
Wajah Bapak tampak memerah sedih setelah tahu anaknya yang kedua ternyata diberikan Kuasa Ilahi yang besar meski tidak tahu apa tujuannya.
"Tapi Kang, bagus kan kalau teteh ini belajar lebih jauh untuk dimanfaatkan secara baik kekuatannya?" Tanya Ust Vodiy yang kembali semangat tapi tidak dengan guru besarnya. Menurutnya hanya dengan memiliki Hidayat saja itu sudah lebih baik. Hidayat seakan terkejut mendengarnya dan menundukkan kepala, Rita jadi tidak enak dan hanya terdiam.
"Jangan, Kang. Kalau tetehnya sendiri tidak butuh, bukan hak kita memutuskan apa - apanya. Kalau keluar, itu semuanya lebih parah dari Hidayat kasihan ke tetehnya. Sebagian mah sebenarnya keluar, tapi tetehnya tidak peduli makanya itu pindah mojok. Saya tidak bisa menjangkaunya karena sangat jauh. Kalau teteh ini kita beri ilmu untuk menggunakan kekuatan itu, tetehnya akan berubah sangat jauh," jelas gurunya.
Namun tampak tidak begitu dengan Ust Vodiy yang tidak puas dengan penjelasan guru besarnya. Tampaknya sih orang yang bermana Vodiy ini terlalu rakus dengan keinginannya.
"Aduh, Ustadz maaf saya sama sekali tidak berminat untuk mempelajarinya secara jauh. Saya sibuk dengan mengajar saya tidak punya waktu untuk belajar ilmu yang menurut saya tidak penting," kata Rita untuk mencairkan suasana.
Ust Vodiy mendengarnya namun masih tidak bisa menerimanya. Melihat Hidayat yang tampaknya sangat kecewa dengan gurunya, hanya terdiam.
"Kalau dipelajari, teteh bisa menghasilkan banyak uang atau kekayaan. Kekuatannya juga bisa melebihi dokter yang ada," guru besarnya tampak marah karena Ust Vodiy tidak mau mendengarkannya. Bapak juga menggelengkan kepala mendengarnya.
"Hahaha tidak usah, Hidayat juga cukup kan, Ustadz tidak perlu menambahkan saya. Saya lebih memilih hidup normal kalau bisa sih lurus saja. Saya masih ingin hidup sesuka saya. Maaf ya, Ust," kata Rita sambil tertawa sebenarnya sudah kesal sih. Ingin sekali selesai dan kalian pulanglah secepatnya jangan bahas lagi.
Hidayat yang mendengarkan hanya bernafas lega takutnya bila Rita mengiyakan keinginan Ust Vodiy lalu buat apa dia berlama - lama belajar?
"Saya tidak tahu apa itu berkaitan dengan keturunan?" Tanya Bapak yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Bisa jadi Pak, yang turun dari keturunannya juga ada dan banyak. Nanti kalau ada yang keluar teteh jangan kaget, itu semua bergantung pada teteh saja. Teteh tidak mau, mereka akan menutup sendiri tapi tidak bisa dihilangkan. Seperti tadi ya teteh bisa tahu apa yang terjadi sama anak didik saya kan," semua memandangi Tita dan dia tersenyum.
"Sedikit." Kata Rita. Sebenarnya banyak tapi nanti mereka malah ketakutan. Guru besar tertawa keras dan Ust Vodiy agak kesal mungkin karena idenya sama sekali tidak disetujui oleh gurunya.
"Kalau teteh ini belajar ilmu seperti kami, apa kami akan kalah?"
"Pastinya," jawab gurunya. Semuanya kaget termasuk Bapaknya.
"Teteh ini bisa jadi saingan guru juga dong?"
__ADS_1
"Saya akan langsung pensiun saat itu juga tapi teteh sama sekali tidak tertarik untuk mempelajarinya jadi tidak usah dipaksakan ya. Sebentar saya mau keluar dulu ada yang menelepon," katanya lalu keluar bersamaan dengan semua anak seniornya. Saat gurunya keluar, Ust Vodiy menghampiri Rita.
"Teh, kalau misalkan nanti berminat dan berubah pikiran bisa hubungi teman teteh. Kami menyediakan ruang belajar yang mungkin bisa menambah ilmu yang teteh punya. Kalau teteh bisa masuk yayasan kami, saya yakin teteh bisa memanfaatkan lagi ilmunya lebih banyak," kata Ust Vodiy sambil tersenyum.
Rita merasa ini Ustadz sudah berubah niat dan tujuannya Bapak pun kurang senang mendengar idenya. Belajar ilmu untuk mendapatkan banyak uang? Aih... takut ah! Lebih baik yang pasti saja meski berat ya. Rita hanya mendengarkan dan tertawa mendengarnya.
"Oh, nanti deh saya pikirkan dulu." Jawab Rita hanya supaya bapak ini diam dan tidak terus memaksanya untuk belajar di yayasan beliau. Nasib apes nih pasti dikejar terus!
"Teh, karena ruqyah ini berhasil, ada satu lagi kemampuan saya. Sebentar ya," Ustadz itu kemudian bergegas keluar tampaknya ada perdebatan dengan guru besarnya tapi akhirnya mereka setuju.
"Ini terakhir tanda ruqyahnya sukses, saya akan tampilkan sesuatu,"
"Apa itu?" Tanya Rita penasaran. Wah akan ada pertunjukkan apa nih? apa Qosidah lagi? Bernyanyi bersama?
"Saya akan terbang," sontak Rita dan Bapaknya kaget mendengar pernyataannya. Terbang? Seperti pesawat? Pikir Rita. Bapak merasa ini bukan ruqyah yang benar, lalu menggarukkan kepalanya yang tidak gatal. Lalu beberapa menit yah membaca suray Jin kembali, Rita melihat Ust Vodiy terangkat sekitar 10 cm dan dari situ Tita tersadar sesuatu.
Guru besar itu dan Ust Vodiy terkejut mendengar pertanyaan Rita dan salah tingkah, guru besarnya lalu keluar rumah tanpa menjawab pertanyaan Rita.
"Kalau yang ini beda teh, saya menggunakan jin Islam bukan yang kafir. Saya sudah berikrar janji dengan jin muslim tersebut untuk membantu saya menyingkirkan jin kafir." Setahu Rita semua jin itu kafir, tidak ada yang beragama Islam. Kalau semua bisa menjadi Islam, buat apa ada Neraka?
Ustad itu lalu tersenyum merasa itu jawaban yang tepat! Ini siapa yang bodoh sih sebenarnya? Dari situ Rita hanya berkata, "Oh." karena sudah terlalu malas berpanjang - panjang. Setelah itu Bapaknya datang sambil membawa gepokan uang yang dimasukkan ke dalam amplop cokelat dan mereka menerimanya. Saat Rita berjalan ke arah dapur, Rita mendengar debatan lagi.
"Ceuk urang ge ntong! ( kata aku juga jangan! ) Kamu tidak tahu berhadapan dengan apa dan siapa!" kata guru besarnya. Beliau terdengar sangat kesal mengenai apa yang dilakukan muridnya itu.
"Tapi itu kan sudah jadi pertunjukkan akhir setiap kita ruqyah seseorang," jawab Ust Vodiy.
"Iya tapi nu ieu mah beda pisan. Tadi kamu bisa jawab kita ruqyah mengeluarkan jin, harusnya dari situ kamu hentikan pertunjukkan terakhirnya. Setop dari situ, jangan ada pertunjukkan. Usir jin tapi ente melakukan kolaborasi dengan jin. Cik atuh pikirkeun!"
Ust Vodiy terdiam dia memang melakukan kesalahan yang fatal dengan pertanyaan Rita yang aneh. Dia hanya terdiam setelah mendengar penjelasan gurunya.
__ADS_1
"Tapi saya akan usahakan teteh ini masuk ke yayasan kita. Kita bisa sukses!"
"Astagfirullah jangan! Cukup dengan Hidayat, kamu fokuskan saja pada Hidayat. Kasihan atuh ente sudah berjanji pada kedua orang tuanya menjadikan dia sukses, sekarang ada yang lebih kamu berbalik. Lalu Hidayat mau dikemanakan? Menurut saya, tetehnya pun sudah menolak. Cukup! Ajarkan Hidayat ilmu yang baik," jawab gurunya sambil memasuki mobil yang mereka miliki.
Kemudian Bapaknya menyusul Rita ke dapur. "Jangan undang lagi ke sini. Kata Bapak sih, ruqyahnya aneh banget ada terbang segala. Usir jin, masukkin jin. Aneh!" Rita juga sependapat. Gila kan! Pertanda ruqyah sukses masa iya harus terbang?
Rita kira sesuatu itu adalah sesuatu yang menyenangkan lah wooong kenapa malah terbang sih? Mana pakai jin muslim katanya tetap saja itu jin, jadi? Siapa yang bego? Lalu beberapa muridnya bertanya bagaimana keadaannya.
"Bagaimana guru?" Tanya A.
"Wah, parah itu diluar kemampuan kita semua tapi ada sih reaksinya jadi ringan," jawab Ust Vodiy.
"Sebenarnya tidak ada reaksi." Jawab guru besarnya sangat pelan.
"Hah?!" Jawab Ust Vodiy.
"Tidak apa - apa, kita pulang saja." Kata guru besar menyuruh supirnya untuk mulai berangkat.
Berangkatlah mobil mereka dan menghilang.
"Itu aneh banget ruqyahnya masa harus terbang? Kamu tidak ada efek apa - apa?" Tanya Bapak sambil terus memperhatikan gerbang.
"Iya. Jangan - jangan ... Ruqyah musyrik gitu? Ya begitu saja, tidak ada yang melawan terlalu mudah jadi serem nantinya. Kira - kira menurut Bapak benar akan hilang atau kembali lagi?" Tanya Rita.
"Ah, Bapak tidak yakin itu asli ruqyahnya sampai baca surat Jin segala, mau mengeluarkan tapi kenapa harus dibantu Jin? Teman kamu di ruqyah sama Ustadz itu? Hati - hati saja."
Malam ini Rita dan Bapaknya lelah sekali kedatangan tamu yang aneh. Untunglah Prita tidak sedang dirumah kalau ada, bisa kena ejek langsung. Karena dia tipe Logika pasti susah sekali membuatnya mengerti.
BERSAMBUNG....
__ADS_1