
Happy Reading.
Pagi itu Dion melaju kan mobilnya ke suatu tempat, hari libur seperti ini biasanya dia hanya berdiam diri di apartemen dan menghabiskan sebagian waktunya sambil rebahan.
Tapi entah kenapa sekarang dia sudah berada di jalanan menuju ke sebuah tempat, semenjak bertemu dengan Joice pikiran Dion menjadi tidak karuan.
Pria itu selalu memikirkan gadis tersebut, dimanapun dia berada padahal dia tahu kalau Joice sudah tidak mau berhubungan lagi dengannya.
Dion tahu akan hal itu, tapi entahlah naluri hatinya mengatakan jika pria itu ingin bersama Joice kembali.
Setengah jam kemudian Dion menyadari saat menemukan dirinya berada di depan apartemen Joice.
Pria itu memaki dirinya sendiri karena pasti dia akan semakin ingin bertemu dengan gadis itu, kalau dia tidak secepatnya menginjak gas dan pergi dari sana.
Namun gerakannya terhenti tiba-tiba saat melihat seorang wanita yang ia kenali dengan sangat baik.
Wanita itu keluar dari gedung apartemen tersebut dan berjalan menuju ke arah berlawanan. Ya, wanita itu adalah Joice.
Joice menyeberang jalan dan masuk ke sebuah toko yang ada di seberang sana.
Joice hanya memakai celana berwarna coklat sepanjang mata kaki dan kaos lengan pendek berwarna putih. Dengan memakai sandal jepit berbulu dan juga rambutnya diikat ke atas membuatnya terlihat seperti baru saja terbangun dari tidur.
Meskipun begitu, bagi Dion Joice adalah wanita yang paling cantik yang pernah dia temui, meskipun wanita itu sangatlah sederhana. Itulah keunggulan yang dimiliki oleh Joice yang tidak dimiliki wanita manapun, kesederhanaan dan kemandiriannya lah yang mampu membuat Dion terpesona.
Setelah beberapa menit kemudian Joice sudah kembali membawa kantong plastik besar berisi beberapa cemilan dan minuman kaleng yang baru saja dia beli di toko seberang itu.
Jemari Dion mengetuk kemudian dengan irama teratur tanda bahwa dia sedang memikirkan sesuatu. Dion tahu jika kesempatannya saat ini tidak datang dua kali, bahkan meski ia bertemu dengan Joice di kemudian hari mungkin dia tidak akan seberuntung kali ini.
Namun lebih tepatnya Dion memiliki kesempatan karena kesempatan tidak datang pada mereka yang berani membuat perubahan.
Dion harus mengejar Joice kalau dia tidak ingin kehilangan wanita itu lagi. Kali ini ia memutuskan untuk berjuang lebih keras daripada hanya terus memandangi sosok Joice yang begitu mengagumkan dari belakang.
__ADS_1
Itulah sebabnya setelah mengumpulkan keberanian Dion mendorong pintu mobilnya sebelum keluar untuk menyapa Joice.
"Hai Joice, kebetulan sekali kita bertemu di sini," wanita yang dipanggil itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suara.
Dengan senyum lebar Dion berjalan melangkah mendekati gadis pujaannya itu, "pagi-pagi gini lo beli apa? Kenapa nggak beli sarapan yang enak aja, malah beli makanan ringan seperti ini?"
Joice memutar bola matanya, "kurang kerjaan banget sih lo pagi - pagi udah ada di depan apartemen orang," ucap Joice.
"Eh, gue nggak tahu loh kalau ternyata elo tinggal di apartemen ini," bohong Dion.
Joice berdecak, "terus lu pura-pura kalau kita kebetulan ketemu, gitu?"
Dion kehabisan kata-katanya, pria itu hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Terserah elo deh, by the way gue boleh nggak ikut habisin makanan ringan lo itu?" Sepertinya kali ini rencananya berhasil karena Joice langsung jalan begitu saja, sedang Dion mengikutinya.
Di sisi lain.
Akhirnya setelah bernego dengan suaminya yang masih ingin peluk-pelukan, Fara menyogok Keill dengan satu kali ronde. Dan tentu saja jurus itu paling ampuh untuk membuat Keill menurut padanya.
Kalau Fara tidak menuruti kemauan Keill, bisa dipastikan dia tidak akan memasak pagi ini.
Padahal keinginan Fara adalah bisa menyiapkan makanan untuk suami dan juga keluarga nya.
"Nona, biar saya saja yang masak," ucap salah satu pelayan yang tidak lain adalah juru masak di rumah itu.
"Tidak Bik, pagi ini izinkan Fara yang masak, ya!" ucap wanita itu.
"Tapi non ....!" Fara mengangkat tangannya pada bik Sumi.
"Pokoknya bik Sumi diam saja, duduk di sana dan untuk menu sarapan ini pagi ini biar Fara yang masak semuanya, pokoknya bik Sumi nggak boleh masak, titik!"
__ADS_1
Bik Sumi merasa tidak enak saat melihat istri dari tuan mudanya itu berkutat di dapur, sungguh hal itu adalah pemandangan yang sangat jarang dia lihat. Bik Sumi sama sekali tidak pernah menyangka bahwa istri dari tuan muda Keill mau memegang pisau dan sangat lihai dalam mengupas bawang.
"Nona Fara, mau masak apa? Biar bik sumi bantu, ya?" mungkin hanya ini yang bisa dilakukan oleh Sumi karena pasti nona mudanya tidak mau jika dia yang memasak.
Fara menoleh ke belakang dan melihat ayam serta kangkung yang belum di cuci. Ada juga bahan untuk membuat sayur sop.
"Ya udah kalau buk Sumi maksa, sebaiknya bibi membersihkan ayam, kankung dan semua bahan-bahan yang ada di atas meja itu," tunjuk Fara pada bahan-bahan mentah yang masih ada di atas meja.
"Oke siap non," Bik sumi mengambil bahan-bahan masakan itu dan kemudian mulai mencucinya satu persatu.
Wanita paruh baya itu bahkan sampai tidak tahu apa yang yang harus dilakukan ketika semuanya sudah dilakukan oleh Fara.
"Ternyata selain cantik dan baik non Fara ini jago masak ya?" Ucap Bik Sumi.
Fara tersenyum sambil membalik tempe yang berada di atas wajan.
"Eh, menantu mama ternyata masak, ya?" Rara baru saja turun dan langsung dikejutkan oleh aroma masakan yang sangat nikmat.
"Mama tunggu aja di meja makan karena sebentar lagi masakan ala chef Fara udah hampir selesai," ucap Fara ke arah mertuanya itu karena dia masih sibuk mengoseng cah kangkung.
"Iya deh mama nggak akan ganggu, semangat ya sayang, Mama yakin masakan kamu pasti enak," Akhirnya Rara pergi menuju ke meja makan dan menunggu hidangan sarapan pagi ala menantunya itu disiapkan.
Setelah beberapa saat akhirnya keill dan Papa Aris turun menuju ke ruang makan, di sana sudah terhidang berbagai macam masakan yang telah disajikan oleh Fara.
Ada sop ayam, goreng ikan tepung dan juga tempe tahu, cah kangkung dan sambal terasi. Yang paling spesial adalah ayam goreng crispy pedas.
"Ternyata kamu pintar juga masak ya sayang?" ucap Keill setelah mencicipi masakan istrinya itu.
"Iya, ini semua enak loh, wah ternyata pilihan kamu mencari istri memang tepat, Keill, Fara benar-benar layak disebut sebagai istri sekaligus menantu idaman!" ucap Papa Aris.
"Terima kasih, Mas, Papa, Mama,. Fara juga senang bisa menjadi bagian keluarga ini," jawab Fara.
__ADS_1
"Kalau gitu kalian habis ini kalian harus fokus untuk membuat kan cucu untuk kami!"