ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(216)


__ADS_3

"Aku kalau menolong orang ya dengan harapan Allah SWT yang memberi balasannya. Aku banyak menolong atau membantu orang karena mengejar pahala bukan pujian, aku tidak butuh sekalipun orang itu tidak ada rasa terima kasih ya. Yang penting aku sudah bantu saja berharap sama manusia itu banyak kecewanya sih. Bukan hanya orang lain bahkan keluarga sendiri pun yang dekat nih, pasti ada saja kecewanya," kata Rita yang teringat sesuatu.


"Manusia itu mana ada yang sempurna, termasuk Rita. Kamu bilang sudah banyak membantu tapi berharap Rita membalas kebaikan kamu, alhasil itu sih pahala kamu tidak dapat, berharap pada manusia pula ujungnya kecewa. Atau kamu lebih berharap dapat pujian atau pamor? Lebih bagus lagi kalau Rita mendoakan kamu diberi banyak rejeki kan," kata Arnila.


"Ya kan tidak salah juga kan aku sudah banyak susah bantu kamu," kata Ney yang sambil memainkan kukunya.


"Heh..." kata Rita yang tertawa hambar. Sebelum Rita meledak karena kata - kata Ney, Arnila menghentikannya dengan menerobos.


"Kamu menghitung kebaikan yang kamu berikan atau lakukan pada orang lain itu sama saja kalau kamu tidak ikhlas. Soal kamu yang KATANYA sudah bantu banyak, kamu sadar? Kamu membantu dia untuk menjadi pribadi yang salah, kamu banyak menghina Rita, merendahkannya daripada memberikan saran yang baik dengan kalimat yang baik. Kamu kenal Rita sudah lama lho, kamu bilang cape kenal sama Rita karena selalu mengulang - ulang. Kamu sadar tidak sih kalau kamu juga sama saja? Kamu mengulangi kesalahan kamu sama Rita, banyak mengucapkan kalimat yang menyakitkan. Makanya aku aneh, bagian mananya kamu sudah bantu Rita selain membully dia?" Tanya Arnila yang mewakilkan isi hatinya Rita.


"Begini ya kalau kamu bantu aku tuh, secara otomatis Allah SWT sudah memberikan kamu pahala. Apa coba?" Tanya Rita pada Ney.


"Apa?" Tanya Ney yang tidak mengerti.


"Amal Jariyah. Kamu sudah langsung mengantongi amal jariyah untuk bekal kamu tapi kamu lebih memilih bayaran yang dapat kamu lihat daripada yang tersembunyi? Heran," kata Rita yang jutek.


"Betul! Allah SWT akan membalas setiap kebaikan dengan 10 kali lipatnya sampai 700 kali lipat. Lebih banyak dan besar daripada kamu mengharapkan Rita memuji kerja kamu, atau berharap diberi barang mewah. Yang jatuhnya itu Riba ya apalagi dipamerkan, wah itu sih amal kamu langsung hangus. Jadi kenapa sih tidak memilih sesuatu yang tidak terlihat lalu dijaga daripada yang terlihat tapi malah dosa?" Tanya Arnila.


Ney terdiam mendengar penjelasan mereka. Dia memang butuh fisik hasil dari dia menolong orang berupa pujian selangit. Yang Rita sama sekali tidak bisa mengerti kenapa ada juga orang yang lebih bangga dipuji padahal pujian itu bisa membuat kita meremehkan orang lain.


"Menyebut - nyebut kebaikan itu dapat menghilangkan pahala seseorang ketika beramal atau bersedekah sama halnya saat kamu membantu aku, tapi kamu menyebut - nyebut apa yang sudah kamu lakukan Meskiiii bagi aku sih kamu membantunya kecil sih. Apalagi itu termasuk kamu menyakiti perasaan penerimanya yang tidak lain adalah aku," kata Rita kembali dengan permasalahan yang dibawa Ney.


"Maksud aku sih bukan untuk menyakiti kamu," kata Ney.


"Ya kamu kenal aku sejak lama tapi sepertinya baru sekarang ini kamu seperti mau mempelajari soal aku atau baru tahu aku seperti apanya," kata Rita yang terus memandangi Ney.


"Iya aneh banget kamu nih. Poko e ya kalau kamu tidak ikhlas, lebih baik dari sekarang stop keikutsertaan kamu membantu Rita. Yang aku lihat sih, Rita bisa kok sendiri juga tanpa ada kita. Jadi buat apa kamu ribet sendiri?" Tanya Arnila yang memang sebenarnya tidak mengerti. Seakan Ney mengejar Rita tapi masalahnya Ritanya menghindar.


"Yang terlalu sering berharap pada manusia itu biasanya orang yang merugi. Tapi berbeda kalau kita selalu bergantung berharap pada Allah SWT, pasti selalu beruntung," kata Rita yang bersiap untuk bangkit. Sudah terlalu lama juga mereka duduk dan pantat pun pegal.


"Aku pegal nih. Pantatku terasa mati rasa sebenarnya sedari tadi," kata Arnila yang kemudian menyusul berdiri.


Ney juga berdiri, mereka bertiga seperti gerak senam sederhana. Dan menguap juga. "Kita ke Pizza Hut yuk! Aku traktir deh," kata Rita sambil memiringkan badannya ke kiri dan kanan.

__ADS_1


"Asyik! Ayo!" Sambut Arnila dengan girang. Ney juga mau ikut pastinya dia sudah mulai lapar juga.


"Dapat bonus ya?" Tanya Ney dengan nada yang kalem.


"Iyaaa hehehe kalau aku rapat, ikut kegiatan di sekolah, buat permainan atau buat soal dan prakarya itu semua dapat bonus. Makanya aku sedang giat - giatnya nih ikut banyak kegiatan sekolah. Lumayanlah kalau dikumpulin semua dapat Rp 500.000 mah," kata Rita sambil cengengesan.


Ney kaget dengan bonus yang Rita dapatkan kalau saja dia bisa mengajar mungkin dia juga bisa ikut bekerja di tempat Rita dan bisa juga merebut posisinya. Tentu saja Arnila melirik Ney yang saat itu fokus ke Rita. Dalam pikiran Arnila, 'Berarti waktu aku cerita soal bekerja di tempat dulu itu karena dia mau merebut posisi aku? Sialan! Sudah aku kasih lowong di tempat lain, dia malah berbuat seenaknya. Sampai malu aku dibuatnya. Untung direktur perusahaan aku menelepon menanyakan soal aku yang mau keluar itu. Parah nih orang!'


"Wah, asyik nih di traktir," kata Ney.


"Kamu kapan traktir kita? Arnila sudah, aku juga. Kamu?" Tanya Rita.


"Ya aku kan baru keluar. Nanti deh kalau aku dapat pekerjaan lagi, aku traktir kalian," kata Ney meski dia bingung mau melamar kemananya.


"Iya jangan dipikirkan deh, bercanda kok. Tapi lebih baik kamu cari pekerjaan lagi deh supaya tidak kepo mulu ke aku," kata Rita yang tersenyum jahil.


Ney mendengarnya kesal sebenarnya tapi memang benar juga sudah sekitar 4 bulan dia menganggur dan belum ada lagi niat untuk bekerja. Ney kembali ceria saat teringat dia harus mencari toko emas untuk menukarkan barang yang dia bawa.


"Ih iya, aku lupa mau memberitahu. Aku punya sesuatu lho. Kalian pasti terkejut. Kita duduk dulu deh sebentaran," ajak Ney. Akhirnya mereka berdua duduk kembali sambil menahan pantat mereka yang sudah mati rasa karena terlalu lama duduk di lantai batu.


Rita kecewa kesekian kalinya ternyata yang dikatakan Alex benar, dia ingin sekali menangis menatap Ney yang bahagia sambil memamerkan perhiasan itu. Kepercayaannya pada Ney mulai terkikis begitupun petasannya pun lalu turun. Rita tentunya masih ingin mempercayai kalau Ney bukanlah teman yang jahat tapi kebanyakan situasi ternyata kebalikannya. Apalagi Ney benar - benar tidak bisa melihat kekurangan Rita. Hampir semua orang well, semuanya! Yang pernah bertemu dengan Ney bersama Rita bahkan sahabatnya dari kuliah pun, lebih meminta Rita untuk mengakhiri pertemanan dengan Ney.


Dulu Rita sama sekali tidak mengerti alasannya sekarang, dia bisa tahu kenapa teman - temannya tidak menyukai kehadiran Ney. Dan dia melihat sendiri dengan matanya sekarang ini. Ney sulit sekali jujur kelihatannya.


"I'm so sad," tulis Rita pada Alex.


"Sorry mungkin seharusnya tidak aku beritahukan?" Tanya Alex.


"Tidak juga tetap kamu harus beritahu tapi kenapa lewat aku? Biasanya juga kamu langsung bicara dengan Ney tanpa basa-basi," kata Rita.


"Aku ingin kamu lebih banyak bicara dengan Ney. Agar kamu bisa lebih tahu Ney bagaimana," kata Alex.


"Aku sudah tahu dia bagaimana. Sampai jeleknya, kamu jangan sok paling tahu deh. Sampai bicara saja dia terus menerus banyak debat sama seperti kamu. Aku sudah lelah dengan kalian berdua. Kamu memang lebih memilih Ney ya hahaha sudahlah," kata Rita yang mulai agak berat.

__ADS_1


"Bukan maaf aku tidak bermaksud begitu," kata Alex dia bingung harus bagaimana lagi.


"Daripada kamu berharap aku yang kenal dia, lebih baik kamu yang bilang sama Ney. Dialah yang harus lebih tahu aku! Sudah selama ini masa iya dia baru tahu aku bagaimananya?" Tanya Rita keheranan. Berharap Alex bisa memberi masukan ternyata sama saja!


"Sial! Aku salah lagi, iya benar juga ya kalian sudah kenal lama. Kamu lebih mengenal Ney tapi Ney tidak mengenal kamu sama sekali. Ney bilang sama aku kalau sifat kamu itu bukan seperti ini," jelas Alex. Dia membuka lagi chat dari Ney dan mengirimkannya pada Rita.


*Ney : "Rita itu aslinya pendiam banget, dia juga penurut, pemalu banget. Dia juga cengeng. Terus orangnya juga kocak banget. Dia itu Nerd lho, kamu yakin mau sama dia? Terus tampilannya old fashion banget! Pokoknya kalau nanti kamu ihat Rita yang diluar sifat aku sebutkan, itu bukan dia. Oh iya Rita juga egois banget orangnya menurut aku sih kamu lebih baik jangan sama dia deh! Lagi pula, Rita miskin. Tidak cocok banget deh sama keluarga kamu yang statusnya Milyuner."


Alex : "Memangnya egois banget?"


Ney : "Banget! Dia itu suka banget menjelekkan orang terus kalau aku bantu masalah dia, dia sama sekali tidak pernah berterima kasih. Pokoknya aku sakit hati banget deh sama dia. Kalau kamu sampai suka, kamu juga akan di buat miskin sama dia. Dia itu matre banget deh. Aku juga heran kok bisa ya banyak lelaki tertarik sama dia?"


Alex : "Kamu yakin Rita sejelek itu? Bukannya itu orang lain? Soalnya selama aku bicara sama dia, sama sekali tidak pernah menyinggung soal barang atau uang,"


Ney : "Ya lihat saja nanti lama - lama juga dia akan memperlihatkan warna aslinya*,"


Rita menganga membacanya. Masa sih Ney bilang begitu soal dia? Terus kalau iya, buat apa juga? Rita duga Ney tidak akan pernah mengatakan apapun soal Rita. Lebih ke harapan Rita sih, "Ya kamu sudah lama kenal Rita. Ya seperti itu buat apa bertanya lagi?" Itu. Tapi...


"Aku akan menanyakannya pada Ney soal ini," ketik Rita.


"Jangan! Cukuplah. Apa benar kamu seperti itu?" Tanya Alex.


"Menurut kamu? Yang bisa menilai aku seperti apa itu orang lain. Kalau kanu bertanya apa benar aku begitu, aku bisa menjawabnya 'tidak.' Apa kamu akan percaya?" Tanya Rita. Jadi itu yang dipikir oleh Ney soal aku? Pikir Rita.


"Oh, begitu. Benar juga ya," jawab Alex.


"Kalau kamu mau percaya pun silakan. Saya memang miskin tapi saya tidak akan pernah sekalipun menggantungkan hidup saya kepada orang lain apalagi sampai menggasak uang orang," kata Rita memberi pengertian. Rita merasa Alex seperti anak kecil yang harus selalu diberitahu untuk urusan sepele.


"Tidak, aku tidak pernah sekalipun berpikir kamu miskin atau apapun. Hanya bertanya saja maaf kalau kamu tersinggung," kata Alex yang sepertinya heran.


"Kamu seperti anak kecil yang harus selalu diberi tahu apa saja yang dibolehkan dengan yang tidak. Kamu pintar tapi aslinya murni bodoh. Kamu merasa aku tersinggung tapi kamu juga terus sengaja memperlihatkan sesuatu yang membuat aku kesal seperti tadi. Pikir dululah sebelum kamu mengatakan sesuatu. Soal tadi, itu terserah kamu kalau nanti benar seperti kata Ney, kamu bebas pergi atau pindah mencari teman yang lain. Aku tidak memaksa kamu harus disini." kata Rita dengan sebal.


Alex pun lebih memilih tidak membalas menurut perasaannya Rita mulai kesal dengan perilakunya. Apalagi tepat yang Rita katakan, dirinya memang seperti anak kecil. Dia menyesal juga maksudnya memperlihatkan chat dia dan Ney hanya untuk melihat reaksi Rita. Tapi ternyata malah membuatnya dihadapkan pilihan untuk meninggalkannya. Alex kesal dan marah pada dirinya sendiri yang tidak mengerti. Jadinya heran juga ya Alex kan playboy kelas kakap kok bisa ya berasa tidak mampu menghadapi Rita? ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†Padahal soal urusan menggombal dia Nomor 1 tapi kalau sudah berhadapan dengan Rita, itu seperti dia mendarat keras di permukaan tanah.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2