ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(227)


__ADS_3

Ketujuh. Mereka / Dia menggunakan canda untuk membuat kamu Down. Mengejek tapi bercanda itu tidak banget deh buat teman yang kamu anggap Teman. Frenemy menyamarkan sikap permusuhan mereka kepadamu dengan candaan. Mereka selalu menjadikanmu bahan hiburan dan orang lain akan melihat itu sebagai sikap yang lucu saja, tapi kalau yang sudah kenal seperti Rita, dia akan terkesan 'Ih gila nih orang'. Tapi kalau kamu sadari tidak ada sesuatu yang lucu dari candaannya itu alias dia hanya mengejekmu di depan semua orang. Kalau dia bercanda tidak menyinggung sesuatu dari kamu, barulah dia memang asli bercanda tapi kalau sudah bawa - bawa hal jelek kamu, sudah dipastikan dia ingin perang sama kamu.


Kedelapan. Dia membuatmu bingung akan hal yang harus dilakukan. Dia akan bersikap baik tapi berbicara dengan nada yang menunjukkan ketidaksukaannya denganmu, dan membuat kamu bingung apa yang harus dilakukan saat kamu dengannya. Tentunya tidak menyenangkan bukan? Ini tentu saja bukan sikap yang harus ada dalam hubungan pertemanan yang sehat. Berbicara sewajarnya saja tapi kalau teman kamu mulai agak merendahkan, tinggalkan saja saat itu juga. Biar dia pulang sendiri sama - sama sudah besar juga.


Kesembilan. Dia tidak suka ditantang. Kalau kasus Ney, dia sering banget menantang Rita ataupun Arnila tapi takut kalau sama Alex😂😂. Karena berpikir Alex memiliki banyak uang dan dia bisa melakukan apapun tapi berbeda dengan Rita, dia tidak takut kalau memang harus menjitak Alex. Rita sama sekali nol menantang tapi seorang frenemy memiliki rasa insecure. Nah kalau ini kebalikan ya disini dijelaskan kalau frenemy kebanyakan tidak suka dipertanyakan soal keunggulan mereka. Tapi yang terjadi Ney sering membanggakan apa yang dia ungguli dan berharap Rita bisa tunduk dan melihat. Sayangnya Rita tidak berminat😆😆.


Kesepuluh. Dia sama sekali tidak peduli kamu. Gerakan khas musuh yang satu ini adalah mereka TIDAK PEDULI DENGAN KAMU. Kenapa di kapitalkan? Karena untuk kasus Rita itu perlu dibesarkan, dia tahu betul kalau Ney sejak dulu memang tidak peduli dengannya. Jika kamu membutuhkannya di saat kamu sulit, dia belum tentu akan selalu ada karena yang dia pedulikan hanyalah tentang dirinya sendiri. Orang lain mau jatuh, mau kepleset atau mau hancur sekalipun, dia tidak akan peduli sama sekali.


Tapi kalau kamu tidak memiliki teman seperti ciri tersebut, patutlah bersyukur kamu bebas dari Bakteri. Rita pun sama sekali tak menduga di antara teman - temannya ternyata ada yang menyempil sebagai musuh selama berteman dengannya. Apalagi dengan mengakui dirinya sebagai Sahabatnya Rita yang memang sama sekali tidak tahu apa - apa. Apa yang dilihat Alex berbeda dengan yang disebutkan Ney dan itu membuat Rita kecewa. Dia yang lama berteman dengan Alex malah percaya Ney begitu saja. Tapi itu yang membuatnya dapat melihat apa yang selama ini tidak terlihat pada Ney. Dan Rita bersyukur Alex hadir.


Dalam perjalanan, Ney menunggu mereka di dalam cafe dan melihat mereka berdua tertawa bersamaan. Ney sama sekali sebal melihatnya dia menyesal tidak ikut bersama mereka tapi dia juga tidak mau bertemu istri Syakieb. Sesampainya dia masih cemberut melihat Rita dan Arnila tampak akrab. Yah dalam pandangannya sih padahal biasa saja mereka karena teringat pada Syakieb.


"Duh, yang akrab ya. Kalian lama banget sih? Bawa apa tuh?" Tanya Ney yang kesal.


Rita dan Arnila berpisah secara otomatis. Arnila memberikan kotak kecil itu kepada Ney yang langsung menyambutnya. Lalu dimakannya dengan rakus tampak seperti belum pernah makan cokelat.


"Kamu seperti baru kali ini makan cokelat deh," kata Rita yang agak nyeleneh melihatnya.


"Ya aku kan baru kali ini makan cokelat. Enak banget! Cokelat apa sih ini?" Tanya Ney sambil melihat semua kepingan cokelat yang tidak biasa.


"Lihat saja itu kan ada tulisannya," kata Arnila. Untungnya bagian dia sudah ditaruh di dalam tasnya supaya Ney tidak seenaknya mengambil.


"WOH! WHITTER COKELAT!? Ini kan yang kecilnya saja mahal lho! Dapat dari siapa, Nil? Lu juga ada?" Tanya Ney heboh sendiri.


"Ada di tas. Jangan minta ya itu sudah dikasih sesuatu porsi masing - masing," kata Arnila menepuk tasnya.


Ney tampak kaget. Cokelat semahal itu dikasih oleh Syakieb? Arnila juga dapat jangan - jangan Rita juga? Ney menatap Rita yang sedang tersenyum senang.


"Bukannya kamu sering dapat cokelat dari Syakieb semasa kamu pendekatan sama dia?" Tanya Arnila penasaran. Melihat Ney yang makan dengan suara nyap nyap dan agak rakus. Aneh banget lihatnya!


"Wah! Kamu dikasih cokelat? Enak banget ya. Tidak bagi - bagi kalau begini sih buat apa kita bungkusin untuk dia, Nil. Ah, rugi!" Kata Rita.


Ney lalu salah tingkah mendengar Arnila mengatakannya. "Dikasihnya kata dia yang mahal lho, Ri. Semahal cokelat ini bukan?"

__ADS_1


"Wah!" Kata Rita yang malas mendengarnya.


"Iya mahal banget! Kalian tidak akan bisa beli deh dengan gaji guru kan kecil," kata Ney meski salah tingkah tapi tetap saja bangga.


"Kamu juga mana mungkin bisa beli makanya minta kan. Aku ragu deh kalau kamu dikasih, kamu kan begitu. Minta tapi dibilangnya dikasih, apa coba aku tanya Syakieb saja ya?" Kata Rita pura - pura chat.


"Eh gila lu! Masa yang seperti itu ditanya?" Tanya Ney gelagapan.


"Rita sih pasti bisa beli dia kan baru naik gaji, kamu yang paling mustahil. Mana belum dapat kerja lagi kan," kata Arnila.


"Ini cokelat dari Syakieb?" Tanyanya mengalihkan topik.


"Itu dikasih Syakieb buat Rita. Tapi Rita membaginya untuk kita berdua. Ini semua dari 3 kotak yang Rita punya," kata Arnila menjelaskan.


Ney bengong menatap Rita yang sedari tadi senyum terus. Ney sama sekali kesal dan itu tampak di wajahnya tapi Rita tidak mempedulikannya. Arnila juga memperhatikan dan menghela nafas. Apa dia salah ya? Tapi melihat Rita senyum - senyum ya tidak masalah.


"Hah?! Kamu dikasih cokelat dari Syakieb?! KOK BISA!?" Teriak Ney tidak percaya.


"Ya bisalah. 3 kotak lho itu yang kamu makan," kata Rita senang banget.


"Itu dari Alex. Alex sepertinya menitipkan cokelatnya sama Syakieb karena Rita benar - benar membuatkan Alex makanan buatannya sendiri. Padahal kamu tidak minta kan ya?" Tanya Arnila.


Ney kaget mendengarnya cokelat yang dia makan hampir saja keluar dari mulutnya. "Dari Alex!?"


"Tidak. Aku kan bercanda soal dia harus bayar juga. Tidak menyangka juga sih dia akan memberi aku cokelat semahal ini," kata Rita kebingungan tapi dia senang sekali bisa menerima cokelat itu dari Alex.


"Apa daja sih? Sini aku mau lihat," Ney meminta seenaknya pada Rita untuk memperlihatkan semua cokelat yang dia terima.


"Tidak mau! Kamu kan bisa lihat dari cokelat yang kamu terima. Buat apa juga kanu suruh aku lihatin ke kamu seenaknya main perintah!" Kata Rita kesal.


"Ada kan kalimat yang sopan," kata Arnila yang juga ikut bete.


Terlihat Ney lemas ternyata Alex memberikan Rita cokelat yang lebih mahal dari yang Syakieb berikan. Kemudian Ney melihat dengan baik tulisan yang ada pada cokelat itu dan segera mencari tahu.

__ADS_1


"Sebenarnya sih tidak terlalu mahal juga. Aku bisa beli kalau aku mau," kata Rita sambil duduk memperhatikan Ney yang fokus.


"Aku kan beri dia makanan buatan aku juga masa hanya segini dikasihnya? Ini juga dari bagian kamu, harusnya dibedakan dong! Ga adil banget ih!" Kata Ney sambil agak melempar kotak cokelatnya ke meja.


"Adil kok menurut aku. Rita kan selalu jujur kalau bicara dengan Alex, dia sama sekali tidak pernah menyembunyikan apapun. Yah, maklumlah seperti yang kita tahu Alex sepertinya jatuh cinta sama Rita," goda Arnila pada Rita.


"Apa iya? Baru juga jadi teman. Iya ini aku bagi kamu kalau kamu keberatan merasa tidak adil, ya sudah sini kembalikan cokelatnya! Sudah dikasih hati lu buang juga!" Kata Rita mengulurkan tangannya meminta kembali kotak cokelat yang Ney ambil.


"Enak saja! Kamu kan sudah kasih ke aku masa diminta lagi?" Tanya Ney yang kemudian secepatnya diambil lalu dimasukkan ke dalam tas.


Rita memasang wajah jutek, dia benar - benar menyesal sudah memberikan sebagian cokelatnya. Benar tidak tahu terima kasih! Arnila hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Ney dan Rita. Mereka lalu memutuskan untuk jalan - jalan ke BIP setelah cokelatnya habis, Ney gelisah ingin minta lagi tapi dia bingung apa alasannya. Akhirnya dia meminta bagian Arnila tapi ditolak mentah - mentah. Lalu dengan terpaksa dan memang tanpa ada rasa malu, Ney meminta lagi pada Rita.


"Ri, cokelat kamu masih banyak kan. Minta dong jangan pelit!" Katanya dengan sengaja bersuara keras. Beberapa orang memperhatikan Rita dan Ney, tampak sekali wajah puas Ney yang berhasil membuat semua orang memperhatikan mereka. Aku sebagai Author ingin sekali menampar keras si Ney nih!!!


Dengan perasaan sebal, Rita mengeluarkan cokelat dari tasnya yang langsung Ney kesempatan melihat kontak itu. Ney melihat semua merk cokelat itu lalu terdiam. Rita tahu maksudnya lalu dengan sengaja dia keluarkan semua kotak cokelatnya. Arnila menghela nafas tidak bisa menghindari dan tampak Rita kesal banget. Jadi dia sengaja menampakkan semuanya agar Ney bisa lihat.


Tangan Ney lalu seperti ingin mengambil satu cokelat yang dia kehendaki tapi keburu Rita masukkan dan memberikan cokelat yang sudah dia potongkan di awal rumah Syakieb. Rita memberikan 3 cokelat padanya dan Ney marah hanya mendapat 3 keping cokelat dari tiap 1 kotak.


"Kok cuma segini sih!?" Tanya Ney yang memandang cokelatnya di tangannya.


"Kamu yang pelit ya bukan aku, aku selalu ingat sama kamu dan Arnila kalau punya makanan berlebih! Apa kamu pernah ingat kita di saat kamu punya makanan? Sori ya ini semuanya buat aku makan di rumah! Kalau tidak mau, BUANG!" Kata Rita membalas perlakuan Ney tadi.


"Kamu ini tidak punya rasa malu banget sih? Kamu tadi bilang kalau Rita tidak bisa beli kan. Kamu kalau mau, beli saja kan punya banyak uang!" Kata Arnila yang kemudian mengajak Rita pergi duluan.


Setelah itu Ney terdiam, teriakan Rita membuat beberapa orang menertawakan Ney yang saat itu sedang berdiri memakan cokelat. Mereka berbisik karena Rita membalas perlakuan Ney yang tidak tahu malu. Dia memang sengaja agar mereka pikir Rita tidak pernah memberikan makanan padanya tapi balasannya sungguh menohok sekali. Mana Rita mengomel sambil suaranya lebih tinggi. Cewek pendiam dilawan!


Arnila malu sekali dengan kelakuan Ney tapi juga sekaligus ngakak mendengar balasan Rita yang suaranya ternyata bisa keluar lebih tinggi dari Ney. Dia dengan seenaknya menyuruh memberi perintah lalu meminta tanpa ada ijin. Apalagi tadi Arnila juga sempat mau mencegah saat tangan Ney mulai bergerak mengambil cokelat yang masih utuh dalam bungkus. Kalau soal makanan memang Rita lebih cepat mungkin karena makannya selalu yang bergizi kali ya. Tidak hanya saat itu saja, Ney terus merongrong Rita untuk memberikan banyak cokelatnya dan dia juga banyak beralasan kalau dalam hidupnya memang jarang memakan cokelat enak, yang membuat mereka berdua muak.


"Bodo amat bukan urusan gue kamu jarang makan cokelat. Berbohong terus nih kamu ya padahal Syakieb sudah banyak kamu minta cokelat kan. Kamu pernah sedot narkoba ya? Minta - mintanya seperti sudah kehabisan obat!" Kata Rita dengan suara lumayan... Keras. Itu pertanda Rita sudah kelewat batas rasa kesalnya daripada meledak, Arnila langsung mengajak Rita makan di Korea Restoran.


Kalau ada maunya memang Ney akan bertingkah memalukan sudah setiap harinya ketemu dia menyebalkan, sekarang terus mengemis minta cokelat. Tentunya Rita kesal dibuatnya, untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, Rita menghubungi adiknya. Menurutnya jam segini dia masih berkeliaran di kampusnya.


"Pri, kamu ke BIP ya. Aku mau nitip sesuatu. Bawa tas besar kan? Soalnya barangnya lumayan," kata Rita lalu menyebutkan lokasinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2