
Arfa kembali lagi menatap Ney yang memang kilat sudah terlihat tenang dan baik-baik saja. Arfa merinding untungnya dia tidak berteman dekat dengan Ney, musuhnya.
Ney : "Aku tahu Rita itu baik sekali tapi masa sih dia memang menganggap aku tidak ada, Fa? Mungkin kamu salah lihat kali,"
Arfa : "Ya memang tidak ada. Dia trauma berat sama kamu," ( nada cuek )
Ney : "Lalu laki-laki asing itu bagaimana? Jadi sama Rita?"
Arfa : "Kamu tidak bertanya soal Arnila?"
Ney : "Tidak usah, tidak penting juga. Yang penting itu Rita. Jadi bagaimana?"
Ney menatap Arfa dengan berbinar. "Kalau Arnila tidak penting kenapa dia pasang santet? Apa hanya untuk dijadikan informan? Nih orang tidak ada tobat-tobatnya tidak terbayang nanti hidupnya bakalan susah! Hiiii," pikir Arfa.
Apa yang Arfa pikirkan, tidak dapat dibaca oleh Ney. Makanya sulit menembus apa yang Arfa katakan dalam otaknya.
Arfa : "Ya jadi,"
Ney : "Aku tahu mereka pasti jadi kan pastinya Rita mengubah kepribadiannya jadi lebih baik. Itu berkat aku lhooo,"
Arfa : "Tidak, kepribadiannya masih sama. Sudah baik apalagi yang harus diperbaiki? Dia disambut dengan hangat oleh keluarga laki-laki ini. Kalau dia jadi sama laki-laki ini, kamu tidak akan bisa bertindak sembarangan,"
Ney : "Kenapa? Kan dia teman aku,"
Arfa : "Mantan. Sekeliling dia ketat lah apalagi untuk orang yang toxic, hanya ingin mencari keuntungan dari dia. Pokoknya dia akan dijaga sekali sama orang sekitar. Dia akan mengubah dunia,"
Ney : "Ah! Serius? Apa yang dia bisa ubah? Lemot dan tidak peka begitu HAHAHA!"
Arfa : "Lihat saja nanti. Orang-orang seperti kamu banyak sekitar dia hanya dia dijaga sih,"
Ney : "Tapi kenapa Rita bisa menjebak aku? Memangnya dia mencari sesuatu dari aku?"
Arfa : "Ya wajar ya aku juga bakalan sama seperti dia kalau punya teman macam kamu. Mantan teman kamu itu dapat perasaan aneh, kamu begitu menggebu soal laki-laki itu. Makanya dia selalu pasang jebakan dan kena kan mana mudah lagi,"
Ney : "Ughhh! Terus bagaimana soal si laki-lakinya kan dia juga buat masalah sama kita bertiga,"
Arfa : "Berdua,"
Ney : "Berdua? Ya bertigalah kan ada Rita,"
Arfa : "Berdua! Mantan teman kamu itu yang jadi target dia dengan membuat masalah sama kalian berdua. Paham tidak?"
Ney : "Aku... kurang... coba kamu jelaskan,"
Arfa : "Kamu ini lemot sekali sih!!"
Ney hanya kesal di bilang lemot entah kenapa akhir-akhir ini dia jadi lemot. Yah, mungkin kena karma kebalikan ya. Tidak peka sudah, tinggal lemot. Tenanglah karma akan terus berjalan sampai apa yang dia punya habis!
Arfa : "Dia sengaja membuat masalah supaya mantan teman kamu itu bisa lihat dengan jelas. Mana orang yang hatinya tulus dengan yang pura-pura. Kamu merundung dia, supaya Rita bisa lihat belang kamu itu seperti apa. Mengerti sekarang?"
Ney memikirkan kata-kata Arfa dan akhirnya tersadar panjang.
Ney : "Kurang ajar si Alex!"
Arfa : "Bukan salah laki-laki itu, dia hanya ingin mantan teman kamu ini menjauhi kamu karena kamu dekati dia hanya karena sesuatu. Kamu memanfaatkan kebaikannya untuk meraih sesuatu. Mungkin jadi bahan pantulan pribadi kamu supaya banyak orang yang jadi temanmu,"
JEDAAAARRR!! Kilat menyambar. Arfa sudah tentu tepat sasaran. Memang itulah yang Ney kejar dengan beberapa orang, agar bisa diakui sebagai orang yang hebat.
__ADS_1
Ney : "Tapi itu kan...Artinya..."
Arfa : "Hahahaha! Ya baguslah, supaya dia tahu kan teman jenis apa kamu ini. Harus saling terbuka dooong,"
Ney : "Tidak perlu sampai sebegitunya juga kan, Fa. Kenapa tidak bicara saja kalau mau tahu aku"
Arfa : "Sudah pernah kan? Kamu jelaskan? Tidak. Kamu hanya mengalihkan topik sampai akhirnya dia memutuskan meninggalkan kamu. Itulah yang terjadi saat dia lulus SMP, SMA, sampai kerja dalam dunianya tidak ada teman bernama Ney. Kamulah yang mengejarnya,"
Ney melongo, jadi itulah alasannya kenapa Rita lama sekali tidak ada kabar lagi, tidak pernah mengajaknya bermain lagi atau kumpul. Jadi karena dirinya sudah tidak pernah dia anggap sebagai teman? Hanya orang asing.
Arfa : "Toh, kamu juga menganggapnya begitu jadi kenapa kamu kaget? Kamu tidak mengundang dia ke pernikahan kamu, karena dia bukan teman kamu. Jadi kenapa kamu merasa dikhianati?"
Ney : "Ya, itu kan..."
Arfa : "Lupa karena teman itu sangat aneh, tidak wajar. Orang yang tidak kita anggap terlalu dikenal, memang sah tidak diundang. Tapi aneh kan kalau kamu tahu dia tengah menjalin hubungan dengan laki-laki ganteng, apa urusan kamu? Kenapa dia wajib mengundang?"
Ney tidak bisa menjawab. Dia hanya ada penyesalan.
Ney : "Rita pasti akan mengundang aku. Pasti!"
Arfa : "Kamu lebih berfokus pada fisik dan pribadi luarnya mantan teman kamu saja ya. Kamu merasa peka tapi sampai tidak tahu kalau mantan teman kamu ini dan orang asing itu sengaja menjebak? Mantan kamu ini sudah tahu sejak lama kalau kamu hanya memanfaatkan dia,"
Ney memandangi Arfa, wajahnya kaget dan syok. Arfa tertawa keras menatapnya.
Arfa : "Ney, mantan teman kamu ini juga sudah tahu kalau kamu terpaksa berteman dengannya, dia tahu kamu sering memanfaatkannya entah ya dalam hal apa. Tapi kalian berdua memang tidak cocok satu sama lain. Aku lihat tidak ada aliran yang sama, kamu dan dia bertolak belakang,"
Ney : "Status kita kan? Aku kan dari bangsawan sedangkan dia rakyat biasa," ( Nada angkuh )
Arfa : "Ya, itu yang ada di pikiran kamu. Makanya kamu merasa tidak selevel dengan dia sayang, fisik dia hampir sempurna sehingga malah menjadi perdebatan dengan beberapa orang. Benar tidak?"
Ney enggan menjawab. Kalau memang dari keluarga bangsawan, fisik kok tidak merefleksikan seperti gelarnya? Sedangkan Rita yang rakyat biasa malah fisiknya bagus.
Padahal kan jaman sekarang sudah canggih ya. Ada laser, ada Cautter kecantikan, tinggal keluarkan uang untuk operasi juga langsung cling. Kalau memang bangsawan, kenapa dia harus punya tuyul untuk mencuri uang orang?
Kan aaaneeeeh! Bangsawan tapi mainnya dengan ilmu hitam, itu lebih aneh lagi. Punya banyak uang, kenapa harus bermain ilmu sesat?
Aaah, mungkin maksudnya leluhurnya yang bangsawan ya, makin ke sini anak-anaknya makin menyempit soal kekayaan.
Ney menutup mulutnya, secara otomatis itulah yang membuatnya ketahuan. Kalau Rita dengar, sudah habis dia!
Ney : "Tidaaak aku kan menebak!"
Arfa : "Lagian yang kaya atau bangsawan juga leluhur kamu. Orang tua kamu juga dari rakyat jelata, kenapa kamu malah menyombongkan leluhur? Anak durhaka tuh ya seperti kamu. Lalu kenapa kamu memaksakan diri supaya jadi teman dia?"
Ney : "Ya dia selalu kesepian waktu sekolah makanya ya aku terpaksa deh jadi teman dia,"
Arfa : "Tidak kok, dia itu penikmat kesendirian, Ney. Anaknya introvert sejati jadi dia lebih suka sendirian daripada berkelompok. Jadi kamu sendiri yang harus mulai mengubah cara pikir kamu soal orang-orang. Tidak semuanya memang merasakan kesepian, menurut aku sih justru kamu yang merasa kesepian,"
Ney diam, tidak bisa membantah. Arfa ijin mengambilkan minuman dan cemilan. Ney memikirkan apa kata Arfa bahwa Rita dan Alex sering mengujinya terutama Rita.
Ney tahu, dia merasakan perubahan drastis pada Rita yang semakin dingin kepadanya. Dia tahu Rita teramat sangat membencinya, meskipun dia sudah minta maaf tapi Rita masih enggan mengampuninya.
Ney : "Rita benar-benar memutuskan hubungan dengan aku? Bukannya itu haram ya?"
Arfa : "Memutuskan pertemanan kalau memang dirasa sudah beracun kan memang wajib. Kan kamu sendiri yang melakukannya dengan tarik Arnila supaya dia kena kan, lalu menyalahkan laki-laki asing itu, tapi tidak ada gunanya. Hatinya dia sudah beku mengeras ke arah kamu dan ke depannya tidak ada episode di antara kalian,"
Ney dengan lemah mengambil cemilan dan memakannya.
__ADS_1
Ney : "Kalau begitu, aku akan berubah menjadi yang dia mau! Jadi otomatis kan dia pasti akan menerima aku lagi dan kali ini aku yakin, dia akan menjadikan aku temannya!"
Arfa : "Semakin palsu dong kamu, aku tidak menyarankan. Kamu buang dia dan tendang dia seenaknya dulu, memperlakukan semena-mena sesuai yang kamu butuhkan. Tidak menyangka kan dia bisa membalas dengan telak? Hati-hati dengan apa yang kamu tanam,"
Ney : "Ya sudah tih aku juga malas punya teman seorang dukun,"
Arfa : "Dukun?"
Ney : "Iya, siapa lagi kalau bukan Rita. Kan dia punya banyak kemampuan. Dia pasti kirim santet ke aku,"
Arfa : "Justru kamu yang dukun kok malah menyalahkan ke orang? Lihat kan ya begini kamu tuh lempar kesalahan,"
Ney : "AKU BUKAN DUKUN!!"
Arfa : "Lalu untuk apa kamu kirim santet segala ke mereka berdua dulu? Antena apaan itu? Buat tahu perasaan mereka? Atau untuk info KEPO kamu? Parah kamu sampai pasang begituan ke mereka. Pelaku santet banyak loh berakhir mengerikan,"
Ney : "Itu bukan santet! Itu.... laki-laki itu juga sama kok memasang Antena ke aku, Rita lalu Arnila!"
Arfa : "Aku tahu. Kalau laki-laki itu tujuannya berbeda. Kamu dihubungkan sama mantan dan Arnila supaya apa? Supaya kamu punya hati, tapi parah juga sih. Dengan Antena itu, dia bisa membuat mantan teman kamu meninggal,"
Ney kaget.
Ney : "Kenapa?"
Arfa : "Dia pasang Antenanya di jantung mantan teman kamu. Makanya parah! Kamu pasang Antena antara kepala atau punggung. Kalau dia arahkan ke jantung, jadi kalau kalian berantem dia bisa tarik Antena itu otomatis jantungnya mantan teman kamu kesakitan. Jahat juga itu orang,"
Ney menutup mulutnya. Alex ternyata lebih tega dan jahat. Tapi tetap saja ya namanya santet tidak ada yang baik.
Ney : "Tapi dia baik-baik saja,"
Arfa : "Dia melawan sih mantan teman kamu. Dia sadar ada yang salah, dia melawan. Berpikir mati pun lebih baik makanya dia terus bertengkar sama kamu tanpa menghindari tarikan antena,"
Ney : "Itu kan gila!"
Arfa : "Dia kuat tekadnya. Sama kamu, sudah pasti kalah sih kamu kan hanya berani bicara. Ketemu sama dia melempem kan? Karena auranya gila kalau marah, melebihi aura lain. Kamu bisa dibanting sampai mati sama dia,"
Ney ketakutan. Ya, pengalaman mereka bertemu bertiga di Jakarta memang membuatnya tidak bisa berkutik. Ada perasaan sangat menekan dengan tajam. Apalagi suara Rita pun keras membuat orang lain dengar.
Arfa : "Laki-laki itu membaca dan memutuskan antenanya, kalau mantan teman kamu itu mati, dia tidak pegangan lagi. Dia sembuh karena kesabaran mantan kamu ini tidak mungkin bila kamu belum menikah sama orang itu, karena mantan kamu lebih istimewa,"
Mendengar pengalaman Rita yang dipasang Antena pada jantung dan berhasil lepas. Memang Rita bukan sembarang orang, dengan tekad 10.000% bisa melepaskan segala macam kabel.
Ney : "Jadi dia serius sudah tobat?"
Arfa : "Ya. Daripada kehilangan mantan kamu. Dia saja sampai menghentikan aksinya itu dan tidak pernah lagi. Tapi kamu... ckckck.. Kapan kamu mau tobat? Kalau mau kiamat?"
Ney : "Aku masih butuh," ( gumam pelan )
Arfa : "Banyak korban santet yang membalikkan santet ke pelaku yang kirim. Kamunya yang akan kesusahan nanti, kalau kamu butuh teman tidak perlu sampai memasang santet. Kalau kamu pasang bukan teman yang kamu dapat, tapi musuh,"
Ney diam.
Arfa : "Lepaskan semua ilmu itu toh teman kamu yang aslinya juga bukan Arnila, bukan juga Rita apalagi orang asing itu. Sekarang kan kamu sudah punya teman sesuai kriteria, hargai keberadaan mereka. Jangan cari penyakit hanya untuk bahan gosip. KEPO adalah salah satu sifat setan makanya dilarang dalam agama manapun,"
Ney : "Kehidupan mereka kenapa ya lebih berwarna dari aku?"
Arfa : "Yang bisa mengubah warna hanyalah diri kita sendiri, Ney bukan dengan cara kamu kepo dengan urusan Arnila atau yang lain. Takdir dia juga sekarang mulai berubah,"
__ADS_1
Bersambung ...