ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
383


__ADS_3

"Untuk apa juga aku iri? Selama ini aku hidup enak kok," kata Ney yang merenggut sebal menanggapi Arnila. Tapi dalam hati Ney tidak suka kalau nanti Rita berada di atasnya, dia harus melakukan sesuatu agar Rita tidak dengan Alex.


"Kalau boleh aku tahu kamu kenapa sih sepertinya kalau dengan Rita agak... kurang bisa akrab? Dengan aku saja kamu sering sindir tapi lebih parah dengan Rita. Padahal Rita baik lho," kata Arnila menyuap dagingnya.


"Ya kamu juga kurang peka sih Arnila masa kamu sama sekali tidak tahu apa yang aku suka sih," kata Ney memakan makanannya dengan kesal.


"Aku tahu kamu suka apa tapi kalau dibelikan oleh orang yang ikhlas, ya kamu harus terima mau itu mahal atau murah. Barang atau makanan yang aku beli buat kamu, ada kamu makan? Aku tahu kok selalu kamu buang," kata Arnila membuat Ney gugup.


"Yang mana ya? Memang pernah kamu belikan aku makanan?" Tanya Ney yang agak salah tingkah.


"Aku belikan kamu cokelat silverqueen, malah kamu tinggalkan begitu saja di kamar mandi. Aku belikan kamu Pop Twister, kamu buang begitu saja. Tahu tidak rasanya? Sakit!" Kata Arnila dengan kesal meletakkan minumannya dengan suara keras.


Ney kaget mendengar suara yang Arnila lakukan, dia diam seribu bahasa. Sudah banyak sekali kelakuannya yang keterlaluan, sama sekali tidak menghargai pemberian orang.


"Itu aku benar-benar lupa," kata Ney berusaha meyakinkan.


"Setidaknya Rita lebih baik dari kamu, dia mau aku beri apapun juga sama sekali tidak ada keluhan atau ketinggalan," kata Arnila tanpa memandang Ney yang membeku.


"Bukan begitu maksudku.. itu ketinggalan. Serius," kata Ney berusaha bertahan.


"Tidak apa lagipula bukan hanya aku yang merasa sakit hati karena sikap kamu. Banyak, Ney suatu hari nanti jangan salahkan kalau Allah membalas perlakuan kamu," kata Arnila yang memakan potongan daging terakhir.


Mendengar itu Ney lemas dan memakan makanannya tanpa ada nafsu pun. Ney memandang Arnila yang wajahnya sedang memerah karena kesal. Barang yang Arnila bawa sebagai oleh-oleh pun, Ney tinggal begitu saja di kelas sampai beberapa teman memberikan laporan pada Arnila. Pastilah sakit hati rasanya.


"Terus barang yang aku kasih ke kamu ada tidak? Jangan bilang kamu memberikan itu pada pelayan tokonya," kata Arnila memandangi Ney curiga.


Ney bertingkah panik justru memang benar apa kata Arnila, barang itu memang dia berikan pada pelayan toko tadi. "Ada kol aku simpan dalam tas. Tenang saja," katanya.


"Mana? Buktikan," kata Arnila dengan wajah datar.


"Sudah deh kok tidak percaya begitu sih, kita makan saja dulu ya nanti semakin dingin," kata Ney sambil sibuk makan.

__ADS_1


Arnila dengan wajah yang jengkel tahu kalau barang yang dia berikan tidak ada dalam tasnya. "Benar ya ada," kata Arnila.


Ney tidak menjawab tapi dia memegang erat tasnya. Jantungnya berdebar tentu dia tidak bisa membuktikannya karena memang tidak ada. "Kenapa sih kamu memaksa ingin lihat?" Tanya Ney.


"Karena aku tahu kamu tidak pernah suka pemberian barang dari siapapun. Aku hanya ingin bilang ada kemungkinan aku memberikan kamu barang itu adalah terakhir," kata Arnila.


"Lho kenapa? Kamu sebegitu kecewanya sama aku?" Tanya Ney kaget.


"Iya. Kamu tahu kan sudah berapa kali aku memergoki kamu mengatakan hal jelek soal aku dan keluarga. Lalu kamu juga bilang semua barang yang aku berikan sebenarnya murahan. Ini barang pemberianku yang terakhir setelah itu, aku tidak akan lagi memberikan apapun untuk kamu," kata Arnila dengan tegas.


Ney memandang bengong pada Arnila tapi Arnila tidak peduli. Dalam hati Ney, dia menyesal sudah melakukan hal itu dahulu. Tidak menyangka kalau Arnila selalu berada dekat dengannya, dia memang mengatakan pada grupnya bahwa Arnila selalu memberikan barang murahan kepadanya. Padahal barang tersebut tidak murah dan Arnila berharap Ney bisa menerimanya.


Mereka makan tanpa ada obrolan, suasananya menjadi berbalik membosankan. Beberapa obrolan disambut Arnila dengan datar karena sudah malas, isi obrolan hanya berkisar soal harta dan uang. Sedangkan Ney kembali bersemangat menceritakan soal Alex, dan beserta kekayaan keluarganya. Kue yang dipesan oleh Arnila akhirnya dilirik oleh Ney dan tanpa rasa sopan, dia bermaksud akan mengambilnya.


Arnila tahu Ney ingin, kemudian Arnila menarik piringnya dan memotong untuk Ney jadi dia tidak bisa mengacak. Melihat yang dipotong Arnila lumayan kecil dia tidak bisa protes karena banyak orang yang makan disana. Berbeda dengan saat dirinya membuat Drama pada Rita agar Rita bersalah, Ney tidak berani berbuat begitu pada Arnila. Kemudian dia memakannya sambil bersuara membuat beberapa orang merasa terganggu.


Tapi Arnila sudah tidak perduli, saat kuenya sudah habis Ney memberikan kode untuk menambah lagi tapi Arnila juga tidak memperdulikannya dan terus memakan semuanya. Waktu berjalan dengan cepat akhirnya sampai pada Ney melakukan pembayaran. Total yang harus dia bayar membuatnya syok, itu bukanlah harga yang sesuai pemikirannya tapi apalah daya dia sudah janji.


"Itu kartu siapa? Perasaan kartu kamu yang punya hanya BCA deh," kata Arnila melihat dia memasukkan kartunya sedikit tegang.


"Ini? Kartu pacar gue dong," katanya.


"Oh ya? Masa? Kamu punya pacar baru? Kok aku tidak tahu ya? Bukannya itu kartu ATM ibu kamu?" Tanya Arnila.


"Bukaaaan. Mama sudah punya kartu yang lain," kata Ney melihat ke arah lain.


"Oh ya? Kamu bilang dulu kan sama ibumu kalau hari ini uangnya dipakai traktiran?" Tanya Arnila yang tidak menggubris jawabannya tadi.


"Ini? Ini bukan punya..." kata Ney panik.


"Itu punya ibu kamu, aku yakin. Karena ibu kamu pernah meminta tolong ke aku untuk memperbaikinya saat kamu dihukum memakai sebagian uang untuk dugem," jelas Arnila.

__ADS_1


"Sudahlaaah yang penting ya nih aku tepati janjiku mentraktir kamu! Ya sudah aku pulang ya, aku di Jakarta 2 hari lagi. Daaah!" Seru Ney yang buru-buru pergi.


Sesaat Ney sudah jauh, muncullah calon suami Arnila. "Jadi dia traktir kamu menggunakan kartu ATM ibunya?" Tanyanya.


"Iya. Aku tidak mau tahu lagi deh ini terakhir kalinya mungkin aku akan berkomunikasi dengannya," kata Arnila lelah.


"Iya, lebih baik begitu kalau kamu terlalu lama dengan dia nanti akan jadi seperti dia," katanya menyerahkan minuman boba pada Arnila.


Arnila menerimanya. "Habis sampai dirumah pasti dia akan dimarahi," kata Arnila yang lalu berjalan bersama calonnya menuju mobil mewah.


Sesuai perkiraan Arnila, Ney dimarahi habis oleh ibunya. Setelah ibunya iseng memeriksa isi ATMnya. Karena Ney beralasan dia meminta uang untuk membeli buku tapi yang dilihatnya habis beberapa ratus rupiah.


"KAMU AMBIL BERAPA? MASA UANG MAMA SAMPAI TURUN BEGINI. BUKU APA YANG KAMU BELI?" Teriak ibunya menggema dirumah.


Ney menutup kedua telinganya dan kabur tapi sayang ibunya terlalu cepat yang akhirnya menyeret kerah baju Ney. "Aku traktir Arnila Ma, sudah janji," kata Ney menunduk kepalanya.


"Uang jajan kamu tidak akan ditambah selama 4 bulan!" Seru Ibunya.


"HAH!? Nanti aku kuliah harus makan apa?" Tanya Ney tidak bisa membayangkan.


"Sebisa mungkin kamu harus hemat!" Kata ibunya tidak mau tahu.


"Mama, uang sebanyak itu untuk apa sih dikumpulkan. Ney kan hanya makan enak 5 tahun sekali," kata Ney yang tidak terima hukumannya.


"Ini? Ini tuh semuanya uang untuk biaya kuliah kamu sampai wisuda, sekarang kena potong hanya karena kamu traktiran. Kamu tahu kan Ayah sudah tidak mau lagi menambah uang untuk kamu, lalu harus bagaimana?" Tanya ibunya dengan galak.


Ney diam, dia lupa ayahnya masih belum memaafkannya soal kegiatan kuliah yang dahulu. "Ya Mama rayu kek kan Ayah selalu kasih uang," kara Ney.


"Makanya kamu itu berhenti hidup konsumtif! Coba dong sekali-kali hemat atau kamu tabung semua gaji kamu daripada kamu habiskan dugem. Kamu bisa traktir Arnila di cafe emperan, dia pasti mau," kata Ibunya yang cerewet.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2