
Minggu depan akhirnya tiba, hari apanya bisa bebas para pembaca berpikir dan hari - hari sebelumnya tentu saja hari - hari biasanya. Rita bangun tidak lupa untuk sholat Shubuh meski kesiangan hehehe lalu bersihkan kamar dan rumah sebelum pergi. Ibu menitipkan pada Rita untuk beli roti kalau nanti pulang. Rita kemudian mandi dan mulai berdandan sewajarnya tanpa make up yang tebal.
"Aku pergi sekarang ya! Kita janjian di depan mall saja!"
Tidak ada yang membalas tapi memang Rita perlu pergi sepagi mungkin meski bukan hari Minggu. Jam 9 pagi barulah ada Arnila yang membalas kalau dia sudah menuju mall yang ada di Bandung lalu menyusul Ney yang laporan kalau dia sudah mandi. Coba dia selalu mandi kalau mau bertemu dengan orang bukan hanya saat bertemu lelaki ganteng saja.
Jam 11 siang mereka bertiga sudah berkumpul dan menuju Gramedia. Rita sangat menyukai buku komik dan Arnila juga sedang mencari buku. Lalu mereka bertiga duduk bersama di sebuah kursi panjang tempat orang - orang menunggu antrian.
"Eh, bagaimana kabar kamu dengan Dins?" Tanya Rita lalu Ney hanya menundukkan kepalanya dan tidak lupa memainkan kulit tangannya.
Arnila memberi kode pada Rita yang mengarah ke Ney yang mulai menguliti kulit jarinya.
"Masih dengan kebiasaan jelek kamu!" Kata Rita yang menyentil kebiasaannya.
Ney langsung buru - buru menghentikan kebiasaannya itu dan menyilangkan kedua tangannya di dadanya. "Ya jadi sama dia,"
"Ya bagus dong! Daripada keukeuh sama Anggara!" Kata Rita. Syukurlah tolong jangan berpindah haluan lagi.
"Iya ih, tidak baik merebut pasangan orang apalagi temannya Rita kan sudah mau menikah juga. Jadinya teman kamu menikah dimana? Bandung?" Tanya Arnila. Posisi duduk mereka Ney berada di tengah supaya semua informasi dia juga bisa mendengarnya
Rita menggelengkan kepala, "Bukan. Tapi di Cambridge nya langsung,"
"Hah!? Di Amerika!?" Tanya Ney dan Arnila bersamaan.
"Iya kan kuliahnya sudah mau mulai jadi kata orang tua Merlin langsung saja di sana, jadi hanya beda sebulan setelahnya mereka bisa langsung mulai kuliah," jawab Rita yang tersenyum gembira.
"Wah gila!" Kata Ney tidak membayangkannya kalau mereka berdua akan secepat itu menikah.
"Kalau sudah jodoh sih memang segalanya pasti dipermudah ya," kata Rita sambil mikir.
__ADS_1
"Iya, Rin kalau belum waktunya memang susah. Mau sekeras apa kita berusaha dan berdoa, kalau belum ya tunggu saja," kata Arnila.
Rita menganggukkan kepalanya dan memandangi Ney, begitu juga dengan dia. Meski sudah paten sama Dins selaluuuu saja belum bisa teguh pendiriannya, masih saja meleng ke orang lain.
"Teman kamu dapat beasiswa?" Tanya Arnila lagi karena dia memang belum pernah bertemu baru lihat saja fotonya entah di episode berapa.
"Iya. Dia seotak sama dengan Alex. Makanya cepat lulus kan, Merlin juga sama tapi beda jurusan sih. Rumah yang dia rancang itu buat di Amerika sekalian bikin rumah untuk orang tua Gara juga,"
Ney terkejut kalau rencana pernikahan mereka mepet dengan jadwal kuliah dan dia terdiam mendengar semua cerita Rita. Tidak membayangkan kalau Anggara segigih itu sampai sudah menyiapkan segalanya demi Merlin.
"Memangnya maaf ya teman kamu orang kaya?" Tanya Arnila keheranan. Otak sama dengan Alex dan juga ganteng apa mungkin juga dia orang berada? Arnila melirik Ney yang pastinya tahu selera itu dan dia sengaja bertanya tentang itu, karena pastinya Ney juga penasaran. Dan mungkin menurut dugaan Rita, Ney meminta tolong pada Arnila untuk menanyakannya.
"Bukan. Merlin yang paling kaya tuh tapi karena orangnya supel lalu tidak keberatan bergabung dengan kelas bawah makanya banyak yang suka. Meski dandannya tetap saja terlihat glamor tapi dia tidak sombong. Dan kalau soal Anggara, aku yang menjodohkan mereka berdua. Jadi aku tidak akan pernah kasih restu atau kesempatan ke orang lain kalau ada yang suka salah satu dari mereka," jelas Rita yang juga SENGAJA menyindir Ney, yang tampaknya masih jelas ingin kejar Anggara.
Arnila manggut - manggutmengerti soal itu dan melirik ke arah Ney yang terus memainkan tangannya. Kebiasaan memang sulit di hindari meski tangannya Ney disilangkan tetap saja detik kemudian, dia sudah mulai mengelupaskan kulit tangannya. Kalau kalian bisa lihat penampakkan tangannya, dijamin merinding. Sebagian jarinya mengeluarkan nanah warna putih sebagiannya mengeluarkan luka - luka yang ada darahnya. Rita yang melihatnya hanya bisa menampakkan wajah miris dan tanda tanya juga.
"Aku tuh susah tahu menghentikan kebiasaan aku ini. Kenapa kamu tidak suka? Apa urusan kamu?" Tanya Ney yang agak terganggu.
"Ada urusannya! Malu dong kalau jalan, banyak orang yang menarik tangan kamu disangkanya kamu disiksa sama orang tua. Diobatin dong! Perempaun itu cantiknya ada pada wajah dan tangan ini jari - jari sebagai bonus," kata Rita sambil memegang jarinya dengan satu jari.
Ney mengibaskan pegangan Rita. "Duh, sudah deh bukan urusan kamu ya. Tangan aku mau sampai buntung juga aku kuliti, apa hak kamu?"
"Kamu jaga rawat biar sehat seperti Nila tuh. Kasihan kulit kamu sudah sebagian bernanah. Ampun deh!" Kata Rita menunjuk ke jemari Arnila yang sehat.
"Dins mau kok nerima aku, dia juga tahu keadaan tanganku yang seperti ini. Kenapa kamu tuh mengurusi semuanya sih? Apa aku harus tampak sama seperti kalian?" Tanya Ney yang terganggu dengan Omelan Rita.
"Iya!" Jawab Arnila. "Dins memang bisa nerima kamu, tapi dia juga pasti ada keinginan agar kamu bisa merawat diri sampai jemari juga. Ingat ya aset perempuan itu termasuk tangan dan jemari! Kamu pasti sering lihat kan kalau yang pacaran, lelakinya kadang suka mainin jari - jari tangan,"
Oh iya benar juga! "Iya tuh, kamu kan banyak mantan masa sih tidak ada yang kasih tahu kamu harus merawat tangan?" Tanya Rita yang masih terus memperhatikan tangannya Ney.
__ADS_1
"Kalau kamu sendiri bagaimana? Jangan terus ngomel ke aku dong. Aku pernah lihat kamu mengelupaskan kulit bibir kamu," kata Ney.
"Betul itu?" Tanya Arnila. Dia memperhatikan bibir Rita yang sudah cantik dan ranum tapi tidak percaya dengan kelakuan Rita yang sama juga.
"Iya. Tapi itu kalau ada kulit yang keluar atau yang sudah mau jatuh, aku bantu dengan dikelupas," jawab Rita dengan seadanya.
"Separah Ney juga?" Tanya Arnila.
"Ya tidaklah, gila saja! Habis bibirku. Kalau sekiranya terasa ada yang mengganjal untuk meratakannya aku kelupas. Tapi tenaaang tidak separah Ney ya, karena aku sadar pasti memalukan sekali menguliti kulit di depan publik. Jadi aku pakai ini..." potong Rita sambil sibuk mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya. Seperti iklan ya tak apalah sekalian promosi yang punya penyakit sama hahahaha!
"Apa tuh? Kamu juga beli Ney, lumayan itu tangan kamu sakit semua pasti," tapi Ney tidak mempedulikannya.
"Taraaaa! Vaseline Petroleum Jelly! Ini bagus lho. Author kita juga pakai. Sekarang kalau ada kulit kering, aku olesi ini saja cukup cuma secuil ini terus kamu tebarkan di bibir. Di mana saja yang kulitnya kering. Dalam sehari, bibir kamu jadi sehat dan cantik!" Kata Rita dengan semangat.
"Seperti ngiklan saja lu!" Seru Ney orang - orang tertawa kecil memperhatikan apa yang Rita lakukan.
"Iya biar banyak yang beli. Nih, kamu harus beli ini Ney. Tapi karena jari - jari kamu sudah seperti itu sih, kamu lebih butuh Betadine. Disembuhkan dulu nanti kalau sembuh, kering pakai ini. Kan ada yang harum strawberry juga jadi biar wangi," kata Rita yang memasukkan kembali obat andalannya.
"Jadi itu rahasia bibir kamu jadi cantik?" Tanya Arnila.
"Tidak juga sih ini aku pakai lipstik juga hehe," jawab Rita.
"Tapi memang butuh ya kita merawat diri bukan hanya untuk menarik perhatian lelaki tapi untuk kita menyayangi diri kita sendiri," kata Arnila.
"Memang itu Vaseline yakin bisa menyembuhkan jemari aku?" Tanyanya sambil melihat jarinya sendiri yang memang tampak mengerikan.
"Vaseline ini ya bisa membantu menyembuhkan luka gores kecil, kulit mengelupas dan luka bakar. Nah kalau kasus kamu sih lebih baik pakai Betadine saja dulu kalau sudah tidak ada darah, baru kamu pakai Vaseline. Biar jari kamu kembali lembut," kata Rita. Sebaik apalagi Rita yang suka memberi saran sama Ney bisa dibalas dengan pengkhianatan? Dan sebaik apa lagi Rita yabg masih bisa menerima kehadiran Ney meski bobroknya parah? Bukan Rita yang salah bukan juga Arnila, hanya kurang empati dan bersyukur saja Ney orangnya.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1