ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
420


__ADS_3

"Kamu punya pelindung ya Rita. Aku tahu kok kamu sebenarnya berguru juga kan makanya punya. Tidak menduga ya ternyata polos-polos eh punya ilmu hitam," kata Ney sok tahu.


"Hohoho aku tidak tahu soal begituan. Aku tidak suka ilmu yang aku punya hanya ilmu agama. Yang melindungi kita kan cukup malaikat untuk apa menambah doa pakai jin jun? Kamu aja tuyulnya banyak, yang dekat kamu semua uangnya hilang kan," balas Rita.


Ney langsung kesal sekali. Salaaah lagi-lagi salah lawan Rita. Ney sudah pusing menghadapi Rita harus bagaimana. Ya harusnya tidak usah banyak buat masalah sih.


"Iya juga tuh memang kita itu tidak perlu adanya penjagaan dari makhluk lain. Dengar tuh Ney. Bedanya kalau kita dapat langsung dari Allah kan sejak kecil. Lalu kamu sudah bertemu dengan orang yang bisa membantu kamu?" Tanya Arnila.


"Bantu untuk apa?" Tanya Ney bingung.


"Belum euy. Tapi aku terus berdoa dan mencari semoga Allah secepatnya mendatangkan orang yang bisa membantuku," kata Rita yang tidak patah arang.


"Kalau sudah bertemu beritahu ya bagaimana hasilnya. Mungkin saja dia juga mau membantu aku," kata Arnila.


"Heeei maksud obrolan kalian apa sih?" Tanya Ney.


"Oke, Arnila. Makanya kalau kita chat apapun tuh kamu bacaaaa bukan roll ke bawah. Aku tidak mau jelaskan lagi malas!" Kata Rita.


"Habis panjang pastinya," kata Ney dengan malas.


"Ya sudah jangan banyak tanya," kata Rita.


"Aku jelaskan deh. Rita masih mencari orang yang bisa membantunya mengusir jin yang menempel. Kamu kan bilang sendiri kalau ada yang menempel di Rita kan," kata Arnila pada Ney.


"Oooh soal itu iya aku tidak bisa bantu kamu menghilangkannya dan menurut aku sih tidak akan ada yang bisa deh," kata Ney langsung semangat.


"Ya kamu sih mana mungkin bisa menghilangkan jin jarang baca Al Qur'an, kerjaannya kepo hidup orang plus senang suudzon. Mulut kurang asupan gizi agama," kata Rita yang bete.


"Hahahahahaha maaf aku ketawa. Iya Ney kalau bisa pun yah Rita tidak akan mau soalnya beda yang dia alami. Aku lihat ada kok nanti ada orang yang bisa menarik jin itu," kata Arnila.


"Ih! Mana ada Nil, itu susah lho sama kita saja malah kita digaplok," kata Ney kesal.


"Ada.. Ada kok Rita jangan dengarkan Ney. Kita terlalu kasar sama Rita, masalahnya jin yang menempel itu akalnya banyak karena menempel di diri Rita yang cerdas. Otaknya jadi kebagi dua," kata Arnila.


"Kalau nanti sudah ketemu, aku akan jelaskan apa saja yang mereka bilang," janji Rita pada Arnila.


Ney akhirnya membaca segalanya dari atas dan dia kaget ternyata mertua Arnila memasangkan pembatas pada Arnila.


"Sial! Jadi Arnila dipasangi pagar pembatas dengan aku? Pantas aku tidak bisa lagi tahu sepak terjangnya dia. Ugh! Rita paling masih ada tapi kok apa yang aku tebak, salah semua sih?" Tanya Ney kebingungan.


Rita sudah tahu sebenarnya ada yang salah. Kemungkinan Ney memasang tanda agar apa yang dia kerjakan diketahui. Oke, satu-satunya cara untuk membuatkan bingung hanyalah membalikkannya.


"Cokelatnya kok hanya sedikit ya," kata Ney membuka topik lain.


"Masih soal urusan cokelat? Ya Allah," kata Arnila dan Rita.


"Ya baguslah kamu sudah diberi banyak kan oleh Syakieb," kata Arnila menggelengkan kepalanya.


"Ya habisnya Alex yang kasih kok sedikit banget! Dia itu kaya lho masa hanya 4 cokelat terus yang ukuran kecil dong. Dia kasih ke Rita yang mahal-mahal," gerutu Ney masih teringat nikmatnya cokelat yang diberikan Rita dulu.


"Ohh ini itu pengalihan topik ya," kata Rita mengerti.


"Ya begitulah kan sudah biasa. Kalau dia sampai mengalihkan topik tandanya yang kami katakan itu benar. Kalau tidak kan dia pasti membantah, ya sisi lainnya ya begitu," kata Arnila menjawab.


"Soal cokelat memangnya ada cerita kamu berbagi ke Arnila? Aku juga tidak ada. Ya terima sajalah Alex mau beri kamu berapa mau murah sampai mahal, sesuka dialah. Bersyukur kek sekali-kali," kata Rita kesal.


"Iya soalnya kamu kan bukan orang yang Alex sukai," kata Arnila mengingatkan.


Ney terdiam dia lupa memang tidak sepantasnya mengomel hanya karena yang Alex berikan sedikit.


"Memangnya kamu percaya Alex suka kamu? Itu kan kan bad boy, Rita. Bisa saja dia bilang suka kamu eh masih ada perempuan lain di sampingnya," kata Ney kesal. Karena Dins atau siapapun tidak seperti Alex.

__ADS_1


"Apa urusan kamu? Kalau pun benar aku yakin kamu senang kan? Jangan pura-puralah Ney. Kamu itu tipe teman yang tidak mau melihat orang diatas kamu. Aku bahagia, ada kamu bahagia? Sampai saat ini pun kamu terus berusaha menjatuhkan. Baiknya kamu ini sedikit yang aku rasa tapi aku sudah banyak bersyukur," jelas Rita membuat Ney terdiam.


"Daripada tidak ada baik-baiknya ya," kata Arnila.


"Iya," kata Rita.


"Ya aku mau mengingatkan saja mungkin saja kamu berhalu berpikir Alex itu ganteng, kaya, lalu nyata juga terus apalah," kata Ney.


"Mengingatkan itu ya di awal bukan di tengah saat kamu kena tolak dia," kata Rita.


Arnila tertawa keras membacanya. "Kalau sekarang kamu mengingatkan kesannya karena kamu kena tolak, Rita juga harus kena tolak. Padahal dari awal juga Alex minatnya sama Rita kan," kata Arnila masih tertawa.


"Memangnya dia sudah bilang suka sama kamu?" Tanya Ney menahan amarah.


"Sudah," jawab Rita.


Ney dan Arnila kaget. "Mana buktinya?" Tanya mereka bersamaan.


Rita lalu foto kan bukti percakapan dengan mengguntingnya menjadi bagian penting saja. Ney terdiam memang Alex menyukai Rita sejak awal, mau berusaha sekeras apapun dirinya merebut Alex. Tetap hatinya hanya mengarah pada Rita.


"Wahh mengaku dia. Lalu kamu bilang apa?" Tanya Arnila yang antusias.


"Ya aku bilang suka juga," jawab Rita malu-malu.


Ney semakin keki dia tidak rela kalau Rita benar bisa jadi dengan Alex. "Kamu yakin dia itu nyata? Kalau pas ketemu ternyata palsu atau penjahat bagaimana?" Tanya Ney.


"Kalau penjahat tidak akan bisa bertemu sama sekali atau dari arah mengobrol juga pasti sudah beda. Ya kamu berdoa deh yang baik-baik selama ini juga dia tidak pernah minta macam-macam," kata Rita.


"Ya buat apa toh dia uangnya lebih banyak," kata Ney keceplosan memberi petunjuk.


"Nah itu kamu tahu sendiri berarti dia memang ada kan," kata Rita.


Ney menepuk dahinya. Mau membuat Rita down malah memberitahukan yang sebenarnya. Arnila hanya tertawa seterusnya sambil sesekali beristigfar.


"Memangnya kamu yakin mereka akan bertemu? Rintangannya banyak sekali," kata Ney tidak yakin.


"Kamu juga kan begitu dengan Dins sekarang? Akhirnya dilamar kan yang bingung malah kamu. Hubungan kamu ditentang oleh keluarga Dins, adik dan kakaknya sama sekali tidak merestui tapi akhirnya dengan berdoa, dia datang kan ke rumah kamu," kata Arnila.


"Ya aku tidak menyangka dong tahu tidak itu tuh saran dari Rita," kata Ney yang mengirimkan chat dari Rita.


Mereka lupa kalau sedang mengobrol dalam grup dan Rita masih aktif menyimak. Rita tersenyum sarannya ternyata Ney lakukan.


"Benar kan terkabul. Coba kamu kalau minta sesuatu dengan pondasi in sha allah permanen," kata Rita.


Ney kaget mau dihapus juga pasti sudah dibaca. Dia jadi malu sendiri, di sisi lain memang perjuangannya kini membuahkan hasil.


"Wah wah, benar ya sholat wajib lalu tahajud pasti permanen! Tuh kamu ikuti saran Rita langsung kejadian kan," kata Arnila.


"Oh iya soal Alex kamu yakin kita berdua bertemu?" Tanya Rita agak tidak yakin.


"Rita saja tidak yakin. Kalau kata aku sih kalian tidak akan bertemu dia itu rumit lho kalau mau bertemu perempuan beda negara," kata Ney antusias. Membaca Rita agak tidak yakin.


"Pasti! Saat kamu nanti ketemu Alex, episode soal aku dan Ney tidak akan ada lagi. Saat itu kamu akan banyak belajar dari lingkungannya dan menjadi dewasa sesuai usia," kata Arnila melihat penerawangan.


Ney kaget. Tidak ada dirinya dan Arnila? Lalu posisi mereka bagaimana? "Serius? Kita tidak ada ceritanya dengan Rita?" Tanya Ney agak termenung.


"Yang aku lihat memang tidak ada. Bagus kan Ney. Rita akan menghadapi hal lain meskipun kita tidak ada kamu akan dibantu banyak orang termasuk Alex," kata Arnila senyum malu.


"HAH!?" Teriak Rita dan Ney bersamaan.


"Kapan mereka bertemunya?" Tanya Ney yang agak takut kalau itu akan terjadi. Apalagi penerawangan yang Arnila lihat selalu tepat semua.

__ADS_1


"Lihat saja tanggal mainnya nanti karena aku juga tidak tahu kapan hanya melihat mereka berdua bertemu," kata Arnila menjelaskan.


"Aku yakin mereka pasti bertengkar hebat seperti dalam chatnya hahahaha," kata Ney percaya diri.


"Iya ya, Nil? Lelah sekali kalau memang begitu," kata Rita memikirkan.


"Kamu yakin bertemu dia akan berantem?" Tanya Arnila.


"Ya habis chat saja sering berantem jadi kalau bertemu tidak jauh dari itu kan," kata Rita yang setuju dengan pendapat Ney.


"Tuh kaaan percaya deh sama aku kalian berdua pasti saling berkelahi. Menurut aku sih lebih baik cari yang lain saja, Rita. Dia itu anaknya begajulan," kata Ney berusaha meyakinkan.


Arnila tahu kenapa Ney mengatakan itu karena dia super iri, ini harus diluruskan karena Rita berhak untuk bahagia.


"Iya ya," kata Rita.


"Jangan dengarkan Ney, Rita. Dia begitu karena iri ingat ya kamu berhak meraih kebahagiaan. Tidak ada perkelahian kok, kalian justru akan terlihat manis berdua dengan kebodoran alami kalian," kata Arnila.


Ney tidak dapat membalas apa kata Arnila. Jelas tampak sangat iri setelah tahu dirinya memang kepo mencari soal Alex dan kehidupannya.


"Yakin?" Tanya Rita agak takut.


"Seratus persen kalian berdua akan baik-baik saja. Makanya Ney, aku juga sudah bilang tidak perlu kamu mencari tahu soal siapa Alex. Karena saat kamu tahu, diri kamu sendiri yang akan menghancurkan segalanya kecuali kalau Rita meminta," jelas Arnila.


Ney mengeluarkan air mata bukan karena sedih ya bukan! Karena ketakutan kalau Rita akan lebih tinggi statusnya nanti. Soal dilupakan? Justru sudah sering Rita hadapi dilupakan begitu saja oleh Ney.


"Tuh benar. Kapan coba aku pernah minta kamu cari asal usul tuh orang. Tidak ada! Kamu mau bantu aku, makasih tapi kalau sampai jauh. Itu aslinya kamu yang ingin tahu," kata Rita.


"Kenapa kita tidak boleh kepo, pertama bisa memperkeruh suasana apalagi kamu orang ketiga yang dipercaya Rita, Ney. Akhirnya? Hancur semua kan. Kita tidak mengerti masalah mereka, dan kamu sok tahunya tebak-tebak undian. Memaksa Rita menurut, teman tidak begitu," kata Arnila membeberkan.


Ney diam begitu juga Rita. Dia hanya mengangguk Arnila pastilah tahu dan mengerti.


"Tapi yang aku lihat dalam penerawangan..." kata Ney.


"Sudahlah Ney, yang aku perhatian penerawangan kamu itu semuanya jelek. Itu doa ciri karena kamu sangat iri dengan Rita. Aku juga iri tapi Rita pantas mendapatkannya kenapa? Di remehkan, dia sabar. Dijelekkan sebagai jomblo sejati, dia sabar. Kamu berkata kasar pun dia sabar," jelas Arnila.


"Kedua membawa salah paham selama ini kamu selalu salah paham. Serba sok tahu aku yakin sih kamu sebarkan soal aku secara berlebihan entar ke grup geng kamu untuk menarik simpati," kata Rita.


Ney masih diam di tempatnya. Dia hanya menunggu ceramah dari keduanya.


"Ketiga jadinya ikut campur urusan mereka berdua. Aku kan sudah bilang tidak mau lagi tahu urusan soal Rita. Kenapa sih masih juga aku dipaksa masuk grup? Rita saja sudah tidak mau, dan aku yakin kamu juga sama. Kamu hanya ingin info saja kan, Ney soal mereka? Bisa kamu hargai privasi Rita? Jangan banyak tanya deh soal yang lain kalau Rita tak mau cerita," kata Arnila lagi.


"Ya aku memang kepo sih. Soalnya kan cerita seperti Rita dan Alex itu langka. Ya kan? Dan yaa Rita itu tidak bisa menyelesaikan masalah sendirian jadi harus ada yang bantu," kata Ney.


"Dia bisa kok selama ini itu kamu saja yang ingin terus ganggu mereka. Aku kenal sekali sama kamu Ney, ingat kamu juga mengganggu teman-teman aku, teman kamu sendiri. Apa hasilnya? Tanpa kamu mereka baik-baik saja kok," kata Arnila.


"Masalah sudah mau selesai nah lu mulai buat lagi yang baru. Heran," kata Rita.


"Seharusnya ya Ney kalau aku nih dikasih kepercayaan sebagai orang ketiga, harusnya kamu bertugas menjadi penengah. Bukan bela Alex terus lalu hina dia didepan Rita. Tugas kamu sebagai teman tuh aku lihat untuk membuat dia jatuh deh," kata Arnila.


Ney kemudian diam dia memainkan kukunya sendiri. Tidak ada kesedihan tidak ada rasa penyesalan. Dia memeriksa kukunya tanpa ada rasa apapun setelah ketahuan kalau memang itulah yang terjadi.


"Tidak akan didengar Arn, memang niatnya jahat dia. Bantu tapi ingin dipuji itu kan sudah jelek juga. Sekarang awal dia mendukung ehh sudahnya malah buat aku jatuh. Ada yang salah sama otaknya itu," kata Rita.


"Ya jangan begitu juga Rita. Meski aku juga aneh sih," kata Arnila. Dia membaca ulang beberapa chat dari tahun lalu.


"Dari yang memberitahu Alex itu bagaimana, baiknya bagaimana. Sadar tidak sih, Arnila 3 bulan kemudian pikirannya jadi negatif semua? Terus berubah lagi, aku tuh pusing sama kamu. Intinya sudahlah tidak perlu lagi susah-susah bantu aku. Kamu itu makannya cuma Kepo," kata Rita.


Ney masih diam dia benar-benar tidak peduli soal apa yang pernah dia lakukan. Dia masih memiliki banyak artikel mengenai keluarga Alex dan berusaha memasukkan nama akun keluarga terdekat Alex namun semuanya menolak.


Kesal iya, sebagian ada yang bertanya, "What you want become my Friend? You only dream ( Apa yang kamu mau menjadi teman saya? Kamu hanya bermimpi )," dan penolakan lainnya. Sampai masuk ke daftar penghapusan mereka.

__ADS_1


Akhirnya Ney berhenti dan tiba-tiba semua foto dan artikel yang hendak dia simpan tak bisa terbuka. Dia kebingungan ada seseorang yang berhasil melacak nomornya dan menutup semua artikel yang tersimpan.


Bersambung ...


__ADS_2