
"Hmmm dari mana sih kamu mengenal kata Buddy yang maksudnya teman?" Tanya Alex penasaran.
"Dari game sih. Ternyata salah ya?" Tanya Rita berpikir.
"BODOH! iyalah pantas saja semua kelakuan dan kata-kata kamu sama sekali tidak nyambuuuuung. Astagfirullaaah ternyata salah arti," kata Alex menopang dahinya dan tertawa keras. "Pantas saja kamu sakit hati," kata Alex melanjutkan lagi.
"Maaf," balas Rita menghela nafas. Tugasnya selesai tinggal membuat karya untuk anak dan menghitung tabungan yang harus diserahkan besok.
"Aku juga jadi tahu kenapa kamu meminta tolong si Ney buat menerjemahkan," kata Alex istigfar.
"Tapi berakhir dengan banyak yang salah ya, bukannya membantu malah ikut campur urusan kita," kata Rita.
"Yaah, makanya aku kan berkali-kali bilang jangan cerita ke Ney. Doooh, ya begitu orangnya suka ikut campur. Kamu kan tidak tahu bagaimana dia kalau di belakang bisa jadi cerita kamu, dia pakai untuk dirinya," kata Alex agak gemaaaaas selangit.
Rita mencibir. Alex memang sudah berkata begitu lalu Arnila juga. Rita hanya berpikir masa iya sih si Ney seperti itu? Eh, kejadian.
"Sudah ya oke? Sekarang hanya kita berdua saja. Aku juga kan sampai saat ini menggunakan bahasa menyesuaikan kebiasaan kamu. Karena aku yakin pakai inggris, kamu banyak salah arti apalagi guna Melayu," kata Alex agak sebal.
"Iya iya. Aku masih buka chat sama dia meski sekarang kalau aku sudah tidak mentolerir kata-katanya pasti langsung blokir," kata Rita.
"Sudah lah jangan suka main blokir. Jangan dibalas saja," kata Alex merenggangkan pinggangnya.
"Tidak bisa," balas Rita. Ya, dia memang bukan orang yang bisa melewatkan orang-orang menyebalkan. Harus dicabut sampai ke akarnya baru bisa tenang.
"Eh? Kenapaaaa," kata Alex menghela nafas. Yaaa memang berbeda cara orang untuk mendiamkan.
"Itu bukan caraku. Blokir orang itu adalah cara aku sejak lama. Laki-laki mesum juga aku banyak blokir. Kalau kamu mau aku tidak membalas, akan mengotori pikiran dalam ku," jelas Rita.
"Terserah kamu deh kalau begitu. Sekarang masih chat sama dia?" Tanya Alex. Dia berpikir tidak semua orang juga akan setuju dengan.caranya, hanya tidak membalas.
"Iya, tumben dia konsultasi sama aku soal kasus rumah tangganya," kata Rita agak aneh.
"Dengan?" Tanya Alex. Kok kenapa Ney harus bertanya pada Rita? Kan ada Arnila.
"Suaminya dan mertuanya," balas Rita.
Alex kaget. "Lho? Kok tanya kamu? Kan belum menikah," kata Alex agak aneh juga. Okelah, teman bisa saling cerita tapi kan... Rita belum menikah, seharusnya Ney lebih banyak cerita ke Arnila. So?
"Ya makanya aku bilang Tanya saja pada Arnila tapi kata dia Arnila tidak tahu apa-apa. Apa dia lupa ya kan konsulnya di grup," kata Rita menggelengkan kepalanya.
Alex tertawa membacanya dia menyeka wajahnya. Memang agak aneh hubungan Ney dengan Arnila bahkan dengan Rita juga. Ada yang janggal, Alex merasa Arnila juga memiliki tujuan lain kenapa mendekati Ney.
Lalu Rita menceritakan sambil mengerjakan tugasnya untuk besok. Alex sudah tentu jadwalnya kosong tapi dia berencana mau pergi ke suatu tempat membelikan barang untuk Rita.
Alex senang memberikan barang pada orang yang menurutnya patut dihargai. Apalagi dirinya merasa sangat bersalah sudah sering membuat Rita menderita. Entah karena kesalahpahaman, sifatnya yang begajulan atau perkataan dalam chatnya.
Dan itu menjadi keputusannya untuk menerima Rita dan lebih mempercayainya lagi. Karena selama kenal dengan Rita, dia sama sekali tidak pernah meminta barang atau menuntut. Hanya... No drinks, no smooking, no drugs, no party.
Alex pernah mendengar soal itu dari mantannya yang terlah berpulang. Wajarlah gaya hidupnya tidak seperti kebanyakan orang biasa, dia membutuhkan seseorang yang bisa mengawasinya dengan ketat.
Sedangkan Rita ya hanya berpikir itu kan yang dilarang agama ya. Apalagi Alex memiliki penyakit jantung bawaan sejak lahir. Soal Ney pun, Alex sudah angkat tangan hanya Rita yang kuat menghadapi keanehannya.
"Oke deh kalau soal Ney, aku percaya kamu bisa mengatasinya hanya kalau dia tanya lagi soal keluarganya atau mertua, lebih baik tidak usah kamu jawab," saran Alex.
__ADS_1
Menurutnya semenjak dekat dengan Rita, Alex lebih dipercayai perkataannya daripada Ney. Ya wajar juga karena omongan Ney terlalu jelek dan gamblang.
"Dia memanfaatkan aku dia pikir aku bloon akan membela tindakan dia kan?" Tanya Rita.
"Ya itu kamu baru sadar?" Tanya Alex menepuk dahinya.
"Ya sudah terlihat juga kok," kata Rita ternyata tepat sesuai dugaannya.
Lalu Rita kisahkan juga soal Ney yang bertanya mengenai hasil konsultasi dirinya dengan pihak ruqyah. Alex menyimaknya kalau Rita sudah cerita atau mengetik, seperti lembaran novel. Selesainya, Rita kembali ke grup membiarkan Alex berpikir sendiri.
"Eh, kamu ada cerita soal kita ke mereka?" Tanya Ney.
"Ke siapa?" Tanya Rita.
"Ituuu orang yang mau ruqyah kamu," kata Arnila.
"Iya dongs," kata Rita.
"Untuk apa?" Tanya Ney penasaran.
"Memastikan apa kalian sesuai dugaan aku atau tidak," balas Rita sambil senyum.
"Dugaan soal?" Tanya Ney agak panik.
"Rahasia lah sekarang masih setengah sih," kata Rita tidak mau memberitahukan.
"Kamu pasti memfitnah kita kan? Aku tahu itu," kata Ney menjebak.
Ney menggigit kuku jarinya, geram iyalah.
"Kata mereka benar soal kamu," balas Rita lagi.
"Tentang apa tuh?" Tanya Ney agak senang. Beuh!
"Kamu tipe pemikir negatif. Orang mau doa baik, bagi kamu musibah. Banyak jin ya," kata Rita membuat Ney kaget.
"Oh ya? Itu kata Mereka? Kok kamu percaya sih? Jahat sekali," kata Ney mulai sok menjadi korban.
"Iya dan kamu adalah Faker. Pantas dari dulu tidak ada yang mau dekat-dekat kamu," kata Rita menjulurkan lidah.
Ney menganga dan kaget membacanya. Bibir bawah dia gigit dengan gigi atasnya lalu menggaruk kepalanya. Semuanya... terlihat jelas. Arnila sih sudah pasti tahu.
"Kamu ada tanya soal aku ke mereka juga?" Tanya Arnila agak waspada. Dia tahu orang-orang itu bukanlah sembarang orang.
"Komplit. Kamu mah tidak ada yang miring sih jadi aman. Yang banyak miring ya itu tuh teman Toxic kamu," kata Rita langsung tancap gas.
Arnila menepuk dahinya. Terlihat sudah sekarang ketidaksukaan Rita pada Ney. Ya lambat laun juga pasti ketahuan semua sih.
Ney juga membacanya, aura merah keluar. Dia menahan marah dan yaa... sudah tahu memang Arnila dari awal adalah anak yang baik.
"Mereka bilang apa saja sih soal aku? Sok tahu sekali ya. Lain kali aku ingin deh bertemu mereka nanti ajak aku ya," kata Ney sambil menahan amarah.
"Mereka tidak minat ketemu kamu," kata Rita dengan polosnya.
__ADS_1
"Lho? Kenapa? Takut pastinya HAHAHA!" Kata Ney bangga sekali.
"Hus! Jangan sombong mereka kekuatannya melebihi kita semua. Mereka bisa tahu kamu meski Rita tidak cerita, itu sudah gawat Ney," peringat Arnila membuat Ney terdiam.
Kalau Arnila sudah berkata begitu berarti memang benar.
"Aura kamu jelek. Hitam gelap kata mereka lagipula yang lihat kamu banyak kok bukan hanya satu," balas Rita sesuai yang dia lihat.
Ney terasa seperti kena serangan jantung. Dia tidak bisa berkata apapun sampai aura? Auranya hitam? Air mata keluar dari kedua matanya, Ua dan Koko serta lainnya mengetahui itu adalah air mata palsu.
"Padahal aku belum cerita lho tapi mereka semua bisa baca siapa saja teman yang benar-benar dekat aku dan sahabat. Orang yang toxic siapa, yang gemar merundung juga ketahuan," kata Rita sengaja.
Arnila semakin terbelalak. Semuanya ketahuan! Tapi soal tujuannya mungkin juga sudah ketebak dan itu tidak ada urusannya dengan Rita. Arnila memutuskan untuk menghilang dari Rita supaya Ney tidak bisa menyakitinya nanti.
"Terus kamu percaya mereka begitu saja? Rita, kamu jangan percaya deh sama ramalan. Terawangan mereka itu palsu lho, aku yang benar," kata Ney mengaku-aku.
"Halah, jijik deh sama pernyataan kamu! Kamu sendiri percaya dan belajar ajian ilmu hitam, bisa-bisanya bicara begitu mulia, beuh!" Kata Rita.
"Ya itu kan untuk urusan aku. Buat apa kamu ikut campur segala?" Tanya Ney.
"Lalu untuk apa kamu ikut campur selalu ingin tahu urusan aku sama Alex? Terbukti ya siapa yang tukang kepo," kata Rita melawan.
"Tapi ya ramalan aku itu..." kata Ney mulai menjelaskan.
"Halah! Bulshit lu! Terawangan kamu itu error semua, sadar tidak sih? Kamu itu tidak punya kemampuan meramal. Buat apa sih membanggakan sesuatu yang tidak kamu miliki? Semuanya yang kamu katakan ke aku, ke Arnila atau ke orang lain, itu adalah doa jelek kamu!" Kata Rita membeberkan semuanya.
"Eh, bisa jadi. Karena dia pernah menerawang aku eh malah dia sendiri yang kena," kata Arnila membuat dia dan Rita tertawa.
"Itu tanda kamu tidak bahagia hidupnya Ney. Kalau tidak bahagia jangan buat orang lain sengsara. Kamu cari kek solusi supaya bahagia selain uang ya," kata Rita.
Ney kesaaaal seubun-ubun atas ucapan Rita. Tapi dia memang mengakui tidak bahagia karena Alex memilih Rita yang menurutnya, Rita itu norak.
Karena untuk menghindari pertengkaran ga guna lagi, Arnila berusaha mengalihkan perhatian mereka berdua.
"Kamu tanya soal kekuatan kita juga?" Tanya Arnila.
"Aku tidak bertanya juga mereka sudah tahu. Sesuai yang dulu aku pernah bilang waktu di taman tuh. Pokoknya kamu jangan takut lagi deh sama ancaman kosong si Ney," kata Rita langsung menuju target.
"Kok gue lagi sih?" Tanya Ney bete.
"Ya kan kamu sumber masalah rumitnya. Coba kamu keluar grup deh setelah ini kelar. Dijamin kehidupan aku, kamu dan Arnila damai," kata Rita.
"Lalu kata mereka bagaimana???" Tanya Arnila.
"Soal kekuatan nih ya, Level paling bawah tuh si Ney. Soal ancaman dia mau mencelakakan itu mah doa dia karena? Tidak bahagia," kata Rita lagi.
Ney semakin marah, dikatakan levelnya paling rendah. Menangis tiba-tiba lalu marah, mengutuk, menyumpah, menunjuk ke sembarang tempat. Stres lah yang jadi suaminya lihat kelakuan dia begitu.
"Masa kamu takut sih sama peliharaan dia? Baca 3 ayat surat Al Hasyr 70.000 malaikat akan datang untuk melindungi kamu, kalau perlu berdoa supaya mereka pukul tuh peliharaan si Ney sampai mati," kata Rita saking bencinya pada peliharaan ghaib Ney.
Ney sudah tentu langsung merinding membacanya. Alex yang mengintip pun segera menghentikannya, bisa itu terjadi kalau Rita memang sudah di puncak amarah. Khodamnya, Tengku pun akan kena karena Rita ingin sekali menghantam khodamnya itu menjadi abu.
Bersambung ...
__ADS_1