
"Bagaimana? Ya kalau Dins sampai datang lagi dan menawari kehidupan lain sih mungkin sudah jodohnya Ney. Ney mau menolak juga, pasti jadinya sama Dins. Sekarang dia lagi apa?" Tanya Rita pada Arnila.
"Aku tidak tahu. Tidak ada kabar juga, aku nanya dia tidak balas," jawab Arnila. Memang tidak ada kabar apapun sih entah apa yang sedang dia lakukan.
"Dia tidak akan bisa setia pada siapapun menurut aku ya. Setianya dia itu berbeda arti dengan setia menurut kita. Apa kamu pernah lihat dia setia sama satu orang?" Tanya Rita yah mungkin sama Minto saja.
"Hmmm tidak ada. Minto paling tapi itu juga malah dia yang kena selingkuh kan," jawab Arnila.
"Coba dia jodohnya sama Minto ya,"
"Saling selingkuh pas banget tuh. Terus ada kabar soal Minto?"
"Tidak ada. Entah tuh orang kemana lagi sekarang. Kamu masih sama Alex?"
"Masih. Tapi..." Rita agak sedih karena kejadian kemarin.
"Kenapa?"
"Kadang aku sedih banget dia seperti sangat membela Ney padahal sudah tahu Ney seperti apa," kata Rita yang hatinya kembali sedih.
"Yah harap maklum Rita, sepertinya Alex lebih percaya pada satu arah saja meskipun kamu yang paling lama kontak sama dia. Mungkin dia dulu pernah dikecewakan sama banyak wanita makanya yang mana juga bagi dia salah semua,"
"Posesif sih dianya jadinya sulit mempercayai orang tapi salah wanitanya juga sih. Gegara dia terlalu banyak pekerjaan malah semuanya meninggalkan dia," membayangkannya memang sangat kasihan dia itu.
"Iya ya jangan terlalu fokus dengan pekerjaan,"
"Lalu soal pernikahan kamu bagaimana? Sudah ada perkembangan?" Tanya Rita selama ini yang ada seputar dirinya, Alex atau Ney. Lalu bagaimana dengan pernikahannya Arnila?
"Oh iya! Kamu bisa datang kan? Aku ingin kamu datang ajak saja dengan adik kamu," ajak Arnila yang berharap penuh Rita datang.
"Iya in sha allah aku pasti datang kok,"
"Soal Ney jangan didengarkan ya, Rita. Dulu aku juga sering begitu lama - lama jadi terasa biasa saja. Aku kan memang tidak pernah cerita kalau mau pacaran kemana dengan Imron," kata Arnila.
"Kalau tahu Ney bisa rebut ya?" Tanya Rita penasaran.
__ADS_1
"Lebih parahlah. Coba kamu sudah bertemu Alex ya bisa ajak dia datang ke pernikahan aku hehehe,"
"Hahaha tapi takut juga dia orangnya nekat sih. Aku masih kecewa sama Alex kalau soal bertemu biarlah Allah SWT yang atur," kata Rita pasrah.
"Kamu ada rencana minggu depan?" Tanya Arnila.
"Aku mau ke Unpad belajar psikologi dengan beberapa temannya temanku. Kenapa?"
"Oh tidak apa - apa, aku harus ke Jakarta sih buat bikin undangan. Kamu tugas belum kelar?"
"Ada yang tidak aku mengerti sih jadi sudah janji. Kalau mau bertemu, di hari sebelumnya saja ya," kata Rita.
Tiba - tiba Ney menyapa dalam WA, "Hei, pagi pada ngapain? Ketemuan yuk," ajak Ney.
"Kamu yang kemana saja," kata Arnila dengan heran. Apakah dia dalam keadaan baik - baik saja atau bagaimana? Tapi Ney tidak menggubris pertanyaannya.
"Aku pergi dulu ya. Ada perlu," kata Rita menjapri ke Arnila. Rita sibuk mengerjakan tugas dan membuat tugas untuk mengajarnya nanti. Rita mengajar jadi guru TK memegang 2 kelas, yaitu kelas A dan B dengan level belajar yang berbeda.
"Ney mengajak bertemu. Bagaimana?" Tanya Arnila.
"Mau aku temani tidak?" Wah ada angin apa dia? Tumben...
"Tidak usah. Aku mau belajar dengan beberapa orang dari jurusan psikologi, kamu bertemu saja dengan Arnila," balas Rita membuat Ney tidak membalas beberapa saat.
"Aku ada perlu ke Unpad,"
"Oh," balas Rita singkat karena sibuk merapihkan lembaran kuliahnya. "Perlunya sama kegiatan kamu sendiri atau masih penasaran sama Anggara?" Tanya Rita.
"Ya aku masih ingin tahu langsung,"
"Kemarin kan kamu juga sudah tahu. Dia tidak tertarik sama kamu ya jadi berhenti membuat masalah lagi aku bisa laporkan masalah kamu sama Dins lho," ancam Rita pada Ney. Heran masih saja penasaran sama Gara padahal tidak ada gunanya.
"Kok lu sepertinya ga pernah dukung gue ya? Iri ya?"
"Dih! Sori ya iri sama perempuan gampangan. Sadarlah jadi orang jangan terlalu kepedean. Percaya diri harus tapi jangan berlebihan! Kamu kurang malu kemarin di pesta sudah dipermalukan? Memang sudah tidak punya rasa malu ya kamu. Sudah Gara bahagia sama kekasihnya, kamu bahagiakan diri sendiri sama Dins!" Ney tidak membalas. Rese!!
__ADS_1
Besok paginya Rita datang ke Unpad dengan maksud memenuhi janji untuk belajar bersama. Ney juga datang dengan berpura - pura dia ada janji dengan dosennya yang dimana Rita tahu dia mencari Anggara, tapi sayang dia mencarinya kemanapun tidak ada.
"Eh, ada Anggara tidak?" Tanya Ney memasuki sebuah kelas. Tapi tidak ada satu mahasiswa pun yang menjawabnya lalu Ney keluar dan memasuki tiap kelas. Semuanya tidak ada yang menjawab, sebagian hanya menertawakannya.
"Rita mana ya? Katanya mau belajar disini," kata dia berbicara sendiri. "Eh! Kamu Sipoy kan! Anggara dimana ya? Aku ada urusan sama dia," orang yang dia panggil Sipoy hanya menatap dan menyengir padanya lalu pergi. "Uh, kenapa sih?" Kata Ney sambil jutek. Semua orang yang dia temui tidak ada satupun yang ingin memberitahu dimana Anggara.
"Kamu cari Anggara? Dia tidak akan masuk. Dia kan lagi pemotretan buat pre weddingnya. Lebih baik kamu berhenti deh niat memisahkan mereka, Gara sama Merlin tuh sudah cocok, kalau Gara sama kamu tidak level deh," kata teman perempuan Anggara yang berkuncir sambil berlalu pergi. Ney terdiam di jalan mendengarnya, lalu dia menghapus air mata bohongan nya dan melanjutkan jalan dengan gontai.
Di taman belakang, Ney menemukan Rita yang tengah berkumpul dengan beberapa mahasiswa Unpad, ternyata benar dia sedang belajar bersama. Yang menjadi pemberi materinya adalah salah satu teman Anggara yang kuliah di jurusan Psikologi. Ney menghampirinya mungkin dia akan mendapat informasi mengenai Gara. "Eh, kamu temannya Anggara kan. Kamu tahu tidak dimana dia pemotretan?" Sontak semua orang yang ada disana kecuali Rita memandang aneh kepada Ney.
"Mau apa kamu cari Anggara? Mau cari masalah?" Salah satu orang menanyainya.
"Ya aku ada yang mau ditanyain. Ada yang tahu?" Sebagian orang hanya menggelengkan kepalanya dan lanjut menulis.
"Anggara lagi, Anggara lagi. Lupakan deh sampai kapanpun kamu tidak akan bisa menjangkau dia lagi," kata Rita yang tidak berhenti menulis.
"Guys, kita masih banyak yang harus dipelajari. Jangan dipedulikan perempuan yang di sebelah kita, kita lanjut dengan tugas Rita selanjutnya. Dan kamu, kalau masih mau mengganggu kita semua dengan pertanyaan soal Anggara, lebih baik kamu cari orang lain deh. Jangan ganggu orang yang lagi belajar!" Usir yang bernama Andoy lalu kembali mengajar.
Ney hanya terdiam lalu duduk didepan Rita sambil mendengus dan memperhatikan pekerjaan Rita yang memang menumpuk. "Mau disini sampai jam berapa?" Tanya Ney dengan ketus.
"Lihat pekerjaanku. Menurut kamu sampai jam betapa? Kalau bosan, lebih baik pulang saja," kata Rita balas mendengus.
"Mau ditunggu sampai jam berapapun Anggara tidak akan datang. Dia lagi menyiapkan dirinya untuk melanjutkan kuliah di MIT bersama Merlin." kata teman lelaki Anggara yang memperhatikan gerak gerik Ney. Ney hanya terus melihat tanda jam di hpnya lalu tanpa ada pemberitahuan, dia pergi entah kemana.
"Ri, jelek amat perilaku teman kamu. Kok bisa sih bertahan sama orang seperti itu?" Tanya Taofik memperhatikan Ney yang berjalan menjauh.
"Aku sih tidak tahan tapi dia saja yang terus mendekat, aku tidak keberatan mau dekat atau jauh sama dia," kata Rita sambil masih fokus dengan tulisannya.
"Oh, jadi dia yang butuh teman toh. Kita lanjut? Ada berapa lagi pertanyaan tugas kamunya?" Tanya Andoy yang penasaran. Dia tidak berkeberatan sama sekali toh, di bawa banyak buku psikologi berbuku - buku di meja taman.
"Sekitar 15 lagi," kata Rita menatap Andoy dengan sangat penuh harap. Ney tidak kembali saat itu sampai menjelang sore tapi Ney masih memeriksa keberadaan Anggara lewat WA dan kadang berputar lagi. "Kalau Ney bertanya soal Anggara jangan dijawab, ya,"
"Oke!" Jawab semua teman - temannya. Lalu Rita pamit untuk pulang karena jam sudah menunjukkan jam 8 malam begitu juga dengan teman - temannya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1