ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(173)


__ADS_3

"Ney, mama tidak mau terjadi sesuatu sama kamu. Mengertilah, nak," kata ibunya yang membelai kepala anaknya yang mulai pure ya menangis karena ibunya keberatan.


"Ya tapi ma kenapa sih? Ney tidak boleh bahagia? Mama kan pasti senang juga lihat Ney bisa dapat lelaki yang kaya dari pacarnya Rita!" Kata Ney yang mengusap kedua matanya.


"Kami kenapa sih selalu menganggap Rita saingan atau rival? Dia itu tulus mau jadi teman kamu, selama ini kamu mana ada teman yang mau datang ke rumah kan. Kamu jangan selalu merasa tersaingi, hargai orang yang mau dengan tulus menjadi teman kamu," kata ibunya dengan nada suara lembut.


"Masalahnya, kakak juga merasa aneh lihat itu orang. Katanya peka tapi kepekaan kamu hilang begitu saja kalau lihat yang ganteng dan tajir," Cyphrin berdiri di pintu kamar.


"Kok lu tahu?" Tanya Ney.


"Waktu kamu janjian sama dia, kakak diam - diam mengikuti dari belakang. Senyum itu orang aneh menakutkan begitu," katanya yang membersihkan kotoran di jarinya.


Ney bengong mendengarnya baru kali ini kakaknya menyarankan dirinya untuk menjauhi dari orang itu. "Idih, ngikutin. Tumben banget peduli sama gue,"


"Heh, gue kakak lu ya meski lu tidak pernah menyebut gue sebagai kakak gegara masa lalu dulu. Tidak peduli! Tapi sebagai kakak meski agak error, gue tuh peduli sama lu! Kakak tahu banget lu mah kalau sudah bertemu lelaki TOP boro - boro waspada sudah langsung nyosor aja lu! Makanya jangan terlalu gatal deh jadi perempuan harus punya harga dong," kata kakaknya sambil berkacak pinggang.


Ney terdiam, ibunya tersenyum karena Cyphrin ternyata khawatir pada adik keduanya. Ibunya menepuk - nepuk bahu Ney untuk tidak melawan perkataan kakaknya. 'Iya ya kelihatannya terlihat banget aku seperti perempuan gampangan. Habis sama sekali tidak bisa ditahan sih, kalau ada lelaki yang TOP dengan dompet tebal...' pikir Ney.


"Menurut Zayn sih daripada tuh orang lebih baik Dins. Kalau Alex sih sudah bukan area kakak Ney lagi, dia mah milihnya ke Rita. Eh sudah punya Dins, kakak malah milih yang lain. Lelaki mana yang bisa terus bersabar dengan kelakuan kakak yang seperti itu? Coba dong untuk setia kak sama satu orang," kata Zayn.


"Dengarkan tuh. Tumben banget kan kakak kamu menyarankan begitu terus Zayn juga. Menurut mama memang lebih baik Dins, coba deh kamu cari info soal orang itu dari Rita kan dia yang pertama bertemu pamannya itu. Jangan asal terima barang," kata ibunya yang masih duduk di samping Rita.


"Rita sudah tidak mau membantu aku lagi, ma," kata Ney memainkan kancing bajunya.


Ibunya menghela nafas sadar sih Rita tampaknya sudah lelah juga mengatasi Ney yang sangat tidak mau mendengarkan tapi kalau Ney yang ingin didengar, dia akan memaksa semua orang. "Ya sudah biar mama saja yang hubungi dia,"


Ney mengangkat kepalanya dia tampak takut sedikit kalau Rita akan banyak bertanya kalau sudah tahu nomor telepon ibunya.


"Ma, tapi jangan char apapun lagi ya," kata Ney.


"Kamu kenapa sih? Ini tidak boleh, itu tidak boleh. Ya sudah kamu tanya saja sama dia sendiri deh!" Ibunya memberikan ponselnya.


"Kalau dia tahu nomor telepon mama, pasti dipakai untuk banyak nanya soal Ney!" Kata Ney yang menggigiti kukunya.


"Hentikan kebiasaan menjijikkan kamu itu! Kuku kamu itu kotor, Ney! Kenapa? Kamu takut? Itu karena Rita tidak tahu kamu apa - apa makanya nanyanya ke mama. Coba kamu terbuka deh sama Rita dia itu punya banyak solusi kalau kamu punya masalah. Jangan sampai hanya kamu saja yang mau didengarkan, itulah cara mudah mendapatkan teman. Kamu dengar?" Tanya ibunya.


Setelahnya ibunya meninggalkan Ney sendirian di kamarnya, Ney mulai memasukkan kembali paket laptopnya kedalam kantong. Minggu depan dia akan kembalikan laptopnya yang sangat dia sukai. Untungnya sudah sempat dia foto dan sebar di Pacebuknya.

__ADS_1


Beberapa saat, ibunya masih penasaran dan diam - diam mengontak Rita. Kakaknya pernah memeriksa kontak Ney dan mengkopi kontak Rita lalu dikirimkan ke kontaknya. Jadi dari sanalah ibunya bisa dapat nomornya juga.


"Assalamualaikum, Rita?" Tanya Ibunya Ney. Ibunya berada di kamar adiknya.


"Walaikumsalam. Dengan siapa ya?" Balas Rita.


"Ini mamanya Ney. Lagi sibuk?"


"Oh! Tante saya kira siapa soalnya nomornya tidak terdaftar. Sudah beres, tan. Ada apa ya?" Tumben mamanya Ney menchat. Tapi Rita tidak menyimpan nomor ibunya itu.


"Kamu kenal lelaki yang sekarang dekat dengan Ney?" Tanya ibunya. Adik dan kakaknya sama - sama melihat chat ibunya.


"Oh, itu pamannya Alex. Pasti nanya soal kedekatannya itu orang sana Ney ya? Saya juga heran kok Ney mau ya?" Kata Rita.


Mereka bertiga keheranan membacanya. "Memangnya kenapa?" Tanya ibunya.


Rita kemudian menceritakan segalanya yang dia ketahui dari Alex. Lalu mengirimkan bukti nyata foto anak perempuan, perkara mengenai Syakieb. Mereka bertiga sangat terkejut, memang bukan hal main - main lagi.


"Hati - hati saja tan, kalau harga barangnya sudah sekitaran 10 juta. Saya sih pertama lihat juga sudah punya firasat jangan terlalu dekat, aura matanya jahil banget. Tapi tidak tahu selevel berapa. Saya sudah tidak dianggap sebagai teman yang baik oleh Ney yah, bukan saat ini saja sih sudah dari awal pertemanan sama dia juga. Jadi satu - satunya yang bisa diandalkan hanya tante saja, saya sudah angkat tangan kalau soal Ney. Maaf saya tidak bisa membantu Ney lagi, tan. Arnila juga sama, saya serahkan saja pada tante masa iya sih ibu sendiri dia tidak mau nurut." kata Rita.


"Yah, tante minta maaf ya Rita. Nanti tante sampaikan juga ke Arnila. Selama ini maafkan ya anak tante yang benar - benar sangat merepotkan kalian berdua. Padahal tante sudah cerewet banget sama Ney itu agar berhenti menganggap kalian sebagai musuh atau saingan. Tante juga tidak mengerti kenapa anak itu."


"Kakak ada kemungkinan kehilangan teman lagi," kata Zayn yang kembali memainkan gamenya.


"Kepribadiannya membingungkan," kata kakaknya yang kembali membaca majalah.


"Salah mama yang salah mendidiknya,"


Zayn dan Cyphrin menatap ibunya. "Itu salah ayah yang terlalu terobsesi akan hal itu. Bukan salah mama, mama kan sudah sering menasehati ayah," kata Zayn sambil memeluk ibunya.


"Mama tidak pernah setuju soal ayah kalian yang memaksa memasukkan banyak ilmu batil kedalam Ney hanya karena dia punya kemampuan lain tidak seperti kalian," kata ibunya menundukkan kepala.


"Padahal mama paling besar ya. Ayah takut?" Tanya Cyphrin.


"Itu kan dalam Islam tidak diperbolehkan, kak. Lagipula yang dimiliki Ney itu bukan alami ada. Berbeda yang Rita dan Arnila punya,"


Mereka berdua kaget. "HAH!? RITA BISA!?"

__ADS_1


"Iya bisa. Ada dan itu aktif sebenarnya. Yang alami datang dari Allah SWT itu tidak akan pernah hilang akan terus ada dan Ney tidak memilikinya. Tapi ayah terlalu rakus mendapatkan ini semua karena usaha lainnya jadi kenapa mama selalu cerewet kalian rajin sholat, mama tidak mau kalian menyimpang,"


"Tapi memang aneh sih kalau Ney punya juga. Dia kan tidak punya empati ma. Kalau punya, kelakuannya tidak akan lebih error dari kita," kata Cyphrin.


"Rita itu banyak kemampuannya tapi dia tidak sadar. Kemampuannya yang istimewa dia bisa melihat sisi lain dari seseorang," kata ibunya.


"maksudnya?" Tanya Zayn.


"Maksudnya tuh, contoh Ney ya kita melihat Ney semuanya serba jelek kan nah kalau Rita dia bisa menangkap sifat Ney yang lain. Tapi menurutku sih tidak ada yang baik tuh," kata Cyphrin yang langsung digetok ibunya saat itu juga.


"Jaga bicara kamu soal adik kamu. Ada kok baiknya Ney tapi sedikit sih," kata ibunya.


"Nih kak, aku mencari ciri orang yang memiliki spiritual alami dari alam. Memang bukan tipe kak Ney banget! Pertama, memiliki empati yang tinggi,"


Mereka berdua terdiam dan memutuskan dengan bersamaan kalau Ney jauh dari itu. "Ney sih mana ada," ibunya tertawa begitu juga anak pertamanya.


"Makanya kakak Ney itu terlalu berhalu. Kedua, sering mengalami pandangan yang benar yang akan terjadi di dunia nyata. Deja vu ya sebutan lainnya, Rita pasti sering mengalami ini," kata Zayn berpikir.


"Iya tapi seringnya disebut mimpi kalau kejadian juga dibilang kebetulan hahahaha!" Ibu mereka tertawa.


"Asik banget ya," kara Cyphrin.


"Ketiga, membuat dunia baru hanya dengan imajinasi saja. Nah ini... bedanya Rita sama Ney. Kalau kakak Ney kebanyakan Halu, kalau kak Rita memang ahli berimajinasi ya mah?" Tanya Zayn pada ibunya.


"Iya. Dia juga bisa membuat sesuatu hanya dari tekad saja lho dan itu akan terwujud," kata ibunya.


"Kalau begitu kalau untuk membuat kemampuan menyerang bisa juga?" Tanya Cyphrin melihat ayahnya harus susah payah memilikinya.


"Rita mah gampang hanya modal tekad ya jadi. Astral Projection lebih enak lagi dia tapi karena tidak peka jadi menganggap itu mimpi saja hahahaha!!"


"Sepertinya punya banyak kemampuan tersembunyi ya ma?" Tanya kakak menutup majalahnya.


"Lebih banyak. Langsung dapat dari Allah SWT dan dapat wasiat terbesar tapi orangnya sama sekali tidak suka jadi bukan beban,"


"Masih ada nih keempat sama kelima, orangnya suka bangun di waktu - waktu tertentu jam 3 - 4 pagi secara teratur dan suka mengalami mimpi buruk tapi kebanyakan bisa paham penyebabnya dan bisa mengendalikan mimpi," Zayn menghentikan membaca.


"Iya seperti Rita sering bangun di jam segituan buat sholat tahajud dia tuh," kata ibunya.

__ADS_1


Tanpa mereka ketahui, ney mencuri dengar apa yang sedang mereka bicarakan. Soal chat tentulah Ney sama sekali tidak tahu tapi soal pembicaraan mereka, Ney jelas mendengarkan. Wajah Ney memerah antara marah dan kecewa karena menurut mereka bertiga saja, Rita memiliki spiritual yang lebih hebat dari ibunya atau Ney. Itulah yang menjadi salah satu sumber kenapa Ney selalu iri terhadap Rita meskipun Rita sama sekali tidak membanggakan kemampuannya itu.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2