ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(204)


__ADS_3

"Yang paling membuat aku kaget itu ternyata Syakieb sudah menikah!" Kata Ney dengan gaya lebaynya.


"Kalau soal Syakieb sih kita berdua sudah tahu kalau dia sebenarnya sudah menikah," kata Arnila.


Ney menatap temannya itu dengan kedua mata yang tajam merasa dirinya kok tidak diberitahu? "Kok kamu tidak bilang sih?"


"Kita sudah bilang kok justru kamunya yang sedang tenggelam oleh Cinta, kita mau bilang apapun bagi kamu itu semua bohong," kata Rita.


"Ya tapi kan harusnya paksa gitu sampai akunya sadar," kata Ney cemberut, dia seperti mencari - cari alasan agar tidak terlihat bersalah.


"Kamu kan orangnya sulit percaya jadi ya kita putuskan membiarkan kamu supaya kamu sendiri yang melihat. Bagaimana setelah melihat dengan kepala sendiri?" Tanya Rita dengan senyuman.


"Mata bukan kepala," Arnila membenarkan.


"Apalah artinya kata - kata," balas Rita dengan gaya yang puitis.


"Memangnya kamu awal tidak penasaran dengan Syakieb, Rita? Kelihatannya dia tertarik sama kamu lho," kata Ney dengan nada yang kecewa.


"Ohhh.. Tidaaaak. Aku tidak mau bertemu dengannya terlalu sering karena memang tidak suka terlalu dekat dengan yang tidak dikenal dan Alex juga melarang," kata Rita memainkan bungkusan permen.


"Kamu enak ya ada Alex yang sering memperingatkan. Aku tidak ada," kata Ney yang masih cemberut.


"Lho, kamu kan ada Arnila. Dia tidak kamu anggap nih? Tuh, dia mah tidak perlu kamu ngapain kamu bela dia segala? Nanti lagi tinggalkan saja," Rita menyonggol Arnila menggodanya. Arnila diam mendengarnya.


"Ya bukan begitu. Aku juga kan ingin gitu Alex memberi peringatan," kata Ney.


"Kamu bukan siapa - siapa dia. Kita berdua kenal Alex karena ada Rita, aku kenal Alex dari kamu juga kan dan Rita yang menceritakan. Yang dekat dengannya hanya Rita, sudah kamu jangan mulai mengada - ada lagi deh, Ney!" Kata Arnila yang sudah pusing dengan kemauannya.


"Ini benar - benar tidak adil! Untukku!" Kata Ney sambil menghentakkan tasnya ke lantai batu.


"Pikirmu Allah SWT itu tidak adil? Apa harus Dia memberikan kamu apapun yang kamu inginkan termasuk Alex? Kamu ingin yang instan tanpa perlu berjuang, tuh ada Dins. Kamu memangnya bisa terima Alex yang punya cacat jantung? Aku yakin sih kalau sakitnya kambuh, kamu pasti lari," Rita mengingatkan.


"Dins lebih bagus. Dia sehat kan apalagi sih yang mau kamu cari hanya bedanya dengan Alex memang di statusnya saja," kata Arnila memukul bahunya Ney.


"Yang sudah kamu dapatkan harusnya banyak kamu syukuri bukannya merasa kurang terus. Mau sampai kapan kamu ingkar janji terus sama kalimat kamu sendiri? Kamu pikir Alex bahagia dengan yang dia punya? Aku yakin tidak sih," kata Rita.


Mereka bertiga terdiam sejenak, lalu Arnila mengeluarkan kue yang dia beli sebelum menemui mereka.

__ADS_1


"Eh, sebentar ya aku mau ke Indomaret dulu," kata Rita lalu beranjak ke sana.


Arnila dan Ney berdua di taman. Lalu Ney bertanya sesuatu, "Kamu ada obrolan sama Rita waktu minggu kemarin?"


"Obrolan apa? Minggu kemarin yang mana?" Tanya Arnila yang sedang berusaha membuka cemilan.


"Itu lho waktu aku off sama kalian," kata Ney mengingatkan.


Arnila lalu berpikir dia mengulang ingatannya dan teringat obrolannya dengan Rita tapi disembunyikan.


"Oh! Tidak ada, waktu kamu off aku juga sibuk persiapan terakhir. Memang kenapa?" Tanya Arnila yang mulai memakan cemilannya.


"Yakin? Aku merasa kalian pasti ngobrol membicarakan aku," kata Ney yang masih menatap lekat Arnila untuk meyakinkan.


"Tanya saja Imron kalau tidak percaya," jawab Arnila.


"Aku tanya ya," kata Ney yang kemudian menatap Arnila lagi. Tapi Arnila mengangguk sambil memainkan permainan di ponselnya.


"Apa?" Tanya Imron.


"Minggu kemarin si Arnila ada ngobrol sama Rita tidak?" Tanya Ney penasaran.


"Gue kan nanya kenapa lu jadi ngambek?" Tanya Ney. Dia sebal juga dengan Imron hanya karena ganteng dan materi yang dia punya, Ney pernah suka.


"Sesuka gue!" Jawabnya. Saat itu Imron sedang rapat di kantornya saat tahu Ney menchatnya, sudah jutek saja moodnya.


"Jadi apa jawabannya? Gue cuma nanya si Arnila ada chat tidak sama Rita?" Ney kesal banget. Arnila melihatnya hanya senyum saja. Imron kan sama dengan Rita perilakunya, jadi pasti susah.


"Sesuka gue mau jawab atau tidak! Sudah, gue lagi rapat malas gue chat ama lo!" Setelah itu, Imron men-silentkan ponselnya dan kembali mengikuti rapat.


Ney melemparkan ponselnya ke tas dan marah - marah. "Calon suami lu nyebelin banget! Gue nanya malah dijawab ketus. Marahin dia tuh!" Kata Ney yang sebel banget.


"Ya buat apa aku marahin dia? Hak dia mau jawab apa enggak. Memang kenapa sih kalau aku sama Rita ngobrol? Terus salah kita obrolin soal kamu?" Tanya Arnila.


"Tuh kan benar ngobrolin gue! Senang banget ya pasti gue kalian fitnah kan?" Tanyanya dengan beringas.


"Iya kita memang senang banget fitnahin lu yang sering berbuat ulah! Ada masalah, lu kabur, lu yang buat masalah, kita juga yang lu salahin. Sadar dong mana ada orang yang bakalan tahan sama tukang pembuat onar! Aku tuh manusia Ney, aku lihat jelas banget kamu banyak suruh Rita ini itu ke Alex, tapi kalau Alex ambruk lu kabur! Rita lawan lu, lu seperti kepanasan gelisah. Lu maunya bagaimana sih? Lu anggap kita berdua budak lu ya selama ini?" Tanya Arnila yang langsung mengeluarkan unek - uneknya.

__ADS_1


"Maksud gue tidak ada niat begitu kok. Itu sih lu saja yang baperan!" Kata Ney dengan jutek.


"Inget ya tidak semua orang bakalan sependapat dengan yang kamu lakuin. Kamu pernah bilang kalau yang kamu lakukan itu demi kebaikan Rita, tapi kamu sadar tidak sih kalau akibat perbuatan kamu tuh, Rita jadi menjauh? Memang ya aku rasa kamu aneh banget. Sudah diberi teman yang benar - benar mau mengerti, tapi kamu sia - siakan. Aku sendiri lho yang merasakan kalau kamu sudah keterlaluan! Bahagia itu bukan berarti kamu hempaskan semua teman dan kamu lupain mereka. Bahagia tuh, kamu tetap dengan teman dan biarkan mereka terus berada di sisi kamu," kata Arnila berusaha menjelaskan apa yang dia rasakan saat bersama dengannya.


Ney diam mendengarnya, dia yakin Arnila masih ingin banyak menasehatinya. Ney mendengarkan tapi menutup telinga, apa yang dia pikirkan mungkin memang untuk kebaikan Rita tapi dia pun memperhitungkan kebaikannya. Dia ingin Rita memujinya, mengangkatnya lebih tinggi, menjadikannya sebagai orang paling penting dalam hidupnya tapi ternyata caranya salah.


"Gue tahu kok merasa Rita sepertinya menjauh dari gue," kata Ney.


"Karena kamu sudah menyakiti dia. Dia yang aku tangkap selalu membela kamu di depan siapapun, berharap kamu terbuka karena 'aku bisa jadi teman kamu' tapi... kamu pernah bilang sama Rita, 'Kamu tuh harus mengubah semua sifat dan kepribadian kamu karena Alex itu lebih ingin kamu begitu.' Itu sakit banget kerasanya, Ney. Kamu tidak tahu karena kamu lebih mengedepankan ego kamu sendiri, kamu tidak punya rasa percaya dengan Rita. Kamu memang tidak cocok dengan Rita, jadi jangan memaksa dia untuk jadi teman kamu," jelas Arnila membuat Ney menundukkan kepalanya dan agak meneteskan air mata.


"Tapi aku care sama dia, Nil. Aku hanya ingin yang terbaik saja buat dia," kata Ney dengan nada sedih.


"Kamu ikhlas tulus bantu dia sama Alex?" Tanya Arnila.


Ney diam. 🙄🙄.


"Kalau kamu tulus, kamu bisa nerima Rita seperti apapun. Bukan malah membuat dia mengubah pribadinya tapi menerima apapun yang dia punya, itu yang tulus. Kalau kamu tulus, saat membantu Rita tidak ada keinginan kamu diberi sesuatu yang lain. Kalau seperti itu sama saja kamu tidak ikhlas. Tulus tidak?" Tanya Arnila lagi.


Ney lagi - lagi terdiam dan Arnila mengerti memang ada sesuatu yang Ney inginkan. "Memangnya kamu tidak ingin sesuatu yang lain dari Rita?"


"Ada," jawab Arnila.


"Tuh kan kamu juga punya niat lain. Berarti kamu itu yang tidak tulus," kata Ney dengan seringaian.


"Aku ingin dia selalu bahagia dengan siapapun, dan menjalani hidup dengan berani dan tegar. Aku berdoa dimanapun Rita berada, apapun yang dia hadapi Allah SWT selalu mengiringinya. Itu keinginanku terhadap Rita. Dan semoga yang Rita inginkan entah doa atau permintaan, terkabulkan sebagaimana prosesnya. Kamu?" Tanya Arnila dengan wajah yang mantap.


"Oh. Jadi itu yang kamu inginkan dari Rita. Ya alu juga ingin lihat dia bahagia tapi jangan sampai lupa saja sama balas budinya," kata Ney yang kemudian terdiam.


"Kalau membantu orang jangan pernah sekalipun kamu berharap ada imbalan itu namanya kamu tidak ikhlas, tidak tulus. Biarlah Allah SWT yang memberikan balasan, itu aku selalu berkata begitu. Entah Rita akan ingat dengan yang aku lakukan atau tidak, bukan masalah. Rita tidak perlu diingatkan soal balas budi segala, dia pasti akan mendoakan kita yang terbaik," kata Arnila yang sudah tidak bisa berkata apapun untuk Ney.


"Ya boleh kan kalau nanti berhasil langsung minta. Tidak akan berat kok," kata Ney yang tetep dengan keinginannya.


"Menurut aku sih tanpa ada kita mereka akan lancar dan berjalan di jalan takdirnya. Rita tidak butuh kamu untuk mencapai takdirnya," kata Arnila.


"Serius? Rita tidak butuh bantuan aku? Aku ini paling tahu soal Alex. Aku pikir Rita masih butuh deh," kata Ney dengan pedenya.


"Lihat saja nanti." Kata Arnila dengan jutek.

__ADS_1


Ney memandang Arnila dengan takut sebenarnya dalam hati Ney, dia takut apa yang dikatakan Arnila menjadi kenyataan. Selama berteman dengan Arnila, Ney mengakui banyak yang terjadi sesuai apa yang Arnila katakan. Dia juga sadar kalau kemampuan Spiritual Arnila lebih besar tapi dia sama sekali tidak merasakan milik Rita. Ney takut menanyakannya pada Arnila apa yang dia lihat.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2