
"Yang dimana kamu saat itu masih dalam tahap penyembuhan dari almarhum mantan yang sudah meninggal?" Tanya Rita terbayang baginya kenangan menyakitkan itu untuk Alex.
"Iya. Itu kisahku sedikit bagaimana dengan kamu, Ri? Apa ada kenangan terpahit dalam hidup?"
"Oh pasti dong," jawab Rita jadi mengingat masa - masa dia ditinggal nikah dengan orang yang berjanji menikahinya. Naas banget emang.
"Beritahu aku,"
"Aku pernah ditinggal menikah oleh seseorang yang aku pikir dia lelaki impian,"
"HAH!? Bagaimana bisa?! Dia tidak suka dengan penampilan kamu atau bagaimana?"
"Makanya baca dulu jangan banyak nanya!" kata Rita kesal mau dilanjutkan, Alex sudah banyak nanya.
"Iya maaf tapi kan bagus aku banyak nanya,"
"Maksud?" Tanya Rita keheranan.
"Isi novelnya jadi panjang hehehehe," mereka berdua sama - sama tertawa.
"Seriuusss. Jadi aku dikenalkan dengan seorang lelaki dia itu sudah dianggap saudara sama tanteku. Salahnya sih tanteku ikut campur, terus lelakinya juga ember kan jadi malas. Seperti kamu kalau senyum tuh seperti matahari, kamu tahu tidak matahari yang ada di Teletubbies?" Tanya Rita. Alex tidak menjawab, Rita kesal dan tidak melanjutkan ceritanya.
"Why you stoplaaah ( kenapa kamu berhentilaaah )," jawab Alex 2 detik kemudian.
"You are silentlaaah ( kamu terdiamlaah )," jawab Rita meniru kebiasaan kalimatnya.
"Katanya jangan bertanyalaaah,"
"Kan aku yang bertanyalaaah," jawab Rita yang sebenarnya tertawa sedari tadi.
"Hahahahaha! Jadi nanya apa?" Tanya Alex. Rita lalu mengirimkan emoji tangan yang mengarah ke atas. "Malas kamu tanya lagi sajalaah,"
"Aku juga malas nanya lagilaaah," keduanya tertawa lagi. Sungguh benar - benar jadi panjang sudah episode ini karena kekonyolan mereka.
"I'm not a baby! ( aku bukan bayi!)" kata Alex.
"Nah itu kamu baca kan? Lanjuuut... sudah banyak pendekatan terus banyak bertemu akhirnya suatu ketika, aku lelah banget sama dia. Karena merasa selalu dipermainkan, aku bilang sama dia. 'Sudahlah kita sudahi saja sepertinya juga kamu tidak ada minat sama saya. Mungkin karena saya keponakan tante terus kamu merasa tidak enak.' Kemudian dia nanya 'Kamu mau saya lamar?' Ya perempuan mana sih yang tidak mau kan? Hanya orang gila aja yang nolak. Nah waktu itu kebetulan aku seminggu lagi wisuda kelulusan D2 PGTK. Terus dia bilang, 'Jangan. Saat kamu lulus, saya akan datang melamar kamu ya. Tunggu saja.'"
"Itu kerasa seperti dipaksa ya," kata Alex.
"Tapi kita sudah sama - sama suka. Ada yang fitnah aku," kata Rita.
"Siapa?" Tanya Alex.
"Lanjooot,"
"I knew it! You will say that ( saya tahu! Kamu akan bilang begitu )," kata Alex mengirimkan emoji menghela nafas.
"Ya aku bilang oke, meskipun sudah lepas dia gitu, Lex. Seminggu tidak ada kabar dan aku lulus wisuda, terus tahu - tahu dia menikah,"
__ADS_1
Alex terdiam membacanya. "Berapa lama kamu bisa melawan atau bangkit lagi dari keterpurukan janji seseorang?" Tanya Alex yang berhati - hati.
"Setahun. Sambil hancur sutraaaa hati aku. Menanti janjinya ternyata dalam seminggu itu, istrinya memfitnah aku. Istrinya itu bekerja di kantor sebagai sekretaris, nah kantornya itu punya tantenya seperti itu. Lelaki itu cerita ke dia soal aku, kata istrinya, 'Wah, dia itu tidak benar. Perempuan nakal sudah putus saja! Lebih baik kamu menikah sama aku saja.'"
"Siapa yang bercerita begitu?" Tanya Alex tidak menduga kalau Rita mengalami kejadian yang buruk.
"Dari ibuku. Ibuku tahu dari ibunya lelaki itu jadi mereka bersaudara dengan saudara lain. Tante aku kaget super marah,"
"Perempuan itu sepertinya lama naksir sama lelaki yang suka kamu ya?" Tanya Alex.
"Iya. Tapi dia mencoret aku dengan cara yang kotor. Dia dulu pernah aku tanya, suka dengan perempuan seksi dan kaya? Lelaki itu bilang, lebih suka yang sederhana. Hahahaha bohong besar ternyata,"
"Kenapa?"
"Keluarga istrinya punya restoran besar disini. Asli khorang khayah. Waw!!! Super mewah,"
"Kamu diundang tidak?"
"Diundang. Tapi keluargaku sakit hati dibilang aku perempuan tidak baik sama istrinya, jadi tidak ada satupun yang datang," jelas Rita mengingat kembali kenangan buruk itu yang sekarang sudah dia tenggelamkan.
"Bagaimana dengan tante kamu?"
"Datanglah hanya sebentar tapinya katanya kecewa hanya dengan kata - kata tidak benar, lelaki yang tante anggap sebagai anak sendiri malah lebih percaya orang lain. Tapi aku bilang namanya bukan jodoh ya pasti selalu ada cara untuk berpisah,"
"Dari situ ada kabar?" Tanya Alex.
"Dia menjawab?"
"Iya terus dia bertanya 'Kamu sekarang dengan siapa?' Aku langsung memblokirnya Forever. Setelah itu ya sudah. Aku hanya berdoa..."
"Iya doakan saja. Aku tahu kamu akan mendoakannya," jawab Alex dengan emoji tersenyum.
"Karma itu ada. Siapkan mental Anda yang terbaik. Begitu," Alex membalas dengan emoji wajah datar. "Enak saja aku doakan perempuan itu baik - baik! Prettt!"
"Kejam ya," kata Alex.
"Jangan main hati denganku kalau kamu tidak bisa menepati janji. Karma itu ada, beb!"
"Kamu panggil aku beb? I'm happy ( aku bahagia ),"
"Hah? Sudah biasa aku suka bilang begitu juga ke semua orang. Bukan berarti spesial, merasa spesial kamu? Hahahahaha!" Yang membuat Alex marah setelahnya dan enggan chat lagi dengan Rita.
"Budak leutik ( anak kecil ). Menurut aku ya kalau kamu tidak suka jangan dibaca. Kamu yang ditinggal kekasih lewat kecelakaan pesawat lebih menguntungkan daripada aku yang ditinggal menikah, orangnya masih ada. Kapan saja bisa bertemu lebih sakit lagi. Kalau sudah meninggal memang pasti ada rasa sakit tapi seiring waktu, akan sembuh kalau kamu punya pengganti yang lebih baik," Alex masih terdiam tidak membalas. Lalu...
"Rasanya sakit. Hancur aku juga mengingat kenangan dia. Saat itu dia mau berbicara langsung dengan ayahku yang sedang dinas di Jepang, tapi sedikit lagi saja sampai landas tiba - tiba meledak. Tidak ada yang selamat, Ri. Tapi benar kata kamu seiring berjalannya waktu, aku mulai menerima kehilangan dia. Lalu aku bertemu kamu, hari - hariku terasa berwarna lagi,"
"Kamu tinggal di dunia Hitam Putih ya?" Tanya Rita.
"Dalam foto sebenarnya,"
__ADS_1
"Oh, kaku ya,"
"Begitulah," mereka lalu tertawa lagi bersama - sama.
"Kalau tidak begitu mana mungkin aku bertemu kamu meski sakit," kata Rita.
"Sama. Lalu ada cerita lagi?" Tanya Alex.
"Masih. Ada acara apapun dia dengan istrinya selalu hadir tapi mereka tidak pernah menampakkan wajah mereka ke hadapan aku atau keluarga yang lain,"
"Mereka malu kan saat tahu kalau soal kamu tidak benar. Di sisi lain mungkiiin lelakinya terpaksa karena tempat dia bekerja kepunyaan bosnya, sedangkan perempuannya lama menyukai dia tapi ada kamu. Benar tidak?" Tanya Alex dengan penyelidikannya.
"Tepat! Pakcik ( Bapak ). Setiap acara begitu, undangan pernikahan juga mereka seperti sembunyi - sembunyi. Lalu sekitar 3 bulan kemudian aku sudah ikhlas ya sudahlah dia sudah happy punya istri. Terakhir aku berdoa diberi kesempatan agar bisa bicara dengan lelaki itu,"
"Terkabul ya,"
"Iya dong. Di acara arisan, mereka datang kan tapi lagi - lagi dia duduk di balik pintu sedangkan istrinya duduk di dalam sebelah pintu. Aku beralasan mau ambil minum langsung memutar dan bicara sama lelaki itu," kata Rita.
"Bilang apa? Jangan bilang kamu tarik kerah bajunya dan menghempaskannya ke lantai,"
"Tenang saja bagian itu buat kamu kok untuk balas dendam! Aku nanya, "Kenapa duduk disini, mas? Duduk di dalam saja masih kosong kok," dia kaget terus langsung sungkem minta maaf buat janji dia yang tidak bisa ditepati. Aku bilang sambil tertawa, "Tidak apa - apa, mas makanya mas nikah sama orang lain juga bukan jodoh. Ayo mas masuk saja, masa istrinya saja di dalam kasihan saling jaga pintu lihatnya. Akhirnya dia tersenyum dan masuk ke dalam,"
"Kamu sudah menerimanya dengan ikhlas. Sudah begitu saja? Dia tidak menangis?"
"Menangis. Tapi karena akunya tertawa, ya bagaimana.. dia masuk sambil mengeringkan air mata takutnya kelihatan sama istrinya,"
"Sudah? Istrinya bagaimana? Kamu tidak bicara?"
"Tidak perlu karena dia sudah takut sendiri. Dia yang melakukan fitnahan biarkan saja yang penting aku sudah memaafkan lelaki itu. Dan jadi saudara,"
"Lalu karmanya ada?"
"Ada. Istrinya punya anak. Anak kecil kalau tumbuh gigi kan awal - awal pasti suka gigit apa saja. Tangan ibunya digigit kuat - kuat sampai membekas dong,"
"WHAAAAT!?!? Lalu bagaimana?" Tanya Alex kaget.
"Dilarikan ke rumah sakit setelah itu, ibunya sama sekali tidak mau menggendong, memberi asi, memberi makan, bermain sama anaknya. Tugas seorang ibu jadi tugas suaminya," kata Rita.
"WHAAAAAT!?!?" Teriak Alex.
"Jadi sekarang yang bekerja malah istrinya, suaminya jadi istri. Jadi bertukar peran. Istrinya malah kerja di pulau lain meninggalkan suami dan anaknya. Katanya kalau suaminya ada kerjaan, istrinya sering stres ngomong sendiri kalau ditinggal sama anaknya. Terus anaknya juga sudah besar sekarang kalau ditanya soal ibunya kemana, dijawabnya sudah tidak ada,"
"WHAAAAAT!?!?" Ketiga kalinya busyet nih bule.
"Lu berisik dari tadi teriak - teriak mulu. Pembaca jadinya terganggu, tahu! Apa kek responnya!" Kata Rita ngegas.
"Hahahahahaha!" Jawab Alex.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1