ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(139)


__ADS_3

"Terus makanan apa yang mau kamu buat? Ada kentang, wortel, tomat..." ibunya melihat semua bahan yang ada di meja.


"Kentang goreng, bombay keju dengan sandwich. Ini pernah dibuat Rita waktu SMP teman sekelas suka dengan buatan dia jadi.." kata Ney omongan terputus karena dia berusaha mengambil wajan yang ada di kedalaman lemari.


"Jadi kamu mau membuat yang sama dengan yang Rita buat? Kenapa kamu mau yang sama lebih baik kamu buat ini saja. Ini mudah sekali lho bagus untum pemula. Bahannya juga ada semua di kulkas. Nih kamu lihat dulu," ibunya memberikan resep yang ada di net tapi Ney tidak berminat melihatnya.


"Tidak mau. Aku mau buat yang Rita buat dulu kalau semua orang banyak memberi pujian kenapa aku tidak?" Tanya Ney. Ibunya menghembuskan nafas mendengarnya.


"Jadi kamu iri? Kamu tidak suka kalau Rita banyak dipuji sedangkan kamu tidak? Memasak itu bukan soal pengumpulan pujian lho," jelas ibunya tapi tidak digubris oleh Ney.


"Ya mana bisa kamu jiplak soal kemampuan masak dia itu. Kamu tahu kenapa Rita bisa dapat banyak pujian? Meski dia memasak makanan yang sangat sederhana," kata ibunya yang terus menerus melihat Ney yang jalan kesana kemari.


"Bumbunya juga sama saja masa sih aku tidak bisa?" Tanya Ney sambil menaruh wajan serta peralatan lainnya dengan sedikit menggebrak. Dia kesal dan memang tidak bisa menerima siapapun yang menyukai Rita, dia merasa dia harus lebih tinggi dari Rita.


Ibunya melihat Ney memasak, semua bahan dan bumbu serba berantakan. Ibunya tidak membantu karena pasti ditolak jadi ibunya menunggu depan pintu sambil bersandar. Pisau dan talenan terpisah berantakan juga setelah Ney selesai memotong - motong kentang lalu mulai memutilasi sayuran secara sembarang. Potongannya juga berbeda semua membuat ibunya gatal sekali akhirnya dengan terpaksa masuk dan ingin mengambil alih.


"Kamu bisa tidak sih memasak dengan rapih? Sini mama saja yang memotong, kamu kerjakan yang lain saja! Jangan terburu - buru kalau memasak, nak masih banyak waktu,"


"Ah jangan - jangan! Mama mengganggu banget. Sudah deh jangan ikut campur, mama kan tidak tahu seperti apa penampakan makanan yang Rita buat! Awas ah!" Ney mengusir ibunya sendiri untuk keluar dari dapur.


"Mama tahu kok! Kamu tidak percaya sama ibu sendiri?" Tanyanya yang melangkah keluar dapur tapi karena anaknya tidak menjawab, akhirnya mau tidak mau ibunya keluar. Meskipun tidak percaya soal hasil makanan yang Ney buat.


Akhirnya Ney ditinggalkan mengutak - atik masakan yang dia ingat seperti apa masalahnya, Ney tidak pernah bertanya pada Rita potongannya harus seperti apa, takaran bumbunya segimana, dan bagaimana cara dia membuat sandwichnya tampak seperti gehu. Ney terus sibuk dengan caranya berdasarkan pandangannya dan dengan potongan kentang yang tidak beraturan, sayuran yang menurutnya bagus dan bumbu - bumbu yang dia sama sekali tidak mengukur takarannya. Garam, merica, gula apapun semuanya 1 sendok, dia aduk- aduk sampai dirasa bau dan rasanya sudah enak lalu diangkat. Tanpa dia cicipi sendiri makanan yang dia buat.


Kemudian semuanya jadi dan tampilannya cukup enak tampaknya sih belum tahu rasanya. "Ma,saus keju tidak ada?" Tanya Ney yang mencari ke semua tempat.


"Memangnya kita suka makan itu? Kamu beli saja yang langsung jadi pasti Rita juga langsung beli," kata ibunya yang sibuk membaca berita di koran. Akhirnya Ney kecewa karena tidak ditemukan saus keju itu kemudian dia memutuskan untuk memakai garam... 2 sendok!

__ADS_1


"Kamu tidak salah? Garam sebanyak itu? Kamu mau meracuni teman kamu sendiri?!" Teriak ibunya yang melihat penampakan kentang goreng buatan Ney.


"Tidak ada saus keju supaya gurih ya sudah aku pakai garam banyak!" kata Ney tanpa bersalah.


"Iya tapi ini keterlaluan porsinya. 2 sendok? Cukup setengah juga!" Ibunya marah karena Ney terlalu tidak mau mendengarkan apa kata ibunya.


"Kenapa mah?" Tiba - tiba datanglah perempuan yang badannya cukup besar tapi tidak gemuk. Dia cantik dengan make up yang tertata di wajahnya. Dengan rasa penasaran, dia memandangi makanan yang ada di hadapannya dan memandangi kakaknya yang berdiri puas dengan masakannya. Anaknya yang ketiga berbeda dengan Ney dia tampak lebih ceria dan berisi.


"Ini kakak kamu buat kentang goreng sebagai pengganti saus keju, dia taburi 2 sendok garam! Yang benar saja!" Ibunya masih terus mengomel tapi Ney tidak peduli.


"Coba aku icip. Gila!! HOEEEK. Asin banget! Indera perasa lu sudah mati ya? Kamu tidak cicipi buatan kamu sendiri? Coba deh makan makanan kamu sendiri!" Saran adiknya yang langsung mengambil segelas air putih.


"Kenapa sih? Ini tuh enak!" Tapi merasa melihat adiknya yang rusuh mengambil minum dan habis 1 gelas, akhirnya Ney pun memakannya. Dan ... "HOEEEK!" Dia juga sama langsung mengambil air minum.


"Tuh kan, kamu itu masih jauh bisa masak enak. Masa kalah sama Rita? Dia SMP saja sudah mulai belajar, kamu kapan? Masak saja karena takut tersaingi. Masak itu bukan balap mobil sama dengan menikah! Kamu mau dilamar Dins, baru juga masak kentang goreng sudah error gini caranya, bagaimana kalau sudah jadi istri?!" Ibunya kesal dengan semua kelakuan Ney yang sama sekali tidak mencerminkan kedewasaan. Pantas Rita seperti sudah lelah menghadapi anaknya jadi seperti ini.


Adiknya tertawa menyengir melihat ketidak ahliannya dalam hal memasak. "Jangan sampai suami lu makan diluar. Lebih baik lu banyak belajar deh. Belajar sama Rita tuh, sudah orangnya benar, baik eh kamu sia - siakan. Sudah lebih baik kamu lupakan saja masa lalu itu sekarang kan beda jaman masa kamu masih berputar di tempat yang sama?" adiknya lalu melenggang pergi meninggalkan kakak keduanya yang mendengus kesal.


"Karena Rita pasti menakar bumbunya. Kamu asal banget semuanya di masukkan, itu ada ketentuannya juga. Kamu mikir apa sih kalau masak?" Tanya ibunya yang juga sedang minum air putih.


Ney tidak menjawabnya dan memandangi kentang gorengnya yang sudah berlumuran garam.


"Mama kasih tahu ya kenapa makanan Rita bisa sangat enak, karena dia memasaknya memakai perasaan dan hati. Dia mau orang - orang yang memakannya kenyang dan bilang 'Enak!' Tidak seperti kamu!" Kata ibunya.


"Bagaimana bisa memasak pakai hati?" Tanya Ney dengan aneh.


"Bagi kakak sih, kalau memasak ya masak saja buat apa pakai hati segala," tebak adiknya yang muncul lagi.

__ADS_1


"Ngapain lu muncul lagi?" Tanya Ney kesal.


"Mau lihat sepertinya seru ya lihat kakak masak tapi tidak punya kemampuan,"


"Zayn!" Ibunya meneriakkan namanya yang kemudian adiknya cengengesan.


"Kaya lu bisa masak saja!" Kata Ney sambil melemparkan sayuran kepadanya.


"Memang bisa! Tidak seperti kakak, sudah pemalas belajar masak saja tidak mau kalau jadi istri pasti hancur rumah tangganya. Yah berdoa saja semoga Dins tidak cari istri kedua!" Zayn lalu kabur karena Ney langsung melemparkan centong nasi ke arahnya.


"Kalau memasak itu, dilihat takaran bumbunya pakai hati di kira - kira jangan asal. Memotong apapun santai saja jangan terburu - buru itu berpengaruh lho sama keenakannya. Mama perhatikan sedari tadi kamu seenaknya memasukkan bumbu tanpa dikira - kira. Zayn, sini kamu! Cicipi semua makanan yang kakak kamu buat! Kamu kan indera perasanya poll habis!"


Zayn kemudian datang lagi dengan diam - diam melihat kakaknya yang masih berkacak pinggang tapi berada di belakang ibunya. "Kenapa tidak mama saja? Pasti rasanya sama semua. Besok kamu harus bawa oleh - oleh aku mau coba masakannya Rita. Kalau Arnila sih tidak perlu diragukan lagi sudah jago dia"


Tapi ibunya pun enggan mencoba karena memang sudah pasti sama asinnya. Ibunya memaksa anak ketiganya untuk mencoba akhirnya Zayn pun kalah dan rela mengorbankan lidahnya untuk mencicipi makanan kakaknya.


"Aku yakin sandwich dan orionnya pasti enak. Coba!" Kata Ney memberikan makanan itu kedepan wajah adiknya.


Zayn lalu memakannya dan benar saja rasanya tidak enak semua. Dia lalu mengambil segelas air minum. "Untunglah aku masih hidup. Parah! Sama - sama asin. Semuanya! Asin, manis, pahit kamu buat apa sih sebenarnya? Sandwich kok begini amat rasanya seperti jamu ini. Kakak serius mau bawa ini semua untuk besok kalau aku sih lebih baik dibuang saja. Terus onion ringnya tidak ada rasa banget! Mana kejunya? Dikit! Pelit banget sih. Padahal uang saku kakak lebih besar daripada Zayn, kok bisa untuk masak saja bahannya yang ada di kulkas. Mana sudah layu semua, uang yang dikasih ayah lu pakai buat apa sih?" Panjaaaang banget adiknya mengomentari kakaknya sendiri.


Ney terdiam mendengarnya. Memang untuk urusan uang saku, Ney lebih besar dari adik dan kakaknya tapi uangnya itu entah dia pakai buat apa. Ney memang ahli sekali untuk merayu ayahnya dan akhirnya ya ayahnya sangat mudah memberi uang banyak.


"Aku gunakan uangnya untuk beli keperluan," jawab Ney yang tetap memasukkan makanannya ke dalam bekal dengan asal.


"Yakin? Bukan kakak gunakan untuk pergi ke disko? Aku tahu kok kakak suka diam - diam keluar rumah tengah malam. Kalau Rita tahu, kakak pasti ditinggalkan. Harusnya kakak bersyukur teman seperti kak Rita dan kak Arnila itu sudah langka lho. Mereka bisa mengarahkan kakak ke jalan yang lurus, membawa kakak lebih baik lagi dari sekarang. Tapi terserah kakak deh toh kakak juga tidak pernah mendengar saran dari keluarga. Suatu hari nanti kakak akan menyesal banget saat mulai kehilangan mereka."


Zayn lalu menghilang dari dapur dan menuju pintu lalu keluar. Ibunya memandangi Ney yang masih termenung dan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Maksud Zayn tuh baik," kata ibunya yang juga sudah angkat tangan.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2