
"Apa? Sadar diri? Gue? Sepertinya tidak perlu deh aku merasa tidak ada yang salah kok justru ya si Rita yang terlalu baperan," kata Ney merasa dirinya wajar saja.
"Kalau kamu tahu Rita baperan, kenapa kamu semakin sengaja? Bikin emosi dia kamu pancing segala sampai kamu sendiri yabg buat onar, dia yang kena getahnya," kata Arnila membuat Ney tidak bisa berkutik.
"Yaaa... aku kan begitu supaya dia mengerti," kata Ney.
"Ney, kamu itu ya yang aku lihat kesadaran dirinya super tipis atau bahkan kamu tidak sadar sama sekali? Kamu selalu merasa tidak sih banyak orang yang menjauh atau tidak suka dengan kelakuan kamu?" Tanya Arnila ingin tahu.
"........." Ney menjawab, dia memang merasa tapi tidak peduli toh percaya akan ada seseorang yang mengerti kelakuannya bahkan Rita. Tapi sekarang semuanya akan berubah.
( Never Be Same Again - Mel C )
...I call you up whenever things go wrong...
...You're always there, you are my shoulder to cry on...
...I can't believe it took me quite so long...
...To take the forbidden step...
...Is this something that I might regret?...
"Bahkan sampai Rita sakit hati gara-gara keonaran kamu pun, tidak mau introspeksi? Kamu ini sebenarnya mau apa sih? Benar ya apa kata Rita kalau kamu punya niat lain padahal ya Rita itu orangnya tidak pernah neko-neko sama kamu. Kamu yang sejelek pun, dia masih mau temenan sama kamu," kata Arnila dalam sudut pandangnya.
"Ya aku juga mau kok berteman sama dia hanya..." kata Ney.
"Hanya apa?" Tanya Arnila penasaran.
"Jangan seperti itu kelakuannya. Kan buat aku malu apalagi nanti kalau aku dikenalkan ya sama dia ke keluarganya Alex. Duh, aku malu deh harus menanggung pribadinya," kata Ney sambil memegang kedua pipinya
"Pribadi dia baik kok aku sadar selama ini, kata-kata kamu telah membuat aku sama dengan kepribadian kamu. Selama ini kamu sudah mencuci otak aku agar membenci Rita. Aku tahu kamu sadar melakukan itu dan aku mendukung Rita dengan Alex apapun keadaan mereka berdua nanti," kata Arnila.
"Lho, Rita itu bukan teman kamu lho ingat ya setelah dia dengan Alex, dia akan melupakan kamu yang bukan siapa-siapa," kata Ney mengingatkan Arnila yang pikirnya merasa tinggi.
Arnila yang membacanya terkesan merasa sebal, dia tahu memang bukan temannya. Ada perasaan sedih saat dia diingatkan untuk hal seperti itu. "Iya, aku tahu. Aku sadar sekali siapa aku, aku hanya ingin memberitahu kamu saja. Kalau dia jadi dengan Alex mau aku atau kamu, kita berdua tidak akan ada di sampingnya," kata Arnila menahan rasa sakit. Toh dia tahu Rita bukanlah orang yang mudah melupakan seseorang, apalagi Arnila meninggalkan kesan yang baik kepadanya.
"Kok begitu sih? Mana ada Rita berani ninggalin gue! Kamu ya kalau bicara tuh tahu diri dong! Nih aku tuh ya sahabat dia paling dekat, aku paling tahu soal dia," kata Ney senewen.
I thought that we would just be friends
Things will never be the same again
It's just the beginning, It's not the end
Things will never be the same again
"Hahahahaha kamu lupa dia sakit karena apa? Sahabat macam apa yang sering menendang dia disaat dirinya punya masalah? Heloooooow, aku tidak mengira sifat kamu semuanya terbuka jelas saat tahu Rita kenal dengan anak milyarder. Sudahlah Ney, kamu itu tidak selevel sama dia. Kamu akan sendirian, gue sih baliklah ke geng gue," kata Arnila tertawa geli.
Suaminya sudah tahu dengan siapa Arnila chat setidaknya sekarang Arnila sudah tidak harus fokus lagi dengan Ney.
__ADS_1
"......." Ney tidak menjawab. Iya ya keadaannya sekarang akan berubah sesuai dengan apa yang dia sebarkan. Orang yang mampu menerima dia seperti apapun, malah dia risak sejadi-jadinya.
"Sudah saatnya kamu berhenti bermimpi dan hadapi kenyataan bahwa takdir Rita mulai berputar. Kamu mau mendekati dia lagi, sudah tidak ada jalan Ney. Saran aku, lupakan Rita toh kamu sendiri yang merusak segalanya," kata Arnila.
Ney cemberut dia memukulkan kepalanya dan menggelengkan kepala, tidak mau menerima dia harus kalah. "Arnila, kan dia duluan yang butuh bantuan," kata Ney.
"Dia memang butuh bantuan kamu tapi bukan kepo. Dia hanya ingin kamu membantu menerjemahkan bahasa Inggrisnya Alex, bukan tahu segalanya sampai siapa Alex. Rita itu tidak seperti kamu, dia tidak tertarik materi. Mengerti kan kamu sebenarnya?" Tanya Arnila
...It's not secret anymore...
...Now we've opened up the door...
...Starting tonight and from now on ...
...We'll never, never be the same again...
"Ya aku kira perlu Rita tahu siapa Alex. Dia kan..." kata Ney secepatnya membalas.
"Tidak perlu, soal ***** bengek Alex bukan urusan kamu. Menurutku Rita menyesal sudah meminta tolong ke kamu, Ney. Karena ternyata seperti ini hasilnya, menurut aku apa yang kamu punya info soal Alex percuma. Dia juga sudah berterima kasih kok sama kamu hanya kamunya sendiri bukan itu kan yang kamu mau. Bukan hanya sekedar rasa terima kasih," kata Arnila menebak
Ney diam saat ternyata Arnila bisa mengetahui maksudnya. Dia memang yang paling santer mencari tahu soal Alex memang bukan demi Rita tapi untuk dirinya. Ada rasa menyesal dia baru bisa menerima Rita sebagaimana mestinya karena dulu memang tidak peduli.
Ney selalu menutup dirinya sendiri sampai Rita pun tidak bisa membaca dirinya. Ney menyesal sekali ternyata Rita melakukan itu bukan untuk mencari tahu kelemahannya tapi supaya dia tahu kepribadian Ney. Salahnya, dirasa Ney bahwa Alex sudah punya hati pada Rita, Ney pun heboh sendiri. Dengan kata lain, Rita pasti akan mengangkat orang yang paling dekat dengannya.
Bukannya terangkat malah kena banting karena kelakuan dan omongannya yang sama sekali tidak dia ubah. Dan akhirnya terkuaklah keanehan yang Ney miliki, yah sudah takdir juga Rita akan melihat dengan kepalanya sendiri, kepribadian Ney yang salah.
Dirasa benar apa yang Arnila tebak, tidak mengherankan Rita mulai menjauhi Ney. "Aku yakin deh geng kamu hanya ada pembicaraan kalau menyangkut barang bagus dan uang kan. Pernah tidak sih kelompok kamu membicarakan hal yang berguna?" Tanya Arnila. Toh dia pernah dimasukkan tapi malah keluar sendiri karena isinya tidak bermanfaat.
"Tidak, aku tidak kepo hanya kelakuan kita itu kan tergantung dengan siapa kita bergaul. Kalau grupnya yang error ya kita pasti ikut errornya," jelas Arnila.
"Jadi maksud kamu grup aku tuh isinya orang gila semua?!" Teriak Ney yang marah.
"Lah memang iya kan kalau tidak, kamu akan normal cara berpikirnya. Tapi tidak kan? Sampai kepribadian kamu yang menurut aku rusak sih bukan Rita. Ya itu kamunya saja yang tidak sadar," kara Arnila tidak peduli meski Ney nantinya meledak.
"Lu ya dasar...." kata Ney yang memang sudah mau meledak. Dia hantam genggaman tangannya ke meja dengan suara keras.
"Grup kamu kan lebih sering ngomongin merk kan nah itu apa baiknya?" Tanya Arnila menantang.
"Bukan urusan kamu deh lagian dari mana kamu bisa tahu," kata Ney kebingungan. Apa dari mereka ada yang mematai dirinya atau grupnya? Perasaan benang hitamnya juga sudah terputus sejak bulan lalu entah oleh siapa. Dia juga menanamkan benang hitam pada Rita tapi anehnya setiap dia kemukakan apa yang didapat, berbeda dengan yang Rita ungkapkan.
"Aku bisa tahu apa yang kamu lakukan bukan urusan kamu. Aku tahu kamu menanamkan benang hitam kan? Sekarang aku tidak takut lagi sama kamu. Lagipula apa bagusnya sih ikut grup seperti itu?" Tanya Arnila.
Ney semakin penasaran sampai Arnila tahu kalau dirinya mengirimkan mantra pengikat tapi kini sudah tidak ada jejaknya. Pantas dirinya tidak bisa menerima info apapun. Bahkan Rita juga benang itu tiba-tiba sering bergetar, seolah ada orang lain yang berusaha memutuskan.
"Bagi aku grup mereka itu penting, aku sekarang sudah bisa punya banyak barang mewah," kata Ney memfotokan kamera canggihnya pada Arnila.
"Teman sejati tidak akan melihat kamu dari barang tapi dari hati. Salah besar kalau kamu berpikir kebalikannya, kamu akan selalu sendirian. Satu grup agar harga diri kamu naik, kalau sudah mati bukan itu yang dibawa Ney," kata Arnila.
Ney sudah lelah sekali dengan ceramah Rita dan Arnila. Dia mau seperti apa juga apa urusan mereka? Bahkan ibu dan ayahnya juga sama, memang dulu ayahnya terjebak dunia hitam tapi sekarang sudah sadar meski apa yang dia lakukan pada anak-anaknya tidak akan berubah.
__ADS_1
"Sudah sudah aku sudah pusing dan malas ya dengar semua ceramahan kamu," kata Ney.
"Kamu pikir mereka akan bantu kamu kalau masuk Neraka? Sadar Ney sebelum semuanya terlambat, sebelum kamu benar-benar kehilangan Rita lebih jauh lagi," kata Arnila mengingatkan kembali.
"Sudah jangan ikut campur deh masalah aku sama Rita. Rita tidak akan pernah bisa meninggalkan gue, jadi dia akan selalu membutuhkan aku. Lebih baik kamu deh yang pergi, aku tidak butuh bantuan dari kamu!" Kata Ney dengan ketus.
"Terserah kalau begitu,aku sudah berkali-kali lho ya menyarankan yang baik," kata Arnila mengangkat bahunya.
"Kamu kok sekarang seperti itu ya dulu selalu menurut deh sama perkataan aku. Kenapa sih?" Tanya Ney agak sebal pikirnya orang yang selalu bisa manfaatkan sudah berkurang.
"Iya dong dipikir buat apa juga aku takut sama orang yang sudah sifatnya iri dengki. Lagian aku kan sekarang punya suami yang akhlak baik, agamanya juga bisa membimbing aku. Aku bersyukur sekali kenal Imron semasa kuliah dulu, Alhamdulillah dia nolak kamu hohoho," kata Arnila mengejek Ney.
Ney sebal dia teringat lagi dirinya ditolak mentah-mentah oleh Imron apalagi dia juga dikatai Perempuan Gampangan yang tidak punya harga. Meski Arnila tidak tahu kata-kata itu, nyatanya Arnila mendengar langsung dari Imron dan tertawa.
"Kok bicara soal itu sih sekarang? Terus aku harus sama siapa dong kalau bepergian?" Tanya Ney yang memang nano-nano.
"Ya ajak saja grup kamu itu. Aneh sekali deh ajak mereka untuk merundung Rita tapi belum pernah pergi main bareng," kata Arnila menohok Ney.
"Suka kok mereka ajak tapi ya kebetulan saja aku ada keperluan," kata Ney membela diri.
"Keperluan apaan? Kepo soal Alex? Orangnya sana tidak punya hati untuk kamu, percaya diri sekali ya. Hahaha kasihan tidak perlu muluk-muluk deh kalau minta sesuatu. Rita saja tidak pernah meminta dirinya berjodoh dengan yang kaya," kata Arnila.
"Rita itu selalu mendoakan aku yang jelek lho. Aku dengar semua doanya," kata Ney memancing Arnila.
"Kebayang saja kalau Imron menerima kamu, bisa sesombong satu negara tapi setelahnya langsung putus hahahaha," kata Arnila tertawa lagi, sama sekali tidak peduli apa yang Ney katakan.
Ney sebal sekali pancingannya gagal, dia sulit juga sekarang setelah Arnila menikah membawanya kembali untuk melabrak Rita. Entah kenapa dia selalu merasa ada sesuatu yang menghalanginya.
"Oh iya kok aku selalu merasa ada yang menghalangi ya setiap aku mau mengirimkan sesuatu ke kamu," kata Ney keceplosan.
Arnila melotot dan memberikan ponselnya pada Imron. "Astagfirullah, dia mau kirim apa lagi?" Tanya Imron mengusap wajahnya.
"Kamu juga tahu," kata Arnila menatap suaminya.
"Bee, sudahlah jangan kontak dia lagi. Dengar kan apa kata guruku soal dia? Dia kirim benang hitam ke kamu dan teman satunya lagi," jelas Imron kesal.
"Bukan aku yang kontak tapi dia," kata Arnila.
"Ya jangan dibalas. Sudahi, dia kirim pesan apapun jangan di balas. Teman kamu yang itu siapa? Rita. Aku rasa ada yang berusaha mencabut benangnya juga mungkin orang Malay itu," kata Imron.
"Bukan dia karena dia juga menanaminya, yank," kata Arnila membuat suaminya kaget.
"WAH GILA," Serunya kaget. "Lalu bagaimana dong?" Tanyanya cemas.
"Tenang saja, orang yang berusaha memotongnya itu seseorang yang tidak punya hubungan darah sama Rita. Sepertinya dia juga geram dengan kelakuan Ney, pasti aneh teman kok kirim mantra," kata Arnila yang langsung dipeluk suaminya.
Lalu Arnila mendengarkan notif ponselnya dari Ney. "Lihat saja, Rita nanti akan jadi orang kaya tidak akan jauh beda dengan aku. Dia akan lebih sombong dan sesumbar dari aku," kata Ney.
"Kalau Rita sih tidak akan ada seperti itu. Jauh! Dia bisa membatasi kesadarannya beda ya dengan orang yang memang hobinya dari dulu tukang pamer. Kalau dia suatu saat sombong, toh ada suaminya yang akan mengingatkan dan dia nurut," kata Arnila lagi.
__ADS_1
Rita Alex, Rita Alex, terus saja seputar itu yang dibicarakan yah, novelnya juga kan soal mereka dan lika liku kerumitan di antara keduanya. Banyak yang bilang kisah mereka seperti film Drama Korea berjudul The Heirs. Tapi sayangnya sang Author juga belum pernah menontonnya, karena tidak tertarik dengan Drama Romantis. Tapi sangaaaat mirip sekali jadi kalian bisa menonton dahulu film Drakornya tapi isi novel ini tidak sesuai film ya.
Bersambung ...