ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(255)


__ADS_3

Dengan langkah sebal karena ternyata kegiatan mereka tidak hanya mengerjakan kerja kelompok, ada kegiatan mengaji juga, alhasil Ney lebih memilih pergi dari tempat itu.


"Lho kok pergi? Siapa tahu ini bisa jadi sarana ruqyah juga lho, supaya setan dan jin yang nempel di kamu lepas semua jadi terlihat aslinya kamu bagaimana," kata Rita melihat Ney pergi.


Omongannya sama sekali tidak digubris. Ney juga malu sih sampai sekarang saja dirinya jarang mengaji karena terlalu sibuk memikirkan hal keduniawian. Rita lalu dicolek oleh Diana untuk tidak memancing Ney bicara, karena kalau dia membalas panjang juga urusannya.


Akhirnya mereka semua bisa merasakan perasaan lega, baguslah Ney pergi dari tempat itu. Mereka semua harus lebih pintar menahan emosi berhadapan dengan Ney yang pura - pura manis yang nyatanya saat Rita tidak ada, mulutnya berbisa. Ney lalu melangkah secepat mungkin menjauh dari kelompok belajar Rita. Dia duduk di kursi dari bahan batu tidak jauh dari mereka dan menjapri Arnila untuk menceritakan kejadiannya menurut versi Ney.


"Arnila, gue bete banget hari ini!" Ketik Ney di WA.


"Memangnya kamu sedang dimana?" Tanya Arnila yang saat itu kebetulan sedang menunggu bunga untuk dipasang di pelaminan.


"Aku datang ke tempat janjiannya Rita," balas Ney sambil merapihkan rambutnya yang dimainkan oleh angin.


"HAH!? Buat apa kamu datang segala? Ada urusan?" Tanya Arnila terkejut membaca balasannya. Arnila menduga dia bakalan buat masalah, pasti!


"Ya Rita kan mengajak aku datang buat gabung eh pas aku datang malah sengaja dipojokkan. Jahat banget sih dia ternyata dia tuh niatnya buat mempermalukan aku, Nil," ketiknya dia manyun merasa dirinya sebagai korban.


Arnila menghela nafas dan menepuk dahinya, masa iya nih orang tidak peka itu kan hanya berbasa basi saja. "Ya ampun kamu beneran datang? Aku yakin itu hanya basa basi saja ke kamu, Rita kan orangnya tidak enakkan. Mana mungkin dia langsung bilang kamu jangan datang? Mananya yang lu peka sama orang, sepele gini saja kamu malah tidak sadar? Bisa tidak kamu melihat keadaannya? Rita itu pasti punya rencana lain masa kamu ganggu seenaknya jidat kamu? Waktu kita kerja kelompok, apa Rita datang? Tidak kan," Arnila menjelaskan panjang lebar kesal juga rasanya karena Ney selalu mengejeknya tidak peka tapi ternyata dia sendiri begitu.


"Ya habis dia pasti bawa..." kata Ney dengan alasan yang utama. Cokelat! Tapi sedari tadi, dia sama sekali tidak melihat Rita mengeluarkan cokelat yang masih dimilikinya di rumah.


"Cokelat? Astagfirullah, Ney. Kamu tuh sadar diri sedikit kek sekali saja! Kapan kamu ada memberi saat Syakieb banyak memberi kamu cokelat, ada kamu beri kita berdua? Tidak kan. Terus Rita atau aku minta - minta? Tidak juga kan. Gue heran ya sama kelakuan kamu, kok sama sekali tidak punya rasa malu ya. Kamu sendiri lho yang sering membuang Rita terus kamu tarik lagi. Mau kamu apa sih?" Tanya Arnila.

__ADS_1


"Ya aku cuma mau lebih diprioritaskan saja," kata Ney.


"Helloooo... kamu saja jarang aku lihat bisa berkelakuan baik sama Rita. Kamu sering banget pancing emosi dia, bicara jahat juga. Jangan salah ya kalau Allah SWT banyak memberi orang yang LEBIH baik dari kamu. Banyaknya kan kamu bohong ke dia, terus kamu mau diprioritaskan sama Rita? Hahaha mimpi! Bangun, Ney ini dunia nyata bukan dunia khayalan," kata Arnila menertawakan Ney lalu fokus pada hiasan dalam gedung.


Ney berhenti menchat, dia berpikir apa yang sudah dia lakukan untuk Rita. Dia selalu kok memberikan sarannya pada Rita yang berakhir Rita marah juga. Dalam hatinya dia mengaku sudah banyak pengorbanan yang dia lakukan tapi kenapa akhirnya berakhir seperti ini? Kepo? Iya juga sih dia terlalu kepo apalagi semenjak Rita dapat kenalan lelaki super tampan yang membuatnya semakin iri. Masalahnya lelaki itu lebih tertarik pada Rita bukan dirinya, Ney punya banyak semua yang Alex inginkan tapi kenapa hanya ada Rita? Kalau Rita curhat, dia selalu mendengarkan kok sambil main ponselnya.


Ya laaah itu salahnya didengarkan tapi perhatian ke lain, ya sudah jelek saja nilainya. Memang ada saat - saat dimana Rita mencoba curhat pada Ney dulu. Memang benar juga Ney mendengarkan tapi tidak enaknya, saat Rita cerita, dia malah sambil memainkan ponselnya. Lalu tertawa pada chat seseorang, melihat itu Rita rasanya ingin sekali menangis. Ney memang tidak punya rasa kepekaan pada sesama jenis dia hanya peka pada lawan jenis. Yah maklum daripada teman perempuan, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman lelaki itu juga kebanyakan teman lelakinya yang pecundang. Yang senang melakukan kegiatan seksualitas.


Salah pergaulan? Ya itulah. Jadi memang sangat berbeda dengan Rita dan Arnila, mereka berdua menjaga dirinya dari lawan jenis sedangkan Ney terbuka pada lawan jenis. Segala macam rasa pacaran semuanya sudah dia rasakan jadi... tidak salah kalau soal keperawanan pun, diragukan masih suci. Nah saat Rita bertanya bagaimana solusinya, Ney malah tertawa lalu bertanya Rita menceritakan apa. Akhirnya Rita menceritakannya lagi pada Ney tapi ya seperti itu, yang pada akhirnya Rita menerima notif dari teman SMA-nya yang mengajaknya main. Tanpa berlama - lama yang melihat kelakuan Ney seenaknya membuatnya mengulang curhatnya dan tidak dipedulikan, Rita langsung mengambil tasnya dan berjalan keluar kamar Ney dengan wajah yang kecewa banget. Tentunya wajahnya yang sudah mau menangis.


Ibu, adik dan kakaknya yang berada di kamar depan Ney, melihat Rita yang berjalan ke ruang tamu tanpa bersuara. Sadar Ney tidak ada suara Rita, dan benar saja Rita sudah tidak ada di kamarnya dia bergegas ke luar kamar.


"Rita! Maaf aku tadi di chat sama kecenganku! Kamu mau kemana?" Tanya Ney yang panik melihat Rita keluar kamarnya tanpa ada ucapan sepatah katapun.


"Rita! Maaf maaf aku dengar kok kamu cerita apa tadi, soalnya waktu kamu cerita, dia juga pas banget cerita sesuatu. Rita! Rita! Kamu dengar tidak sih?! RITA!" Teriak Ney yang langsung membalikkan Rita. Ney kaget banget melihat kekecewaan total pada wajah Rita apalagi dirinya juga menangis. Setelah itu Rita pergi dari rumah Ney dan membanting pintu gerbangnya dengan keras. Membuat engselnya terlepas dari tempatnya, dan pagarnya langsung ambruk seketika. Ney membeku di tempat melihatnya. Disitulah Ney pertama kalinya melihat orang dengan aura mencekam makanya aslinya memang Ney sangat takut pada Rita.


Adik dan kakak serta ibunya bergegas ke ruang tamu dan mereka bertanya ada apa. Saat mereka bertiga memarahinya yang tidak bisa menghargai orang sedang cerita, Ney kemudian panik dan mengambil sendalnya. Dia melewati pagar rumah yang ambruk.


"Mah! Pagar kita kenapa?" Zayn bertanya dengan panik. Satu pagarnya ambruk langsung dan setelah dilihat, engselnya bengkok.


"Ini karena aura Rita yang sudah kecewa total sama kakak kamu. Ya Allah, Ney Ney orang baik - baik kamu buat kecewa. Kualat lho nanti hidup kamu!" Kata ibuku yang sedikit berteriak.


Ney kelimpungan mengejar Rita yang sudah jauh berjalannya. Rita kalau jalan memang cepat banget! Dan Ney kalau mengejar lamban banget😂😂. Ternyata Rita dijemput oleh sahabatnya dari SMA.

__ADS_1


"Rita! Tunggu sebentar, aku jelasin!" Teriak Ney yang ngos - ngosan.


Rita menatap Ney ke belakang, wajahnya sudah tidak menangis tapi bekasnya masih nampak dan Rita melanjutkan jalannya lalu menyeberang bertemu dengan sahabat SMAnya itu. Ney melihatnya secara langsung, temannya itu bertanya, "Kamu kenapa? Ada masalah? Yuk kita ke rumah aku saja ya,"


Untunglah saat itu orang yang berlalu lalang tidak ada jadi Rita menangis lagi dan mereka menaiki mobil paman sahabatnya itu dan menuju rumahnya. Jelas sekali terlihat teman yang menjemputnya sangat mencemaskan Rita dan dengan lembut, dia menarik Rita masuk ke mobilnya itu. Ney yang sampai dengan nafas kecapean, melihat adegan itu dan tidak bisa berbuat apa - apa lagi. Sejak saat itulah dirinya sudah kehilangan Rita, sejak Rita sudah tidak bisa lagi membendung rasa kesal, kecewa, sedih pada Ney. Sahabat SMAnya itulah yang akhirnya selalu ada untuk Rita bernama Putri.


Sejak kejadian itu, Ney dimarahi parah oleh ibunya sampai ponselnya dibanting dan pecah, dia juga menangis dengan berbagai alasan. Setelah itu, itu adalah terakhir kalinya Rita mengenal Ney dan dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Putri. Setahun mereka tidak pernah bertemu, setahun pula hari - hari Rita sudah cukup sempurna dengan kehadiran Putri yang selalu siap siaga bila Rita ada masalah begitupun dengan Putri sendiri.


Ney pernah secara tidak sengaja melihat Rita sendirian, karena menurutnya sudah lama tidak berjumpa, Ney berencana mau menyapanya tapi saat setengah hampir sampai, Ney melihat Rita bertemu dengan orang yang dilihat oleh Ney juga. Apalagi bukan hanya orang itu saja tapi ada 5 lainnya juga dan mereka memeluk Rita dan menyambutnya lalu mengajaknya jalan bersama. Ney menyangka tidak mungkin mereka teman yang setulus dengannya tapi perkiraannya meleset! Mereka tertawa bersama dan melakukan hal gila tanpa ada niat jahat. Ney juga mendengar beberapa temannya berkata,


"Nanti kalau ada masalah lagi jangan dipendam," kata A yang memeluk bahu Rita.


"Iya cerita ke kita saja. Kita tidak akan membukanya ke orang lain kok," kata yang B.


"Teman yang kamu cerita itu waktu kemarin - kemarin sudah terlihat jelas sih tidak layak disebut teman. Soalnya kamu curhat, eh dia malah milih baca cerita orang? Wah kurang asem banget, Ri! Untung waktu itu aku bilang mau main ya sama kamu," kata Putri dengan senang.


"Yah, kalau kamu waktu itu tidak ajak pun aku memang akan pergi kok dan memutuskan itu adalah terakhir kalinya dia lihat aku begitu. Aku juga sudah tidak mau lagi deh cerita - cerita ke dia, buang waktu! Makasih ya kamu dan yang lain selalu mau menerima apapun masalah aku," kata Rita sambil bergelantungan di bahu mereka.


"Ituuuu gunanya teman. Kalau seperti teman kamu yang dulu sih dia hanya memanfaatkan kamu saja untuk ada disitu. Jadi aku yakin dia tidak ada niat untuk jadi teman kamu," kata Putri mereka saling bersenda gurau.


Ney yang mendengarnya mengurungkan niatnya untuk mendekati Rita, kemudian berpikir menjauhinya. Ternyata tanpa ada dia pun Rita senang - senang saja tidak merasa kesepian. Tapi jauh di lubuk hati Ney, dia menyesal selama ini dia malah memperlakukan Rita dengan buruk. Dan dia juga mengakui kalau selama ini dia tidak ada niat berteman dekat dengan Rita tapi hal itu berubah saat kuliah. Berpikir terus berpikir terus berusaha memperbaiki hubungannya dengan Rita yang malah semakin parah kacaunya.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2