ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
395


__ADS_3

Di tempat Rita. Feb akhirnya sampai dan menepuk Rita dengan angkuh. "Eh, ada siapa nih?" Tanya Feb dengan angkuh.


Rita melihat mereka berenam yang sudah bergaya bak Ratu. "Wah, sudah lama juga ya tidak bertemu lagi. Kalian sudah lulus kuliah?" Tanya Rita.


Mereka semua terdiam tidak ada yang menjawab.


"Kok bisa sih kamu diundang?" Tanya Feb yang tidak peduli.


"Kamu kok bisa diundang juga? Bukan temannya Arnila juga kan," kata Rita santai.


Secara perlahan mereka mengelilingi Rita dan Ney juga hadir dengan sombongnya merasa Rita akan ketakutan. Tapi tidak malah yang ada, Rita maju mendekati ketua geng mereka. Dari dekat mereka agak gentar nyatanya Rita berbadan tinggi meski tidak memakai high heels.


"Lho, kita itu temannya dia justru kamu yang orang luar. Tidak tahu malu sekali ya," kata Ria geng mereka.


"Kamu tidak takut dengan kita? Kita bisa lho lebih parah merundung kamu yang sudah jelas-jelas merundung Ney," kata Sarah ketua geng.


Rita melirik ke arah Ney yang salah tingkah namun menantang tatapan pada Rita karena dia sendirian. "Ohhh hohoho jadi begitu cara kamu ya untuk memenangkan perdebatan? Ckckckc kamu sendiri yang berbuat dosa, cerita ke mereka dengan membalikkan fakta. Oke oke aku terima tantangan kamu, untuk informasi kamu ya aku tidak takut!" Kata Rita menggeram pada Sarah.


"Ney, cerita kalau kamu merundung dia karena kamu merebut gebetannya yang dia kenal lebih dulu. Gila ya tidak usah sok pakai hijab deh isinya PiiiiiP," kata yang lain.


"Hahahaha ya ampun jadi benar ya kamu suka Alex. Tapi nyatanya dia sama sekali tidak ada perasaan apapun. Kalian mau bukti? Nih di tanggal ini siapa yang dia duluan chat," kata Rita memperlihatkan chat awal dengan Alex.


Ney yang kaget hanya bisa diam. Apalagi Rita memperlihatkan tatapan sadisnya pada Ney. "Tapi ini..."


"Sekarang buktikan lihat deh chat Ney sendiri, orang dia yang maksa ingin dikenalkan. Kalau tidak mau diperlihatkan, biar aku saja yang kasih lihat," kata Rita tapi tangannya dipukul oleh Sarah dengan keras. Rita berteriak kesakitan, beberapa tamu mulai maju.


"Hei, kalian jangan suka cari masalah deh di acara orang. Pergi sana!" Teriak mereka mengusir.


Karena semakin banyak yang mengusir, Sarah kemudian meminta maaf membuat yang lainnya merasa sebal. "Oke, aku yang salah. Sori tapi itu pantas untuk kamu dapatkan karena beraninya keroyok dia," kata Sarah.


"Iya kamu keroyok dia sama Arnila. Apa sih salahnya?" Tanya Ria yang membelai bahu Ney.


"Salahnya? Aku salah ya sudah menerima dia jadi teman dan sudah banyak kepercayaan. Di saat semua orang tidak ada yang mau dengannya, aku yang ikhlas sama dia. Pretttt sekarang nyatanya begini, pantas semua teman aku juga tidak sudi kenal sama dia!" Kata Rita menunjuk ke dahinya Ney.


Ney tentu saja kaget mendengar pernyataan Rita. Dia benar-benar membeku tidak tahu harus bertindak seperti apa lagi, ditolaknya kedua tangan Ria yang memeluknya.


Tamu kemudian lebih memilih pindah tempat dan hanya beberapa orang yang ada disana. Prita dan kedua temannya sudah berbelok, Anabel melihat Prita yang setengah berlari dan ikut mengejar. Prita jelaskan pada mereka kalau kakaknya pernah dirundung dalam tahun ini oleh Ney dan orang lain. Anabel, Aril dan Sadam kaget bukan main dan bergegas ikut setengah berlari.


"Kalian blok orang yang mau kemari, biar aku yang urus sisanya," kata Anabel.


"Hebat juga ya kamu tidak ada rasa takut menghadapi kami," kata Feb yang menggulung-gulung rambutnya.


"Hah! Kalian bukan setan kan? Aku tinggal banting kalian saja sih soalnya badan kalian pendek ya. Tidak terlalu cantik juga polesan salon ya berbeda dengan aku, model baju kalian asli norak. Lihat dong penampilan orang sini, kekurangan bahan ya hahaha," tawa Rita.


Mereka semua bermuka merah apalagi semua orang yang masih ada ikut tertawa. Memang Rita terlihat sama sekali tidak takut baginya orang yang senang merundung tanda hidupnya menyedihkan. Makanya mereka pasti merundung orang-orang yang bahagia.


Salah satu dari mereka tampak geram mendengarnya dan memberi kode agar bisa memberinya celah. Dia memegang segelas air dan bermaksud menumpahkannya. Prita untung saja sudah sampai dan menerobos Ney dari samping membuatnya terdorong ke belakang.


"Eeeh,,," kata Rita yang tiba-tiba terseret ke samping.

__ADS_1


"Kamu mau diguyur air sama itu," kata Prita menunjuk ke arah anggota gengnya.


Teman Ney itu terdiam dan mendapati sorot mata tajam dari Prita. "APA KAMU? Saya tahu kamu mau menjatuhkan air itu ke kakak saya kan, norak sekali caranya kenapa di semua sinetron, novel bahkan dimanapun. Cara menumpahkan air sebagai langkah ketidaksengajaan sih?" Tanya Prita membuat mereka semua kaget.


"Itu karena warna bajunya tidak bagus jadi kita hanya membantu agar warnanya sedikit kalem," kata Ria.


Tiba-tiba... BYURR teman yang lainnya berhasil menjatuhkan air ke baju milik Rita. Rita kaget menepis air yang tersisa. Tidak begitu basah yah lumayan sih membuat Prita dan temannya marah sekali.


"Saya rundung si Ney sendirian, sedangkan kalian merundung saya banyakkan jadi siapa yang sebenarnya jahat?" Tanya Rita membalas.


Mereka terdiam menyadari memang benar perkataannya. Beberapa tamu terlihat marah sekali melihat apa yang mereka sengaja lakukan, tapi tidak ada yang bisa dilakukan. Setidaknya air yang salah satu anggota mereka lemparkan hanya mengenai pinggang dan tidak terlalu basah.


Sarah dan yang lainnya tertawa puas sedangkan Ney senyum tanpa melawan yang mereka lakukan. Tentu saja itu membuat Rita ingin menghempaskan tuyul-tuyul ini ke lantai. Dia agak bersalah tapi ikut tertawa karena rasa yang dia pendam terbalaskan tentunya tidak berani menatap Rita.


"Iya ya kamu memang orangnya lebih berani kalau main keroyokan. Jadi kamu memanggil mereka karena takut ya menghadapi aku sendirian? Pengecut!" Kata Rita ke arah Ney.


Ney terdiam begitu pula teman segengnya. Mereka memandangi Ney yang membuang muka ke arah lain.


"Itu.. karena kita ini mau apapun ya selalu berkelompok. Sedangkan kamu sendirian, kita ya mendukung kalau teman kita ada yang kena perundungan," kata Ria dengan gaya sombong.


"Iya betul tuh," kata Ney dengan angkuh.


"Coba lu hadapi gue sendirian. Berani heh!" Setu Rita mendorong Sarah hingga dia agak kepleset.


Teman yang lainnya malah menyamping menghindari begitu juga Ney yang ketakutan. Sarah yang didorong marah dan maju tapi sekali dorong oleh Rita, dirinya hampir jatuh.


"Mana? Berani tidak? Anak Jakarta beraninya hanya keroyokan, takut ya sama anak Bandung? Sekali sentil, rontok tuh gigi," kata Rita yang mendorong kuat Ria dan yang lainnya.


Di atas panggung, Adik Arnila melaporkan sesuatu pada kakaknya. "Kak, teman kakak ada yang mendapatkan perundungan. Kata teman yang lain mereka ada berenam dan teman kakak hanya sendiri. Aku kan sudah bilang mengundang kak Ney itu bermasalah," katanya.


Arnila yang mendengar itu langsung berdiri dan mau turun dari atas panggung. Suaminya menahan dan memanggil beberapa petugas untuk mengusir geng itu.


"Tenang, kita tidak mungkin melerai mereka biar petugas WO yang tangani. Sabar lagipula Rita bukan tipe pendiam kan kamu juga sudah banyak cerita," kata suaminya yang menarik Arnila untuk duduk.


"Iya sih, Rita itu kalem tapi kalau ada yang memancing justru bisa lebih parah. Iya ya saat ini belum ada laporan kalau ada yang berdarah-darah," kata Arnila meski cemas.


Kembali ke tempat Rita, Ria yang kaget didorong keras bermaksud melawan balik dan menyerang. Saat dia mau melakukan itu tiba-tiba... PLOKKK. Krim kue tart menimpa kepalanya bagian belakang dengan tepat. Kemudian dia kaget dan memegang, tampak banyak krim berada di seluruh rambutnya dan histeris.


Semuanya kaget begitu juga Ney, lalu Anabel melemparkan lebih banyak lagi ke semua teman gengnya, Ney juga ikut terkena noda krimnya bagian rok.


Prita bersorak melihat lemparan Anabel semuanya terkena pada target. Rita tertawa keras melihat mereka semua kini seperti orang-orangan salju.


"RAMBUT GUEEE!! HEI SIAPA SIH YANG LEMPAR?!" Seru Ria dengan garang.


"Wah wah beraninya keroyokan berkelompok ya. Hadapi satu orang dong supaya adil. Nih rasakan kalian beraninya keroyok teman gue!" Teriak Anabel yang kembali melemparkan krim tartnya ke arah mereka semua.


"Rasain! Memangnya enak?" Tanya Prita menjulurkan lidah ke arah mereka lalu bergabung dengan kakaknya.


"Huaaaaa bajuku ini harganya mahal tahu. Aduh, ibuku bisa marah. Ganti!" Teriak Sarah yang menangis melihat bajunya penuh krim.

__ADS_1


"Cup cup cup sini aku bersihkan deh ya," kata Anabel mengambil saputangan yang sudah disiapkan olehnya.


Mereka semua membiarkan Anabel membersihkan baju mereka dengan amarah yang tertahan. Tapi bukannya bersih ternyata Anabel sudah mencampurkannya dengan cairan tinta, alhasil baju mereka yang berwarna pink kini berubah warna menjadi hitam dan mereka semua histeris.


"Gaunkuuuuu," kata anggota yang lain meneriaki lalu menangis.


"Alaaah begitu saja cemen lihat dong Rita kalian sudah usili bajunya ada dia menangis? Cengeng lu pada," kata Sadam menertawai kelompoknya Ney.


Wajah Ney pun memerah malu karena Aril menertawainya dengan keras. Tadinya dia bermaksud dengan timnya bisa membuat Rita takut, eh sekarang malah dia dan yang lainnya dipermalukan. Ney menutupi wajahnya dengan tangannya dan pergi begitu saja tanpa Rita dan gengnya sadari.


"Wah hitam ya aku baru ingat dong tadi aku baru mengelap meja dengan saputangan lalu ada kopi yang tumpah kena. Maaf ya tapi itu disengaja kok," kata Anabel mengedipkan sebelah matanya.


Mendengar itu, mereka sangat marah dan mulai menyerang Anabel tapi sebelum bisa dilakukan, Rita sudah melayangkan tendangan kaki ke arah punggung mereka alhasil 2 orang jatuh ke lantai. Anabel terpekik lalu tertawa begitu juga dengan Prita.


"Ceroboh ya buka celah untuk diserang dari arah belakang," kata Prita menutup mulutnya.


Sarah merah padam dan memukul bahu Rita kemudian Rita balas menendang perutnya, begitu juga ke yang lainnya. Ney kaget melihat Rita bisa seperti itu karena takut dia sedikit demi sedikit lari lari tempat itu.


Yang lain bukannya menghadang malah saling bertaruh siapa yang menang. Mereka bersorak agar Rita lebih rusuh lagi melawan mereka berenam. Prita melihat kesempatan terbuka lebar ke arah Ria yang bajunya sebagian masih bersih. Kopi hitam pekat Prita lemparkan ke wajah Ria sampai 3 gelas.


"Kyaaaaa!!" Pekik Ria menyadari dirinya diguyur 3 gelas kopi hitam.


"Ini akibatnya ya kamu guyur kakak saya dengan sengaja," kata Prita geram. Ria hanya diam mendengarnya, dia menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya dan berlutut menangis. "Ada yang kabur!" Teriak Prita.


Anabel yang melihatnya menyengir. "Maklumlah pengkhianat dimana-mana pasti kabur duluan meninggalkan timnya," kata Anabel yang dengan sigap melangkahi Ney.


Rita lalu menyikut Feb dengan keras sampai dia terpojok dan menangis kesakitan. Feb hendak melawan tapi yah, kena serangan penghalang oleh Prita lalu Rita hajar sekalian. Tumbangkan mereka semua menahan kesakitan dari tendangan kaki Rita ke arah perut mereka, untung belum pada nikah. Tapi itu sebagai pengingat supaya mereka tidak terlalu meremehkan orang.


"Eit eit, mau kemana? Kok kabur? Takut yaa tadi aku lihat kamu seperti yang puas sekali ya salah satu geng kamu menjatuhkan air dengan sengaja ke baju Rita. Kamu yang merencanakan ya," kata Anabel berhasil mencegat Ney.


Ney kaget berusaha menghindar dan lepas dari pengawasan Anabel. Anaknya super lemot tapi ternyata aslinya parah total kenapa Aril bisa jatuh cinta padanya, karena ternyata Anabel seorang Yakuza. Tapi Rita sama sekali tidak tahu, yang dia tahu orang lemah biasanya bisa lebih parah mengamuk kalau diganggu. Ney bisa dengan jelas melihat kilasan siapa sebenarnya Anabel makanya dia ketakutan.


"Minggir lo! Gue tidak kenal sama mereka!" Ketus Ney tidak melihat ke arah Anabel.


"Yakin? Kalau tidak kenal kenapa kamu gabung? Sampai tertawa jahat di samping dia, seharusnya kalau tidak kenal kamu bela dia dong karena mau diusili mereka. Benar tidak?" Tanya Anabel yang terus menghalangi Ney.


"Bisa minggir tidak sih?" Tanya Ney dengan marah.


"Heh! Ini apa?" Tanya Anabel dengan ketus juga dan menyalakan rekaman. Dan terlihat percakapan dia dan yang lainnya apalagi terlihat jelas seperti apa Ney tertawa dan ikut mendukung teman-temannya. "Mau aku umumkan di atas sana kalau kalian berani merundung Rita?" Tanya Anabel memainkan rekaman itu.


"Kamu tidak akan berani! Arnila tidak akan pernah percaya," kata Ney yang sebenarnya ketakutan setengah mati. Dia ingin sekali menangis tapi bukan karena kelakuannya tapi kalau rekaman itu disebar, habis sudah reputasinya. Mana sebulan lagi dia wisuda, kalau pihak kampus tahu kelulusannya akan ditiadakan.


"Taruhan yuk. Mungkin kak Arnila tidak akan percaya tapi masalahnya kan ini dilihat semua orang. Bukan hanya oleh perekam coba deh kamu lihat sekeliling. Di ruangan ini ada berapa mata saksi melihat kamu dan teman yang lain melakukan perundungan," kata Anabel membisiki ke Ney.


Ney gemetaran mendengarnya dia melihat ke yang lain, mereka memandanginya seakan menjijikkan karena dengan jelas mendengar apa yang mereka katakan pada Rita. Ney kemudian merapihkan rambutnya dan bajunya dengan tangan yang tidak baik-baik saja.


"Jangan laporkan," kata Ney dengan suara paraunya. Tapi Anabel tidak bisa mendengarnya dengan jelas.


"Efek dari semuanya kamu akan di usir dari pesta ini dan akan selalu diingat semua orang, betapa buruknya kelakuan kamu dan geng sendiri. Kamu bahkan tidak punya rasa kesatuan, tuh lihat kelompok kamu sedang kesakitan," kata Anabel membalikkan Ney dengan kuat.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2