ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(260)


__ADS_3

"Memangnya ponselnya dia bunyi?" Tanya Annisa yang merasa ponselnya sama sekali tidak bersuara.


"Sama sekali tidak, sudahlah ketahuan kan kalau dia hanya berani bicara menantang tapi nyatanya omong kosong. Kamu kok bisa tahan sih, Rita?" Tanya Siti keheranan. Melihat kelakuannya yang tidak normal itu.


"Tahan juga jangan sampai kalian berpikir kita selalu baik - baik saja ya. Aku juga sudah lama merasa aneh sama dia, kita lebih banyak berantemnya daripada baik - baik saja, beda pendapat sampai argumentasi, orangnya lebih mentingin dirinya sendiri. Kalau dia yang ada masalah, semua orang dipaksa mengerti soal dia tapi kalau kebalikannya, malah dia yang pergi," kata Rita menceritakan semuanya.


"Kelihatan sih kamu sama dia jauh banget. Bukan Sahabat ya," tebak Tamada.


"BUKAANNN 😤😤ogah banget jadi sahabat dia teman dekat juga masih terlalu baguslah. Aku dulu pernah punya masalah keluarga yang pelik, aku sudah panjang lebar cerita soal kesulitan aku eh dia malah ketawa membaca orang yang cerita sama dia di ponselnya. Bagaimana coba kerasanya? Sakit banget di sini," tunjuk Rita ke hatinya.


Diana membelai tangannya, dia tahu bagaimana rasanya sudah bersusah payah cerita tapi ternyata orang di hadapannya sama sekali tidak perduli. Mereka semua juga mengerti.


"Terus bagaimana?" Tanya Siti penasaran. "Jahat banget! Kalau memang tidak butuh teman, buat apa dia sekarang masih sama kamu?"


"Ya aku langsung pergi saja dari rumahnya, aku tuh lagi down banget eh dia lebih perhatian ke orang lain. Terus ya untungnya teman dekatku yang lain ajak aku jalan jadi dia menjemput aku dimana, teman semasa SMA. Dan itu adalah terakhir kalinya aku datang kerumah dia, terakhir kalinya aku cerita masalah kesulitan aku. Setelah itu aku memutuskan untuk mencari banyak teman di luaran. Ya lalu ketemu kalian juga, ya sudah dia aku anggap hanya sampingan," kata Rita dengan mengangkat bahunya.


"Ih, parah banget! Itu mah dia secara langsung menolak kamu jadi temannya terus memang tampaknya tidak butuh teman sih. Kalau butuh pasti tidak akan sampai seperti itu," kata Linda.


"Ya iyalah, dia akan ikut simpati dengan masalah kamu. Tapi dia pernah kasih saran?" Tanya Komariah penasaran.


"Pernah tapi bukan saran yang baik. Aneh, orang punya masalah cukup didengar saja. Tapi ini kasih sarannya sama sekali tidak sesuai masalah terus malah yang ada nyalahin aku terus sekarang dia bilang kalau ada masalah cerita saja, aku akan usahakan semampunya membantu kamu," kata Rita nyengir.


"Ya karena kamu kenal lelaki ganteng plus tajir pastinya dia ingin kecipratan. Kalau menurut aku sih jelas yang terlihat begitu nah dia merasa terancam karena ternyata kamu cerita ke Kokom dan Mbak Diana, di luar dugaan dia juga baru tahu kalau kamu punya Sahabat dan banyak teman dekat," kata Tamada yang ternyata pendengarannya tajam banget tapi saat itu Rita sedikit aneh juga dengan Tamada tapi mungkin hanya perasaannya saja.


"Nah aku sependapat jadi intinya posisi dia terancam gitu, Ri. Makanya yang kita lihat sih dia sengaja menjelekkan kamu di depan kita atau dia menjelekan kamu ke kita, supaya kita menjauh dari kamu," lanjut Linda yang ternyata mengobservasi juga.


"Asli jelek banget Rita orangnya. Kamu harus hati - hati kalau kita percaya sama dia, dia bakalan senang banget kamu nanti tidak punya teman. Tapi sayangnya selama kita kenal kamu, kamu benar - benar memperlihatkan kamu yang asli jadi kalau ada yang jelek, memangnya kita juga sempurna?" Tanya Tamada.


"Kelihatan banget Rita waktu dia tahu kalau kamu cerita soal lelaki ganteng itu. Dari wajahnya dia bete ke kamu, merasa dia yang berhak tahu bukan kita. Memang dia bukan peduli sama kamu tapi dia ingin kamu punya hutang ke dia. Kamu merasakan itu kan?" Tanya Diana.


"Sudah lama makanya aku anti banget ada hutang apapun, atau kalau pinjem uang juga aku tidak pernah. Aku selalu ada perasaan tidak enak kalau meminta bantuannya atau apapun itu. Karena lihat sifatnya begitu, malas lah! Dari yang curhat saja, kan dia malah tidak perduli," kata Rita yang cemberut lalu Komariah memberinya permen dan Rita tersenyum lagi.


"Eh eh orangnya datang tuh!" Kata Annisa menunjuk ke seberang.

__ADS_1


Ney kemudian berjalan ke arah mereka dengan lambat - lambat untuk menghabiskan waktu agar mereka tidak bertanya lagi.


"Kita jangan bertanya deh soal yang tadi sudah ketahuan kan kalau orangnya hanya berani menantang aslinya dia jarang baca deh," bisik Siti kepada semuanya. Mereka setuju tapi ada juga sih yang ingin nyeletuk.


Ney datang lalu duduk sambil bergumam lagu dengan senang.


"Duh, bisa - bisanya ya ada orang yang sok tahu hafal semua surat pendek tapi ternyata jarang baca," celetuk Annisa yang berpura - pura membuka ponselnya. Ney mendengarnya dan terdiam.


"Iya padahal kita sudah senang ya meskipun perilakunya minus banget bicarain soal Rita kali saja serius pintar baca surat pendek eh tahunya cuma omong kosong!" Balas Komariah sambil tertawa cekikikan.


Yang lain saat mendengarnya menahan tawa dan pura - pura membuat mereka tenang. "Jangan begitu. Mungkin dia lupa kemampuan dirinya sendiri. Namanya juga manusia ingin sekali jadi pusat perhatian tapi tidak mampu,"


"Ya kita kesal saja Teh Siti, ya ada orang yang sukanya gembar gembor keburukan orang lain. Memangnya dia sendiri tidak punya keburukan? Baru kenal gitu lho tapi sudah berani banget ya bilang ini itu. Ih, aku sih ogah banget jadi teman dia juga," kata Annisa dengan nada mengejek.


"Iya sih memang, aku juga berpikir kok berani banget ya? Kita hati - hati saja jangan sampai masuk perangkap yang dia buat. Biarlah dia berbicara buruk soal orang lain, pahala dia buat kita dibagi - bagi. Ambil saja hikmahnya, akibatnya dia pahalanya kosong," kata Siti sambil mengedipkan sebelah matanya.


Ney tampak terdiam pura - pura tidak mendengar. Dugaannya salah, mereka ternyata masih ingat dan tahu soal siapa yang mereka bicarakan. Rita tampak sinis padanya, Ney merasakan pandangan menghujam kepadanya tapi dia pura - pura tidak mendengarkannya.


"Kalau dia tidak pernah sholat, lalu tidak pernah berbuat kebaikan. Pahala tidak ada karena sudah jadi kebiasaan menyakiti orang bagaimana Teh?" Tanya Rita dengan sengaja meninggikan suaranya agar terdengar oleh Ney. Mereka membelalakkan matanya.


"Itu sih kita dapat pahala tidak mendengarkan kejelekan yang sedang dia ceritakan. Allah yang akan membalas perkataannya nanti bisa di dunia entah saat dia berbuat apa, sedang apa, atau mendapatkan sesuatu entah dari siapa dan diakhirat. Tidak akan ada yang bisa menolong dia karena dia terlalu sering menyakiti orang lain. Omongan teraniaya akan menumpuk dalam dirinya kalau di dunia setidaknya orang tua bisa membantu tapi kalau di Akhirat..." kata Siti menjelaskan.


"Jangan harap Lu akan dibantu! Makan tuh!" Teriak Annisa yang meninggikan suaranya juga. Mereka saling mendorong dan memukul pelan Annisa.


Ney menggigit bibir bawahnya yang tipis, dia agak merinding mendengar obrolan mereka. Apalagi saat Rita menyindirnya yang memang tidak pernah sholat wajib dan hanya rajin sholat tahajud. Semua doa yang dia panjatkan hanya untuk duniawi jauh dari untuk dunianya yang asli. Tapi dia tidak punya rasa takut dia hanya takut kalau semua orang membullynya secara massal. Ya itulah dia berani bully orang lain dengan satu kesalahan tapi dia enggan di bully karena perilakunya.


"Kalian mau main kemana sesudah ini?" Tanyanya pada mereka.


"Oh iya siapa yang bisa menebak surat yang aku baca tadi?" Tanya Rita yang langsung memblok pertanyaan Ney.


"Itu sih gampang! An Naba ayat 1 - 14! Itu di urutan berapa sih?" Tanya Diana.


"Kalau tidak salah urutan ke 4, ayo semangat! Kamu masih jauh Rita!" Sorak Tamada kemudian mereka semua tertawa termasuk Rita.

__ADS_1


Ney manyun karena pertanyaannya tidak mereka gubris. Dia menghela nafas lalu mengatakan sesuatu lagi, "Wah ternyata bisa juga ya kamu Rita menghafal surat yang panjang," katanya dengan nada yang merendahkan.


"Anda benar! Baru ya baru kali ini An Naba nya lancar mudah - mudahan minggu depan aku lulus jadi bisa lanjut. Untung sistemnya bukan mengulang dari ayat 1 tapi kalau sudah hafal sampai 14 ayat, kesananya lanjut saja tanpa perlu mengulang dari pertama," kata Rita yang lega.


"Hahahaha soalnya itu panjang sih 40 ayat kan Allah tidak pernah menyulitkan hambaNya, Rita. Kita juga susah kalau harus dari awal," Kata Linda yang tertawa mendengar apa yang Rita katakan.


"Tapi Melinda, Nuraeni, terus Mae bisa tuh," kata Rita yang sengaja mencuekkan Ney.


"Wah, mereka sih beda. Dari pertama mereka kuliah di At Taqwa memang sudah terbiasa melafalkan surat pendek," jelas Annisa.


"Iya mereka kan anak yayasan sekolah agama begitu, jadi tidak heran deh. Aku juga terpana mendengarnya. Subhanallah banget!" Kata Diana yang memang terkagum dengan ketiganya.


Ney terdiam melihat mereka semua sekarang tidak memperdulikannya. Lalu dia berusaha untuk mencari cara agar mereka semua kembali memperhatikan dia. Dia tidak mau kalau sampai tidak diperhatikan apalagi dengan Diana yang sekarang dia dan Komariah menggandeng tangan Rita sambil tertawa.


"Maaf! Tadi itu aku lupa ingat soal surat yang disebutkan oleh Rita! Dan memang tadi aku ada telepon!" Kata Ney yang meninggikan suaranya. Jelas dari suaranya dia tampak gemetaran karena merasa semua orang termasuk Rita tidak memperdulikannya.


Mereka semua memandangi Ney dengan pandangan biasa. Tidak ada yang membalas omongannya, semua dengan keadaan ekspresi datar kalau Annisa dan Linda sih sudah jutek, sisanya hanya manggut - manggut saja. Ney tersenyum pada mereka tapi mereka tidak membalasnya.


"Oh." Kata Siti dan Komariah dengan singkat. Mereka lalu kembali ke pembicaraan soal surat pendek yang sedang mereka usahakan untuk selesai tepat waktu.


Sebenarnya saat Rita membacakan ayat itu, Ney merekamnya lalu mengirimkannya pada arnila, soal ada telepon masuk itu memang bohong karena hanya alasan. Alasan mengirimkan hasil rekaman itu kepada Arnila.


"Nil, kamu tahu nama surat pendek ini?" Tanya dia lewat WA.


"Itu surat An Naba. Kenapa? Siapa yang baca surat itu?" Tanya Arnila tidak percaya deh kalau Ney hahaha.


"Oh, aku dapat isi itu dari suatu tempat," kata Ney yang enggan memberitahu.


"Rita ya yang membacakannya? Dia kan kuliah ada jadwal menghafalkan surat pendek. Wih dia sudah sampai sejauh itu. Jangan bohong deh, aku tahu kok. Sekarang jelaskan perbedaan kamu sama dia?" Tanya Arnila.


Ney tidak membalasnya lagi dia kaget kalau Arnila tahu soal jadwal mengaji Rita, tapi dari mana? Selama ini hanya dia sendiri yang masih berada di tempatnya sedangkan Arnila dan Rita sudah berjelajah jauh darinya. Dia yang masih fokus dengan ponselnya, tidak melihat bila Rita dan Arnila sudah berjalan jauh mencari sesuatu yang mereka cari. Saat sadar, mereka berdua diluar batas penglihatannya.


"Kita jalan - jalan yuk. Pantatku sudah pegal nih," ajak Rita. Mereka semua setuju dan berdiri menggeliatkan badan mereka. Ney juga lalu berdiri dengan cepat, akhirnya mereka akan jalan - jalan. Mereka lalu merapihkan tas dan sampah yang ada mereka buang ke tempat sampah, sampah Ney tidak mereka pedulikan dan Ney membuangnya sendiri.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2