ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(151)


__ADS_3

"Kamu tahu roda?" Tanya Rita. Arnila mengangguk. Ney masih dengan posisinya yang menundukkan kepala tapi Rita yakin dia mendengarkan.


"Roda itu bulat. Apa ada ujungnya? Tidak ada kan. Karena bulat, hidup kita juga begitu. Hidup dan tingkatan juga pasti berputar," kata Rita yang membulat bulatan dengan menggunakan jari telunjuk dan jempolnya.


"Jadi kamu tidak balas apapun?" Tanya Ney mengangkat kepalanya. Wajahnya agak ada menantang pada Rita.


"Buat apa? Biarkan saja wajarlah mereka punya uang banyak ya silakan saja mau beli apapun tapi ingat! Hidup itu berputar layaknya roda hari ini mereka kaya banyak uang, 4 tahun lalu 5 tahun bahkan 10 tahun bagaimana? Apakah mereka akan tetap masih kaya banyak uang? Kalau hidupnya foya - foya, ya mana bisa bertahan. Tapi kalau saat banyak uang, kamu banyak sedekah, kasih makan pengemis, anak yatim piatu, pokoknya menghabiskan uang di jalan Allah SWT. In sha allah! Allah beri lebih banyak kekayaan lagi bisa di dunia bisa di Akhirat! Jadi tenang saja biar Allah SWT yang menangani mereka. Sabar itu hadiahnya Besar lho," kata Rita sambil tersenyum. Arnila langsung bertepuk tangan mendengarnya tidak dengan Ney.


"Baguuuusss!!! Iya sabar itu memang hadiahnya besar, Rita. Dengan banyak bersabar, kita bisa mendapatkan ketenangan pada tubuh kita sendiri. Biarkan saja semua orang menghina, mengejek kita tidak sendiri ya," jawab Arnila dengan senang.


"Nikmati saja prosesnya dihina, dibully, di khianati, Allah SWT turun tangan habislah mereka semua. Aku hanya sedikit saja memperingati. Sabar juga membuat kita hidup damai ya, yang rusuh pamer barang sih hidupnya ya tidak jauh dari terus pamer sih," kata Rita mengusap - usapkan kedua tangannya.


"Iya aku juga sama Rita. Keluarga aku kan pernah jadi sukses banyak keluarga dan teman yang dekat tapi setelah ayahku bangkrut, bahkan ayahku minta tolong juga mereka menolak," kata Arnila.


"Oh ya? Iya memang kebanyakan begitu, Nil. Bukannya kamu masih punya teman yang selalu ada?" Tanya Rita yang memberi kode dengan bola matanya yang melirik sedikit ke arah Ney.


"Oh itu dia juga sama Rita. Menghilang saat aku jatuh dan tidak pernah ada. Kalaupun ada, kerjanya dia selalu menyindir aku ke teman - teman dia yang lain tahulah siapa. Sakit banget! Aku juga pernah kok sebulan ada tidak kontak sama dia terus dia datang bukannya minta maaf malah pamer barang. Stres memang orangnya! Tapi untung hanya satu yang tidak waras, Rita. Sama dengan kamu, aku masih punya beberapa teman yang sampai sekarang selalu setia," kata Arnila dengan jutek memberi kode ke arah Ney.


"Oh, selain grup kamu, masih ada yang lain ya. Siapa sih?" Tanya Ney penasaran banget tapi masalahnya dia tidak bisa menangkap apapun dari pikiran Arnila bahkan tidak bisa 'memasang' penyadap tidak kasat matanya.


"Buat apa kamu mau tahu segala? Mau buat masalah ya? Kamu hobby banget ya bikin orang yang dekat sama kamu tidak punya teman. Egois tahu tidak kamu itu. Kamu sepertinya iri ya orangnya seperti kamu tidak suka kalau aku atau Rita punya teman lain dan kamu sengaja menghancurkan mereka, agar kita lebih milih jadi teman kamu. Seputus asakah kita kalau tidak punya teman? Kamu salah memilih lawan,"


Wuuuh seraaam.. Arnila akhirnya berbicara panjang lebar membuat Ney terkejut. Dan sama yang Rita rasakan juga kalau selama ini teman - temannya hampir dia hancurkan hanya agar Rita memilih berteman dengannya. Tapi sayang karena kekurangan Ney membuatnya malah menyerang dirinya sendiri.


"Tidak baik begitu. Kamu punya teman seperti Feb apa pernah kita berusaha menghancurkan? Bedakan kalau kamu memang sudah dewasa mana teman yang baik untuk hidup kamu atau yang buruk untuk menghina kamu. Kalau kamu memang ingin punya teman untuk menemani, maka jadilah teman yang Real bukan Fake," sambung Rita.


"Aku lanjut ya dari situ aku melihat dan sadar beberapa orang yang tulus hatinya masih membantu aku sampai sekarang ternyata dari kalangan yang tidak terduga. Aku rahasiakan ya sama seperti kamu, Rita menghindari dia dari hal yang membahayakan. Teman dari kampus juga ada yang selalu memberi support sampai keluarga aku bangkit lagi," Rita mendengarkan dengan penuh antusias. Rita memang senang mendengarkan cerita bisa dari novel, komik atau radio bahkan inilah yang membuat teman - temannya nyaman dengan Rita. Karena siapapun mereka, Rita tidak keberatan asalkan... disediakan makanan hehehe.

__ADS_1


Ney tidak menduga apa yang dikatakan ibunya memang benar kalau Rita dan Arnila memiliki banyak teman yang dia sendiri tidak ketahui. Waktu terus berjalan, takdir Ney nantinya akan kesendiriannya mulai terungkap kalau Ney tidak bergegas menyadarinya semua akan terlambat. Itulah harapan ibunya. Ney menekan - nekan jarinya sendiri dengan gelisah entah apa yang dipikirkan.


"Lebih baik dirahasiakan daripada dihancurkan lagi oleh seseorang yang aneh!" Kata Rita yang memberi kode.


"Bukan hanya satu atau dua, Ney tapi banyak. Meski teman - temanku yang dulu kamu hancurkan pertalian mereka dengan aku tapi yang ini kamu tidak akan bisa. Aku tidak akan mengatakan siapa mereka seperti apapun kondisi kamu karena aku sudah tahu banget kamu selalu membuat masalah dan bagiku mereka sangat berharga," kata Arnila membulatkan tekadnya membuat Ney menatap tajam pada Arnila.


Rita bisa menangkap tatapan Ney yang lumayan mengerikan tapi tidak seseram Sadako sih. Tajam karena kesal Arnila mulai bisa melawannya karena selama ini Arnila selalu menurut pada kata - katanya tapi semenjak kenal Rita, entah kenapa Arnila seperti mulai berdiri sendiri.


"Kok disini seperti aku yang tidak punya teman ya?"


Tanya Ney sambil memainkan kukunya yang panjang dan tampak kotor.


"Memang iya kan," balas Rita yang menguap karena mengantuk. Ney membalasnya dengan tatapan tajam juga tapi Rita tidak memperdulikannya dan menguap lebih lebar.


"Siapa juga yang mau dekat sama kamu? Sama kita berdua saja kamu seperti ini apalagi dengan orang lain. Bicara saja kamu tidak mau mengalah, bicara dengan kita adalah latihan sosialisasi. Sekarang kamu sadar kan siapa sebenarnya yang butuh backup?" Tanya Arnila melipatkan kedua tangannya.


"Suatu saat nanti kamu akan dapat teman yang sama dengan kamu, dan ada kemungkinan aku dan Arnila tidak ada diantara pilihan kamu. Soalnya aku melihat kamu akan melupakan kita berdua," kata Rita tiba - tiba. Sebenarnya terselip kan doa juga sih yang ingin Ney pergi sejauhnya dari Rita ataupun Arnila.


"Hah? Kamu dapat kilatan?" Tanya mereka berdua bersamaan.


Rita juga tampak aneh menurutnya pas sekali pada saat Ney mulai kesal dan menantang pada Arnila dengan tatapan gelapnya. Seakan - akan seperti kerasukan. Tiba - tiba Rita melihat sosok yang dikenalnya yaitu Ney yang berdiri di depan rumahnya bersama kelima teman grupnya dan mereka tertawa bersama meskipun Palsu. Tampak Ney dengan tawanya yang keras dan tampak puas dengan cincin yang dia kenakan.


"Tiba - tiba saja. Intinya lebih baik berkata jujur daripada berbohong dalam segala hal. Kamu jujur sama Alex kalau bicara apa yang kamu tidak tahu, kamu bilang tidak tahu jangan sok tahu. Kamu bilang pasti ke Alex kalau aku egois banget. Ngaku!" Kata Rita yang merapatkan jarinya menjadi seperti senjata.


"Memang iya kamu egois. Kenapa?" Tanya Ney yang menantang Rita kali ini.


"Kapan Rita egois?" Tanya Arnila yang sudah tidak sabar. Ney terdiam karena tidak bisa menjawab.

__ADS_1


"Aku egois? Lu sendiri yang bully aku harus berubah jadi yang lu mau sama Alex, apa? Kamu yang ingin aku selalu menuruti perkataan kamu, siapa yang egois? Sekalinya aku melawan, kamu bilang egois? Sarap!" Hardik Rita tiba - tiba.


Arnila tidak menengahi mereka lagi karena Ney sangat keterlaluan. Egois mana? Alex juga sama berkata kalau Rita egois. Itu membuatnya sedih karena Alex tidak kalah egois. Alex lebih banyak menuntut dan juga dia bodoh, yah...


"Lebih baik kamu mulai belajar berkata jujur deh karena aku sudah mulai merasa cukup kesabaran aku ke kamu," Arnila memperingati Ney yang tampaknya tidak takut dengan saran keduanya. Dan dia mulai mengalihkan topik dengan penasaran kilatan apa yang Rita lihat. Karena tidak seperti Ney, kilatan Rita tampaknya memiliki suara dan Rita dapat mendengarnya.


"Kamu lihat kilatan apa sih?" Tanya Ney yang tidak memperdulikan Arnila.


"Ada deh. Berbeda dengan yang kamu lakukan, aku cuma akan berpesan kalau kamu seperti ini terus, egois segalanya dengan keinginan semua orang harus selalu memuji dan lebih peduli sama kamu, kamu akan ditinggalkan dengan yang Real," jawab Rita yang enggan menceritakan apa yang dia lihat.


Ney tidak mengerti menurutnya Rita terlalu berbelit - belit namun Arnila mengerti karena dia sepertinya melihat apa yang dilihat Rita. Tapi pastinya kilatan yang berbeda mungkin sambungannya.


"Kalau Ney berubah dari sekarang perlahan apa akan bisa berubah?" Tanya Arnila. Ney menatapnya dengan wajah yang bukan tajam tapi lebih mengiba. Rita muak melihatnya, dia selalu begitu kalau sudah menyerang tapi saat diperkiraan hal jelek terjadi pada hidupnya langsung berubah mengiba.


"Bisa saja. Kilatan atau penerawangan itu bisa kita ubah atau memang harus terjadi begitu. Tapi selama kita berusaha mungkin bisa jadi pertimbangan untuk Allah seberapa seriusnya niat kita. Tapi yang aku lihat soal kamu, semoga salah ya. Aku tidak memaksa sampai kamu ubah semua karena karakter itu urusan Allah SWT tapi maksudku itu ubahlah kebiasaan jelek kamu yang tidak mau mendengar saran baik, berhenti suudzon lebih banyak ke husnudzon. Yah semoga nanti kalau kamu sudah menikah, kamu bisa mengubah sudut pandang kamu. Kalau aku sih biarlah aku menjadi pembelajaran kamu, begitu juga aku," kata Rita yang sudah lemas karena agak lapar.


"Ada yang lainnya?" Tanya Arnila.


"Nanti belum waktunya," kata Rita mengedipkan salah satu matanya.


"Saat itu mungkin aku tidak ada ya?" Tanya Arnila. Rita berpikir memang tidak ada Arnila sih.


"Bisa jadi," jawab Rita kecil.


"Memangnya kita kenapa sih?" Tanya Ney. Tapi Rita dan Arnila tidak menjawab karena mereka berdua tidak mendapati diri mereka ada dalam kilatannya. Dalam kilatan Arnila, dia melihat Rita berjalan jauh dan Ney juga berjalan jauh. Yang melihat mereka itu adalah Arnila yang ternyata berjalan jauh juga. Jadi intinya mereka bertiga tidak tertulis takdir bisa bersama mungkin begitu ya. Tapi Arnila melihat juga dia berhadapan dengan Rita yang dengan wajah sedih dan tampaknya mereka membicarakan sesuatu.


BERDAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2