
"Punya adik dan kakak kan? Ibu sama bapaknya bagaimana?" Tanya Rin sambil menjilat sendoknya.
"Kalau adik dan kakaknya tidak tahulah memangnya aku mata - mata? Ibunya rajin sholat, bapaknya tidak tahu. Belum pernah bertemu. Tapi masa iya itu keluarga yang rajin sholat cuma ibunya?" Tanya Rita yang merasa aneh. Seaneh itukah keluarga Ney? Kalau memang ternyata iya, keluarga itu tenggelam dong. Bapaknya? Rita sama sekali tidak tahu karena belum pernah bertemu sosok orangnya seperti apa. Dari dia SMP sampai sekarang pun, Ney sama sekali tidak pernah menunjukkan penampakkan ayahnya seperti apa.
"Wallahu alam sih, Ri banyak yang seperti itu. Sholat tahajud rajin hanya kalau punya keinginan tapi kalau rajin sholat sunnah saja dia tidak akan punya bekal dong nanti kalau meninggal? Serem!" Kata Rin sambil bergidik.
"Yah... no komenlah. Sudah malas!" kata Rita yang menyandarkan kepalanya ke belakang. Perutnya sudah menggelembung karena kenyang.
"Biarkan sajalah dia, Rita. Sudah dewasa bukan anak - anak lagi kalau kamu sudah banyak cerewet tapi dia tidak mau dengar, biar dia alami sendiri saja nanti. Ibu sih yang penting kamu tetap harus jaga diri jangan sampai mau diracun omongannya. Kamu itu yang ibu perhatikan agak terlalu percaya orangnya sama seperti bapak kamu."
Untung Bapak lagi tidak ada, Bapak ajak ketiga keponakannya buat bermain di halaman. Kalau dengar, bisa gawat! Kemudian Rita mendengar dering hpnya di kamar lalu bergegas beranjak masuk ke kamarnya. Terlihat Ney menjapri Rita dan bertanya soal kunjungannya beberapa minggu lalu. Rita heran apa dia benar - benar sebegitu penasarannya dia bicara apa dengan ibunya?
"Kamu bicara soal apa sih dengan ibu aku?" Tanya Ney.
Rita tertawa membacanya kenapa dia tidak menanyakannya pada ibunya sendiri ya? Kan lebih dekat dengan ibu kandung sendiri tapi wajar sih kalau ibunya tidak memberitahu.
"Biasa saja. Nanya kamu kemana, aku kan menunggu lumayan lama. Kenapa curiga? Kamu menyangka kita bicara apa?" Rita bertanya kembali pada Ney.
"Ya kali saja kamu bertanya soal yang lebih mendalam,"
"Sesuatu yang kamu takutkan? Yang kamu sembunyikan semasa hidup kamu atau mungkin soal masa lalu kamu?" Rita sengaja menebak pura - pura tidak tahu.
"Mungkin saja. Iya ya! Ngaku kamu bertanya soal sesuatu yang pribadi soal aku," Ney tampaknya sangat terkejut.
__ADS_1
"Kalau iya kenapa, kalau tidak kenapa?" Rita enggan menjawab pertanyaan Ney. Kalau menurut dia Rita benar - benar temannya apa yang dia sembunyikan harusnya dia cerita apalagi sampai bilang pada Alex kalau dia sahabat Rita.
"Habisnya aku lihat kalian berdua seperti sedang bicara serius. Ya kali saja soal aku. Kamu kan penasaran banget sama aku kan," kata Ney.
"Aku penasaran kenapa kamu dari SMP sampai kerja sekarang ini, tidak ada perubahan. Penampilan kamu, kelakuan, semuanya. Aku saja dari yang tidak paham kosmetik sekarang mulai banyak belajar, memasak juga mulai bisa yang lebih sulit. Berteman lebih banyak dapat ilmunya lagi tapi lihat kamu, kok sama saja? Seperti tidak ada kemajuan apa - apa dalam hidup. Are you oke?" Jelas Rita yang memang sangat aneh. Dia kembali teringat apa kata dokter psikiaternya soal Ney, yang tidak ada perubahan apapun.
Ney tidak membalas, dia seakan - akan membeku di tempatnya setelah membaca apa yang Rita sampaikan. Dia kaget kenapa Rita bisa begitu banyak tahu soal sesuatu yang tidak dia pahami.
"Soal penampakan yang kamu lihat dalam benak, kalaupun benar kamu lebih baik banyak berpikir positif deh. Kalau memang iya aku menanyakan sesuatu soal kamu, itu karena kamu tidak terbuka sama aku. Kita sudah berapa tahun kenal masa kamu sama sekali tidak bisa percaya sama aku sih? Kalau kamu tidak begitu percaya, tolong jangan klaim kalau kamu sahabat terdekat aku! Karena aku tidak kenal siapa kamu sebenarnya,"
Beberapa jam lamanya Ney tidak membalas dan Rita membiarkannya lalu selang beberapa menit, dia kembali tapi dengan mengalihkan topik. Dengan hal yang sama tentang apa yang Rita bicarakan dengan ibunya karena ibunya pun menjawab hal yang sama dengan Rita.
"Apa? Kamu mau nanya soal apa sih? Aku nanya apapun sama ibu kamu, itu hak aku!"
Rita tertawa sepertinya Ney takut kalau ibunya akan direbut olehnya.
"Lu napa sih? Seperti anak kecil. Kamu takut ya ibu kamu aku rebut? Ya aku punya orang tua sendiri. Wajar kalau ibu kamu memuji masakan aku waktu itu. Aneh ya kamu tuh, kamu harus banyak baca deh serius jangan soal lelaki saja kamu ahlinya. Ibu kamu memuji aku itu adalah cara menghargai usaha orang lain bukan seperti kamu yang bisanya hanya menyindir. Itu salah banget kamu memang bukan tipe orang yang bisa menghargai karya orang. Memang kamu agak aneh sih, aku pikir cara berpikir kamu agak tidak normal,"
"Kenapa sih kamu seperti menyudutkan aku terus?" Tanya Ney yang sudah tidak tahan.
"Ya memang kamu aneh. Tidak tahu cara berteman yang baik, menyampaikan rasa penghargaan, aneh asli! Yah kita lupakan saja aku tidak mau memperpanjang masalah kamu sih. Kamu sudah siap buat besok piknik?"
Masalah Ney memang tidak akan bisa berakhir soal dirinya uang seperti nol soal teman sama sekali tidak tahu. Mungkin ya menurutnya soal perundungan yang dialami Rita apa jangan - jangan dia berpikir karena mereka berteman, maka Rita juga harus merasakan perundungan yang dia alami? Bisa jadi sih tapi bukan berarti harus memakai cara kasar dan pastinya bukannya dekat Rita pasti akan kabur. Dan dia memang membuatnya harus jaga jarak jangan terlalu masuk ke dalam hidupnya.
__ADS_1
"Sudah. Aku masak dari sekarang besok tinggal bawa. Maaf kalau aku terlalu maksa kamu untuk cari tahu apa yang kalian bicarakan. Ya sudah sepertinya juga kalian ngobrol biasa kan ya. Kamu sendiri sudah siap?" Tanya Ney. Dalam hati dia beranggapan Rita tidak bertanya soal hal penting mengenai dirinya. Dia masih aman, soal penampakan itu Rita juga bisa tapi buat apa?
"Nih aku sudah buat sebagian ada yang mau aku goreng besok pagi jadi supaya renyah," kata Rita sambil rebahan di kasurnya. Dia mulai mengantuk tapi berusaha untuk selalu on.
"Menu baru yang kamu buat. Apa saja?" Tanya Ney ingin tahu karena Rita memang sangat suka membuat sesuatu yang berbeda.
"Besok juga kamu pasti tahu. Kamu sendiri buat apa?" Rita tanya balik karena dia tahu Ney sedang berusaha mencari tahu resep apa yang Rita buat. Seperti biasanya pasti untuk di duplikatkan.
"Rahasia dong. Aku takut kamu menjiplak menu yang sudah aku buat," Kata Ney dengan percaya diri.
"Hahahaha mana bisa aku duplikat. Jangan pura - pura tidak tahulah, aku kan tidak pernah buat makanan yang sama pasti berbeda. Lagian, aku sudah buat semuanya besok tinggal dibawa saja mana ada aku duplikat,"
"Oh," jawab Ney pendek. Dia memikirkan cara apalagi agar Rita mau mengirimkan foto makanannya tapi nihil. Rita sangat cerdas membuat banyak alasan yang masuk akal. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya soal masakan yang Rita buat. Dia sudah pasti tahu kalau Rita selalu kepo soal resep masakan yang enak dan sulit. Apalagi sekarang dia sudah kuliah dan mampu menabung banyak uang dari pekerjaan mengajarnya alhasil pasti lebih rajin mengasah kemampuan memasaknya. Saat dia mengirimkan paket makanannya pasti Alex akan terpesona dan... Ney menggaruk - garuk kepalanya yang pusing memikirkan itu.
Ney sangat tidak puas kalau banyak orang memuji Rita dalam hal apapun, padahal soal akademis Ney lebih baik karena mendapat ranking 4. Sedangkan Rita peringkat 28 dari bawah dan itu sangat jauh sekali jadinya Ney merasa kalau Rita bukanlah orang yang pantas dia prioritaskan. Mulai dari sanalah, dia memperlakukan Rita seperti budaknya dan sama sekali tidak pernah dihargai atau dihormati. Tapi di saat dia sadari kalau Alex pemuda tampan laksana Pangeran, yang tajirnya sampai ingin muntah itu kenal dengan Rita dan sangat nyaman dengannya, membaralah Ney.
Dinilainya Rita tidak pantas mendapatkan seorang Alex karena akademis saja dengan Alex pun jauh sekali. Anak genius dan anak Bodoh memang perpaduan yang sangat aneh! Di sisi lain, Ney masih belum bisa memutuskan akan membuat apa. Dia hanya seenaknya berbicara saja agar tidak diejek Rita. Akhirnya dia mendapatkan ide akan membuat makanan yang pernah Rita buat dulu karena saat itu dia melihat, semua orang memuji makanan dia yang sederhana.
Kentang goreng, Onion Cheese, dan satu lagi sandwich yang menjadi primadona Rita. Ney kemudian melihat bahan - bahan itu di dalam kulkasnya. Semuanya ada tinggal diolah saja, pikirnya mana mungkin Rita hafal semua menunya karena menu yang dia buat dulu itu sewaktu SMP. Ibunya penasaran Ney akan membuat apa.
"Kamu buat apa?" Tanya ibunya melihat Ney sibuk menyiapkan peralatan dan isi kulkas dikeluarkan semua.
"Buat makanan untuk piknik besok," jawab anaknya dengan sibuk. Ibunya tersenyum ada baiknya Ney kenal dengan Rita karena Rita punya banyak ide dan juga Arnila. Acara memasak ini membuat ibunya sangat gembira karena bisa melihat anaknya bisa belajar masak.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...