
Karena Ney sudah merasa muak sekali membaca soal Rita dan Alex, dia lalu mematikan ponselnya dan berpikir Arnila sudah menjadi dirinya yang normal. Akan sulit baginya menarik Arnila untuk ikut ke sisinya lagi, Imron juga sudah tahu seberapa kurangnya Ney.
Lalu Ney tersadar betapa marahnya Arnila seusai acara pernikahannya, Arnila membentaknya dalam telepon sampai Ney menangis. Meskipun sudah membela diri dengan membalikkan keadaan, Arnila mengirimkan isi video sebagai bukti.
"KAMU TEGA SEKALI YA APA SIH MASALAH KAMU SAMA RITA?!" Teriak Arnila dalam telepon.
Arnila juga mengirimkan beberapa rekaman kepada Ney. Ney sangat terkejut Anabel benar-benar melaporkannya. Hal itulah yang membuat dirinya semakin sulit menghubungi Arnila, yang hanya sekedar menanyakan kabar. Sampai akhirnya Arnila membalas chatnya dan Ney sangat senang. Berpikir Arnila sudah tidak mengingat itu dan memaafkannya, tapi isi chatnya membuat Ney kaget kedua kalinya.
"Aku sudah menikah dan tidak mau lagi terlalu dekat dengan kamu. Seperti saat kamu menghancurkan acara sakral ku, kamu akan menghancurkan dunia rumah tanggaku. Jadi cari saja teman lain yang tidak masalah hidupnya kamu hancurkan." Itulah perkataan Arnila terakhir kepadanya.
Ney sama sekali tidak bisa membalas karena saat dia kirim ternyata nomornya Arnila tidak tertera alias terkena blokir. Hancur sudah semuanya setelah Anabel memperlihatkan bukti keonaran nya. Setelah itu Arnila menghubungi Rita, dia cemas takut Rita kenapa-napa.
"Rita?" Tanya Arnila berharap dibalas.
"Ya?" Tanya Rita yang sedang rebahan.
"Kamu tidak apa-apa? Aku baru diperlihatkan bukti soal Ney dan gengnya merundung kamu," kata Arnila sendu.
"Oohh tidak apa-apa, tapi acara kamu jadi rusak kan," balas Rita.
"Iya. Tapi sudah aku labrak semuanya. Ney hubungi kamu?" Tanya Arnila.
"Tidak tahu dia sudah aku blokir. Malas akan sadar tidak sih dia?" Tanya Rita.
"Tidak akan, Rita. Sudah terbilang tebal wajahnya dia lebih mengutamakan egonya daripada rasa bersalah. Jangan banyak berharap deh keajaiban kalau dia mengaku salah," kata Arnila agak menyesal.
"Hahaha memang dia begitu kan biar waktu yang memberikan pelajaran kepadanya. Lalu kamu pasti mau aku masuk grup lagi ya?" Tanya Rita menebak.
"Hmmm tadinya sih. Bagaimana? Sepertinya Ney kesepian tuh," kata Arnila.
"Bodo amat deh. Tidak mau ah aku sudah malas satu grup sama tukang ngibul," kata Rita yang membuka komiknya.
"Iya aku juga tahu kan aku juga sering dia kibulin. Jadi tidak usah nih? Aku merasa tidak enak sama kamu," kata Arnila.
"Hah? Kenapa? Dia yang salah kenapa juga kami yang mesti merasa tidak enak. Kamu juga jadi orang jangan selalu meminta maaf. Orang yang berbuat kejahatan, jangan seenaknya kamu yang meminta maaf, Arnila," kata Rita. Terkadang Rita juga jenuh dengan Arnila, selalu saja menjadi pihak yang meminta maaf.
"Iya deh iya aku mulai belajar untuk tidak merasa tidak ikut bersalah juga toh dia yang salah," kata Arnila berpikir.
"Iya jadi sudahlah tidak perlu ada grup segala. Orang yang satu grup sama Ney pasti ujungnya bubar kan. Yang cocok sama dia ya yang sama kelakuannya," kata Rita.
"Kalau ada apa-apa sama dia bagaimana?" Tanya Arnila.
"Musibah?" Tanya Rita keheranan. Untuk apa juga Arnila sampai mencemaskan nya sejauh itu.
"Iya," kata Arnila.
"Ya Alhamdulillah kalau aku mah," kata Rita senang.
"Kok begitu? Janganlah," kata Arnila mendengus.
"Ya itu kan tergantung dari yang dia lakukan ke orang termasuk aku. Apa yang kita lakukan di dunia,mau itu baik atau buruk pasti ada ganjaran ya, Nil. Tapi meski begitu selalu berbuat baik saja lah supaya ganjarannya baik kan," kata Rita.
Arnila tersenyum memang hanya dengan Rita saja dirinya sama sekali jauh dari tertekan. Rita menganggap siapapun yang mau kenal dengannya sama sekali tidak dipungut macam-macam. Apalagi Rita juga membebaskan sahabat atau temannya memiliki teman yang lain juga.
"Iya juga ya," kara Arnila tidak terpikirkan.
"Yang aku heran sama kamu kok masih mau menerima dia sih. Nasib kamu dan aku kan sama hanya sekarang bedanya kamu sudah menikah," kata Rita.
"Hahahaha bagaimana ya? Aku kasihan sih sama dia," kata Arnila.
"Karena?" Tanya Rita.
"Nanti juga kamu tahu alasannya. Di sisi lain dia punya suatu penyakit aku lihat kamu tahu apa itu dan kasihan sekali, karena itu bawaan dari kecil. Bosa sih diubah kalau dia ditangani oleh yang ahli," kata Arnila membuat Rita kaget.
"Penyakit gila? Nah loh!" Kata Rita menepuk dahinya.
"Semacam itu. Aku yakin kamu akan tahu, setelah tahu aku lebih menyarankan kamu tidak perlu menemani dia. Kalau mau hidup kamu yang hancur karena dia tidak punya hati," kata Arnila membeberkan semuanya.
"Walah!" Seru Rita kaget. Dia jadi was-was makanya dia dan Ney tidak pernah sejalur apa karena penyakitnya itu?
"Kamu kontak lagi dengan Alex?" Tanya Arnila.
Yah, itu nanti saja dia pikirkan deh. "Iya dia sadar kalau memang selama ini sudah salah. Banyak merenung soal kamu dan Ney, dia yang salah sudah menyarankan untuk merundung aku ya g ternyata ada sesuatu di dalamnya," kata Rita.
"Wah, apa tuh?" Tanya Arnila penasaran.
"Misinya adalah supaya aku lihat dengan jelas belangnya Ney itu seperti apa, dia punya niat tidak baik ke aku meski dia memang berniat membantu," kata Rita.
"Euhhh kamu baru sadar. Yah tapi tidak apa-apalah daripada tidak sadar sama sekali," kata Arnila tersenyum.
"Ya maaf kalau aku telat sadarnya," kata Rita tertawa.
Arnila tertawa. "Ya baguslah nanti aku ceritakan pada Ney, jangan berharap dia akan meminta maaf ya Rita. Dia pasti sengaja menyalahkan Alex sebagai biang onarnya," kata Arnila.
__ADS_1
"Aku juga sih yang salah," kata Rita.
"Karena?" Tanya Arnila.
"Meminta bantuannya. Padahal sejak dulu kenal dia juga selalu mengecewakan hasilnya. SMP sekelompok sama dia, ujungnya jadi kelompok paling terakhir karena salah mengerjakan soal. Seharusnya aku percaya diri dengan bahasa Alex sambil belajar juga," kata Rita.
"Hmmm iya Rita, nanti lagi jangan deh minta bantuan ke dia. Yah seperti ini sudah banyak kok yang kena sama dia akhirnya malah bubaran. Aku mau beritahu kamu tapi aku pikir sebagai pembelajaran ke kamunya. Maaf ya," kata Arnila.
"Iya bagus itu jadi tahu teman yang asli bagaimana, yang palsu bagaimana. Tidak apa-apa, aku juga tahu Ney seperti apa dan tidak berharap dia akan meminta maaf. Biarlah se-egois nya sendiri deh," kata Rita.
"Oke deh kalau begitu, jangan ada grup dulu ya kita, aku juga mau fokus dengan keluarga baruku. Jaga diri ya, Rita," kata Arnila.
"Oke," kata Rita.
"Eh, satu lagi aku mau mengingatkan," kata Arnila takutnya Rita lupa.
"Apa?" Tanya Rita heran.
"Kalau kamu nanti menikah lebih baik jangan undang aku dan Ney, supaya hidup kamu lebih aman dan bahagia," kata Arnila.
"Hah? Seberbahaya itukah sampai jangan undang dia?" Tanya Rita kaget.
"Iya. Pokoknya jangan deh nanti dia akan cari masalah tapi itu kalau kamu menikahnya di luar Indonesia," kata Arnila yang mendapatkan terawangan.
"Heh! Kalau begitu aku menikah di Bandung atau Tasik, tidak apa-apa dong? Bahayanya kenapa sih?" Tanya Rita kepo.
"Dia nanti akan sebar cerita yabg kebalikannya, Rita. Kalau masalah di acara nikahku itu mah level satu, tapi kalau kamu levelnya lebih di atas. Kalau ada gosip apalagi ada yang memang tidak suka dengan kamu, parah kenanya. Kasihan kamunya nanti jadi jangan ya. Ingat!" kata Arnila.
Meski aneh tapi ada benarnya juga. Apalagi soal Alex saja sudah begini parah. "Iya iya," kata Rita.
"Janji? Benar-benar jangan undang dia kalau kamu menikah di luar Indonesia. Dalam negeri tidak apa-apa, dia akan susah cari celah. Dia nanti mendekati kamu lagi bukan untuk berteman tapi untuk pamor dan akan lebih menjatuhkan kamu," kata Arnila dengan keras.
"Aku janji! Tidak mau lagi deh seperti kejadian tahun lalu. Amit-amit! Kamu? Boleh aku undang juga kalau dalam negeri?" Tanya Rita menertawai entah dengan siapa dia akan menikah nanti.
"Terima kasih tapi jangan, Rita. Kamu menikah aku pasti akan dengar kabarnya dari Ney. Aku yakin dia akan senang kalau aku tidak kamu undang dan kamu akan jauh dari masalah dia. Kalau aku datang, dia akan berbuat keonaran jadi lebih baik jangan," kata Arnila.
Rita sedih meski memang bukan teman tetap, sampai dirinya memutuskan jangan diundang hanya karena satu orang itu. "Kalau saja awal aku kenal kamu dan bukan Ney, pasti berbeda ya ceritanya," kata Rita.
"Iya. Yah syukuri saja mungkin memang harus begini jalannya, Rita. Kita bertemu mungkin karena ada materi yang harus kamu ketahui." Kata Arnila
Lalu terputuslah kontak mereka, tidak ada komunikasi lagi. Masing-masing memblokir nomor mereka agar Ney tidak mengganggu lagi.
Beberapa hari, minggu, bulan mereka bertiga berjalan dengan masing-masing. Ney yang kesal tidak dapat banyak bercerita dengan Arnila karena grup yang dia masuki mulai memojokkannya. Arnila tahu Ney mendapatkan masalah tapi sudah saatnya dia tidak terlalu dekat dengan Ney, dan memilih menyibukkan dirinya sebagai istri.
Ternyata jauh tanpa ada pesan dari Ney ataupun telepon membuatnya hidup lebih bahagia, Imron juga sering mengajaknya liburan jauh. Ney kesal antara Arnila dan Rita tidak ada yang bisa dia ajak keluar untuk main. terpaksa deh dia keluar sendirian perihal soal grupnya yang jarang main dengannya, karena memang hanya untuk ngobrol saja.
Baiklah setelah lama tidak ada episode soal Rita dan Alex, sekarang kita pindah ke mereka berdua yang sudah baikan lagi. Kita lupakan sejenak mengenai Arnila dan Ney.
Saat itu Rita tengah asyik mengobrol dengan Alex. Alex pun begitu, sambil bekerja dia meluangkan banyak waktu hanya untuk Rita seorang. Syakieb yang melihatnya heran juga karena membuat pekerjaan Alex tidak rampung. Tapi apa mau dikata kalau dia protes, pukulan akan melayang ke wajahnya.
"Alex, aku mau bertanya nih tapi kamu jangan marah ya," kata Rita.
"Sure. Kenapa laa kamu pakai acara minta ijin segala?" Tanya Alex tersenyum geli.
"Itu kan salah satu dasar kesopanan," kata Rita.
"Iya iya mau tanya apa," katanya sambil mengerjakan pekerjaannya.
"Kamu seperti apa sih penampilannya? Aku sama sekali tidak tahu sejak kenal sampai 2 tahun, tidak ada foto," kata Rita.
Dua berkas telah selesai lalu Alex membaca dan dia mengheningkan cipta. "ASTAGA! SELAMA KENAL DIA AKU BELUM PERNAH MEMBERIKAN FOTO!" Teriaknya tiba-tiba.
Beberapa orang kaget melihat Alex menepuk dahinya dengan keras. Syakieb yang mendengarnya membuat ekspresi wajah datar 😑. Dia tahu Alex sangat idealis orangnya, otak pintar, berwajah ganteng tapi ternyata berhadapan dengan Rita ini, sangat bodoh sekali.
"Are you forget?" Tanya Syakieb.
"AKU SANGAT BODOH! KENAPA AKU BISA LUPA?!" Teriak Alex lagi. "Pantas saja dia selalu bilang aku bodoh," katanya lagi.
Syakieb dan orang lain yang mendengarnya tertawa meledak. Hanya mereka saja yang sering mendengar Alex berbicara menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan di luar tempat menggunakan Melayu atau Inggris.
"Jadi? Mana? Masa hanya aku saja yang beri kamu foto. Aku sudah bersabar lho dari 2 tahun lalu, sampai berpikir kamu ini aslinya Idiot," kata Rita bete. Gila kan 2 tahun bersabar tanpa ada foto dari si Alex.
Alex memasang wajah datar dan menghela nafas. Bagaimana bisa dia sampai selama itu tidak pernah mengirimkan tampang aslinya, tidak heran kalau Rita menganggapnya penipu. Tapi memang kan ya kebanyakan orang yang kenal dalam media sosial, sedikit yang asli.
"Iya aku kirim nih. Jangan kaget ya, kamu pasti ngiler melihatnya HOHOHO!" Kata Alex mengirimkan foto dirinya.
"BOHOOOONG!! HAHAHAHA!!" Teriak Rita melihat hasil fotonya. Itu mah model cuy.
"Itu akuuuuu kan aku sudah bilang jangan kaget. Bagaimana ganteng kan?" Tanya Alex dengan bangga.
"TUKANG NGIBUL!!" Teriak Rita.
__ADS_1
"ASLI!" Teriak Alex tidak mau kalah.
"Itu mah Teejay Marques. Benar kan kamu nih penipu," kata Rita
Alex menganga ternyata Rita tahu model tersebut. "Kamu tahu?" Tanyanya.
"Iyalah. Terkenal di Indonesia karena super ganteng, yang kedua ada Prince Brunei aku juga fansnya dia. Kamu aslinya hitam kan. Ngaku saja deh kesambet apaan kamu mau mirip Teejay HAHAHAHAHAHA!!" Kata Rita tertawa super ngakak malam itu.
"KAMU FANSNYA PRINCE BRUNEI!? Buat apalaa apa kurangnya saya nih. Taksah jadi fans dia, jadi fans aku saja. Nanti aku manjakan kamu dan buat kamu nyaman, aku jamin," kata Alex sebal sekali. Kenapaa semua perempuan harus senang dengan Prince itu.
"Tak mahu. Kamu mesum, kamu buat nyaman pasti arahnya jelek deh," kata Rita curiga.
"Haissh tak leh awak nih punya pikiran begitu. Sikit laaa punya Alfarizki Junior kat saya HAHAHAHAHA," kata Alex tertawa ngakak sekarang sampai jatuh dari kursinya sendiri.
"Sudah kuduga. Memangnya takde mantan yang sampai kena hamil?" Tanya Rita.
"Aduh, sakit sampai jatuh," kata Alex yang terjengkang dan dibantu beberapa stafnya.
Syakieb menahan tawa begitu juga yang lainnya. Kapan lagi bisa melihat Tuan Mudanya bertingkah konyol hanya saat dia mengobrol dengan Rita. Alex kembali duduk lagi dengan tegas dan menarik nafas.
"Takde laaa mana bisa. Aku kan menahan 'Itu' keluar jadi masih aman. Aku memang bermain sedikit tapi tidak sampai kebablasan," kata Alex dengan jujur. Entah kenapa hanya dengan Rita seorang dia bisa jujur.
"Apa 'Itu'?" Tanya Rita tidak mengerti.
"Ya 'Itu' masa kamu tidak tahu sih?" Tanya Alex yang keheranan. Pekerjaannya jadi terhambat dan Syakieb sabar.
"Ada apa, Tuan?" Tanya Syakieb.
"Mana mungkin dia tidak tahu arti 'Itu'?" Tanyanya pada Syakieb. Membuat Syakieb keheranan.
"Apa 'Itu'?" Tanyanya sama dengan Rita.
Alex menganga mendengarnya dan agak marah. "Kenapa kamu nih sama pertanyaannya dengan dia? Cobalah pertanyaannya dibedakan! Masa kamu juga tidak mengerti?" Tanya Alex dengan nada tinggi membuat Syakieb semakin bingung.
"Saya kan memang tidak tahu Tuan tidak jelaskan," kata Syakieb.
"Saya tak suka pertanyaan kamu sama dengan perempuan ini. Pilih tanya lain!" Seru Alex. Akhirnya Syakieb iya-iya saja deh, menghadapi Tuannya yang ajaib kelakuannya buat bingung.
"Ke arah mana?" Tanya Syakieb.
"Ke bawah," kata Alex mendengus kesal.
Syakieb melihat ke bawahnya hanya ada lantai dan karpet yang selalu dia injak bila bekerja dengan bosnya. Dengan bingung dia memiringkan kepalanya.
"AWAK INI MENGERTI TIDAK SIH!?" Teriak Alex.
Syakieb dengan pandangan kosong menggelengkan kepalanya.
"ASTAGAAAAAA! KALAU KAMU ADA WANITA LALU BERDUAAN DI KAMAR, ITU BIASANYA BERBUAT APA?!?!?!" Seru Alex sambil memukulkan berkas berat ke badan Syakieb yang besar itu.
Di luar kantor beberapa pegawai melihat kejadian itu. "Si bos mulai marah-marah," kata A.
"Biasanya dia begitu lagi ingin naik kasur," kata B melongo.
"Hah?! S...." kata seseorang.
"TIDUR LAAA," seru mereka semua.
"Tapi akhir-akhir ini kelakuannya cukup lucu ya," kata sekretaris yang ikut mengintip.
"Dia tadi terjengkang karena tertawa dahsyat. Tampak sekali ada perempuan yang mampu membuatnya tertawa," kata asisten.
Mereka semua setuju kapan lagi bos mereka bertingkah konyol. Sampai-sampai pengawal pribadi yang dekat dengannya dilempari berkas tebal.
"Saya mengerti Tuan. Tuan mau punya anak dari perempuan ini? Menikahlaa," katanya membereskan lembaran kertas yang dilempar Alex.
"Kamu pikir dia mau melakukan itu? Bisa ditendangnya aku mendarat di kutub. Perempuan ini beda dari perempuan lainnya, wanita Indonesia galak sekali. Ajaib sekali aku masih bisa hidup menghadapi Rita," kata Alex mengacak-acak rambutnya.
"Tuan sama sekali tidak bisa menyentuh mereka, sentuh wajah saja saya ingat Tuan dapat tendangan di bagian bawah. Dan demam sampai seminggu, lalu Tuan sentuh leher, Tuan dapat cakaran segarang Singa. Lalu Tuan juga pernah diam-diam mencium bibir wanita Indonesia, perut ditendang sampai demam juga. Tak bisa makan saking kuatnya kena tendangan, Tuan sampai merengek menangis suruh perempuan itu dihukum. Tapi akhirnya malah meringkuk saat perempuan itu mencari Tuan. Apa Tuan nih tidak ka..." putus Syakieb merasa hening sekali keadaannya.
Melihat Alex berdiri dengan api yang berkobar di sekitar badannya, 5 detik akan berubah menjadi Super saiya yang ganas.
"pok," Syakieb menyelesaikan omongannya lalu menelan ludahnya dan mengambil ancang-ancang.
"Talk more," kata Alex dengan nada mengancam.
"Setelah itu Tuan bisa menyentuh perempuan kalau bukan dari negara Indonesia. Apapun Tuan lakukan, mereka welcome tidak seperti Indonesia. Saya berpikir Tuan menikmati sekali bisa menyentuh mereka, bukannya Tuan sempat mengeluarkan 'Itu?'" Tanya Syakieb yang malah terus menyebutkan aibnya.
Alex tidak menjawab, dia fokus mengeluarkan aumannya pada Syakieb yang tidak peka maksud omongannya. Alex memuncak kemarahannya, staf lain sudah kabur duluan ke luar meninggalkan Syakieb. Pegawai menggunakan helm dan tameng untuk efek yang dikeluarkan dari Mister Saiya. Bahkan ada juga yang menggunakan tiang anti listrik agar tidak tersetrum.
"Saya heran pada akhirnya semua wanita tidak ada yang hamil. Apa Tuan menyiapkan barang palsu? Tapi kan saya lihat barang Tuan..." belum sempat selesai omongannya, benturan keras dari kepalan tangan mengenai wajah Syakieb. Namun ditangkisnya.
Dan pertarungan pun terjadi Alex berubah menjadi Gorila melawan Syakieb. Syakieb tahu bila dirinya sudah berkelahi tandanya memang sedang dalam masa memuncak, tapi karena tidak ada pelampiasan. Alex lebih sering berkelahi dengan para pengawalnya.
__ADS_1
Rita menunggu balasan. "Kok lama ya? Yah tugasnya banyak kali ya. Tidur ah," katanya lalu mematikan ponsel dan tidur dengan nyenyak.
Bersambung ...