
"Saudara kamu memangnya punya kemampuan juga? Ya sama saja kalian semua itu hasil dari meditasi bukan keturunan!" Kata Ney yang terus memaksa kalau yang dia tahu itu benar.
"Aku tidak mau percaya dulu deh! Karena aku tidak percaya kalau kakekku seperti yang kamu bilang, karena tidak ada perasaan seperti itu. Aku akan tanya langsung ke saudara aku karena dia selalu melihat makhluk halus. Hampir semua cucu kakek punya indera ketujuh yang kuat termasuk anak - anak ibuku. Hanya kemampuannya berbeda," kata Rita menjelaskan. Sebenarnya dia agak risih membaca pernyataan yang memaksa dari Ney, dia sok tahu banget!
"Sudah tanyakan dulu saja, Rita," kata Arnila.
"Alex juga tahu kok," kemudian Ney dan Arnila penasaran apa yang dibilang oleh Alex. Tapi tentu saja kalau Ney langsung meninggi mungkin berpikir Alex juga berpikiran sama.
"Oh ya? Alex bilang apa? Pasti sama kan dengan aku," Kata Ney sangat yakin. Yaaa dia kan sangat menyukai Alex sepertinya karena statusnya ya yapi sayang ada yang cacat saja, langsung mundur. Tapi dia itu sebenarnya plin plan banget!
"Tidak kok, kata Alex justru bukan dari kakek ada yang lebih tinggi lagi dan itu juga lebih tinggi dari Alex, kalian berdua dan aku. Hanya yaa aku sendiri tidak tahu dari siapa, masih belum tahu," kata Rita memantapkan jawabannya. Kalau soal Alex, apapun itu bisa membuat Ney menunduk kalau aku sih pokoknya harus cari pembenarannya dulu.
"Berarti apa yang kamu lihat salah, Ney," kata Arnila.
"Tidak. Aku benar - benar melihatnya itu kakek kamu Rita,"
"Yakin banget. Kamu kan belum lihat penampakan kakekku seperti apa. Yakin itu bukan ayahnya kakekku?" Tanya Rita beberapa menit, Ney tidak menjawab entah mungkin dia baru sadar belum pernah melihat kakekku.
"Nah iya ya. Kamu kan harus lihat foto dulu makanya kamu bisa tahu Alex bagaimana karena lihat foto dia di Pacebuk kan," Ney sama sekali tidak menjawab. "Bagaimana kalau Rita menunjukkan foto kakeknya? Mungkin yang Ney lihat memang kakek kamu,"
"Nah iya, bisa dengan itu. Mana fotonya?" Tanya Ney seenaknya meminta.
"Tidak mau. Tebak saja kakekku seperti apa orangnya. Kalau kamu memang murni kemampuan indera ketujuh kamu tinggi, pasti langsung tahu seperti Alex. Sebutkan saja!" Tantang Rita.
"Kamu bisa kan, Ney?" Tanya Arnila dan dia juga tidak membalas. Ney bisa menerawang seperti apa orangnya tapi harus ada bukti fotonya. Yang seperti itu sih lemah banget.
"Saudara aku bisa tahu karakter orang tanpa foto lho," kata Rita.
"Serius?!" Kata Arnila kaget.
"Serius. Padahal aku cuma cerita sesuai yang dialami, dia langsung tahu orangnya seperti apa. Kamu bisa?" Tanya Rita yang membuat Ney lebih banyak terdiam. "Penerawangan kamu memang salah. Kenapa sih seperti harus banget kamu membuat aku percaya sama kamu?" Tanya Rita yang membuatnya sangat aneh pada kelakuan Ney.
"Kamu pasti merasa sombong kan dengan kemampuan kamu itu saat mengetahui bila aku dibawah kamu!" Kata Ney yang agak sebal, padahal dirinya yang sedari tadi meninggi.
__ADS_1
"Lah yang duluan sombong siapa? Memangnya dari tadi Rita menyombongkan diri? Rita hanya memberitahukan saja, ya kan?" Tanya Arnila.
"Iya. Ya harap maklumlah, Nil. Teman kamu kan memang begitu, kepanasan terus orangnya. Buat apa aku bertingkah sombong seperti itu yang ada juga aku inginnya dihilangkan saja kemampuan itu. Maaf ya, bagiku itu tidak berharga sama saja seperti menduakan Allah sendiri,"
"Dan bukan dari kakek, ya?"
"Bukan! Ada yang lebih tinggi lagi tapi kalau dari nenek aku tidak kepikiran sih. Makanya nanti deh aku tanya - tanya dengan saudaraku, dia kan baru diruqyah juga kemarin," kata Rita.
"Kamu perlu diruqyah?" Tanya Arnila.
"Sepertinya mau dicoba juga deh. Peruqyah kenalan kamu apa apa bisa dihubungi?"
"Bisa! Nanti aku kirim nomornya, ya! Mudah - mudahan cocok," kata Arnila senang.
"Berapa tarifnya?"
"Tidak tahu, nanti saja kamu tanyakan ke orangnya," kata Arnila.
"Buat apa? Aku baik - baik saja kok. Kamu yang lebih pantas diruqyah," tuding Ney.
"Justru orang yang katanya baik - baik saja nyatanya dalamnya kotor. Kamu kan setannya banyak kali ada tuyul yang suka mencuri uang seperti kejadian aku dulu," kata Rita yang tampaknya membuat Ney kaget begitu juga Arnila.
"Iya Ney, aku setuju. Sepertinya ada tuyul deh yang mengikuti kamu jadi semua orang yang kehilangan uang, ya dikira mereka kamu yang mencuri," kata Arnila.
"Meski kamu bilang bukan kamu pelakunya ya siapa tahu orang lain menyangkanya lain kan. Aku saja mengira kamu pelihara tuyul buat sengaja mengambil uang semua orang hang dekat sama kamu," kata Rita yang memancing Ney.
"Idih kok kalian begitu sih? Bukan aku!"
"Ya makanya dicoba sana ruqyahnya tidak perlu panik begitu kali. Kamu kan kalau bicara tanpa ada empati mungkin saja dari efek makhluk astral di sekitar kamu atau khodam juga. Khodam kan jin bukan malaikat tetap saja kafir,"
"Enak saja! Khodam aku sudah jadi Islam. Kamu kalau tidak tahu ilmunya jangan sok tahu!" Kata Ney menyemprot.
"Justru kamu yang tidak punya ilmu. Punya khodam masa tidak tahu asal mereka dari apa!? Aku beritahu ya Khodam apapun namanya mereka itu jin, bukan yang terbuat dari cahaya. Sifat mereka pendusta, kamu bilang mereka sudah masuk Islam? Dalam kata iya mungkin mereka masuk tapi dalam hati ya kafir. Kalau kamu lebih percaya jin ya kamu juga termasuk bangsa mereka, tidak punya agama, kafir juga. Tidak ada seorang manusia pun yang bisa menguasai jin, kecuali Nabi Sulaiman. Kamu punya khodam tapi itu tidak gratis lho dengan memegang mereka pasti akan ada sesuatu. Buktinya kamu pasti ya menurut aku menyuruh jin kamu memberikan informasi agar kamu bisa jadi pusat. Contoh kakekku, yang aku tahu kamu bisa tahu karakter orang harus lihat bukti penampakannya tanpa foto kamu tidak bisa apa - apa," jelas Rita.
__ADS_1
"Coba deh kamu sebutkan ciri - ciri kakeknya Rita kalau kamu memang punya indera ketujuh yang kuat. Buktikan dong pada Rita!" Pinta Arnila.
"Tentu saja! Indera ketujuhku kuat. Kakek kamu waktu muda senang mengoleksi cincin batu akik karena sekarang saja selalu pakai cincin batu akik, kan. Rambut kakek kamu tipis agak ada putihnya, lalu kakek kamu mengalami suatu kejadian sampai akhirnya meminta khodam pada yang ada di gunung," kata Ney dengan jelas.
"Bagaimana Rita? Rita? Heiii!" Panggil Arnila.
"Rita sepertinya lagi kalap ya dugaan aku betul semua kan. Tuh buktinya!"
"Bahahahaha aku lagi tertawa keras ini! Kakekku koleksi batu akik? Jaman kakekku batu itu belum ada dan belum dikenal, Ney. Yang dikoleksi kakekku itu piringan hitam lagu - lagu di jamannya," kata Rita yang masih tertawa.
"Ney, kamu bagaimana sih? Lihat penampakan siapa itu?"
"Seriusan itu kakek kamu, Rita! Bagaimana kami tahu kakek kamu koleksi piringan hitam?" Tanya Ney keki.
"Hahaha aku tidak tahu ya kenapa seorang Ney bisa membuat kamu ketakutan, Arnila? Bullshit banget semua omongan kamu! Tentu saja aku tahu karena setiap ke rumahnya, kakek selalu menunjukkan semua piringan hitamnya dan masih ada lho pemutarnya yang besar itu! Rambut kakek aku tipis memang iya dan ada putihnya, memang benar,"
"Tuh kaaan benar kan penerawangan aku," bangganya dia.
"Karena sudah tua! Hahahaha kamu lihat penampakan siapa sih? Kakekku mudanya ganteng lho, nenekku cantik. Waktu muda tidak ada rambut putihnya, rambutnya selalu rapi. Kalau ada putihnya itu uban, ya sudah tua hahahaha!" Tawa Rita meledak lagi dan kali ini sampai sakit perut.
"Kalau yang terakhir bagaimana?" Tanya Ney.
"Terakhir juga salah. Justru kakek memiliki khodam memang iya tapi bukan dari hasil meminta meditasi kabarnya sih ada yang memberikannya tapi masih belum tahu juga aku dari siapanya,"
"Sepertinya kamu harus hentikan deh soal sok tahu kamu itu, Ney!" kata Arnila mungkin sudah kesal.
"Mungkin iya sebagian kamu bisa menerawang tapi tetap ingat ya yang bisa membenarkannya hanya Allah SWT saja. Kadang info kamu memang ada yang benarnya tapi kebanyakan meleset. Kadang yang benar 1 atau 2 hal, tapi kalau benar jangan sampai membuat kamu sombong. Biasa saja. Dan kamu memang perlu ruqyah juga coba saja yang kyai punya Arnila," kata Rita menjelaskan.
"Iya nanti deh kalau aku punya waktu," katanya.
"Mana ada kamu punya waktu, sholat saja sepertinya tidak pernah. Kapan kamu ada waktu untuk sholat wajibnya? Jangan cuma mendirikan sholat tahajjud saja karena sholat Sunnah juga perlu pondasi yang kuat. Selama ini semua yang kamu inginkan terwujud tapi apa kamu selalu ingat untuk bersyukur? Aku tidak mau deh mengerjakan sholat tahajjud tapi jarang sholat wajib. Itu seperti kamu membuat rumah tapi tanpa semen," kata Rita mengingatkan.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1