
Ney tidak menjawab. Intinya mereka berdua sependapat kalau mamanya Dins yang harus dinomorsatukan bukan dirinya. Sebal karena tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
"Cerai? Ah, Dins tidak mungkin akan menceraikan aku. Dasar Rita, itu aku yakin kamu tidak suka melihat aku bahagia kan," pikir Ney cemberut.
"Banyak ya kasus seperti itu berakhir cerai sih," kata Rita dalam grupnya.
"Iya ya karena istri tidak mau memberikan uang ke mertua. Kalau mertuanya baik sih ya memang keterlaluan," kata Arnila.
"Kalau zalim ya pantas jangan dikasih, mungkin. Aku kan belum menikah. Kan ada banyak ya sifat mertua," kata Rita membayangkan soal Ney.
"Kita kan tahu sekali kamu seperti apa orangnya. Orang yang berkata baik, kamu bilang buruk," sambung Arnila.
"Jangan menjelekkan mertua kamu deh aku yakin kamu memutarbalikkan fakta. Kalau kamu bisa melihat jelas kenapa, pikirkan bukan cari orang untuk dukung kisah kamu. Aku yakin, kamu pasti pikir aku bodoh kan akan membela pendapat kamu," kata Rita agak panjang.
"Ya apalagi Rita, kan kamu seorang yang belum menikah. Pasti dipikirnya kamu tidak tahu apa-apa," kata Arnila menohok Ney langsung.
"Hidup tak semudah itu, Ferguso. Jangan harap aku akan membela kamu lagi seperti yang lalu. Ingat ya kesalahan kamu yang fatal jangan kamu anggap aku tidak lupa. Keinginan kamu kita seperti dulu itu tidak akan pernah ada lagi," kata Rita.
Setelah itu tidak ada balasan chat dari dirinya ataupun Arnila. Arnila juga sudah menyerah, tidak ada harapan lagi untuk bisa mengenal Rita. Kesalahan mereka terlalu dalam meskipun nanti lukanya sembuh tapi ada suatu trauma yang membuat Rita menjaga jarak sejauh mungkin.
Ney membaca dan termenung,mau sampai kapanpun dia yang mudah melupakan tidak akan bisa diterima kembali oleh Rita.
"Dia masih terus ingat soal apa yang aku perbuat kepadanya. Bagaimana caranya supaya Rita mau kembali sama aku ya?" Tanya Ney ke dirinya sendiri sambil menggigiti kukunya.
Dins pulang dan Ney menaruh ponselnya menyambut suaminya lalu bertanya soal kabar orang tuanya.
Dins menjawab seadanya, menatap wajah istrinya lalu masuk kamar dan keluar memberikan segepok uang. Ney tidak banyak bertanya lagi, dia tahu sebagian uang yang dia simpan telah diberikan pada orang tua Dins.
"Saya ingin kamu lebih menghargai usaha saya yang berusaha membanting tulang. Terima apapun yang saya beri meskipun mungkin tidak sesuai dengan yang kamu mau," kata Dins yang sudah tenang dan duduk bersila.
Ney mengangguk meskipun dia memang kurang bisa menerima uang segepok itu. Rencananya beli-beli gagal sudah, dia harus menunggu bulan berikutnya.
"Kalau bisa jangan dipake semua uangnya. Kamu belajar menabung dong, masa semua uang ini kamu pakai belanja? Masak! Saya bosan harus selalu makan fast food. Saya beri kamu gaji bukan untuk kamu pakai seenaknya, tapi aturlah untuk hidup di rumah ini," kata Dins mengomel.
"Iya," jawab Ney menghitung uang itu. "Hah! Segini sih kurang buat beli tas merk Ordi, aku sudah hitung dengan uang tiga bulan itu, pas totalan nya. Kalau begini sih sampai 2 bulan kedepannya juga tidak akan bisa beli," pikir Ney agak sebal.
Ney berpikir nanti akan meminta uang sebagian ke orang tuanya Dins. Dia senyum tersembunyi. "Oh iya yang, menurut kamu, aku harus bagaimana ya?" Tanya Ney duduk sebelahnya.
"Soal apa? Yang jelas dong kalau bertanya," kata Dins menghela nafas.
"Aku sudah membuat kecewa seseorang untuk membuat dia kembali lagi aku harus bagaimana?" Tanya Ney.
Dins menatap istrinya itu dia tahu maksudnya adalah Rita. "Ya berubah," jawabnya lalu menonton televisi.
Ney paham maksudnya. "Hanya itu? Apa dia akan kembali sama aku lagi?"
"Mana mau dia," jawab suaminya.
"Ih, kamu kok begitu sih jawabnya," kata Ney mencubit pinggang suaminya.
"WADOW! Berubah lah kamu menjadi yang lebih baik dan cari orang lain yang bisa memberikan kamu kepercayaan tapi bukan ke orang yang sudah kamu sakiti," kata Dins.
Ney diam memikirkan apa yang dikatakan oleh suaminya. Jadi ada kemungkinan Rita tidak akan pernah kembali kepadanya tapi lagi-lagi dia menggelengkan kepalanya. Tidak percaya kalau Rita enggan menerimanya lagi.
__ADS_1
"Dia itu orangnya baik sekali masa dia tidak akan menerima aku lagi sih?" Tanya Ney cemberut.
Dins merasa istrinya terlalu memaksakan diri supaya diterima kembali, Dins tahu sejak dulu pun tidak ada niat baik dari Ney kepada Rita. Dia juga merasa heran karena Ney tidak mengundang Rita ke pernikahannya.
"Kalau maksud kamu soal Rita, tidak akan ada kesempatan. Dia sudah memberikan banyak kepercayaan sama kamu, saat ada orang asing yang mengajak kamu untuk merundung nya meski niat kamu demi kebaikan, coba kamu pikir dengan normal ya betapa sakit dan perihnya itu bagi dia," kata Dins memberikan nasehat.
"Karena ya Dins si Rita itu ditempeli Jin lho makanya maksud kita lakukan itu supaya jin nya keluar," kata Ney.
"Terus keluar?" Tanya Dins.
Ney diam. "Yaa keluar tapi tidak pergi,"
"Karena kalian sok tahu, mengerti. Kamu mau ruqyah dia itu harus punya ilmu bukan hanya sekedar pukul dia sampai keluar. Jin nya tidak keluar, dia malah kena pukul sama kelakuan kalian. Ya iyalah mana mau dia menerima kamu begitu saja, dia itu tidak bodoh seperti yang kamu pikir ya Ney," kata Dins.
"Yaaa kan orang itu yang ajak kenapa menyalahkan aku sih?" Tanya Ney.
"Ya kamu salah! Kamu anggap dia teman tapi bukan teman, saat dia bahagia kamu anggap sebagai sahabat. Saat dia terpuruk kamu anggap tidak kenal, dimana hati nurani kamu!?!? Siapapun orang yang kenal kamu, aku lihat tidak ada lagi yang muncul. Sadar dong," kata Dins agak marah.
Ney diam, kedua matanya berkaca-kaca.
"Nangis? Kamu pikir Rita dan semua orang yang kamu sakiti bisa maklum? Hati mereka terluka sama kamu! Seharusnya kamu pikir pakai otak, orang asing ajak begitu, harusnya kamu langsung menolak. Itu ada ajakan untuk membenci dia atau menguji kesetiaan kamu," kata Dins tidak menatap istrinya.
Ney menangis tersedu-sedu mendengarnya. Dia memang menyadari salahnya namun sudah keburu jauh. Mau minta maaf pun sudah yakin tidak akan dimaafkan.
"Perundungan itu tidak pernah diijinkan apapun bentuk dan alasannya. Apalagi kamu sampai merebut orang yang dia suka, aku tahu ya kamu chat apa saja aku tahu! Lalu sekarang kamu bertanya bagaimana caranya supaya Rita mau menerima kamu? Tidak ada!" Kata Dins ke dapur lalu membuat kopi.
"Tapi kan aku sudah menyesaaaal," kata Ney sambil terisak-isak.
Ney menangis, menyesal ya hanya di mulut saja besoknya begitu lagi seakan-akan tidak akan ada yang tahu.
Dins meminum kopinya tapi masih saja dia mau menikah dengan Ney. Cinta? Ya cinta meskipun berkali-kali harus berkorban melihat istrinya menyukai lelaki lain.
"Dia sudah mencap kamu sebagai orang yang jahat, aku mengerti. Itu salah kamu sendiri jangan salahkan kepadanya. Sudah! Kamu jangan mengganggunya lagi. Kalau kamu memang niat membantu, bantu dia dari jauh dengan doa jangan pernah lagi campuri urusan dia," kata Dins menaruh kopinya lalu membuka makanan.
Ney masih menangis tapi dia seka dengan tisu. Dalam benaknya dia punya banyak rencana agar Rita bisa kembali berteman dengannya. Menurut Ney hal itu sangat mudah.
Rita menyukai makanan, Ney akan mentraktirnya untuk makan. Tahu juga Rita menyukai barang murah yang lucu, Ney akan membelikannya. Hanya agar Rita menerimanya.
Televisi menampilkan iklan Dins memperhatikan istrinya yang tersenyum sendiri. Baginya itu sudah biasa dan menghela nafas.
"Kamu tahu hal yang tidak bisa dibeli dengan uang itu apa?" Tanya Dins.
"Apa?" Tanya Ney.
"Rasa percaya," kata Dins menonton lagi.
Sekejap semua rencananya hancur lagi dalam benaknya. Rita sudah tidak memiliki kepercayaan lagi kepadanya, nol. Memang tidak ada kesempatan lagi untuknya bisa berjalan bersama, menonton bioskop, makan sambil tertawa.
Semua kenangan itu telah terhapus secara total berganti dengan air mata yang deras. It will never be same again!
Beralih ke tempat Alex yang tersadar keesokan harinya. Alex memang pingsan dan tertidur di karpet.
"Enak ya tidurnya," sapa Rita di pagi hari itu.
__ADS_1
Alex tentu saja terbangun karena alarm dari notifikasi Rita. Nada dering alarmnya Alex ubah menjadi, "Nini Pelik Berteriak." 😑😑😑
"Aku benar-benar pingsan tahu! Kamu ini tidak mengerti ya? Old Fashion itu masuk nya ke Vintage, kamu suka gaya jadul?" Tanya Alex yang merangkak naik kasurnya.
"Oh hahahaha ya mana aku tahu lah! Pokoknya yang itu. Aku bisa masuk ke gaya manapun makanya aku bilang biasa saja kan," kata Rita tertawa pelan. Dia sedang sarapan bubur beli bersama adiknya, Prita.
"Hahhh ya ampun," balas Alex.
Kalau begini sih susah nyambungnya dengan gaya Alex yang selalu baru tampilannya. Alex membayangkan saat dirinya berpakaian keren, rapih dan terkini. Rita dengan gaya tabrakan dan pasti membuat semua orang menertawainya.
"Aduh, bagaimana ini? Tidak bisa dibiarkan," kata Alex yang pusing sendiri memikirkan gaya Rita. Ribet memang dia orangnya.
Terbayangkan bila jalan dengan Rita dengan hijab warna lain, bajunya model lain, kebawahan bisa rok atau jeans lalu sepatunya pasti kets.
"TIDAAAAAAKKK!!" Teriak tukang lebay ini sambil mengacak-acak rambutnya.
"TUAN! ANDA TIDAK APA-APA?!" Teriak penjaga di depan pintunya mendobrak pintu. Dan menatap Alex yang sedang memegang kepalanya bengong.
"Lama-lama karena kamu pintuku akan diganti lagi. YANG BENAR SAJA DONG!" Kata Alex memarahinya.
"Maaf, habis Tuan teriak aku pikir ada apa. Ini sarapannya," penjaga itu menyuruh kedua pelayan untuk masuk.
Seperti dalam istana korea, mereka menggotong nampan bulat besar itu dengan isi 5 macam makanan sehat. Tertata rapi lalu mereka letakkan di meja makannya dalam kamar.
Alex turun dari kasur lalu menarik tempat duduk di sebelahnya. "Karena perempuan itu," gumam Alex.
"Ah, karena perempuan. Anda kena tolak? Atau Anda terjerumus ke dalam... kekasih Anda hamil anak Anda?!" Tanya penjaga itu yang membuat Alex meninjunya di wajah.
"Bukan! Mana bisa aku lakukan itu padanya sebelum bisa, aku sudah dibelah dengan kapak," kata Alex emosi kepada penjaganya yang bermuka besi.
Wajahnya sama sekali tidak bengkak atau biru atau apapun!
"Ah, saya mengerti. Mau saya bawakan dia kemari?" Tanya penjaganya sudah siap dengan walkie talkie.
Alex menatapnya, bagus sih tapi tidak terbayangkan betapa bahayanya Rita serta para penjaganya nanti.
"Tidak usaaaaah akan rumit kalau dipaksa kemari meski aku akan senang. Dia itu bagaikan nini vampir, aku yakin dia akan membuat kamu koma," kata Alex mulai makan.
Penjaga itu kaget sekali apakah sangat berbahaya? Tampaknya bukan perempuan sembarangan. Kedua pelayan yang ada di sana hanya bisa menahan tawanya.
Sudah sering mereka berdua mendengar gerutunya Alex, serta tawa keras. Para pelayan yakin kalau perempuan barunya itu sering membuatnya berperilaku aneh.
Fernando adalah salah satu penjaga kebanggaan Alex, dia berpikir kalau penjaganya itu dipertemukan dengan Rita bagaimana ya? Akan ada 2 pembuat onar yang harus Fernando hadapi dan Alex tertawa.
"Tuan? Apa perempuan itu sangat penting bagi Anda?" Tanya Fernando agak penasaran.
"Ya," jawab Alex sambil tertawa senang.
Fernando heran melihat Tuan mudanya yang selalu bersikap dingin dan kejam kepada setiap wanita. Dia selalu menyebut mereka betina penggoda.
Kini dia bisa melihat Alex dengan jelas ceria, dan selalu tertawa keras dengan tiba-tiba. Padahal pekerjaannya sangatlah banyak. Fernando juga jarang melihat Tuannya meminum wine atau sempoyongan.
Bersambung ...
__ADS_1