ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(189)


__ADS_3

Rita pura - pura tidak melihatnya padahal nampak jelas Ney seperti menghapus jejak tangan Rita. Dalam hati, tampak ada serpihan yang berjatuhan namun Rita menyembunyikannya. Lalu Ney pakai jam itu di tangan kirinya dan memamerkannya dengan bangga. Lalu ibunya datang dan melihat tingkah anaknya.


"Kamu jangan pamer begitu dong," kata ibunya.


Ney lalu menurunkan tangannya dan kesal mendengar ibunya.


"Tidak apa - apa, tante sudah biasa. Jamnya bagus," kata Rita tersenyum.


"Nih anak maksa banget buat dibeliin jam tangan, Ri. Beli tapi lihat saja baru beli kulitnya sudah mengelupas begitu. Kamu apain sih? Baru juga beli. Murah lho, dia belinya di..." sebelum selesai, Ney lalu menutup mulut ibunya.


Rita termenung menatap Ney dengan aneh. "Kenapa sih? Beli di toko kan tante,"


Ibunya terkejut dan menatap Ney dengan pandangan aneh. Lalu memukul paha Ney dan tampak dari wajahnya mempertanyakan. Ney menjawabnya dengan pelototan mata yang membuat mamanya mencubit bahunya.


"Itu belinya memang di toko tapi lewat..." lagi Ney memelototi ibunya. Ibunya tentu saja kembali heran melihat tingkah anaknya dan menggelengkan kepala.


"Tante ke dapur dulu ya, mau ambil keripik kentang. Kamu kan suka kentang ya. Sebentar ya," kata ibunya sambil terus menatap Ney dengan tatapan yang marah.


Ney tidak peduli. Lalu melanjutkan dengan memperkenalkan seseorang pada ponselnya. "Eh, aku punya pacar baru! Nih orangnya, ganteng kan?"


Yups! Itulah pertama kalinya Rita diperkenalkan Dins, meski hanya lihat dari fotonya. Dins memakai kemeja rapih membawa tas besar di belakang punggungnya. Kulitnya hitam tapi memang manis sih hanya bukan tipe Rita dan sebenarnya Rita tidak suka, terlihat agak playboy dan seperti hmmm... otak mesum? Seperti itulah.


"Orang mana lagi nih? Kamu kapan sih bisa berhenti setia sama satu orang? Perasaan eh bukan perasaan saja sih, setiap 3 hari kamu selalu berganti gandengan. Sekali - kali sampai tahunan gitu hubungannya. Awet," kata Rita yang sudah bosan juga mendengarnya.


"Habis bagaimana? Kadang ada juga kan pacar aku yang ternyata pas jadi eh kuper banget, ya aku gantilah. Ada juga yang jaim banget," katanya.


"Ganti - ganti pacar sudah seperti ganti baju. Tapi kalau baju sih sudah pasti diganti setiap hari. Kamu juga kebiasaan ponsel setiap 3 hari pasti berubah lagi. Itu bisa jadi masuk tipe kalau kamu tidak setia orangnya lho," kata Rita yang memperhatikan Ney.


"Biarin saja memang bosan kok. Kamu juga kok bisa sih pakai barang itu - itu saja? Tidak ada keinginan buat ganti yang lain?" Tanya Ney melihat jam tangan berwarna emas kepunyaan Rita.


"Belum rusaklah, lagi pula kalau rusak juga ini masih bisa diperbaiki. Tidak ada yang mengelupas juga kan, tidak seperti kamu. Itu baru beli kulitnya sudah mengelupas, kamu pakai apa sih? Kok barang yang kamu punya selalu saja rusak? Kamu tidak apik ya orangnya," kata Ney yang menunjukan ke kulit jam tangan Ney.


Ney buru - buru melihatnya dan memang iya mengelupas. Dia kesal banget dan memandangi jam tangannya Rita. Masih kalah dibandingkan punya Rita, meskipun begitu Rita tidak pernah memamerkan jam tangan itu hanya saja Ney yang pertama melihatnya langsung merasa panas. Masih teringat jelas saat mereka berjanji bertemu bertiga, pertama kalinya Rita memakai jam tangan berwarna emas. Dan dari bulan ke bulan, warnanya sama sekali tidak pernah pudar. Rita memang sangat apik bila memiliki barang, dia akan menyimpannya di kotak perhiasan meski terbuat dari kardus sepatu atau kotak cincin.


"Rita, sekarang kamu pakai jam tangan?" Tanya Arnila waktu itu. Yang langsung mengangkat tangannya Rita.


"Hehehe iya kata ibu sudah saatnya memakai jam jangan sampai polos tangannya. Sekalian belajar baca jam juga," kata Rita yang tersenyum malu.


"Kamu tidak bisa baca jam? Terus sekarang bisa?" Tanya Arnila yang tertawa keras.

__ADS_1


"Aku kan bingung bacanya cuma bisa baca yang ada 30 belakangnya terus yang pas jamnya," jelas Rita dengan wajah yang memerah.


"Oh benar juga sih. Sini sekalian aku tes," kata Arnila. Rita menolak karena pasti di ujinya susah dan Arnila memaksa. Saat mereka tengah meributkan soal uji jam, Ney memandangi Rita dengan rasa cemburu dan iri yang tinggi.


Dia menatap jam tangan Rita yang memang berbahan emas tapi Rita sendiri yakin itu emas KW alias palsu hahaha mana ada ibunya mau memberikan jam tangan asli bahan emas. Sebelum diberikan sudah habis dijual 😂😂😂. Semenjak itu juga Ney jadi sering memamerkan barang yang sama sekali Rita tidak pedulikan. Berharap Rita akan menjadi lebih iri kepadanya tapi sama sekali tidak pernah tampak akan irinya. Jadi memang Ney sangat sering berusaha membuat Rita iri kepadanya tapi selalu berbalik mengecewakan. Nah disinilah anehnya, harusnya bila Ney tahu kalau memang Rita tidak peka atau lemot, harusnya dipertanyakan tapi sama sekali tidak.


"Duh, kok gue kepanasan ya?" Tanya Ney sengaja dengan suara keras dan mengibaskan tangannya.


Arnila dan Rita memandangi Ney dengan keheranan.


"Kamu tidak bawa kipas?" Tanya Arnila. Dia bawa lalu menyerahkan kepada Ney yang bengong mendengarnya.


"Hari ini tidak terlalu panas kok, Ney. Malah sejuk. Kamu sakit kali," kata Rita yang memandang ke atas langit. Rita mengangkat tangan kanannya ke arah langit dan terlihatlah jamnya yang berkilauan terkena sinar matahari.


Ney terdiam sesaat melihat Rita yang memandangi langit. "Bukan panas karena matahari maksudku,"


"Terus panas kenapa?" Tanya Arnila. Rita juga menatap Ney dengan bingung.


"Adoooh masa kalian berdua sama sekali tidak sadar sih? Masa harus aku jelaskan?" Tanya Ney yang menepuk dahinya.


"Panas mana sih? Masuk mall saja yuk biar tidak terasa panas," ajak Rita yang masih bingung dengan perkataan Ney.


"Maksudnya kamu cemburu jam yang dipakai sama Rita? Menurutku dia sama sekali tidak ada niat pamer," kata Arnila kemudian.


"Ya menurut aku sih begitu tadi juga dia kan ngangkat tangannya pasti supaya terkena sinar jadinya memantul," kata Ney sambil memandangi ketus ke arah Rita yang masih sibuk dengan produk susu.


"Jangan suudzon! Rita begitu kan dia cek suhu udara, menurut dia kamu kepanasan karena matahari. Jadi maksud jelek kamu ya tidak sampai ke dia. Sudah deh! Rita orangnya sama sekali bukan tipe tukang pamer. Coba deh kamu belajar berpikiran positif. Kamu rugi banget kalau apa - apa berpikir Rita punya niat negatif. Aku serius!" Kata Arnila menekankan nadanya.


Tapi tetap saja pandangan yang dilihat Ney, berbeda dengan pandangan kebanyakan orang. Dia selalu always berpikiran jahat dan buruk hanya pada Rita saja yang ternyata dia juga melakukan itu ke banyak orang. Termasuk Arnila.


Dia hanya terus berusaha tampil lebih tinggi dari Rita. Harusnya dia seperti waktu kini, komentar keberatan tapi selama Rita belum mengenal Alex semuanya baik - baik saja. Apakah masalahnya ada pada Alex? Tapi bukan menurut Rita akhir - akhir ini, Ney berubah memperlihatkan warnanya yang terdalam saat Alex tampil ke atas panggung dan berdiri di antara mereka berdua.


Mulailah Ney yang semakin panas. Semakin panas melihat Rita dan Alex yang semakin dekat, apalagi Rita tidak keberatan dengan masa lalu kelam Alex dan membuat Alex nyaman dengannya. Dia sangat iri sampai berani mengirimkan tenung meski niatnya hanya usil. Lalu kita kembali pada ceritanya mengenai Dins.


"Jam kamu sama sekali tidak terlihat memudar ya warnanya," kata Ney memegang tangan Rita.


"Ini? Iya juga ya. Aku tidak pernah memperhatikannya sih padahal ini barang KW hahaha," kata Rita dengan santai.


"Hah? Serius? Kamu kok mau sih dikasih barang KW?" Tanya Ney dia sama sekali tidak tahu kalau jam yang Rita pakai dari masa D2 ternyata KW.

__ADS_1


"Hahaha aku sih diberi yang asli atau palsu ya tidak masalah. Kalau dikasih ya diterima terus dijaga baik - baik, yang asli ada kok. Cincin emas tapi jarang dipakai kalau ada acara saja," kata Rita.


"Cincin asli emas? Kok jarang dipakai? Iya juga ya kanu memang jarang pakai perhiasan. Tidak suka?" Tanya Ney yang masih agak curiga atau bagaimana wajahnya. Dia agak menurun sikap sombong dan pamernya.


"Ah, buat apa dipakai juga? Malah malu selalu dikira cincin tunangan atau nikah. Badanku tinggi sih, banyak yang salah paham. Ya sudah aku pakai kalau ada undangan, malah benar saja dikiranya sudah punya tunangan. Hadoh!"


Ney tertawa biasa mendengarnya. Dia seperti yang.. 'Selama ini aku salah,' seperti itu wajahnya. Rita melihatnya juga.


"Jadi, kamu jangan selalu berpikir berlebihan soal aku karena aku lebih suka yang biasa saja. Kamu sejak kita kenal sampai sekarang kok aku menangkapnya kamu selalu menyangka aku punya niat tidak baik ya? Apa hanya perasaan aku saja gitu?" Tanya Rita akhirnya.


Ney terdiam. "Yaaa... menurut aku begitu sih," jawabnya sambil memainkan jamnya.


"Ya salahlah! Pantas saja. Aku tuh ya mau ke siapapun, buat apa punya niat pamer? Kalau aku ada sifat begitu mungkin dari dulu juga aku banyak pamer. Tapi kan tidak, aku buat apa pamer barang KW meski asli juga. Tidak ada manfaatnya malah yang ada mengurangi pahala tahu! Terus soal Dins kamu bertemu dia bagaimana sih? Cerita!" Pinta Rita sambil menggoyangkan Ney.


Ney saat itu tersenyum setelah mendengar apa yang dibilang Rita. Hanya sebentar Ney bertingkah pure jujur dan terbuka tapi nanti beberapa saat dia akan menjadi orang yang 'Jahat' lagi. Tadinya... tadinya Rita berharap begitu, selalu berharap kalau Ney hanya karena mood swingnya saja selalu berperilaku aneh. Tapi...


"Aku bertemu dengan Dins itu pas aku main ke ITB yah buat cari gebetan baru. Kamu kan tahu aku ini impiannya sama anak ITB nah ternyata Dins sering lihat aku tuh main ke ITB terus dia datang ke gue, ngajak kenalan. Akhirnya dia minta nomor telepon kan ya sudah aku kasih tuh, chat biasa terus janjian," kata Ney.


"Widih akhirnyaaa dapat juga anak ITB. Itu Minto kan katanya dari ITB juga?" Tanya Rita.


"Iya dari ITB ternyata bukan ITB Universitas si tukang ngibul dia tuh. Kamu tahu tidak sih waktu aku nanya angkatan berapa dia bilang apa? Dia jawab, 'Lu ga tahu ITB singkatan apa? Ikatan Tukang Bajigur!' Sarap memang. Aku ketipu!" Kata Ney dengan sangat kesal.


Rita langsung tertawa keras sampai sakit perut. Masalahnya memang terlalu ketinggian sih cita - citanya sampai bisa ketipu. "Hahahaha tapi akhirnya dapat juga yang benar anak ITB. Syukuran dong,"


"Ya Alhamdulillah sih perjuangan banget mendapatkannya juga. Bagaimana menurut kamu? Dia itu pintar banget! Dia bilang mau bantu aku buat skripsi nanti,"


"Yakin bantuin? Minto tukang ngibul juga kan katanya begitu tapi nyatanya malah ajakkin kamu main mulu kan. Sampai akhirnya kamu dapat peringatan terus tinggal kelas setahun," kata Rita.


"Iya juga sih. Tapi tidak kok, nih ya dia kasih aku beberapa judul skripsi. Nah nanti sumber bukunya dia mau cari juga,"


Rita melihat beberapa judul skripsi yang Ney perlihatkan tapi kemudian dia masukkan kembali.


"Aku tidak akan menjiplak lah, orang jurusan kamu sama aku kan beda. Takut amat sih. Aku mah bukan Plagiatlah," kata Rita yang sedikit menyindir Ney.


Ney mendengarnya dan agak cemberut. "Iya ya beda jurusan. Terus kamu sendiri sudah dapat judul?" Tanya Ney yang duduk lagi.


"Hah? Judul? Udah lewat kali, aku lagi menyusun bab 2 hehehe," kata Rita. Lalu tercium lah bau kentang goreng yang enak.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2