ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
453


__ADS_3

Malam harinya Rita pulang dengan ditemani oleh tante dan om yang berkumpul di rumah Ratih. Mereka banyak mengobrol soal Koko ataupun Uanya Ryan yang terkenal dengan ilmu.


Di rumah, mereka disambut. Lalu Ibu Rita menghampiri, tampaknya belum ada perubahan. "Kamu sudah diruqyah nya?"


"Belum Bu, besok paling. Soalnya sebelum Rita ada anggota saudara dari Ryan yang di ruqyah," jelas Rita melepaskan sepatunya.


"Kok mereka dulu sih? Kan janjinya kamu," kata Ibunya agak kecewa.


"Yaa mau bagaimana lagi tiba-tiba saja mereka sudah mencaplok Koko nya. Biarkan sajalah besok setelah Rita selesai juga ada pasien temannya Tyas," kata Rita menuju kamarnya. Kedua kakinya dan pantatnya terasa pegal.


"Semoga kali ini mantap ya karena Ibu tidak mau kamu sampai tidak bisa tidur lagi," kata Ibunya sambil menutup pintu lalu berbincang sebentar dengan adik dan kakaknya.


"Kita hanya sebentar ya. Besok bertemu lagi di rumah Ratih," kata Tante Nina.


Kedua orang tuanya berbicara sedangkan Rita menuju kamarnya untuk rebahan.


Waktu masih menunjukkan pukul 10 malam. Ponsel Rita sudah tentu banyak chat yang masuk terutama dari Alex. Rita juga melihat ada banyak chat dari grup Arnila.


Karena sebal, Rita membuka dulu Pacebuk nya dan mengontak Alex.


"Kamu sudah pulang?" Tanya Alex di pukul 7 malam. Tapi ya Rita tidak mengaktifkan lagi netnya kala itu.


"Hei,"


"Hey,"


"Woy,"


"Kamu sengaja ya?"


"Hellloooowww,"


"Please laa sampai kapan kamu mau marah terus?"


Rita hanya tertawa dan tersenyum membaca pesan dari Alex yang tertunda.


"Kalau tidak di balas, aku tidak akan mau chat kamu lagi!"


Lima menit berlalu...


"........."


"Ah, jadi kamu belum selesai ya. I see well, sepertinya aku akan bekerja saja sambil menunggu kamu membalas,"


"Aku tahu kamu sudah pulang!!🤬🤬" Seru Alex sudah tentu kalau bukan dengan melepaskan rohnya.


"HAHAHAHAHA!!" Ketik Rita menertawai Alex.


Di kamar Alex, dia cemberut dengan jenaka ternyata Rita sudah pulang dan tertawa melihat kalian cemasnya Alex. Tapi dia lega dan juga penasaran apa saja yang dibicarakan olehnya pada tukang ruqyah itu.


"Masih marah?" Tanya Alex.


"🤬🤬🤬 Jelas saja teganya kamu berbohong," kata Rita kesal. Dia mengambil beberapa cemilan dari lemari makanannya.


Alex sedih tapi yakin kalau Rita hanya sebentar marahnya. "Aku harus begitu karena banyak orang jahat di sekitarku," kata Alex.


"Oh, lalu kamu pikir aku juga jahat? Penjahat sebenarnya justru kamu dan antek-antek kamu tuh si Ney sama Arnila," kata Rita.


Alex jadi tidak enak, dia mengutuk dirinya sendiri yang dulu membuat Rita sakit hati. Kalau saja saat itu dia tidak terlalu sok tahu, pasti Rita masih menganggap Ney masih sama.


"Ya aku pikir lamu mau bicara, mau kenal sama aku karena fisik. Lalu bagaimana ruqyah nya?" Tanya Alex berusaha mengalihkan topik.


"Halah! Tidak perlu mengalihkan topik segala deh. Kamu sama si KUMPRET Ney sama! Kalian semua orang-orang TOXIC!" Kata Rita dengan galak.


Alex menggigit bibir atasnya, lagi-lagi emosi Rita memuncak. Rita tahu kalau Alex sedang membuat judul baru tapi sayangnya itu tidak membuat Rita teralihkan.


"Jadi aku yang begitu itu termasuk... Toxic?" Tanya Alex sangat terkejut. Selama ini dia sering mengarahkan orang-orang sesuai yang dia pikir itu baik yang sebenarnya agar mereka berjalan di alur yang dia rencanakan.

__ADS_1


Tapi tidak dengan Rita. Hanya Rita orang yang berani mengambil langkah keluar dari jalur yang dia buatkan.


"Baca deh di net banyak tuh artikel termasuk ya kelakuan minus kamu sama mereka berdua. Syukuuuur aku bukan sahabat kalian, nauzubillah deh kalau punya sahabat macam you you nih," kata Rita di chatnya membuat Alex merasa sangat sedih.


"Aku tidak tahu kalau sebenarnya semua yang kukatakan Toxic," kata Alex.


"Karena kamu super egois. Kamu ingin semua orang yang kamu temui berjalan di jalur yang kamu buat. Tapi tidak semua orang akan menerima termasuk aku," kata Rita menebak semuanya.


Alex menutup wajahnya. Baru kali ini semuanya sesuai yang diucapkan oleh Rita.


"Tapi kan untuk kebaikan mereka," kata Alex membela diri.


"Untuk kebaikan kamu bukan diri mereka. Setelah lama mengenal kamu, aku yakin kamu itu Mother Complex," kata Rita.


"........" Alex tidak bisa berkutik. Dia hanya terdiam. Ketebak! Again!


"Sepertinya aku tahu deh kenapa kamu tertarik sama perempuan lebih tua," kata Rita lagi menebak.


"😱😱😱," balas Alex.


"Kamu mungkin tidak sadar tapi sepertinya karena penyakit kamu, Ibumu menjadi sangat protektif dan kamu membuat diri kamu tertarik pada wanita lebih tua. Tapi sayangnya saat menjalin cinta kebanyakan mereka kejar fisik atau uang kamu. Iya bukan?" Tanya Rita.


DUAAAARRRR!!


Alex hanya terdiam sambil bengong.


"Mother Complex atau bisa disebut sebagai Oedipus Complex disebabkan karena sosok Ibu yang terlalu protektif, akibatnya anak jadi sukar lepas dari kelekatan terhadap Ibu. Ketika mencari pasangan hidup, pria ini akan mencari wanita yang menyerupai sosok Ibunya, salah satunya diperoleh dari wanita yang umurnya lebih tua," kata Rita sambil mengetik dan membuka artikel di Gugel.


Alex semakin kaget dengan penyakitnya itu tidak ada yang tahu tentang ini dan baru Rita seorang yang berani mengemukakan pendapatnya. Mungkin banyak orang sudah tahu tapi mereka sama sekali tidak berani.


"Kamu lancar sekali ya. Orang-orang tidak ada yang berani mengungkapkan itu," kata Alex kagum.


"Kenapa?" Tanya Rita.


"Ya karena orang tuaku orang yang paling penting di beberapa negara. Bagaimana ya kalau nanti kita bertemu, akankah kamu sama dengan diri kamu yang sekarang atau... berubah?" Tanya Alex ingin tahu.


"JANGAAAAAN!! Nanti mereka akan menghukum ku," kata Alex yang menepuk dahinya tidak kepikiran.


"Pernah kamu memikirkan bagaimana sakit hatinya aku akan perlakuan kamu mengajak mereka berdua untuk merundung? Aku akan katakan, aku tidak peduli seberapa parah mereka menghukum mu nanti," kata Rita sudah mantap.


Tentu Alex mengetahui ke tekatan Rita, itu akan menjadi bencana untuknya. Itulah bodohnya Alex bertindak tanpa berpikir, itulah kenapa bagi Tita dia tampak seperti anak kecil usia 7 tahun terjebak dalam tubuh dewasa.


Karena semuanya sudah terungkap, Alex menantikan ejekan dan cemoohan dari Rita. Dia sudah memikirkan masak-masak dan siap mental bila Rita membalasnya. Meskipun dia memegang dadanya takut penyakitnya kambuh.


Alex ingat saat dokter langganannya berkata, "Kamu sebaiknya lebih menahan diri dan pahami wanitamu. Karena tampaknya dengan hanya marah satu kalimat, dia bisa menghentikan jantung kamu. HAHAHAHA sepertinya kamu mendapatkan wanita galak ya HAHAHA,"


Setelah itu Alex mulai rajin meminum obatnya setiap kali merasa Rita sedang marah karena kelakuannya, obat selalu siap dia minum kapan saja.


Dia sudah bersiap membuka penutup obatnya dan... Rita kemudian menceritakan soal konsultasinya mengenai ruqyah. Rita banyak bertanya soal Alex, Ney dan Arnila.


Alex terdiam. Energi amarah Rita tiba-tiba menghilang. Alex menatap obatnya dan menyimpannya tapi tidak diletakkan jauh. Rita mengulang mengoreksi lagi mengenai pendapatnya soal Ney dan Arnila.


"Kamu tahu... sebenarnya dia sedikit ada kebaikan untuk membantu, Rita," kata Alex. Yang hei! Langka sekali Alex memanggil namanya.


"Iya aku tahu. Kamu pikir aku bego ya," kata Rita mendengus.


"Oh tidak... aku pikir kamu menganggap semua orang buruk," kata Alex tersenyum.


"Bukannya itu kamu ya? Aku saja di cap sama kamu wanita jahat kan? Masih ada kok chatnya," kata Rita.


"Ya maaf aku kira kamu orangnya yang senang menendang teman lain ternyata aku salah. Kamu punya banyaaaaakkk teman dekat dan sahabat," kata Alex agak menundukkan kepalanya.


"Kalau orangnya kampret seperti kau dan Ney sudah pasti aku tendang lah. Apa gunanya?" Tanya Rita jutek.


"Jangaaan. Aku jangan kamu tendang. Sadis sekali sih," kata Alex.


"Kamu yang bilang ya sekitar kamu hampir tidak ada orang baik kan. Jadi kamu menganggap semua orang yang memang baik menjadi jahat. Intinya kamu buta melihat satu warna pelangi, padahal warnanya kan beraneka macam," jelas Rita membuat Alex menyeka air matanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu tahu laa apa orang yang sering disebut Koko itu yang memberitahukan?" Tanya Alex agak kesal. Jelas-jelas dia melihat mata Koko yang tidak menyukainya.


"Iya," jawab Rita membuat Alex jatuh dari kursinya.


"Apa dia bilang siapa aku?" Tanya Alex yang kembali duduk di kursinya. Dia berdebar kencang.


"Tidak. Kamu kan manusia kenapa harus ditanya segala?" Tanya Rita dengan pikiran polosnya.


Alex tertawa terbahak-bahak membacanya. "Ya Allaaaah," katanya.


"Ya dia beritahu kamu keparat orangnya banyak berbohong karena lingkungan. Memang iya kan?" Tanya Rita.


"Yups seperti yang kamu baca kan. Aku sudah jelaskan. Memangnya yang me ruqyah kamu tidak bisa perempuan?" Tanya Alex tidak menyukai Koko karena... Koko sangat tampan 🤣🤣🤣.


"Memangnya kenapa?" Tanya Rita yang aneh. Dari awal kan dibilang yang me ruqyah Koko, lelaki pula. Memang sih Rita kira bisa memilih tapi ternyata Koko memang tukang ruqyah nya.


"Ya kalau bisa perempuan saja ada kan itu yang konsultasi bersama laki-laki yang lain," kata Alex keceplosan.


"😒😒😒 Oh jadi memang ya kamu membelah diri lagi untuk memeriksa apa aku bohong atau tidak," balas Rita membuat Alex kaget.


"Eh hahahaha ketahuan deh," kata Alex garuk kepala.


"Kamu yang bohong, kamu juga yang keceplosan. Sudah biasa, kalau kamu bilang tidak melakukan pembelahan diri ya kamu juga yang keceplosan 😒😒😒," kata Rita menggelengkan kepalanya.


"HAHAHAHA!" kata Alex yang tidak bisa menghindar lagi.


"Memangnya kenapa sih?" Tanya Rita lagi. "Orang yang pertama lihat aku dalam masalah justru Koko kenapa harus sama orang lain?" Tanya Rita yang sama sekali tidak mengerti.


Alex menepuk kepalanya. "Bukan itu maksudnyaaaaa masa sih kamu tidak mengerti?" Tanya Alex bete.


"Ya mana ku tahu laa aku sih siapapun boleh yang penting dia benar bisa mencabut si jin," kata Rita yang sudah malas berpikir macam-macam.


"Tapi yang ibu-ibu lebih paten lho dari yang laki," kata Alex memberikan kode lagi.


Di tempat lain, Ua Ryan tengah terbahak-bahak keras mengetahui Alex memberikan banyak kode tapi Rita tidak bisa tahu jawabannya. Ua Mori dan adik kakaknya ketawa keras sampai menangis.


"Itu namanya Ua Mori. Tidak mau ah kalau aku mikir sedikit langsung tahu. Kan seram," tolak Rita.


Alex bengong. Sekuat itukah? "Serius itu?" Tanyanya.


"Seperti tidak ada penghalang. Kalau kamu dihadapkan dengan Ua kelihatan semuanya, apa yang kamu sembunyikan, apa yang kamu niatkan. Pokoknya jelas!" Kata Rita yang merinding. Cukuplah dengan Koko saja.


"Iya memang super sekali sih kekuatannya tapi tidak sebanding dengan kamu. Itu... yang membuat aku insecure," kata Alex yang sudah melihat seberapa besar kekuatan yang dimiliki Rita.


"Halaaah aku tidak minat jadi dukun seperi kamu dan yang lainnya. Yang tidak punya kekuatan saja sombongnya kebangetan," kata Rita.


"Siapa tuh?" Tanya Alex merasa tersindir.


"Tuh si Ney. Amit-amit deh mengagungkan kekuatan luar tapi tidak meyakini Allah ada. Prettt," kata Rita.


Alex lega ternyata bukan dirinya. "Jadi Ney selalu membanggakan kekuatannya?" "Kok kamu bisa tahu kalau kekuatannya tidak ada. Si Ney," kata Alex.


"Ya iyalaah. Dia sering ya menerawang aku tapi boro-boro isinya omong kosong. Kebanyakan soal musibah ke aku, eh nyatanya sama sekali tidak ada. Kalau memang iya, kelakuannya tidak akan seminus itu, Alex. Orang yang punya kekuatan mampu menembus suratan takdir, orangnya juga tidak sembarangan," jelas Rita.


"Apa? Maksudnya dia selalu menerawang kamu soal kecelakaan? Misalkan kamu akan kecelakaan di mana, begitu?" Tanya Alex menganga.


"Iya. Aku bilang ke dia, "Orang yang benar-benar punya kekuatan saja sangat ingin menjadi orang biasa. Dan kamu salah satu orang yang aneh," aku bilang begitu," kata Rita.


"Lalu apa responnya?" Tanya Alex penasaran. Tidak menduga kalau Ney separah itu hanya agar Rita menjadi tempatnya bergantung. Ya kalau begitu sih wajar saja Rita nanti menghilang.


"Ya dia bangga begitu. Aku bilang saja "Itu karena iman kamu lemah mungkin tidak ada sama sekali semenjak kamu lebih rajin melakukan sholat sunah daripada wajib. Aku tidak bangga kenapa? Itu akan memberatkan hitunganku saat aku meninggal kan," jelas Rita.


Alex terdiam dia sama sekali tidak berpikiran akan kekuatan itu memiliki pajak apalagi kalau sampai terpakai sering.


"Aku bukan dukun. Ya aku butuh kekuatan ini karena di sekitarku banyak yang super jahat. Tidak aku lakukan untuk diri sendiri kok. Nanti juga kamu akan tahu seperti apa lingkungan ku," kata Alex senyum.


"Jangan terlalu pede dan banyak berharap..Karena nanti kalau kecewa akan membuat kamu trauma," Rita memberikan saran.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2