ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
492


__ADS_3

"Kenapa? Tidak tahu alasannya ya?" Tanya Rita membalas.


Ney menggerakkan bibirnya mengomel. "Aku sedang bertanya nih tapi tidak dibalas," katanya.


Setelah itu karena Ney bertanya dan Arnila juga penasaran, dia bertanya kebetulan Mamanya datang menjenguk dirinya dan suaminya.


"Ma, apa benar kalau khodam Mama sering mendatangi Rita? Kenapa?" Tanya Arnila yang agak takut-takut.


"Siapa yang bilang begitu?" Tanya Mamanya keheranan.


"Ney sih," kata Arnila.


"Memangnya dia bisa lihat khodam Mama? Lihat khodam kamu saja dia tidak bisa," kata Mamanya lagi berpikir.


"Paling juga ditantang sama Rita," kata Arnila.


"Rita?" Tanya Mamanya berhenti memasak lalu sadar. "Oh, teman kamu yang di Bandung itu kan?" Tanyanya.


Arnila mengangguk. "Menurut Mama apakah Rita bisa melihat khodam?" Tanyanya.


"Bisa," jawab Mamanya.


"Serius? Tapi kalau ditanya, dia tidak tahu apa karena dia polos ya?" Tanya Arnila.


Mamanya tertawa mendengarnya. "Dia bisa melihat kalau memang ingin, kalau tidak ya tidak akan terjadi. Untuk apa juga kan," kata Mamanya memotong daging sapi membuat Arnila ngiler.


"Hmmm benar juga ya. Lalu? Alasan Khodam Mama selalu mengunjunginya karena apa?" Tanya Arnila lagi.


Mamanya berhenti sebentar dan seakan sedang berpikir. "Katanya dia kasihan sama Rita. Dia diberikan beban ya g sangat berat, Nak," kata Mamanya.


"Beban? Jangan-jangan soal kemampuannya, Ma?" Tanya Arnila yang tidak begitu terkejut karena sudah tahu.


Makanya mengangguk. "Dia hanya manusia biasa tapi kenapa malah terpilih jadi orang yang menanggung tanggung jawab besar ya? Mama juga heran kok nasibnya agak berbeda," kata Mamanya berpikir sambil masak.


"Kalau boleh tahu, beban apa sih yang Rita harus pikul, Ma?" Tanya Arnila.


"Semesta dan semuanya. Mungkin khodam Mama menemui dia untuk memberikan dukungan bahwa dia tidak pernah sendirian," jelas Mamanya yang kemudian mengupas dan memotong buah-buahan.


"Hah? Alam semesta? Maksudnya apa?" Tanya Arnila garuk kepalanya.


"Yah, anggap saja dia diberikan misi paling besar yang tidak bisa ditanggung orang biasa. Kasihan sih," kata Mamanya memberikan sepotong apel pada Arnila.


"Hah?" Tanya Arnila mengunyah apel itu.

__ADS_1


"Yang bisa kamu lalukan sekarang adalah selalu mendoakannya dan selalu memberikan dukungan meskipun nantinya kalian akan berjalan sendiri-sendiri," kata Mamanya menatap Arnila penuh arti.


Arnila terdiam, dia juga melihat kalau mereka bertiga akhirnya tercerai berai. Takdir mereka untuk bersama sudah berakhir, karena kelakuan Ney sendiri yang sudah salah paham.


Mereka semua sudah salah bertindak, seharusnya mereka tahu cara mengatasi Rita bukan dengan kekasaran.


"Aku akan ketemu dia lagi tidak, Ma kira-kira?" Tanya Arnila.


"Pasti bertemu dengan teman kamu yang aneh itu pasti akan bertemu. Tapi dalam versi dewasanya dia dan dia akan lebih mengerti dari yang sebelumnya," jelas Mamanya.


"Wah! Aku juga melihat dia begitu. Tapi tidak ada jalan bagi Ney untuk bisa dekat lagi dengan dia?" Tanya Arnila.


Mamanya menggeleng. "Tidak akan ada kesempatan lagi untuk dia mendekatinya, tapi kalau untuk kamu ada karena kamu alirannya agak sama. Yah, sudah nasib teman kamu yang aneh itu tidak ada cerita dalam hidupnya lagi," kata Mamanya mengambil mayones dan mengeluarkan sebagian.


"Benar-benar berpikiran dewasa atau perilakunya?" Tanya Arnila.


"Hmmm pikirannya ya. Kalau perilakunya sama saja malah jadinya seperti duo komedi. Rita ini sering mengamati orang ya. Dia akan mengamati orang-orang yang baru ditemuinya, lingkungan dan kebiasaan tapi tenang saja, dia masih tetap dirinya kok hanya auranya jadi berubah," jelas Mamanya.


"Kalau ketemu Ney, apa akan emosi atau..." kata Arnila menebak.


"Hmmm ya tidak akan diladeni. Kalau dia bicara mulai aneh, ya ditinggalkan. Dia akan sangat disegani karena pemikirannya yang di luar dugaan dan idenya banyak dikagumi," kata Mamanya tersenyum.


Arnila mengenal Mamanya dengan baik kalau Mamanya banyak tersenyum dan mengatakan hal yang biasa, hasilnya pasti akan luar biasa.


"Jadi yang merasakan kehadiran khodam Mama itu Rita ya?" Tanya Arnila.


"Iya, dia tahu ada makhluk ghaib perempuan yang selalu datang setiap kamu mengobrol dengannya. Ney masih bertanya?" Tanya Mamanya.


"Nih. Aku harus balas apa ya?" Tanya Arnila yang sebenarnya malas sekali.


"Bilang saja kalau khodam Mama sayang sama Rita. Sudah jangan dibalas lagi kalau dia bertanya, kamu jangan balas. Menyuruh kamu sambil memaksa itu tidak sopan. Panggil suamimu kita makan bersama," kata Mamanya.


Masakan sudan tersedia beserta hidangan pencuci mulut serta salad buah.


Arnila tersenyum dan mengangguk kemudian mengirimkan balasan chatnya. "Khodam Mama sayang sama Rita," lalu dikirim


Balasan datang dan Ney tampak penasaran namun kaget setelah membacanya. "Khodam Mamanya Arnila sayang Rita? Ih! Kok bisa sih? Istimewanya apa sih Rita ini?" Tanya Ney dengan keki dan jutek sekali.


Kemudian Ney membalas lagi. "Apa bagusnya sih Nil? Si Rita? Heran deh aku sama Mama kamu bercanda kali," kata Ney dalam chatnya tapi Arnila tidak lagi membalas.


Di ruangan mereka masih mengobrol lalu Ua mencolek Koko. "Ko, kasih tuh satu khodam ke Teteh," katanya.


Rita yang mendengarnya kaget.

__ADS_1


"Yang mana?" Tanya Koko agak enggan karena tahu Rita pasti menolak.


"Yang keren itu. Kan ada supaya banyak orang yang tidak mudah memanfaatkan kepolosan Teteh," kata Ua.


"Khodam?" Tanya Rita.


"Iya Teh, keren-keren lho khodam punya Koko. Mau ya?" Tanya Ua dengan gembira.


Rita memandangi Koko yang sedang memilih sepertinya. "Teteh mau? Nanti Koko kasih tapi dia galak Ua. Teteh juga galak nanti kacau kalau meledak," kata Koko.


"Iya juga sih tapi karena Teteh nya kocak bisa ke tutup," kata Ua memandangi Rita.


"Khodam yang mana?" Tanya Rita mikir.


"Yang itu pemarah sih. Teteh kan hampir lihat penampakannya," jelas Ua.


"Eh!? Tidak ah. Saya tidak minat. Ketempelan jin saja sudah ribet begini, apalagi punya khodam. Ah, tidak usah takut malah posesif jadinya," kata Rita menolak.


"Oh iya ya yang dekat sama Teteh entah kenapa jadi posesif semua," kata Ua.


Koko mengangguk untungnya Rita menolak. "Sudah Ua begini kan lebih bagus," kata Koko.


Ua cemberut padahal khodam salah satu Koko memang ada yang super keren tapi Rita menolak. "Kenapa Teh? Tidak suka?" Tanyanya.


"Ya untuk apa juga, Ua? Kan saya mah urusannya ya berbeda dengan Koko dan Ua. Aku punya khodam begitu apa gunanya? Jadi tidak usah," kata Rita.


"Hmmm iya juga sih nanti kalau Teteh punya suami juga posesif dan protektif sih. Tapi Teteh akan baik-baik saja soalnya galak," kata Ua tertawa.


"Kenapa ya bisa begitu?" Tanya Rita heran.


"Khodam itu sama seperti manusia pemiliknya Teh. Tukang gosip juga kalau bentukannya seperti manusia, kalau yang Koko punya kebanyakan hewan. Tapi hewannya ya keren semua," kata Ua memandang Koko yang agak malu.


"Nanti mereka pasti mendatangi Teteh karena penasaran. Semacam gosip mereka nanti akan membuktikan," kata Koko duduk bersila.


"EEEEHHH!?" Tanya Rita kaget. Jadi merinding.


"Tenang saja mereka tidak akan macam-macam kok ingin lihat sosok yang bisa berkomunikasi dengan bangsa mereka tanpa adanya perantara," jelas Ua.


"Dan tanpa memiliki khodam itu sendiri. Ya kita saja yang melihatnya merasa aneh tapi memang.. Teteh bisa!" kata Koko merasa aneh.


"Mereka juga lagi ghibah nih katanya Kok bisa? harusnya ya setidaknya Teteh punya khodam juga tapi tidak ada," kata Ua.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2