
Ney juga stres karena tugas yang sama sekali kian menumpuk ditambah bukan depan mulai ujian serentak karena hari wisuda sudah mulai mendekati. Agar segar kembali, dia kembali melakukan kesukaannya yaitu menari di klub malam secara diam-diam. Kemudian hari dia pulang ke Bandung untuk meneruskan tugas kuliahnya dan mulai bisa belajar dengan teratur.
Rita pun sama mulai agak panik akan tugasnya tapi tugas kelompok mengajar sudah selesai dengan nilai terbaik. Sama-sama akan menghadapi ujian terakhir dan praktek, Rita pun serius belajar dan Alex yang selalu datang menjenguk Rita dengan tubuh rohnya tidak mau mengganggu.
Alex sabar menunggu untuk mengajak Rita mengobrol setidaknya minggu kemarin Rita sudah mau diajak mengobrol dengannya. Sambil menunggu, Alex bekerja dengan giat terkadang Alex melihat Ameera bersama dengan suaminya berjalan bersama. Ya, Ameera akhirnya menikah dengan calonnya karena ada kemungkinan Ameera sedang hamil.
Arnila pun sudah siap di saat pernikahannya nanti, segalanya sudah 100%. Undangannya disebar untuk Ney dan Rita, dia tahu Ney pasti akan mengomel kalau dirinya mengundang Rita. Karena menurutnya Rita adalah irang yang sama sekali tidak bisa menghargai jasa mereka untuk membantu dan sekali lagi Arnila memberitahukannya.
"Nil, buat apa sih kamu undang si Rita? Dia itu ya orangnya sama sekali tidak bisa menghargai gue atau lu yang sudah membantunya dengan Alex. Kalau aku nikah nanti ogah banget undang dia," kata Ney bertemu dengan Arnila yang terakhir kemarin.
"Tidak apa-apa tidak dihargai toh kita juga salah. Dia sudah mengerti lalu kita paksa dia melakukan di luar yang dia sukai. Kamu mikir tidak sih? Tindakan kamu ke dia juga keterlaluan?" Tanya Arnila yang sedang memakan makanannya.
Ney diam. "Aku kan memang ingin membantu dia makanya aku yang banyak mencari info soal Alex. Eh ternyata begini jadinya dia itu sama sekali bukan orang yang baik," kata Ney kesal.
"Begini ya aku juga setuju apa yang kata Rita katakan Waktu itu," kata Arnila.
"Yang mana?" Tanya Ney bengong.
"Memangnya dia suruh kamu cari info soal Alex?" Tanya Arnila menatap Ney.
".........." tidak ada kata yang keluar.
"Apa dia suruh kita memikirkan cara untuk mendekati Alex?" Tanya Arnila lagi.
"........ Tidak sih tapi kan..." kata Ney kemudian terpotong oleh ucapan Arnila.
"Kalau begitu, itu bukan salah dia tapi karena kamu yang kepo. Siapa yang memaksa dia melakukan apa yang kamu suruh? Apa yang kamu katakan? Aku juga ada di grup itu lho dan melihat siapa yang sebenarnya memaksakan kehendak. Kamu sendiri lho ya yang memojokkan dia dan semangat merundung nya," kata Arnila kemudian makan lagi.
Ney diam mendengarkan apa kata Arnila. Dia hanya ingin berusaha dilihat oleh Rita karena usahanya tapi memang Rita tidak pernah menyuruhnya melakukan apapun.
"Tapi kamu heran tidak sih dengan Rita? Kok dia sama sekali tidak penasaran soal Alex, keluarganya, harta kekayaannya yang menjulang. Malah cuek saja," kata Ney.
"Ya bagus dong. Bukti kalau dia bukan perempuan matre tidak seperti kamu. Pernah dia pamer?" Tanya Arnila.
Ney diam lagi.
"Pernah dia menyombongkan diri? Soal dia punya gaji besar? Ada dia pernah mengirimkan sejumlah uang ke grup? Ney, jadi orang jangan terlalu cepat menyimpulkan yang negatif. Rita baik kok justru kamu yang tidak bisa melihat dia dengan nyata," kata Arnila mengungkapkan.
"Melihat dengan jelas ya siapa dia," kata Ney dengan jutek.
__ADS_1
"Tapi pikiran kamu tidak beriringan dengan omongan. Yang aku lihat selama ini, dia selaluuuu berterima kasih atas bantuan kamu. Mau dia suruh atau tidak, yang dia suka atau tidak, banyak kok dia mengucapkan Makasih. Tapi apa respon kamu? Tidak ada, jadi aku yang justru merasa heran sama kamu. Mau kamu apa sih?" Tanya Arnila keheranan.
Ney menundukkan kepalanya dan meminum airnya. Arnila lalu memperlihatkan beberapa chat yang berisikan kata-kata Rita yang berterima kasih atau saran yang membuatnya merasa tertolong.
"Lihat. Baca," kata Arnila memberikan ponselnya.
"Sudahlah," tolak Ney menjauhkan ponsel Arnila.
"BACA!" Teriak Arnila memaksa membuat Ney kaget lalu akhirnya membacanya.
Ney terdiam berkali-kali, Rita memang memberikan rasa bersyukurnya memiliki teman seperti Ney, dari wajahnya terlihat kalau Ney agak malu dan menolak mengakuinya.
"Alasan Rita tidak bisa menerima kamu lagi karena dia sudah cukup terluka. Aku sama Rita berbeda, Ney. Aku oke kamu sia-siakan, kamu tendang lalu ambil lagi, it's fine. But Rita no, sekali kamu membuat dia kecewa berat jangan harap dia bisa kembali seperti semula dan sekarang hal itu mulai berputar. Apa kurangnya? Dia sampai menurut kamu tahu, dia yang terkena marah kamu yang kabutlr. Dimana tanggung jawab kamu yang katanya sebagai Sahabat dia. Jawab Ney!" Kata Arnila menggebrak meja.
Ney berwajah merah lalu meneteskan air mata buayanya. Dia agak senggukkan mengingat apa yang sudah dilakukannya pada Rita. Semenjak itu, memang terasa sekali Rita menjauh darinya dan selalu menolak apapun yang dia inginkan. Apalagi Rita juga sempat berkata padanya:
"Aku bukan babysitter kamu atau anak kamu. Jadi aku akan melakukan apa yang menurutku baik termasuk memblokir kamu dari kehidupanku." Itulah kalimat pernyataan dari Rita.
"Ney, kamu itu buta. Yang aku lihat kamu ingin Rita mengakui kamu seorang Sahabat atau orang yang paling berharga tapi cara kamu... membuatnya jauh dari jangkauan. Kamu menghempaskan aku hanya agar Rita simpati sama kamu, aku tak apa tapi jangan menganggap Rita akan sama. Dia True BestFriend yang tidak akan pernah bisa kamu dapatkan dari siapapun," kata Arnila membuat Ney merasa buruk.
Ney memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Dia menangis tapi tidak menggunakan hati. Arnila dan Rita sudah tahu kalau Ney sangat mudah mengeluarkan air matanya makanya sudah tidak bisa ditipu lagi.
"Dan satu lagi, berhentilah menangis buaya. Rita juga sudah tahu kebiasaan kamu itu," kata Arnila berbisik kepadanya.
"Jadi dia tahu kalau aku suka menangis bohongan," kata Ney dengan pelan.
"Kamu sering ya pertama ken aku juga begitu, jadinya aku kaget merasa aku punya salah tapi beberapa temanku bilang kalau itu kebiasaan kamu. Makanya aku tidak terlalu ambil pusing, kamu selalu bilang kalau Rita cengeng," kata Arnila.
"Memang dia cengeng pasti Alex..." kata Ney lalu terdiam.
"Kamu iri sekali sama dia. Padahal Rita sama sekali tidak pernah memikirkan apapun yang negatif soal kamu. Dia cengeng menangis dengan hati membuat Alex memiliki hati tulus untuknya. Tapi kamu.... Pikirlah Rita selalu senang kalau kamu bahagia tapi kamu tidak suka kalau dia bahagia," kata Arnila kemudian memberikan surat undangannya.
Ney melihatnya dan terkejut kalau Arnila sudah menyebarkan undangan lalu menutup kartunya. "Apa Rita diundang?" Tanya Ney.
Arnila mengangguk. Ney merasa lemas.
"Duh, untuk apa sih? Rita kan bukan teman kamu, justru saat kamu kenal dia, jadi sial kan," kata Ney.
"Jaga ya mulut kamu, Ney. Mau aku sumpahin lagi supaya mulut kamu tahu diri?" Tanya Arnila yang mulai marah.
__ADS_1
Ney diam berpikir dia salah mengucapkan lagi.
"Bukannya belajar dari kesalahan malah terus menyalahkan. Aku capek sama kamu! Banyak-banyak deh kamu mendengar ceramah mau di Otube atau kamu datang ke mesjid. Hobi sekali sih kamu ini sejak aku kenal selaluuuu negatif thinking ke semua orang, hidup kamu itu sempit sekali ya," kata Arnila dengan sinis.
Ney terdiam lagi dan mulai mencomot makanannya dengan perlahan. "Maaf deh," kata Ney kemudian.
"Lagipula ya Ney, kalau kamu masih terus membicarakan soal kejelekan Rita, kebaikan kamu yang sudah kamu lakukan itu bukan ikhlas. Kamu ingin dipuji, dihormati, naik tingkatan lupakan kalau kamu mau membantu Rita. Rita jelas menangkap semuanya makanya dia mundur teratur karena kamu punya niatan ingin pamor," kata Arnila.
Ney masih tidak bisa berkata apapun. Semuanya menurut Ney, Arnila sudah bisa menebak dan juga Rita.
"Apa... aku bisa kembali berteman sama Rita ya," kata Ney memandangi piringnya.
Arnila menggelengkan kepala. "Jangan. Lupakan Rita, aku juga sudah tidak mau dekat-dekat dia lagi bukan karena dia tidak tahu terima kasih tapi kalau kita berdua ada di dekatnya, dia bisa hancur terutama kamu," kata Arnila.
Ney bengong. "Masa sih? Karena aku... tapi kan aku selalu berdoa untuk kebahagiaan dia," kata Ney yang berusaha terlihat baik.
"Aku tidak sarankan itu, kalau kamu mau mengobrol Rita masih bisa tapi kalau soal berteman menjadi dekat, menjadi teman dekat tidak akan ada kesempatan. Kamu yakin mendoakan dia? Karena omongan kamu selalu berbeda-beda, Ney mana ada akan dipercaya begitu saja?" Tanya Arnila agak simpati.
"Y... Yakinlah!" Kata Ney agak meragukan jawabannya.
"Aku tidak yakin kamu ikhlas karena sampai sekarang pun kamu selalu mengungkit-ungkit apa yang sudah kamu lakukan. Bukan hanya pada Rita, tapi orang lain juga begitu. Aku yakin kelompok kamu selalu bermasalah karena kamu yang merasa sudah banyak bekerja kan," kata Arnila.
Yupz akhirnya Ney dikeluarkan juga dari kelompoknya setelah kelompok praktek menyelesaikan laporannya. Dengan alasan mereka sudah lelah berdebat dengannya dan sebagian anggota memang dari awalnya tidak ada yang setuju memasukkannya ke dalam kelompok mereka.
Alhasil dia kembali lagi dengan tugasnya sendirian dan mulai rajin melakukannya, hingga semua anggota keluarganya menyemangatinya. Seminggu lagi ujian dan wisuda selang seminggu kemudian. Dia kembali mengerjakan, teringat apa kata Arnila membuatnya merasa sedih ( ini yang asli ). Dia menyesal karena sampai 3 bulan pun Rita sama sekali tidak menyapanya lagi.
"Tidak perlu membantu Rita lagi kalau kamu masih terus mengungkit kebaikan kamu. Allah pun tidak menyukai orang yang sering mengungkit kebaikannya. Ney, lepas Rita dan cari teman yang lain biarkan Rita bahagia dengan hidupnya. Selama ini pun Rita juga susah tapi dia bisa mengatur masalah hidupnya, diluar kita lihat dia sangat ceria tapi kalau kamu mau tahu, dia sebenarnya banyak kesedihan. Hal yang membuatnya bahagia adalah teman-temannya yang membuat mereka nampak seperti keluarga sempurna. Seharusnya kamu bisa melihat itu karena kamu yang paling lama mengenalnya tapi kenapa malah kamu selalu menyerang dia?"
Itulah kalimat terakhir Ney bertemu dengan Arnila. Saat Arnila menjelaskan itu sekaligus membuatnya skak mat. Dalam penglihatannya dia sangat iri pada Rita yang memiliki hidup enak apalagi setiap Rita bekerja dimanapun, selalu dapat uang banyak. Selalu bisa membeli makanan meski murah, Ney tahu kalau Rita suka makan. Dia juga tahu Rita selalu berhemat dan membeli banyak makanan murah tapi berkualitas. Ney juga tahu kalau Rita lebih menomorsatukan temannya bahagia daripada dirinya.
Ney pun mengalaminya selama kenal dengan Rita sebenarnya Rita selalu membuatnya nyaman bukan karena Rita tidak ingin kehilangannya. Tapi Rita memiliki cara bahagia sendiri, Rita selalu mengajaknya bermain bukan karena tidak punya teman tapi karena Ney selalu kemana-mana sendirian. Rita yang paling tahu seperti apa Ney disamping sifatnya memang cuek sekali sebenarnya Rita tahu Ney butuh dukungan.
Yang mengecewakannya ternyata Awan tidak selalu Putih. Semua yang Rita lakukan kini dibalasnya dengan jahat. Membuatnya menyesal dalam hidupnya yang hanya ingin bisa berkawan dengan Ney. Dengan semua yang dia lakukan, membuat Rita berhalu ke arah lain mencari teman yang lebih bisa menghargai keberadaannya. Di saat dia mendapatkan apa yang diinginkannya, Ney sadar kalau sendirian.
Berlari mencari Rita, melihat Rita sudah dikerubungi oleh teman-teman yang berkualitas meskipun status mereka sama dengannya. Ney iri, cemburu sekali, dalam hatinya hanya dialah yang mengerti Rita, hanya dialah orang yang paling berharga.
Dengan berbagai cara membuatnya lebih baik dari Rita namun justru dialah yang terjatuh. Dengan berbagai cara juga membuat Rita melihat bahwa temannya itu adalah palsu. Tapi Rita membalas membuat Ney tidak bisa berkata apapun. Kini Ney benar-benar menyesalinya. Arnila banyak memberikan saran yang membuatnya untuk berpikir ulang, tentang apa yang pernah Rita lakukan untuknya. Dan sekali itu, Ney sadar bahwa perilakunya memang membuat Rita sakit. Kali ini, Ney benar-benar menangis bahwa kelakuannya yang menurutnya baik, tidak bisa diterima baik oleh Rita.
Bukan soal menghargai tapi Ney tidak pernah menghormati apapun putusan yang Rita miliki. Tapi namanya juga manusia sulit kalau hanya sehari saja dia mengakui salah. Namanya juga Ney hanya sehari saja sadar, besoknya sudah berbeda lagi.
__ADS_1
Arnila menghela nafas, "Setidaknya kini dia mengaku. Nanti kamu akan mengakui seluruhnya sudah salah dan lebih bisa menerima kalau Rita tidak ingin menerima dirinya lagi." Kata Arnila menyudahi obrolannya dalam ponsel.
Bersambung ...