ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
450


__ADS_3

"Kenapa ya dia banyak bohong? Jujur saja apa adanya kan bisa," kata Rita.


"Ua juga tidak mengerti sih agak aneh orangnya isi dan semuanya sama sekali... tidak seperti kebanyakan orang pada umumnya. Baik memang tapi kebaikannya itu hanya seujung jari. Seperti dia memang baik tapi ada ujungnya, seperti mengharapkan pembalasan," jelas Ua sambil memejamkan kedua matanya.


"Ya memang dari awal juga dia egois sendiri. Pendapat dia ingin didengarkan tapi pendapat orang lain menurut dia salah," kata Koko.


"Diajak kerjasama soal apapun juga tidak akan ada mencapai kata mufakat pokoknya saran dia iyu yang terbaik. Kemana-mana memang sudah," kata tante Nanako.


Rita terdiam. "Kalau dia di ruqyah seperti saya. Bisa kali jadi manusia normal? Kan dia lebih banyak setannya," kata Rita mencoba mencari jalan lain.


"Belum tentu jadi manusia umumnya karena sifatnya juga memang seperti itu Teh. Jadi untuk apa di ruqyah juga? Memang sudah rusak saja itu tanggung jawab orang tuanya," kata Tante Nanako yang tahu kalau Rita sedang mencari cara.


"Hmmm," kata Rita. Ternyata tidak ada jalan tetap dia harus menjauh dan jaga jarak dengan Ney.


"Dia sudah menikah?" Tanya Ua Mori menghentikan bacaannya.


"Sudah," kata Rita.


Ua Mori tampak begitu sulit dipercaya mendengar jawaban Rita. Yang lainnya juga sama.


"Kalau bisa menikah, bagaimana caranya?" Tanya Ua mencari tahu.


"Maksudnya bagaimana? Memangnya seharusnya tidak?" Tanya Rita agak heran. Ada apakah?


"Iyalah, dia kan seharusnya tidak bisa menikah karena penyakitnya bisa membuat keluarganya sendiri hancur," jelas Ua yang masih mencari tahu.


"Dia mandul?" Tanya Rita.


"Bukan, Teh. Menurut saya dia memaksakan jalan takdirnya harus dengan suaminya yang sekarang," kata Tante Nanako menjawab semua kebingungan.


"Ya itu bisa jadi karena yang Ua tahu, dia itu bisa dikatakan tidak ada jodohnya tapi kalau sampai memaksakan jalan takdir, apa dia tidak takut akhirnya?" Tanya Ua pada kakaknya.


"Memangnya bisa takdir diubah secara paksa?" Tanya Koko merasa aneh juga. Kalau Ney memang tidak ada jodohnya di dunia, lalu kenapa dia sampai memaksakan takdir dengan Dins?


"Tidak ada jawaban manusia bisa mengubah takdir Ilahi. Seolah-olah manusia berpikir dengan usaha dan ikhtiar, takdir bisa diubah. Oke kalau Allah setuju, tapi kalau tidak? Sampai memaksakan dia takdir dengan orang lain, akan ada resikonya," kata tante Nanako.


"Kelihatannya Ney tidak peduli mau nanti dia dapat karma atau hukuman yang penting tujuannya tercapai," kata Rita berpikir.


"Nah iya Teh memang begitu makanya parah orangnya. Dia menentang Teteh dengan Malay karena dia tidak mau Teteh berada di atasnya. Hmmm sama dengan kakak Teteh," kata Ua dengan suara sedih.


"Usaha dan doa tidak bisa disandingkan dengan Takdir karena usaha itu sendiri, baik negatif ataupun positif adalah bagian dati takdir. Kalau teman kamu bisa sampai menikah, itu adalah takdirnya hanya... keluarga yang dia miliki akan jauh dari kebahagiaan yang nyata," jelas tante Nanako.


"Usaha manusia baik itu berupa tindakan, pilihan rasional dan doa yang dipanjatkan dengan maksud mengubah takdir, semuanya adalah kejadian yang sudah tertulis di Lauh Mahfudz. Tidak ada kejadian apapun yang tidak terekam atau terlewati di sana," jelas Koko.


"Memang takdirnya harus begitu, Dik. Dia melawan takdirnya sendiri dan membuat jalan lain itu juga sudah tertulis. Kalau dia menyebutkan sudah melawan takdir jangan percaya," jelas tante Nanako.


"Dia itu sakit apa sih? Perasaan baik-baik saja deh sampai bisa merundung orang banyak," kata Rita penasaran.

__ADS_1


Mereka semua terdiam. Melihat Rita, tahu kemampuan Detektifnya akan muncul suatu hari nanti dan semua pertanyaannya akan terjawab.


"Nanti juga Teteh tahu kok dan kita semua sarankan lebih baik lepas dia dari sekarang, supaya hubungan kamu dengan Malay berjalan baik," kata Ua tetap.


"Dia tidak peduli soal Teteh dengan siapa, Teteh peduli sama dia juga, orangnya tidak peduli karena hidupnya bukan untuk mencari teman. Untuuuung Ryan, kamu jodohnya dengan Ratih. Amit-amit deh kalau sama tuh orang," kata tante Nanako ibunya Ryan.


"Yah, Mama bagaimana ketemunya? Lagian Ryan juga akan pilih-pilihlah," kata Ryan yang sedari tadi diam dan menyimak.


"Kalau Teteh masih merasa kasihan sama dia, ujungnya Teteh akan banyak menderita. Dia akan berkesempatan membuat banyak ulah," kata Koko.


"Begitu. Iya juga sih apalagi sekarang aku merasa di awal dia dukung aku dengan Malay, sekarang jadi banyak menghina," kata Rita keceplosan.


"Cieeee," kata Tyas dan yang lainnya.


"Karena tidak mau kalah tea kalau Teteh jadi, dia nyungsep padahal Teteh tidak kepikiran seperti itu ya. Dia sering pamer tapi Teteh nya lurus buat dia bete, kalau Teteh punya sesuatu juga ya lurus saja. Hanya dia sendiri yang heboh," kata Ua tertawa.


"Oke deh kita rehat dulu saja ya nanti selebihnya dengan Koko. Mau besok saja ruqyah nya?" Tanya Ua pada Koko.


Koko memandangi Rita. Rita sih oke saja kalau sekarang hanya saja karena terlalu banyak mengobrol jadi surut. Dan sudah mulai malam juga sih.


"Sekarang juga boleh sih masih lumayan terang. Tyas bagaimana?" Tanya Rita.


"Ya, Tyas sih sesudah Teteh saja. Tapi sekarang sudah mau Maghrib. Mendingan besok," kata Tyas merenggangkan badannya.


"Iya juga ya," kata Rita melihat jam tangannya.


"Hehehe iya sih," kara Rita.


Paman dan Bibi serta orang tua Ryan lalu berdiri. "Ya sudah kita jalan-jalan yuk, kalau Teteh di ruqyah sama Ua kasihan Koko pemasukannya berkurang banyak kan," kata Tante Nanako menepuk bahu Koko.


Koko tersenyum segan sambil menggaruk tangannya. Ibunya Ryan pun pergi dengan rombongan keluarganya. Koko juga tengah wudhu untuk sore hari.


Rita membalas chat masuk tapi tidak membalas di grup. Ney sudah koar-koar mengenai keanehan yang dialaminya. Dins sudah tentu pulang ke rumah dan memarahinya karena keadaan rumah berantakan.


Alhasil Ney lalu membereskan sambil sebal.


"Kamu kenapa sih? Suami pulang itu disambut senyum, ucapan hangat. Kamu habis ngapain? Berhenti chat di WA kalau aku sudah pulang," kata Dins dengan mood sebal juga.


"Iya. Sudah beres kok," kata Ney yang merapihkan keadaan rumah.


"Kamu chat dengan siapa sih? Mana ponsel kamu," kata Dins meminta.


"Hanya sama Arnila dan Rita kok," katanya menahan ponsel.


Dins lalu merebutnya dan membaca semuanya. "Kamu masih saja kepo dengan hubungan Rita dan temannya? Buat apa sih?" Tanya Dins menaruh ponselnya Ney.


"Ya dong Rita kan teman aku. Aku cemas takutnya dia dipermainkan sama lelaki ini," kata Ney.

__ADS_1


"Tumben kamu cemas. Aku jarang dengar kamu cerita soal Rita yakin kamu temannya. Lalu kenapa kamu sampai berani merundung dia?" Tanya Dins membuat Ney kaget.


"Aku... aku tidak merundung nya," kata Ney menggigiti jarinya.


"Heh! Aku bilang begitu kamu langsung melakukan kebiasaan jelek. Itu menandakan memang kamu lakukan itu. Tega sekali kamu dengan teman yang selalu anggap kamu sebagai orang kepercayaannya," kata Dins mengganti baju kerjanya.


Ney terdiam. Darimana dia tahu? Lalu Ney cek isi ponselnya secara diam-diam saat Dins masuk kamar mandi. Ney menemukan chip kecil yang tertempel di sebelah baterai.


Ney cabut chip kecil itu dan membuangnya, ternyata selama ini suaminya sendiri menempelkan alat pelacak. Setelah selesai, Ney langsung menginterogasinya.


"Kenapa kamu memasang alat pelacak?" Tanya Ney dengan kesal.


"Ya untuk mengetahui keberadaan kamulah. Apa lagi," kata Dins yang sudah tahu bisa saja ketahuan.


"Kamu tidak percaya aku? Hei! Untuk apa kita menikah?" Tanya Ney mengekor suaminya.


"Yang mau kita menikah itu kamu. Saya bilang kan belum siap apalagi saya ada rencana mau kuliah S2," jawab Dins.


Ney diam, Dins memang pernah mengatakan hal itu. Namun Ney sama sekali tidak setuju, baginya mereka harus cepat menikah meskipun keluarga Dins tidak setuju.


"Kalau begitu... kamu terpaksa menikah... denganku?" Tanya Ney memandangi Dins.


Dins selesai memakai baju. "Aku tidak menyesal. Hanya aku tahu kamu itu seperti apa, berapa kali kamu selingkuh saat kita pacaran? 10x? Pikir! Kalau kamu menikah, apa aku bisa percaya sama kelakuan kamu?" Tanya Dins menunjuk ke dahinya Ney.


"Aku selingkuh karena kamu duluan," kata Ney membela menepis tangan Dins.


"Lalu? Kamu balas aku berapa kali? Aku selingkuh sekali! Kamu? Puluhan kali! Pikir pakai otak, siapa lagi yang mau bertahan dengan perempuan seperti kamu. Aku ingin kamu sadar, hanya aku yang mau menerima kebobrokan kamu," kata Dins lalu menuju ruang makan.


Ney menangis. Bukan karena sedih tapi semua ketahuan berapa kali dia selingkuh. Setelah menikah akankah kebiasaannya menghilang? Dins tidak yakin.


"Ayam lagi ayam lagi. Kamu tuh bisa masak tidak sih? Masa hanya bisa membuat ayam goreng? Kamu yang bilang ke Mama aku, bisa masak apa saja. Kemana saja uang bulanan yang aku berikan untuk kamu?!" Tanya Dins melempar penutup nasi.


Ney ingat, uang gaji suaminya dia belikan ponsel terbaru, lalu membeli jam tangan dan kebutuhan dia. Baju bagus dan segala jenis barang, tapi kebutuhan suaminya sama sekali tidak dia siapkan.


"Aku akan masak," kata Ney ingat ada nugget di kulkas.


"Ya Tuhan, Nugget!? Kamu beri suami kamu yang banting tulang, kerja tanpa memperdulikan cuaca panas terik dan hujan. KAMU BERI AKU NUGGET!?" Teriak Dins lalu mengambil tas kecil dan pergi keluar.


Ney yang panik mengejar Dins namun Dins sudah menjauh darinya. Dia menangis di luar rumah meminta Dins untuk kembali. Untung saja rumahnya kompleks, kebayang kalau rumah yang berdempetan.


Selama 5 menit Ney menangis lalu berdiri, menyeka air matanya dan terus menggoreng nugget. Seakan tidak ada yang terjadi, dia makan nugget itu sambil memeriksa ponselnya.


Dia pesan salad, kentang goreng, masakan lainnya untuk Dins saat dia kembali pulang nanti. Tanpa ada penyesalan dia duduk dengan nyaman di sofa.


"Barang pesananku besok sampai nih. Tidak sabar mau aku pamerkan di grup Sosialita dan di grup satu lagi. Mereka pasti akan iri," kata Ney tertawa sendiri.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2