
"Bersama dia kamu bisa jadi diri sendiri? Nyaman? Dulu aku yakin dia tidak menuntut apa - apa karena memang tidak peduli kelihatannya, setelah mendengarkan cerita dari kamu. Tapi sekarang kok jadi berbeda banget?" Tanya Kokom penasaran. Bisa juga sifat orang langsung berubah drastis kalau sudah berhadapan dengan yang punya banyak uang.
"Dengan kita, kamu kenal kita berdua, kenal Linda, Tamada dan yang lain kamu bisa menjadi diri kamu sendiri. Karena kita juga begitu, kita bisa saling sama - sama memaklumi kan. Kita menjadi teman, teman dekat lalu Sahabat karena masing - masing dari kita tidak pernah mengajukan syarat. Kita juga saling menginspirasi satu sama lain juga. Kamu sama dia, pernah tidak dia menginspirasi kamu sesuatu yang membuat kamu berdiri tegak? Aku yakin seringnya dia menjatuhkan kamu," kata Diana yang sudah hafal sekali semua soal Rita.
Rita tampak ingin menangis lalu mereka berdua merangkulnya sambil menepuk punggungnya. "Iya, makanya aku sedih banget kalau dia tidak mau atau tidak ada niat, ya sudah jangan datang atau dekat - dekat aku lagi," kata Rita dengan parau.
"Sepertinya aneh juga ya dia itu tujuannya apa gitu. Butuh tapi tidak butuh," kata Kokom menenangkan Rita.
"Dia hanya butuh teman untuk menjadi musuh atau saingan dia. Yang aku lihat ya di akunnya dia lebih banyak memamerkan barang ya atau makanan dari Luar Negeri," kata Diana sambil berpikir lagi.
"Ai kamu sudah pernah bertemu sama temannya Rita, Diana?" Tanya Kokom.
"Belum jadi penasaran juga sih. Seperti apa itu orangnya kok bisa - bisanya nekat seperti itu," kata Diana. Oh iya ya mereka berdua belum pernah bertemu sama Ney.
"Menurutku sih dia akan berusaha bertemu sama aku lagi deh padahal baru kemarin kita keluar," kata Rita menebak.
"Karena?" Tanya Diana keheranan. Kadang mereka suka merasa aneh terhadap Rita, sering menduga sesuatu tapi sering juga kejadian. Tapi mereka tidak pernah menanyakannya karena terlihat Rita sama sekali tidak suka dan pastinya, mereka merasa kalau Rita memiliki "sesuatu" diluar nalar. Tapi Rita sama sekali tidak pernah seperti menyombongkan atau semacam itu, justru dia cuek saja. Lagipula untungnya Rita tidak pernah mengatakan sesuatu yang aneh mengenai hantu karena Diana sangat penakut meskipun galak🤣🤣🤣.
Rita lalu mengambil sekotak cokelat dari Alex. "Karena ini," katanya sambil meletakkan kotak tersebut, mereka berdua lalu membukanya. 6 bungkus cokelat yang masih utuh, mereka terkejut melihatnya. Mereka juga tahu kalau Rita memang suka cokelat tapi tidak bisa memakannya terlalu banyak.
"Dari teman kamu di Malaysia itu?" Tanya Kokom dengan takjub. Wah, kalau dia sudah kirim cokelat sih....
"Nah, apalagi kalau kamu sampai sudah dikirim cokelat segala, sepertinya lelaki itu suka sama kamu ya. Cieeee," sambut Diana yang membenturkan bahunya ke Rita.
"Semakin panas saja pasti teman kamu itu karena keadaan kamu sama dia jomplang banget," kata Kokom. Dia tampak menelan ludah dan Rita tahu kalau mereka berdua fans sama cokelat. Tapi mereka berbeda tidak seperti Ney yang pasti langsung comot dan memakannya, mereka lebih berkelas ya alias tahu sopan santun.
"Memangnya kamu yakin tuh orang akan ketemu sama kami demi sebatang cokelat?" Tanya Diana merasa keheranan.
"Iya. Lihat saja nanti," kata Rita.
"Hah!? Seriusan? Hanya untuk kejar cokelat ini saja?!" Tanya Diana dan Kokom bersamaan.
__ADS_1
"Kalau tidak kesini pasti nanti nanya ke ibuku, aku pergi kemana. Bagaimana? Kalian mau bertemu dia? Supaya kalau kalian mau bilang apa langsung saja ke orangnya!" Tawar Rita.
"Hayu!" Jawab mereka berdua bersamaan juga.
Rita yakin sekali dia akan datang untuk menjemput cokelat ini. "Nih buat kalian kalau Cadbury kan sudah umum ya, yang dua ini kan kalian juga pasti belum pernah sama seperti aku hehehe. Kalian bisa saling bertukar lah ya," kata Rita sambil menyerahkan 1 kotak cokelat berwarna putih dan yang strawberry.
Keduanya senang menerimanya meski mereka sama sekali tidak yakin karena ukuran cokelatnya besar. "Serius nih Rita? Ini ukurannya besar lho," kata Diana tapi senang juga dia. Komariah juga setuju.
"Sudah terima saja! Aku kan masih punya yang lain. Tuh, yang aku juga belum habis. Ini mau aku bawa buat kita nanti sambil mengerjakan tugas kelompok," kata Rita memasukkan sisa cokelatnya yang belum habis.
"Asyik! Makasih ya!" Kata mereka bersamaan lagi.
"Sudah disediakan sarapan juga kesini tuh hehehe nanti deh kita makan baso tahu ya, aku yang traktir!" Kata Kokom.
"Iya iya Kom, hayu! Makan sajalah tamu itu kan raja bukan babu!" Kata Rita tertawa.
"Oh iya ya beda sama Ratih kalau datang kerumahnya malah justru kita yang harus menyediakan makanan buat dia sama keluarganya. Kamu jarang ke rumahnya lagi, Ri?" Tanya Diana yang memakan cemilan lain.
"Malas ah! Setiap kesana sama ibunya selalu ditanya, 'Bawa makanan apa? Kamu orang kaya masa main ke rumah Ratih hanya bawa singkong goreng? Bla bla bla,' tidak tahu itu si Ratih cerita apaan," kata Rita yang sibuk dengan kosmetiknya.
"Dia kan tidak suka sama alu, Rita. Ibunya sampai bilang begitu? Terus kamu bagaimana responnya?" Tanya Kokom penasaran karena Rita kalau sudah sebal, tindakannya diluar nalar.
"Ya aku bilang saja itu saat ada Ratih ya, 'Ya sudah tante nanti lagi kalau kesini saya bawakan sekalian kue pernikahan yang besar deh jadi kalau kesini tidak perlu bawa kue lagi,' begitu," kata Rita.
Mereka berdua langsung tertawa keras mendengarnya. Sudah bisa dipastikan begitulah Rita. "Terus ibunya bilang apa?"
"Ya diam saja katanya bukan begitu juga maksudnya. Ya aku jelaskan, 'Siapa yang bilang saya kaya? Rumah memang besar tapi itu punya orang tua. Mereka kerja susah payah dari nol untuk membuat tempat nyaman untuk anak - anaknya. Saya masih menumpang sama mereka karena belum menikah, sekarang saya kuliah dan bekerja tanpa mengandalkan uang dari orang tua. Saya kuliah dengan baik nilai saya juga bagus makanya dapat beasiswa atau dapat diskon biaya kuliah.' Sudahnya Ratih cuma diam. Rese banget itu ibunya!" Kata Rita yang sedang memoles alas bedak.
"Kalau kamu Diana diminta apa?" Tanya Kokom karena memang hanya dia sendiri yang jauh dari Ratih.
"Ibunya minta tas yang aku pakai, ih kurang ajar betul deh! Terus tahu kan Ratih cerita soal orang tua aku kaya juga, Ri. Kalau datang ke rumah Ratih disuruh bawa makanan mewah seperti steak, pizza, waktu aku pulang ke Palembang, aku ditelepon katanya kalau main ke rumah Ratih bawakan tekwan dan pempek terenak. Wah ibuku marah besar katanya 'Lebih baik kau bawa makanan itu untuk Rita dan Komariah. Apa pula ada syaratnya berteman dengan anaknya! Tak malu kau?' Oalaaah," Diana mengikuti mimik suara ibunya yang membuat mereka tertawa.
__ADS_1
"Super parah! Ibunya matre ya. Dipikir - pikir agak mirip Ney ya," Kokom menduga.
"Iya memang tapi kalau Ratih masih ada mending ya. Dia dewasa kan kalau aku ada masalah, dia bisa kasih solusi meski sisi lainnya sering kepanasan tapi masih worth it lah temenan sama dia hanya ya sama jaga jarak," kata Rita. Mereka berdua setuju.
"Tapi tetap ya mirip tapi tak sama. Kalau Ney sih memang harus jauh saja deh menghilang justru bagus. Tapi kalau Ratih ya masih bisalah, hanya aku tidak suka sama orang tuanya. Aku sering disalahkan. Malas ah!" Kata Rita yang teringat masa lalu.
"Yah jadi ada dua orang yang iri banget ya sama kamu tapi untungnya yang benar - benar baik kalah jumlah, Ri. Sekarang juga Ratih tidak akan datang ya?" Tanya Kokom.
"Dia sih mana mau datang. Lebih suka main sama aku atau Diana saja. Tapi Diana saja tidak mau kalau hanya dia hahaha.. sebenarnya aku lebih suka sendiri saja deh daripada sama Ratih atau Ney. Asli malas banget keluar sama mereka, kalau ada butuhnya saja baru semangat. Eh, kalian mau kapan kerja kelompok lagi? Nanti malah tidak keburu lho masalahnya banyak ini tugasnya," kata Rita memperlihatkan 10 lembar soal.
"Aku bawa kok. Sekarang saja sambil kumpul, lagian yang datang juga hampir semuanya anggota kelompok kan," kata Diana mengeluarkan lembarannya. Komariah juga bawa meski berbeda kelompok tapi ada Siti yang akan ikut berkumpul.
"Aku hanya sama Siti dong," katanya manyun.
"Ah, barengan sajalah lagian mana ada dosen yang mengawasi saat kita main," kata Rita.
"Ya sudah nanti bantuin ya sisanya paling salin saja sih," kata Kokom.
Kemudian mereka mengobrol dan Rita menyadari sudah pukul 8 lalu bersiap untuk mandi, sementara Rita mandi, Kokom dan Diana mengobrol.
"Kamu pasti mau tes temennya ya," kata Kokom menebak.
"Iyalah! Kurang ajar banget sih aku jadi penasaran seperti apa sih dia tuh. Kokom mau ngapain kalau bertemu dia?" Tanya Diana balik.
"Mau aku sindir terus sampai habis!" Katanya sambil memukul tangannya.
"Aku juga pakai ini," kata Diana yang tersenyum.
"Eh! Sama! Sebelum ke BIP kita makan baso tahu dulu ya kata Rita ada yang murah," kata Kokom yang meminum jusnya.
"Oke lah. Kamu jangan memaksa harus mentraktir kita karena malu, Kom. Kita kan tidak pernah memaksa kamu tapi kalau kamu mau ajak kita makan yang murah atau mahal dimanapun, aku hayu saja," kata Diana mengingatkan.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang mereka bicarakan terdengar jelas oleh Rita dalam kamar mandi. Entah itu tembok apa sengaja dibuat tipis ya? Sambil mandi, Rita membayangkan seperti apa skenario yang akan mereka tampilkan nanti.
BERSAMBUNG ...