
"Kamu yang masuk waktu bantu hajar jin yang ditempeli saudaranya Ratih bukan?" Tanya Rita.
Ua kaget ternyata Rita memang bisa membedakan sesuatu bahkan aura. Wajah Koko yang tadinya agak bete sekarang menjadi cerah.
"Bagaimana ya," kata "Koko" menyilang kan kedua tangannya.
"Memang aneh ya tidak ada khodam tapi bisa berkomunikasi. Agak heran tapi ya terbukti kamu bisa bicara sama Teteh kan. Ini baru kamu merasuki badan orang tampaknya bertemu juga bisa," kata Ua berpikir.
Koko lalu maju hendak menyentuh Rita namun Ua melarangnya. "Sedikit," kata "Koko".
Ua menggelengkan kepalanya. "Saya tahu kamu penasaran juga tapi jangan disentuh," kata Ua memperingatkan.
"Kenapa?" Tanya "Koko".
"Kalau kamu sentuh dia, ada kemungkinan kamu bisa mengambil energinya. Cukup dengan kamu yang bertanya Teteh yang menjawab," kata Ua menempatkan tangan kirinya di bahu "Koko".
"Koko" mengerti lalu menjelaskan pada Rita. Sikap duduknya seperti lelaki yang terhormat dan tegap. Kedua tangan memegang kedua kakinya.
"Kamu tidak mengerti? ada tata cara dan syarat agar bisa komunikasi dengan kami, Khodam penjaga," kata "Koko".
"Ya mana aku tahu juga yang begituan. Kalau mau bicara ya bicara terus kenapa kamu datang?" Tanya Rita.
"Kalau menolak saya akan dihukum," kata "Koko" menatap Ua cemberut.
Rita menatap Ua yang menahan tawa. "Susah Teh, si ini disuruh keluar atau bantu kerjaan makanya Ua ancam," katanya.
"Oh," kata Rita tertawa.
"Ini kok seperti acara perjodohan ya. Kamu kenapa biasanya banyak bicara. Ayo, santai saja," kata Ua menepuk bahu "Koko".
"EHEM! Kamu memiliki kekuatan yang besar tapi enggan mengakuinya. Kenapa?" Tanya Koko penasaran. Hal yang sama dengan ditanyakan mereka berdua.
"Ya tidak mau saja. Apa sih yang patut dibanggakan?" Tanya Rita menatap kedua tangannya.
"Oh," kata Koko. Ua terus menahan tawa.
"Kenapa sih jadi canggung ya," kata Ua menguap.
"Ya habisnyaaa.. Ya sudah kamu ini jin juga?" Tanya Rita.
"Ya," jawab Koko singkat.
"Bentuknya bagaimana?" Tanya Rita.
"Koko" berpikir. "Kamu tahu Aladdin?" Tanyanya.
__ADS_1
Rita mengangguk.
"Ya seperti itu," katanya tanpa menjelaskan berharap Rita langsung sadar.
Sudah terbayang oleh Rita. "Jadi kamu tinggalnya dalam teko," katanya.
"Bukaaaaan," jawab "Koko" dengan ekspresi datar.
Ua tertawa lepas.
"Bukan jin yang biru juga," kata "Koko" menghela nafas sudah diduga pikiran Rita pasti kesitu.
"Katanya kan kamu tahu tahu Aladdin ya kan jin nya warna biru, rumahnya dalam teko. Bukan salah aku dong," kata Rita menyilang kan kedua tangannya.
"Koko" menghela nafas. Ua masih saja tertawa mendengar pembicaraan kocak Rita.
"Bukan. Bagaimana ya sulit menjelaskannya. Kamu kenal dengan laki-lali dari Malay ya? Pernah kan bertemu khodamnya?" Tanya "Koko".
"Kalau bertemu belum pernah tapi bicara pernah dia chat," kata Rita.
"Seperti kita sekarang?" Tanya "Koko".
"Chatting. Kamu tidak mengerti ya? Sesama jin komunikasinya bagaimana? Kirim telepati?" Tanya Rita.
"Ya seperti manusia pada umumnya. Bicara begini," kata "Koko".
"Boleh," kata "Koko".
Lalu Rita menunjukkan chat itu dan dia membacanya melongo. Mana dibalas pula.
"Kamu memang aneh. Orang yang dapat komunikasi dengan kami seharusnya memiliki khodam. Mungkin ada pengecualian buat kamu ya," kata "Koko" merasa aneh menatap Rita.
"Jadi menurut kamu bisa tidak kemampuan ku itu ditutup atau di cabut?" Tanya Rita.
"Tidak bisa. Memang kamu sudah diberikannya begitu, kalau dicabut artinya nyawa kamu juga akan tercabut. Heran juga sih kenapa 'Itu' malah membelit nyawa kamu ya?" Tanya "Koko" merasa heran sekali.
"Memangnya tidak ada hubungannya?" Tanya Rita.
"Tidak ada. Itu kan terpisah. Kasihan juga sih kamu karena 'itu' terlalu besar. Saya yakin Allah SWT punya sesuatu kepada kamu, berpikirlah positif mengenaiNya," kata "Koko".
"Lalu saya harus bagaimana?" Tanya Rita agak takut.
"Terima saja meski saya pun heran kenapa harus kamu yang memilikinya. Bila kamu tidak mau memakainya, biarkan itu tetap disana. Allah SWT mungkin menyimpan kekuatannya sama kamu karena kamu bisa memeliharanya. Terima sebagai penjagaan juga," kata "Koko".
Rita mendengus kalau sampai diberi tugas untuk menjaga, bukankah lebih bagus kalau diambil saja? Jadi Rita benar-benar hanya manusia normal.
__ADS_1
"Kamu... menciptakan tempat sampah galaksi ya? Untuk membuang ingatan yang menyakitkan?" Tanya "Koko" agak bengong.
"Eh? Hehehe," kata Rita tertawa.
Ua terpukau. "Serius? Caranya bagaimana?" Tanyanya.
"Ya hanya niat dalam hati lalu membuat bentuknya. Ya jadi," kata Rita dengan ringannya.
"Hebat," kata Ua bertepuk tangan.
"Koko" setuju. "Saya yakin apa yang Allah SWT pikirkan soal kamu itu sama. Kamu bukan manusia yang haus akan kekuatan. Hanya senang makanan," kata "Koko" menatap Rita dengan datar.
Rita tertawa. "Iyalah. Makanan kan bisa membuat kita kenyang lalu tumbuh, kekuatan apa gunanya?" Tanya Rita.
"Iya sih," kata mereka berdua.
Rita agak tidak enak karena ya profesi mereka kan berbeda juga.
"Ya sudah ya pembicaraan cukup," kata Ua yang hendak menarik sesuatu.
"Eh tunggu tunggu Ua. Satu lagi saja ingin tahu pendapat makhluk ini," kata Rita.
"Sok," kata Ua.
"Waktu aku di ruqyah kamu mengawasi Ney kan," kata Rita.
"Koko" berpikir. "Ney? AAAH!!! Perempuan yang punya banyak jin kafir itu ya. Ya ya ua aku ingat," kata "Koko" langsung paham
"Ahhh ternyata benar. Apa menurut kamu dia teman yang baik?" Tanya Rita hati-hati.
"Koko" Menggelengkan kepala. "Jangan. Jangan dekati dia, saya tidak menyarankan kamu berteman dekat dengannya. Saya sudah lihat belakangnya, Nauzubillah. Tuan saja dan pria ini pasti bisa melihatnya juga. Saya sarankan: Jangan Didekati," kata khodam itu lalu keluar.
Koko kemudian membaca surat lalu kembali normal. "Bagaimana? Memang sih jin yang masuk atau tidak itu terlihat tipis. Kalian bicara apa saja?" Tanya Koko minum banyak air.
"Ampun deh mirip perjodohan, Ko. Dua-duanya tegang," kata Ua tertawa.
Rita tampak malu dan agak sebal tapi dia kagum pertama kalinya bisa mengobrol dengan makhluk lain meski tidak bisa dilihat.
"Itu benar-benar jin khodam?" Tanya Rita agak tidak yakin. Takutnya mereka mempermainkannya.
"Iya, kita tahu pasti teteh tidak percaya kan. Bisa sih kalau teteh mau lihat aslinya," kata Koko.
"Tapi pasti pingsan soalnya nanti bisa lihat yang lain," kata Ua agak cemas.
"Tidak usah deh," kata Rita langsung menolak.
__ADS_1
"Tapi kalau khodam tidak menyeramkan kok nanti juga Teteh akan bertemu dengan beberapa jenis. Plus ada ratunya juga," kata Ua tersenyum.
Bersambung ...