sudah seperti sahabatnya juga karena Dins selalu curhat mengenai perilaku Ney.
"Tapi ko anehnya ya si Dins masih tetap mau sama kamu? Padahal sudah tahu kamu tuh tidak benar orangnya," kata Rita yang merasa aneh. "Kamu santet dia ya?"
"Ya itu artinya aku laku tidak seperti kalian, lamaaaa banget dapat lelaki. Aku sih mudah," jawabnya.
"Bukan karena kamu lakunya juga sih. Kamu kan gampangan jadi ya dapatnya yang gampangan juga. Kita berdua mah segelnya masih rapih ya jadi dipilihnya yang istimewa," jawab Arnila sambil cekikikan begitu juga Rita. Ney tidak mau tahu yang penting dia gembira karena mendapatkan apa yang dia mau.
"Kamu merasa tidak sih, semua yang kamu inginkan, kamu langsung dapatkan tapi sangat cepat sekali kamu kehilangan," kata Rita.
"Coba deh, Ney kamu rajin sholat lima waktu baru sholat tahajud. Selama itu kamu jangan berbuat dosa pasti paten tuh doanya," sambung Arnila. Tapi apa yang mereka katakan tidak digubris olehnya melainkan dialihkan topik lain.
"Soal Dins aku mau putusin dia saja," kata Ney yang senang sambil menari - nari.
"Yakin? Nanti kalau kamu putus Dins ternyata itu paman sudah punya pacar lain atau sudah ada istri, bagaimana?" Tanya Rita melipatkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Menurut aku tuh ya dia masih single habis kalau sudah menikah, suaranya tidak mungkin dibuat lembut. Lalu tidak ada cincin nikah juga," kata Ney sambil menunjukkan jarinya ke mereka berdua.
iya juga sih mereka tidak melihat cincin nikah tapi mereka yakin kalau pamannya itu sudah ada yang punya. Dan mereka sudah enggan banyak menjelaskan pada Ney, bagi mereka Ney yang sekarang sedang buta karena cinta. Cinta sesaat sih pastinya.
"Perasaan suaranya biasa saja deh. Tegas dan wibawa," kata Rita berpikir. Hanya dia tidak suka dengan nada pamannya Alex itu tapi mungkin itu hanya perasaannya saja.
__ADS_1
"Aku juga setuju. Tidak lembut biasa saja kok," kata Arnila.
"Tidak ada gunanya sih. Ney sedang senang banget karena bertemu Pangeran. Ibuku bilang orang jatuh cinta melihat semuanya seperti cokelat, bahkan tahi ayam juga dilihatnya cokelat," kata Rita yang datar.
"HOEEEKKK!" Kata Arnila yang tidak mau membayangkannya.
"Sama dengan dia meski bedanya, dia mah selalu merasa jatuh cinta ke setiap lelaki kan," tunjuk Rita ke arah Ney yang terus memeluk nomor telepon pria tadi.
"Sadar tidak sih itu nomornya berbeda dengan yang kamu punya?" Tanya Arnila pada Rita.
"Jangan dikasih tahu deh. Itu kelemahannya dia kalau sudah jatuh cinta semuanya dirasa indah sampai tidak sadar nomor yang aku punya. Aku kan sempat memperlihatkan nomor WA pamannya Alex kan? Kami juga sadar," jelas Rita.
Akhirnya mereka jalan - jalan sampai pukul 4 sore dan mereka pun berpisah masing - masing untuk pulang. Dikarenakan mereka juga sudah cukup kelelahan karena petualangan mereka sebelumnya. Mereka bertiga masing - masing membawa sisa makanan yang bukan buatan mereka sendiri alias saling bertukar buatan. Rita dan Arnila terpaksa membawa makanan buatan Ney yang super keasinan.
"Rita banyak makan kentang goreng buatan aku dong," kata Ney sangat bangga.
"Iyalah dia makan pasti karena kentangnya dicampur dengan buatan mama juga. Terus ada oleh - oleh?" Tanya Cyphrin melihat kantong yang dibawanya nampak masih berisi.
Ney memberikan kotak bekalnya kepada mereka semua yang disambut dengan riuhan penasaran. Kakak dan adiknya saling membuka semua kotak dan ibunya terpana dengan penataan makanannya. Sangat rapih pastilah Arnila dan Rita sangat mementingkan tentang kerapihan makanannya tidak seperti anaknya. Yang dimasukkan sesukanya sendiri tanpa bisa memilih - milih.
"Kita makan sama - sama ya, Kak kamu bawa pisau kita bagi beberapa bagian jadi semuanya bisa dapat rata," ibunya menyuruh anak tertuanya dan dia segera beranjak ke dapur dan kembali lagi.
Akhirnya mereka melihat ada banyak makanan buatan Rita dan Arnila yang dibagi menjadi beberapa. Mereka semua bersuka cita karena penampilannya sangat menarik. Ney juga memakannya lagi karena lapar Rita ternyata membawa lebih banyak makanan buatannya.
"Hmmm! Enaaak!" Seru mereka bersamaan, memakannya dengan sangat lahap. Ney pun berpendapat sama, ternyata makanan buatan Rita memang sangat enak tapi dia malu mengakuinya.
__ADS_1
"Hmmm ini buatan Rita ya. Enak! Yang ini pasti buatan Arnila," ibunya melihat ke arah dessert yang beliau angkat.
Mereka sudah tahu kepunyaan Arnila karena dia memang jago membuat kue - kue dan roti. Keahlian yang sangat langka dan juga teman. Sayangnya sepertinya ibunya melihat kalau mereka berdua akan menjauhi anaknya, karena ulah anaknya sendiri. Untuk sekarang, semoga Ney bisa berubah pelan - pelan agar masa depannya bisa berubah.
"Lalu bagaimana dengan dua makanan yang kamu buat?" Tanya Zayn yang penasaran. Ney diam sambil makan, cara makannya mengeluarkan seperti suara kuda yang sedang makan. Sungguh pemandangan yang tidak membuat orang berselera makan.
"Kamu kalau makan coba lebih anggun, tutup kedua mulut kamu coba lihat seperti kakak dan adik kamu. Kalau ada orang yang melihat cara kamu makan seperti ini akan mengurangi selera ***** makan," jelas ibunya sambil menepuk pelan mulut anak keduanya itu.
"Aku tahu mereka pasti tidak suka ya. Kamu yang masak tapi kamu juga yang tidak berani mencicipinya. Karena tahu memang tidak enak ya," kata kakak perempuannya sambil sibuk memakan dessert dengan cuek.
Ney terus diam mendengarnya, dia tidak peduli dengan semua yang dikatakan saudara kandungnya sendiri. Dia sadar sendiri saat melihat 2 minuman Aqua yang dipegang oleh Rita dan Arnila hanya tinggal setengahnya dan tahu juga kalau mereka tidak menghabiskan sandwich buatannya. Tetap saja mereka membawa makanannya yang super asin itu, berbeda dengan masa lalunya dahulu. Tapi Ney berpura - pura tidak tahu dan terus memakan makanan yang mereka buat. Dalam hatinya, dia menyesal karena terlalu sok tahu tentang rada yang dia terka saat membuatnya.
Tapi dia juga kagum dengan tindakan kedua temannya yang selalu dia anggap saingan, karena mereka tetap membawa pulang makanannya meski tanpa berkata apa - apa. Sedih tapi dia butuh itu yang dirasakan olehnya perasaannya bercampur aduk, dia berpikir apa selama ini sudah salah menilai mereka berdua. Tidak seperti teman grup sosialitanya yang menolak membawa makanan buatannya saat berpiknik, dan mengatakan hal yang membuatnya sakit. Seharusnya sih dia merasa sakit tapi biasa saja justru dia juga membuang makanan buatannya.
Dia sama sekali tidak memikirkannya dan melakukannya lagi dengan Rita dan Arnila tapi dia sedikit ada rasa bersalah. Tetapi yang dia sama sekali tidak menduga adalah tindakan Rita dan Arnila meskipun mereka mengomentari makanan buatannya tapi mereka membawa makanannya. Sesaat dia berpikir berlebihan menganggap mereka berdua sebagai saingannya tapi dia ketakutan juga kalau mereka berdua akan sama dengan yang sebelumnya.
Ibunya menatap Ney yang terus terdiam meskipun adik dan kakaknya banyak bertanya. Ibunya tahu seperti apa perasaan Ney dan mendiamkannya, membiarkan anaknya belajar sendiri banyak hal yang dia lewati sejak lama mengenai Rita dan Arnila. Ibunya hanya berharap semoga Ney tidak terlambat menyadarinya bahwa mereka berdua sangat berbeda dengan teman yang dia punya.
"Buatan Rita enak banget! Wah, kak, harusnya kakak bersyukur selain kak Arnila sekarang dapat satu lagi yang pintar masak," kata adiknya yang memeriksa isi tas Ney berharap mungkin masih ada kotak lain.
"Widih! Burger dan bawang gorengnya mereka habiskan?" Tanya kakaknya sambil tertawa.
"Kita doakan saja semoga mereka berdua tidak pingsan karena buatan kanu sangat asin!" kata kakaknya sambil tertawa keras.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1