
Kemudian Rita menceritakan persoalan apa telah yang dilakukan dan diterima dari perbuatan temannya yang selalu bersama dari duduk di bangku sekolah. Setelah tahu ceritanya, mereka berdua meledak marah tentu saja Rita juga kena marah karena tidak habis pikir, kok dia masih terus dekat?
"Kamu pungut di mana sih itu orang? Kok tidak masuk tipe kamu ya," kata Komariah keheranan.
"Wah gila! Dia orang Bandung? Oh! Yang orang Jakarta itu bukan sih? Dia sekolah disini dari SMP sampai dia kerja ya. Kalau ketemu kita jitak bersama, Kom! Kurang ajar banget dia sama kamu. Itu sih bukan teman namanya, Rita!" Kata Diana dengan logat Palembangnya yang kesal juga.
"Iyalah tidak bisa kita biarkan begitu saja! Kamu masih temenan sama dia? Segitu sudah disakitinya. Ya Allah, Rita sadar woi buat apa juga lamu masih mau kemana - mana sama dia?" Tanya Kokom. Kesal sambil masih makan.
"Dia bicara apa lagi? Aku tidak terima ya kamu digituin sama dia, kamu sama dia pasti lebih lama kan tapi kok perilakunya aneh banget?" Tanya Diana dengan sikap galaknya.
"Dia mau - maunya aja diajak sama orang yang baru dia kenal hanya karena ganteng dan dia punya uang banyak. Membully aku katanya untuk kebaikan aku, mereka juga bilang kalau sifat aku ini jelek dan mereka ingin mengubahnya lagi dari nol. Aku bilang ke dia 'Aku kira selama kamu diajak dia, kalau benar - benar tahu aku seperti apa kamu akan menolak tegas. Tapi aku kecewa ternyata kamu memang bukan teman aku, yang kamu kenal sial aku hanya kulitnya dan aku sudah sangat kecewa berat sama kamu,' aku bilang begitu," kata Rita sambil menundukkan kepalanya.
"Iyalah, kalau benar - benar teman asli ya, Rita. Dia akan menolak tegas soal Alex yang mau mempermainkan kamu. Kita juga harus marahin Alex ini, sudah seenaknya bikin Rita kecewa," kata Kokom sambil memegang tangan Rita. Diana seperti sedang berpikir.
"Sepertinya menurut aku, Alex juga tampaknya menguji kamu dan Teman kamu deh. Tidak sepenuhnya dia salah juga tapi memang caranya kurang sopan sih jadinya Rita salah paham. Teman kamunya juga salah langkah, sepertinya dia itu tidak punya pengalaman menjadi teman yang baik ya," kata Diana.
"Iya! Katanya memang menguji. Dia juga sama sekali tidak menyangka kalau Ney bisa sangat parah terus dia bilang, supaya aku lebih berhati - hati lagi," jelas Rita.
"Menurut aku sih, tetap ya sudah jangan temenan lagi. Kamu jaga jarak sejauh mungkin deh, agak kurang waras teman kamu itu," kata Kokom.
"Iya aku juga setuju dengan saran Kokom. Mau bagaimanapun, kamu iba sama Ney atau salahnya dia malah lebih membara membully kamu, lebih baik sudah jangan bertemu lagi. Kalian kan sudah sama - sama usia 25, aku yakin kamu tidak temenan sama dia juga sudah punya teman banyak kan," kata Diana mengomel.
"Dia bilang sebagai Sahabat kamu? Wahahahahaha jauh banget! Mana ada sahabat sampai tega melakukan itu sama temannya sendiri. Serius teman kamu itu tidak waras dan aneh banget!" Kata Kokom sambil merinding. Dia penasaran juga sih kok bisa sampai ada ya orang seperti itu? Memandangi Rita yang memang terlalu polos dan terlalu baik. Untungnya dia punya mereka berdua yang selalu siap membantu.
"Iya, sepertinya dia kurang mengerti ya Teman itu seperti apa. Selain kamu dia punya teman yang lain?" Tanya Diana yang masih menyilangkan tangannya.
"Setahu aku saja ya, ada satu lagi. Aku juga kenal dia karena dia sendiri yang mengenalkan," kata Rita yang mulai memakai handbody greenteanya.
__ADS_1
"Terus? Aku minta dong hehehe," kata Diana. Rita memberikan handbodynya pada Diana.
"Ya sudah hanya dia. Dia yang paling dekat menurut yang aku tahu ya selain dia sih aku tidak tahu," kata Rita.
"Dia punya akun Pacebuk? Dari situ juga kelihatan kok, Rita kalau punya teman pasti dia banyak membalas komen," kata Kokom.
Rita lalu mencoba melihat akunnya, Diana dan Komariah juga ikut melihat. Kebanyakan, dia update status tidak ada yang membalas atau me-likenya. Ada pun status teman lain yang isinya dia berdebat dengan banyak orang.
"Wah, ini sih kelihatan banget memang dia tidak punya teman, Rita. Coba deh bandingkan dengan akun kamu, meskipun banyak yang tidak kamu kenal tapi ada kan yang like status, foto atau pemandangan yang kamu update. Nih lihat kita aja chat banyakan terus teman kamu yang lain juga ikut komen sambil tertawa. Sepertinya sih teman kamu iri banget ya," kata Kokom yang men-roll sendiri. Hampir sama sekali tidak ada yang mengomentari statusnya.
"Aku setuju. Dia terlalu over irinya sama kamu, sepertinya sering ya buka akun Pacebuk kamu setiap kamu pasang status kita selalu Like kan, sebagian teman kampus atau teman SMA kamu juga komen. Sedangkan teman SMA dia saja tidak ada yang berkomentar," kata Diana membuka cemilan baru.
"Kalau begitu mah memang tidak baik, Rita anaknya. Kita kan bisa menilai orang itu baik tidaknya dari jumlah teman yang dia punya. Sahabat mungkinlah jumlahnya kurang dari 3 orang tapi itu banyak lho daripada yang hanya satu. Dan itu sejak dia di SMP sampai kerja sekarang. Itu sih sudah pasti ada yang salah sama dia sendiri," kata Kokom menutup ponselnya Rita dan kembali sibuk mengunyah.
"Kita kurang apa sih, Ri? Lagian kok bisa ya kamu tahan selama itu sama dia yang nyatanya ya sama sekali tidak tahu apa - apa soal kamu? Orangnya kelihatan banget egois dia lebih mementingkan dirinya sendiri, soal kamu saja masa dia baru tahu kamu sekarang?" Tanya Diana dengan nada membara.
"Tapi tetap saja ya aku tak bisa terima perlakuan dia ke kamu! Orang kamu tidak ada maksud lain mau jadi teman dia eh kok malah di bully sih? Wong Edan!" Serunya.
"Aku ambil jus dulu deh biar tidak memanas lagi. Sebentar," Rita lalu keluar kamar dan ke dapur. Ibunya memperhatikan Rita yang mengambil jus. Rita juga memang beli 2 botol jus strawberry dan jeruk. Keluarganya juga bisa ambil kalau mereka mau.
"Kamu mau pergi? Makan dulu ya," kata ibunya.
"Nanti sajalah disana. Janjian mau kerjain tugas juga," kata Rita lalu menuju kamarnya lagi. Lalu Rita menyerahkannya pada mereka berdua.
"Ya siapa sih Rita yang tidak marah kamu diperlakukan seenaknya. Sebelum kenal Alex pasti kamu lebih tidak dianggap ya tapi setelah kenal bukannya yang mengangkat kamu kok malah diajak bully dia mau saja?" Tanya Kokom kesal.
"Iya," kata Rita yang menghela nafas. Baginya masalah Ney memang bukan masalah sederhana lagi, Rita memang menceritakan segalanya mengenai temannya itu pada mereka. Meskipun baru bertemu saat kuliah, tapi Rita nyaman dengan mereka.
__ADS_1
Diana dan Kokom saling berpandangan, mereka tahu Rita terlalu baik, dia terlalu percaya kalau teman SMPnya itu adalah orang baik tapi kalau sampai Rita disakiti seperti itu, sangat tidak wajar. Bukan seperti itu kelakuan yang terbaik.
"Kita mengerti kok kenapa kamu seperti itu, kamu senang berteman dengan banyak orang, senang memiliki hubungan pertemanan dengan orang lain tapi kamu harus lihat juga belakangnya dia seperti apa. Temannya yang lain bagaimana, untung soal ini kamu ceritakan ke kita, kalau tidak mungkin kamu stres sendiri," kata Diana yang nadanya sudah biasa lagi.
"Teman sejati itu aku yakin kamu juga sudah tahu seperti apa kan. Teman sejati adalah teman yang akan selalu ada untuk kamu. Sekarang contohnya apa dia pernah selalu ada kalau kamu punya masalah? Apa dia suka kasih kamu solusi yang baik, saran atau ide? Setahu kita ya semenjak kenal kamu, kalau ada masalah justru kamu ceritanya ke kita. Apalagi kamu juga jarang kan cerita soal teman kamu itu. Oh, ternyata," kata Kokom menggelengkan kepalanya.
"Iya iya aku hanya... yah menemani saja kok kalau ke arah teman dekat juga tidak mungkin banget. Waktu SMP atau SMA setiap aku curhat soal masalahku dia selalu beralasan lalu kabur ya dari situ juga, aku sudah tahu dia bukan teman yang baik. Dia hanya ada kalau senang saja tapi kalau dia yang punya masalah, mau aku sedang sibuk selalu memaksa harus didengarkan.Malas juga sih dulu aku sebisa mungkin kasih masukan meski hanya dianggap angin. Sekarang aku diamkan saja, lelah juga. Apa sebenarnya dia sudah memperlihatkan ketidaksukaannya itu dari dulu ya?" Tanya Rita penasaran. Karena memang dia sadarnya terlambat 🤣🤣.
"Terus kamu baru sadar sekarang?" Tanya Kokom dengan datar.
"Sepertinya hahahaha!" Kata Rita.
"Kamu sadar itu sekarang di saat kamu kenal Alex, ya itu jadi jebakan kamu sendiri sih tapi daripada makin parah lagi lebih baik akhiri saja. Dia itu tidak penting kamu kehilangan 1 atau 2 orang in sha allah diganti dengan orang yang lebih baik lagi. Jangan takut Lagian kita selalu ada kok," kata Diana memegang tangan Rita.
"Iya Rita, jangan takut kita tidak akan pergi kemana - mana kok meski nanti kita semua menikah ya. Kamu memang kurang peka, Ri ke hal lain ya. Orang lain kalau ada yang jahat ke kamu, kamu tidak merasakan apa - apa makanya hal itulah yang menjadi kesempatan untuk teman kamu, yang terus menerus menyakiti," jelas Kokom.
"Sekarang lihat bagaimana perlakuannya dia ke kamu. Saat kamu kenal Alex, aku yakin itu bisa menjadi ajang kepameran dia yang merasa lebih dekat sama kamu kan," tebak Diana ke arah Rita yang kaget.
"Iya," jawab Rita. Benar juga sih dulu dia boro - boro deh ceritain soal Rita ke keluarganya. Yang ada juga kebenarannya terungkap satu per satu dengan dia juga yang bilang langsung.
Setelah dia tahu apa yang Ney katakan dulu itu, Rita pun jadi semakin jarang main ke rumahnya lagi. Paling ya janjian di tempat mainnya tapi itu juga sudah jarang, Rita lebih memilih keluar bersama teman kampus atau teman kerjanya. Sampai sempat ditanya oleh ibunya pun, Rita beralasan sibuk mengerjakan tugas dan ujian. Setelahnya malah Ney yang seperti panik karena biasanya Rita seminggu dua kali datang bermain tapi sekarang hampir 6 bulan sudah jarang. Lalu mulai berjanjian bertemu di tempat lain sudah bukan ke rumahnya Ney lagi.
"Dia itu menurut aku sih tidak ada niat terbuka atau
menjadi teman kamu yang sebenarnya. Dan dia hanya ingin kamu selalu menuruti apa kata dia. Iiihhh kesel! Aku ingin sekali memarahi dia!" Kata Kokom sambil cemberut.
Di sisi lain, Ney merasa merinding sekali dia punya firasat kurang enak dan sepertinya memutuskan datang ke rumahnya Rita adalah kesalahan besar.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...