
"Ya ya aku pikir..." kata Ney yang berusaha mengeluarkan pendapatnya. Ada nada dari suaranya yang bergetar.
"Sudahlah jangan pakai alasan lagi, aku juga sudah cukup sabar ya selama ini bertahun - tahun menghadapi kamu. Sekarang niat kamu tercapai aku malu banget dengan kelakuan kamu. Dan ternyata benar apa kata teman - teman di SMP kamu itu bukan orang yang pantas dijadikan teman, hanya yah teman senang - senang saja yang tidak ada level Pertemanan. Air mata itu suci kamu jangan mempermainkan air mata sesukanya hanya sebagai senjata karena kamu merasa terdzolimi. Air mata dikeluarkan karena bentuk sedih, penuh ikhlas, rasa kecewa seperti aku yang harus menangisi kamu. Selama bertahun ya Allah aku kenal kamu, tega sekali kamu menjahati aku meski alasannya baik. Tapi kamu bukan orang yang bisa menerima kekurangan orang lain, Ney kamu itu tidak pernah butuh seorang teman dalam hidup kamu. Entah apa yang merasukimu." Kata Rita yang kemudian berjalan menjauhi Ney.
"Gue tidak salah!" Kata Ney bersikeras pada Rita. Wajahnya memerah memandang Rita dengan sengit tapi sekilas ada rasa penyesalan, kedua matanya berkaca - kaca.
Rita hanya mengangkat bahunya. "Terima sendirilah nanti karmanya," dia lalu berjalan ke arah Diana dan bergelantungan dengannya. Lalu menjemput Komariah, Ney berjalan ke depan dan kaget melihat beberapa temannya memasuki bioskop dan melihat - lihat. Sama seperti yang dilakukan oleh Rita hanya melihat - lihat lalu seperti menulisnya dalam catatan. Ney menghampiri mereka yang awalnya saat Rita mengajak masuk memang mereka menolak.
"Kok kalian ke sini??" Tanya Ney pada mereka semua.
"Memangnya kenapa? Sesuka kita lah," jawab Linda.
"Ya tidak apa - apa bukannya kalian menolak ajakan Rita masuk ke sini? Kenapa kalian malah ikut masuk juga?" Tanya Ney yang heran.
"Ya kenapa sih kok sampai bertanya begitu? Memangnya aneh?" Tanya Annisa kepada Ney. Menurutnya Ney memang orang yang aneh hal sepele ditanyakan seperti anak kecil yang memang tidak tahu apapun.
"Kamu sepertinya memang jarang diajak kemana - mana ya? Kalau bertanya itu isinya serius aneh!" Kata Tamada yang mendengarkan.
"Memang hanya melihat iklan film itu membuang waktu lalu salah kalau kita tadi lihat - lihat lalu masuk ke sini? Kamu tuh aneh banget sih orangnya aku tidak nyaman banget deh dekat sama kamu," Kata Annisa memandangi Ney dan menjauhinya.
"Memangnya salah aku nanya?" Tanya Ney yang bengong.
"Ya tidak salah tapi memang kamu aneh banget. Tidak suka bukan berarti benci, Annisa memang kurang suka masuk bioskop tapi dia juga tidak membenci kalau hanya sekilas melihat masuk ke dalam bioskop. Kamu kenapa sih? Plin plan banget ya orangnya," kata Siti yang memperhatikan Ney.
"Bukan urusan kamu deh aku seperti apa orangnya," kata Ney dengan suara yang tidak mau kalah. Siti lalu memilih untuk menghindar daripada melawannya.
"Kamu itu bisa tidak sih jaga lisan kamu? Orang mereka bicara baik - baik tapi kamu kok seperti yang mencari musuh sih? Kamu nanya kita jawab baik tapi kamu balas seperti menghina," Kata Tamada.
"Tama, sudah yuk biarkan saja dia itu memang tidak butuh teman nampaknya yang dia butuh hanya sekumpulan musuh, lagian dia lebih suka memancing emosi ke kita. Jangan digubris!" Kata Annisa yang setengah berteriak kepadanya.
Mereka lalu menjauhi Ney yang mengumpat mendengarnya. Kesal sekali! Setelah itu tampak Siti dan Tamada yang merinding melihat kelakuannya yang mulai komat kamit entah bicara apa.
"Ih, tuh kan itu anak memang aneh. Kita harus hati - hati deh sekarang saja dia bicara sendiri," bisik Siti kepada mereka semua.
__ADS_1
"Rita tahu tidak ya kelakuan dia?" Tanya Linda pada teman - temannya.
"Kalau yang ini bisa jadi Rita tidak tahu. Mau direkam?" Tanya Siti yang sudah siap.
Mereka meragu melihatnya, direkam lalu diberitahukan pada Rita atau tidak. Kasihan juga sebenarnya melihat Ney tapi lebih kasihan lagi pada Rita. Mereka tahu Rita sudah lebih lama dengan anak aneh itu. Mereka saja yang baru kenal sudah tahu betapa tidak nyamannya dekat dengannya.
"Rita kan orangnya tidak peka, jadi kita harus memberitahukannya. Biar aku yang kirim nanti bukti ini ke dia," kata Siti yang sudah mulai merekam.
"Apa dia punya gangguan mental ya?" Tanya Annisa yang agak jijik melihatnya.
"Jangan begitu tapi iya dia itu bukan mencari teman tapi musuh. Soal Rita juga aku tidak lihat dia tulus mau berteman. Dia sengaja memancing emosi kita jadi kalau emosi, dia akan menganggap kita sama. Kita harus hati - hati deh," kata Linda lagi. Miris memang, Ney salah sasaran kalau dia mencari musuh.
Setelah itu mereka bertemu dengan Rita, Diana dan Komariah yang sedang mengobrol di lorong duduk di bawah. "Hei! Kalian malah enak duduk disini!"
"Hahaha lembut sih terus enak kena pantatnya. Kalian sudah selesai jalan - jalannya?" Tanya Rita melihat semuanya sudah komplit lagi.
"Iya ya memang enak disini tiduran juga sepertinya bisa. Masih sepi ini. Coba tadi kita kerjakan tugas disini saja ya," kata Tamada sambil selonjoran karena pegal.
"Sepertinya tidak boleh deh, disini bisa menunggu tapi harus sambil nonton film," kata Diana menunjuk ke pegawai bioskop yang berkeliling memeriksa ruang satu per satu.
"Kalian kenapa sih?" Tanya Rita mengamati kelakuan aneh mereka.
Mereka saling membenturkan tangan mereka ke yang lain. Akhirnya Siti pindah tempat duduk dan memberikan ponselnya pada Rita dengan sebuah video yang sudah dia rekam tadi. Komariah dan Diana pun keheranan dan mereka ikut melihat, ada apa sih?
"Ini kita lihat ada yang aneh sama kelakuan teman kamu. Jangan marah ya tapi lebih baik kamu jangan dekat dia lagi deh," kata Siti.
Rita menatap video itu begitu juga Diana dan Komariah. Dan mereka kaget banget dengan Ney yang bicara sendiri, marah sendiri, mengumpat sendiri dan itu yang melihat bukan hanya mereka. Sampai pegawai bioskop, satpam dan juga orang - orang melihat ke arahnya dan mereka tampak takut melihatnya. Lalu ada celotehan satpam yang tertangkap oleh alat perekamnya.
"Kasihan masih muda sudah depresi." Mereka semua tertawa menontonnya.
"Rita, sudahi deh soal hubungan kamu sama dia. Serius deh bukan orang yang baik," kata Annisa yang memang dia daei awal tidak menyukai Ney.
"Aneh tuh karena ini ternyata. Ya maaf ya kalau kita keterlaluan, tapi sepertinya ada yang salah dengan otaknya. Kamu pernah lihat dia seperti ini?" Tanya Linda berhati - hati.
__ADS_1
Rita menggelengkan kepalanya. "Tadi juga kita sempat adu argumentasi. Waktu aku jauh sama Diana dan Komariah. Dia banyak nanya terus soal kenapa aku lebih mengenal Diana dan Komariah dibanding dia padahal waktu aku sama dia lebih lama daripada aku dengan kalian. Aku bilang bukan masalah waktu tapi apa kamu bisa membuat orang lain nyaman,"
"Oalaaaah dia sampai bertanya soal itu? Kok aneh ya sepertinya dia kurang paham dengan ilmu pertemanan deh. Selama ini dia berteman bagaimana sih?" Tanya Tamada pada Rita.
"Aku juga tidak tahu. Waktu SMP juga semuanya tidak menyukai dia, aku juga tidak tahu alasannya. Selain ya kalian tahulah dan lihat sendiri masalah kulitnya," kata Rita.
Mereka semua duduk berformasi lingkaran mereka sedang mendiskusikan perihal Ney. Untungnya Ney saat itu sedang berjalan sendirian, dia butuh kesendirian.
"Curiganya sudah lama dia seperti itu tapi mungkin ya orang tuanya kurang yang mendukung atau kurang peduli. Kita kan belajar psikologi karakter anak didik kan. Nah kalau soal Ney menurut Rita bagaimana?" Tanya Diana. Karena memang hanya Rita yang tahu soal Ney.
"Sebenarnya aku tuh sudah cari tahu soal itu. Sampai bertanya langsung ke ibunya, tapi soal yang video ini, aku baru banget lihat. Nanti kalau ada waktu yang pas aku mau bertanya lagi, resikonya harus datang ke rumahnya lagi deh," kata Rita dia malas banget kalau harus datang kesana.
"Janjian sama ibunya tidak bisa?" Tanya Komariah.
"Entah kenapa dia selalu tahu kalau aku punya urusan sama ibunya. Aneh kan," kata Rita.
"Oh! Sepertinya kalau kata aku ya, dia bisa baca niat kamu deh, Ri. Harus tiba - tiba Rita kalau kamu punya rencana. Selama ini bagaimana?" Tanya Tamada.
"Iya jadinya tepat seperti yang kamu bilang, Tam memang selalu tiba - tiba. Setelah ini, kalau dia bicara soal apapun lagi mau soal aku atau dia memancing emosi lebih baik didiamkan saja. Atau kalian jangan ladeni deh!" Kata Rita, mereka semua setuju dan tampak sudah capek juga sih.
"Kamu pasti sudah tahu kan niat dia ke kamu bagaimana?" Tanya Linda.
"Iya sudah tahu dengan bukti dia bicara ke kalian soal aku yang jelek - jeleknya. Jadi malu banget! Untung hanya satu," kata Rita menutup mukanya.
"Ada kan satu lagi tuh si Ratih tapi dia tidak separah yang ini sih," kata Komariah.
"Oh iya ya. Kalau Ratih sih bukan hanya ke Rita saja. Ke Komariah, Diana, Linda, hampir semua orang dia seperti itu tapi memang pernah juga kan kamu kena fitnah dia. Disebut SMS kasar padahal ponsel kamu sedang di cas, dan kita lihat sendiri saat itu ponsel kamu juga mati," kata Diana menjelaskan.
"Ratih itu lebih cemburu sama fisik kita. Yaaa menurut aku sih 11 12 dengan Ney hanya kalau Ney lebih parah. Aneh banget kenapa sih mereka berdua sampai harus iri segala sama aku? Sampai fitnah juga," kata Rita yang menghela nafas.
"Yah kalau Ratih sih sudah bisa ditebak tapi kalau Ney dia memang bukan mencari teman. Dia senang punya musuh, saingan untuk dia bisa memamerkan barang. Begitu sih yang aku lihat dan memang senang memancing emosi orang, yang seperti itu Rita aslinya bukan orang yang baik," Kata Siti juga.
"Kirim ya ke WA japri ke aku, buat bukti," kata Rita. Siti lalu memberikannya pada Rita. Setelah itu mereka jalan - jalan lagi dan Komariah tertarik dengan makanan yang ada di stand sana.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...