ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(135)


__ADS_3

"Sure. Benar - benar sama dengan yang kamu buat ya pokoknya jangan menu yang berbeda. Tenang saja kami buat makanan yang cair pun pasti bisa lewat penjagaan petugas pesawat kok🀣🀣🀣," kata Alex membuat Rita keheranan. Kok bisa begitu?


"Oh ya? Apa iya?" Tanya Rita.


"Iya. Serius!" πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Jawab Alex sambil tertawa.


"Jangan - jangan itu pesawat pribadi ya?" Tanya Rita yang mungkin saja kalau yang zat cair saja bisa lewat ya kemungkinan besar begitu.


"πŸ˜‘πŸ˜‘ Damn!" Alex sadar kalau kata - katanya justru yang membuat dirinya terekspos sedikit demi sedikit.


"Curang ya," Rita manyun dipikirnya sangat tidak adil tapi sepertinya enak banget ya.


"Biarin! πŸ€ͺπŸ€ͺπŸ€ͺ"


Dasar curang! 😒 ya sudahlah kalau begitu yang susah pun, Rita akan mencoba usahakan.


~Author baru tahu kalau bisa disertai dengan emoji. Jadi nanti akan ditambah emoji~


"Kamu sudah membuat janji dengan pamanmu?" Tanya Rita.


"Done! Hehehe dia bilang akan menunggu. Sekarang tinggal dari kamu saja,"


"Jangan lupa bayarannya ya," Rita mengingatkan. Anak bilion tak masalah kan keluar uang apalagi masak itu semua bukan memakai daun sebagai alat pembayarannya.


"Datang ke Malay nanti aku bayar lebih," kata Alex dengan menyebalkan. 😏😏😏


"Ya sudah tidak jadi," kata Rita sambil tertawa keras dalam kamarnya. Nih orang cuma cari enaknya saja dia tidak berpikir kalau untuk beli bahannya menggunakan uang dan itu uang tabungan Rita selama satu tahun. Kalau nanti bisa bertemu, akan ditagih double hahahaha!


"JANGAAAN! Kamu kok perhitungan sih?" Tanya Alex, dia inginnya Rita punya niat memberinya makanan secara cuma - cuma atau sebagai pencicip. Yang sebenarnya Alex sudah persiapkan sejumlah uang Ringgit untuk membayar tapi dia masih agak meragu. Karena sudah berulang kali terkena tipu hahaha.. "Anggap sajalah aku ini sebagai ahli cicip. Siapa tahu kalau enak, awak ( kamu ) bisa jual disini,"


"Masak double itu perlu bahan yang banyak tahu! Pokoknya kamu bayar!" Kata Rita dipikirnya mudah membelinya dengan rasa sedih mengeluarkan uang yang tak seberapa yah, ikhlas kok Rita hanya ingin tahu apa yang Alex pikirkan kalau memang dia harus bayar lagi.

__ADS_1


"Iya aku bayar! Aku sudah siapkan uangnya nih. Nanti aku titipkan pada pamanku!" Kata Alex yang memegang 5 lembar uang Ringgit, entah berapa tapi sepertinya banyak. Apakah dia benar - benar akan membuatkannya dan mengirimkannya untukku? Pikir Alex. Dia ingin sekali percaya pada Rita karena dia tahu kalau Rita bukan orang seperti kebanyakan perempuan yang selalu dia kenal. Dulu pernah seperti ini dan memang dia mengirimkan tapi ternyata, dia membelinya dari toko dengan harga yang dia buat sangat mahal.


Rita tertawa keras saat tahu kalau Alex sudah menyiapkan uangnya. "Wah, serius kamu siapkan. Aku bercanda kok, aku ikhlas membuatnya tapi syaratnya kamu benar - benar harus janji ya harus dihabiskan. Kamu bisa berbagi dengan keluarga kamu juga, mau enak atau tidak janji kamu akan tetap memakannya. Itu bayarannya,"


Alex membaca apa yang Rita ketik, lalu tersenyum. "Iya akan aku habiskan tenang saja. Aku orangnya bisa menerima apapun yang orang berikan. Kamu yakin aku tidak perlu mengganti bahan - bahan yang kamu beli? Itu kan pakai uang tabungan kamu kan?" Tanya Alex tapi dia sangat senang sekali. Rita memang benar akan memberinya makanan buatan dia. Dia sampai berdansa untungnya orang tuanya sedang keluar, hanya ada kamera penyadap yang menatap dirinya menari meski tidak memakai musik.


"Tidak perlu. Aku sangat tidak suka kalau ada orang yang tidak memakan hasil usaha kerasku. Hanya itu,πŸ˜€Tidak apa aku tunggu bayaran atas keikhlasanku dari Allah saja hehehe," jawab Rita membuat Alex tenang.


"Oh... aku kaget aku kira kamu sama seperti mereka sebelumnya. Pasti aku makan kalau dirasa tidak enak juga,"


"Tapi kebanyakan sih makanan yang aku buat pasti selalu enak! Kan ada resepnya," kata Rita yang sudah mendapatkan beberapa resep untuk dibuat nanti sebagai percobaan sekalian untuk dibawa pergi besok dan sebagian untuk dikirim pada Alex.


"Iya aku tahu buatan kamu semuanya selalu enak. Aku sudah melihatnya makanya aku kalau bisa juga ingin mencicipinya," kata Alex senang.


"Lagi - lagi kamu menggunakan Astral Projection lagi ya kamu koma nanti!" Rita khawatir bila Alex mulai menggunakan hal itu. Karena kemampuannya itu pastilah membutuhkan energi yang sangat banyak apalagi saat dia gunakan, dia juga membagi pikirannya menjadi 2 arah.


"Aku kuat kok. Don't worry. Aku akan kembali bekerja ya. See you next time." Alex menutup chatnya dan tersenyum Rita tidak tahu tentang sesuatu kenapa dia bisa begitu kuat bila melakukan Astral itu. Dia membuka telapak tangannya dan melihat sebongkah bulatan terang yang berputar pelan didalam tangannya. Dan itu adalah yang Alex ambil dan terima dari Rita meski Rita tidak sadar dan tidak bisa melihatnya, bulatan itu adalah kumpulan energinya.


Rasa suka dan perhatian Rita pada Alex membuatnya menerima banyak kiriman bola - bola energi yang sangat terang dan berwarna warni. Saat Alex menerimanya, dia sangat terkesan. Energi itu sangat penuh dengan kelembutan dan Alex menerimanya. Dia cepat pulih dari sakitnya pun karena sebagian energi Rita bisa menyembuhkan lukanya. Percaya tidak percaya, ini hanyalah sebuah Novel hehehe...


Wah Rita tidak menyangka kalau dia memang serius! "Baik, Pak." lalu menyimpan nomor pamannya itu dengan nama Uncle Alex. Kembali ke grup WA yang Rita lihat dari japriannya Arnila, menampilkan chat Arnila dan Ney yang membicarakan mengenai pengiriman makanan pada Alex. Rita merasa aneh kenapa segala sesuatu yang mereka bicarakan, Rita harus tahu juga? Dia tak tahu pun bukan masalah. Ada apa dengan Arnila?


"Rita yakin mau kirim ke sana?" Tanya Ney yang agak sangsi. Menurutnya pastilah lebih baik tidak usah.


"Kenapa memangnya? Kalau ada niat, bisa jadi iya. Kita sudah tahu Rita itu bagaimana agak mirip Alex kalau sudah nekat ya pasti bisa!" Jawab Arnila yang membuat Rita ketawa kecil.


"Ya menurut aku jangan deh. Dia itu orang dari keluarga kelas atas mana ada mau makan makanan orang biasa," tahu deh pasti begini kalau Ney ya. Mungkin dia pikir agak memalukan kalau memberikan Alex makanan orang rendahan.


"Ini Rita lho yang Alex sukai. Kenapa sih kamu? Iri ya? Alex bukan penasaran soal makanan yang kita buat ternyata hanya Rita saja. Sepertinya Alex benar - benar serius soal Rita ya,"


"Ih buat apa aku iri! Syukur deh Alex tidak menanyakan soal buatan aku! Cuma kasihan saja kalau dia nanti makan buatan Rita. Kalau tidak enak bisa sakit perut kalau sampai koma lagi bagaimana?" Tanya Ney yang keterlaluan memperkirakannya.

__ADS_1


"Astagfirullah! Ney kamu keterlaluan! Jangan berdoa yang negatif bisa tidak? Aku yakin makanan Rita halal dan enak. Kenapa Alex ingin mencoba masakan dia saja sepertinya sudah tahu kalau makanan buatan Rita sangat lezat. Resep yang dibuat sepenuh hati selalu enak, Ney. Aku juga mau nitip buat Alex," kata Arnila. Rita berpikir boleh juga supaya jangan isinya masakan Rita semua.


"Hei, buat apa kamu nitip segala, Arnila? Kamu kan bukan teman Alex atau teman Rita, kamu itu diluar kawasan mereka. Kamu bisa kenal Rita pun itu dari aku kan! Jangan kelewatan ya!"


Rita membacanya super kaget ohhh jadi ini... maksudnya. Kelewatan iya Rita setuju, bisa dibayangkan seperti apa responnya Arnila membacanya.


"Biarkan saja, Arnila. Toh dia baru sekarang anggap aku sebagai temannya. Sebelum aku kenal Alex saja aku dianggap angin. Jangan dipikirkan," Rita membalas chat ke Arnila. "Dia kan memang tidak punya hati kalau bicara juga semuanya keluar tanpa disaring dulu,"


"Eh iya, Rita. Aku juga tahu kok, aku cuma kamu lihat sendiri bagaimana kelakuan dia sama aku juga. Bukan hanya kamu saja yang dibegitukan, aku dan teman dia yang lain juga sama makanya dia selalu sendirian. Kok bisa ya dia sendiri tidak sadar?" Tanya Arnila.


"Kurang banyak sedekah sepertinya jadi dia tak punya hati. Sedekah kan bisa membuat orang punya empati," kata Rita.


"Iya juga ya. Tapi aku malas ah mengingatkannya tidak pernah didengar,"


"Aku juga. Biarkan saja, dia kan katanya sudah dewasa jadi biar dia sendiri yang sadar. Kita sudah berusaha sebisanya," lalu Rita kembali ke grup dan menimpali info yang dia dapatkan. "Kalau ada yang mau menitip makanan buatan sendiri boleh. Sekalian biar ada selingan jadi bukan buatan aku saja. Nanti aku mau buat paketnya, aku sudah janjian dengan pamannya yang akan berangkat ke Malaysia. Saat kita bertemu di piknik, sekalian kita buat paketnya dan bertemu dengan pamannya. Bagaimana?" Tanya Rita. Arnila tampak gembira membacanya dan menyiapkan tempat untuk buatannya. Ney pun panik "Besok?!"


"Oke, sekarang aku mau belanja untuk keperluan besok dan kiriman buat Alex. Oh iya cemilan buatannya jangan sama ya, jangan ada yang menjiplak karya orang maksudnya aku atau Arnila. Buat kreasi sendiri." Setelahnya Rita bersiap bersama Prita adiknya menuju pasar. Rita sudah mengambil uang tabungannya, dia juga sudah membuat daftar belanjaan.


Sebelum esok hari Rita pergi, dia akan mencoba mempraktekkan makanan yang akan dia buat. "Banyak sekali yang harus dibeli," kata Prita melihat daftarnya.


"Soalnya aku mau buat untuk dikirim ke seseorang juga tapi kamu jangan bilang - bilang ibu ya. Kamu tahu kan ibu seperti apa,"


"Oke. Tapi ada bayarannya sih," kata adiknya yang langsung kena getok tas belanjaan.


"Mau uang atau makanan?" Tanya Rita, untung dia sudah ambil uang lebih.


"Uang saja deh. Mau beli kosmetik hehehe,"


"Tapi nanti ya kalau kita selesai belanja. Berarti hasil masak aku nanti kamu tidak dapat bagian,"


Prita lalu terdiam, bengong mendengarnya. "Jahat!"

__ADS_1


Rita tertawa dan Prita tahu itu hanya bercanda. Kakaknya memang senang menggoda adiknya yang memang sangat susah diajak bercanda.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2