ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
452


__ADS_3

"Yang mana? Ada fotonya?" Tanya Koko.


"Ada ada. Ini," kata Rita sudah menyiapkan.


Koko lalu menganalisa foto Alex. "Aduh, kamu tertipu ini namanya memang Alex tapi berbeda," kata Koko agak aneh.


"Hah!? Terus ini siapa dong?" Tanya Rita mulai berpikiran negatif.


"Pokoknya orang ini tuh tidak ada. Memang namanya Alex juga tapi bukan Alex yang sekarang kamu kenal. Ini sepertinya kakak dia deh," kata Koko memandangi lagi foto itu.


"WHAT!?" Teriak Rita. "Kakaknya!? Dia tidak pernah cerita punya kakak laki-laki deh," pikir Rita termenung.


"Sepertinya dia belum cerita ya soal kakaknya," kata Koko melihat wajah bingung Rita.


"Tidak Ko mungkin belum ya," kata Rita.


" Yang ini Alex apa?" Tanya Koko.


Saat itu Alex tengah sibuk dengan pekerjaannya, dirinya tidak mungkin memiliki waktu membelah diri seperti Amoeba lagi. Penjaga setianya, Qorim anak dari penjaga yang dulu terus mengawasinya.


"Alex Haryaka Alfarizki," jawab Rita sesuai nama akun Pacebuknya.


"Hmmm memang berbeda kakaknya itu namanya Alex juga. Mereka berdua itu kembar yang berbeda nama tengahnya. Nah, yang Teteh kenal ini itu adiknya, kalau kakaknya sudah lama meninggal," kata Koko agak sedih.


"Serius Ko?" Tanya Rita kaget.


"Iya. Coba deh kamu tanya ke Alex adiknya," saran Koko.


"Kenapa dia pakai foto kakaknya? Namanya malah dia sendiri," kata Rita.


Saat itu mereka tengah berdua, Tyas sedang mengerjakan sholat dan disuruh menyiapkan air manis.


"Dia itu sangaaat sayang sekali dengan kakaknya, adiknya ini sama begajulannya dengan saya karena ya salah pergaulan. Tapi lebih parah dia sih karena kondisi lingkungannya," jelas Koko.


Rita diam lagi, dia memandangi foto itu ternyata kakaknya. "Oke, itu biar aku yang urus lalu tentang mereka berdua bagaiman menurut Koko? Kan aku belum detail sekali mendengar soal mereka menurut Koko," kata Rita memberikan foto Ney dan Arnila.


Koko melihat foto Neh dan Arnila, wajahnya berubah jadi super juteeeek sekali! Koko mendengus menyeoelekan dan sangat kesal, entah apa yang dilihatnya.


"Yang ini mah aku setuju dengan oendapat ibunya Ryan, kamu harus jauh dari dia. Auranya parah kalau kamu dekat dia, akan sial terus. Ihhh amit-amit deh untuk hanya foto," kata Koko agak jijik.


"Ih, Si Koko meni kitu," kata Rita mendengus.


"Ya habis kok kami bisa-bisanya bergaul sama orang auranya jelek? Kamu atau orang lain dekat atau kenal dia akan terus mengalami masalah dengan banyak hal. Tapi kalau yang satunya lagi bisa masuk ke kamu tapi..." kata Koko menghela nafas agak kecewa.


"Kenapa Ko? Jelek juga?" Tanya Rita menatap foto Arnila.

__ADS_1


"Anak ini sudah terlalu dekat dengan yang toxic. Sifat dan kelakuannya malah sama alias sebelas dua belas. Intinya saran Koko jangan dekat dengan keduanya," kata Koko lalu menghisap rokok.


Rita terdiam. Sama sekali tidak menyangka kalau Arnila sama saja tapi mengingat dia juga malah ikut merundung, ya mungkin memang benar.


"Yang soal merundung aku itu benar dia karena peduli agar aku bisa diterima di keluarga Malay? Atau ada niatan lain?" Tanya Rita ingin tahu sekali.


"Niat lain itu mah untuk keuntungan dia. Kalau teman yang benar itu Koko uakin kamu sudah mengerti seperti apa kan. Nah, kalau dia niatnya menjatuhkan. Dia awalnya memang baik karena merasa Teteh satu aliran hidupnya dengan dia," kata Koko.


Tyas sudah kembali dan tahu terlambat mengetahui informasi. "Kenapa begitu Ko?" Tanya Tyas.


"Karena dia tahu pasti Teteh Rita bisa mendengarkan suara ghaib apalagi Teteh juga bisa komunikasi dengan khodam. Awalnya ya makanya dia menganggap Teteh tuh sebagai bawahannya, pokoknya aneh lah pemikiran dia," kata Koko agak sebal.


"Haaaah? Hanya karena itu? Gila," kata Tyas tertawa menjelekkan.


"Memang iya bisa meski aneh. Tapi aku tidak mau bisa begitu," kata Rita.


"Iya memang itu yang Koko lihat, memang Teteh tidak berminat sama sekali. Itu yang membedakannya. Dari waktu ke waktu, hari demi hari, Teteh berubah total. Punya banyak teman dekat apalagi sahabat juga ada kan. Dia pernah ketemu sama Teteh jalan-jalan dengan beberapa teman. Di situlah dia mulai mengalami... apa ya," kata Koko sulit menjelaskan.


"Semacam perubahan pemikiran Teh. Dia pikir Teteh itu sama saja dengan dia. Yang Tyas lihat, dia kurang sekali diperhatikan oleh kedua irang tuanya. Benar tidak, Ko?" Tanya Tyas.


"Iya. Dia pikir Teteh kan kurang kasih sayang juga pasti ujungnya sama dengan dia, padahal yang biasa di didik dengan ilmu agama dan yang tidak ya jelas beda. Dari dia lihat Teteh jalan dengan teman yang berbeda, apalagi sekarang Teteh kenal sama yang Malay. Semakin parah suudzonnya," kata Koko mengepulkan asap rokok ke arah lain.


"Ih, parah ya baru kali ini Tyas melihat ada orang seperti itu," kata Tyas merinding.


"Yah, namanya manusia Tyas. Macam-macam sifat, kelakuan dan pribadi. Dia itu lagi mencari titik kelemahan si Malay," kata Koko berpendapat.


"Ya itu buat keuntungan dia. Kalau misal saya tahu kelemahannya Tyas atay Teh Rita, lalu saya pakai untuk memanfaatkan kalian kalau ada apa-apa. Seperti itu jelek sekali tujuannya," kata Koko.


"Jadi itu bukan bentuk rasa pedulinya? Awal kan dia mendukung sekali saya dengan Malay tapi kok lama-lama berubah," kata Rita heran.


"Ya karena dia tidak mendapatkan informasi apapun dari Teteh. Kan kata Koko dia cari kelemahan si Malay nih, nah dia berusaha memancing emosi Teteh tapi nihil. Jadinya sekarang ya dia malah berbalik. Masa teman seperti itu sih?" Tanya Tyas.


"Dia itu memang begitu, Tyas. Mirip teman Koko kalau apa-apa maunya ada untung ke dia. Kalau tidak ada ya ditinggalkan. Dia itu mencari info dari Teteh tapi karena Teteh sudah tahu minusnya banyak, apalagi dia banyak hina Teteh dan Malay, yo wes," kata Koko.


"Kalau kata Tyas dia menjatuhkan Teteh karena dia tidak mau melihat Teteh bahagia. Errornya disitu ya. Kalau peduli kan dia akan senang Teteh bahagia," kata Tyas.


"Iya, Teteh juga merasa aneh. Awal mendukung eh sekarang berbelok. Itu Malay tipe dia ya?" Tanya Rita.


Koko tertawa keras. "Iyes, tapi sayangnha Malay ini sama sekali tidak ada rasa dan minat sama dia. Yah, saya juga mana mau dekat-dekat sama begituan. Ihhhh. Meskipun saya nakal ya, kelihatan kalau dia ada yang salah," kata Koko membuang puntung rokok ke asbak.


"Dia Tyas yalin pasti marah sekali sebisa mungkin dia mencari celah dan cara supaya Teteh tidak jadi sama Malay," kata Tyas.


"Apa tidak mungkin sekali bisa dekat sama dia?" Tanya Rita berharap ada cara.


"Buat apa atuhlah Teh," kata Tyas garuk kepala.

__ADS_1


"Sama orang sepeti dia? Saya tidak merekomendasikan. Kalau temannha yang satu itu sudah jauuuh dari dia, yang ini bisa kembali dengan gengnya," kata Koko menunjuk ke foto yang tadi Rita tunjukkan.


"Kalau toxic bagaimana?" Tanya Tyas.


"Ya dia tidak akan datang lagi ke teman itu kalau berusaha dekat lagi, dia tidak akan mau untuk ke tiga kalinya. Nah nanti dia akan berusaha untuk dekat lagi sama Teteh, yang toxic itu," kata Koko menghisap rokok.


"Idih!" Kata Tyas.


"Beuh. Terus berhasil?" Tanya Rita.


"Tidak. Dia akan berusaha memisahkan Teteh dengan teman dan sahabat tapi tidak ada yang berhasil. Karena tidak menghasilkan apa-apa dia akan menjauh," kata Koko berpikir.


"Susah tidak sih kalau aku misalkan menjauhi dia?" Tanya Rita.


"Kamu bisa tapi dia tidak akan menjauh. Terus saja memburu Teteh tapi kata saya jangan digubris, biarkan saja. Kalau dia mendekati Teteh, mengajak bicara nanti dia kalau bicara akan mengingaykan soal masa lalu, ujung-ujungnya memancing emosi Teteh," kata Koko.


Rita mengangguk memang itu yang selalu Ney lakukan.


"Terus harus bagaimana dong? Kok rese sekali ya teman itu," kata Tyas.


"Kalau dia bicara sesuatu yang membuat Teteh marah, diamkan saja jangan di jawab. Kalau Teteh jawab atau emosi, dia akan memperpanjang. Kalau Teteh tidak kuat, tinggalkan saja saat itu juga," kata Koko menyarankan.


"Dia memang begitu. Dia kalau buat masalah, lalu kita marah tiba-tiba dia bicara lagi tapi kesannya seperti sudah melupakan. Memang begitu?" Tanya Rita.


"Iya makanya memang parah orangnya. Tidak punya kesadaran dan rasa malu. Kalau kita berbuat salah yang fatal kan untuk bertemu orang itu lagi ya pasti mali. Kalau dia tidak karena? Allah mematikan rasa malunya," kata Koko akhirnya menyelesaikan merokoknya.


"Iya Teh?" Tanya Tyas.


"Iya memang begitu. Pura-pura bego atau pura-pura tidak bersalah," kata Rita membenarkan.


"Ingat ya kalau dia membicarakan sesuatu soal Malay itu dia sedang mencari informasi pokoknya niatnya jelek deh," kata Koko yang bersandar santai menunggu Isya.


"Aku sudah berkali-kali blokir media sosial dan teleponnya tapi terus saja ada," kata Rita sebal.


Koko nyengir. Dia memang tidak menyukai Alex karena lebih kurang ajar. Senakalnya Koko dulu sama sekali tidak pernah menyakiti perempuan.


"Dia itu minta tolong sama Malay dan ya Malay ini membela dia penuh makanya masih bisa hubungi kamu. Tapi nanti tidak kok, dia akan melihat dengan jelas bagaimana warna asli toxic ini," kata Koko.


"Waaah susah kalau begituuu," kata Rita menyandarkan badannya menghela nafas.


"Menurut Tyas mudah kok Teh. Jangan digubris kalau menelepon terus kalau dia bicara A I U E O, jangan dijawab yaaa standar seperti "oh", "hmm," begitu saja," saran dari Tyas.


"Iya nanti juga dia angkat tangan, kalau nomornya ada lagi ya Teteh blokir aja. Begitu saja terus sampai salah satu ada yang menyerah. Orangnya bisa buat kita jadi gila dengan kelakuannya. Da menurut saya mah ya, tema. dekat dan sahabat yang Teteh miliki itu modal jaminan Teteh nanti tiada. Jadi tidak perlu menambahkan orang yang memang jelek dari awalnya," kata Koko menatap Rita dengan sumringah.


Adeuuuh Koko kalau begitu hati ini jadi berdebarlaaah....

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2