
Beberapa waktu hari terlewati. Arnila memikirkan apa kata Alex hari lalu karena sudah kepalang membuat Rita mungkin dalam benaknya kecewa dengan dirinya, akhirnya Arnila mengirimkan email. Panjaaaaang sekali isinya intinya dia benar-benar meminta maaf.
Karena selama ini awal dirinya ikut mengusili bersama Ney membuatnya semakin parah apalagi setelah melihat Ney yang kesannya seperti membalas. Dia juga sering membuat Rita terpojok dan kadang terkesan menyerang.
"Aku ingin membela kamu, tapi akhirnya Ney salah paham. Aku membela dia, yang ada kamu juga tersakiti. Di sini aku memutuskan lebih baik urusan kalian aku tidak ada," kata Arnila dalam emailnya.
Saat itu kebetulan Rita disuruh memeriksa email jawaban dari para yayasan untuk proses pengerjaan berkas. Sambil mengerjakan, dia juga membaca semua isi email Arnila.
Arnila sangat menyesal tidak bisa menjadi orang yang pure tidak memihak siapapun seharusnya dia lebih banyak membuat Ney berhenti bersikap menyebalkan. Baginya dia telah salah membiarkan Ney merundung nya.
Arnila juga menceritakan bahwa mereka didatangi Alex secara tiba-tiba. Dia tahu semua apalagi saat Ney terpojok, dia selalu mengancam akan melaporkannya pada Alex.
Kilas balik karena Ney selalu merasa terpojok akhirnya dia selalu mengancam Rita akan melaporkan setiap dirinya terpojok.
"Lihat saja ya gue akan melaporkan perbuatan kamu ke Alex. Kamu serang aku terus, memojokkan aku. Kamu pasti kena hajar sama dia lihat saja," ucap Ney dan dia menjadi orang yang terus mengancam dengan nama Alex.
"Silakan kamu lapor kita lihat saja siapa yang akan kena hajar. Bagaimana sikap lu yang selalu memojokkan aku dengan jalan merundung? Bilang aku kepribadian ganda, itu kamu ya. Gila baru sekarang aku tahu asli lu seperti apa, KENAL ALEX keluar warna asli kamu. Jual pertemanan hanya karena takut dengan Alex yang punya banyak uang? Pretttt itu pendapat aku soal kamu," balas Rita.
Yah mereka berdua bertengkar hebat setelahnya dan apa-apa pasti Ney mengancam dengan membawa nama Alex. Arnila sama sekali tidak menengahi karena tidak berguna. Alex kesal juga membaca semua chat Ney, apa urusannya nama dia dibawa?
Rita saja terpojok tidak pernah membawa nama dirinya bahkan Rita selalu membela Alex kalau Ney mulai menjelekkannya. Meskipun Rita tahu Alex tidak akan pernah tahu sakitnya Rita saat Alex membela Ney.
Untungnya Ney dengan Dins. Rita berpikir, "Oh, ini mungkin ya rasanya kalau orang yang disayangi lebih memihak perempuan lain di hadapan orang yang suka sama dia. Untung Alex bukan pacar atau suami," pikir Rita.
Tapi rasanya saat Alex membela Ney itu... sedih sekali. Disalahkan terus oleh Alex yang sangat Rita sukai membuat hatinya pecah menjadi serpihan. Saat tersisa hanya sepotong kecil yang masih bertahan berdiri, Alex tersadar. Cahaya hati Rita memudar hampir meredup dan Alex berusaha menyelamatkannya.
"Ney bercerita Alex chat dia bilang, "Seharusnya kamu memakai otakmu untuk berpikir kenapa Rita yang pendiam dan sangat lembut itu selalu memojokkan mu. Kini aku paham bukan karena membencimu, dia kecewa. Kamu tahu kan dia tidak suka hal yang seram, tapi kamu malah terus menakutinya bahkan sudah keterlaluan kamu mengancam. Kenapa kamu selalu bawa-bawa namaku? Kamu sendiri yang bilang jangan melibatkan orang lain. Saya tahu semua chat kamu dengan Arnila atau Rita." Panjaaaang sekali," ucapnya dalam email.
Rita masih belum menjawab dia perlu waktu untuk merapihkan emosinya. Untunglah pekerjaannya di sekolahnya sangat banyak jadi dia tidak pernah memikirkannya lagi.
Ketiga asisten yang lain diberikan lebih banyak pekerjaan karena ternyata mereka sering melewatkan pekerjaan. Bonus mereka tidak dapat berbeda dengan Rita.
Diceritakan oleh Arnila, saat membaca dan bertanya pada Ney bagaimana, dia sama sekali tidak merasa bersalah. Pikirnya itu semua salah Alex yang membuat kita bertiga seperti ini. Karena itulah Arnila memarahi mengingatkannya bagaimana dia bertingkah soal masa lalu Alex lalu banyak koar pada Rita.
Saat tahu Rita tidak mau mendengarkannya, Ney marah sekali. Arnila sudah menjelaskan bahwa mereka baru berkenalan bukan mau menikah dan bukan urusannya juga. Apalagi saat Ney meminta Rita menceritakannya pada keluarganya dan Rita menolak mentah-mentah, Ney kemudian bicara dengan aneh.
Arnila ingat saat Rita bilang pada Ney kalau dia harus memeriksakan dirinya ke psikiater karena saat jalan dengannya, Rita sering melihatnya bicara sendiri. Hal itu yang membuat Ney berhenti selama beberapa hari.
"Sudah sering kok Rita, aku juga melihat dia bicara sendiri entah dimanapun makanya banyak yang takut. Aku sudah bilang hentikan kebiasaan itu katanya dia sedang bicara sama sosok yang selalu menemaninya. Tapi aku bilang soal itu jangan dilakukan di luar rumah," tambahan Arnila dalam email-nya.
Rita membaca dan terkejut ternyata Arnila lebih banyak mengalaminya. "Iya ya kan dia teman yang lebih lama dari aku sih," gumam Rita.
"Apa kak?" Tanya Tani di sebelahnya.
"Eh, oh tidak. Ini aku lagi baca email dari temanku," kata Rita.
"Oh," katanya kembali bekerja.
Suasana dalam kantor itu memang cukup sepi sih karena semuanya fokus mengetik dan sebagian ada yang membuat prakarya kelas. Mereka duduk di atas karpet bukan atas kursi, mereka hanya dibatas dengan tumpukkan buku, kertas dan berbagai barang yang harus mereka masukkan.
Prakarya yang Rita buat minggu lalu dipajang menjadi bahan materi sampai beberapa bulan. Setahun ya setahun Rita healing dengan bekerja giat melupakan semua rasa sakitnya juga Alex. Beberapa bukan lalu Rita kaget melihat kedatangan Ney ke tempat kerjanya.
Ternyata tanpa sepengetahuan Rita, dia melamar kesana. Beberapa guru melihatnya dan banyak bertanya dari mana dia tahu disini ada lowongan.
"Bu Rita, cerita disini ada lowongan?" Tanya Siti yang wakil kepala sekolah.
"Kenapa gitu?" Tanya Rita.
"Yang tadi bilang kamu yang merekomendasikan dia bekerja disini. Kan kita tidak sembarang menerima orang, Bu," kata Siti menjelaskan.
"Aku memang ada cerita tapi tidak pernah menyuruhnya melamar ke sini, Bu. Kan tidak ada lowongan yang aku tahu," kata Rita.
Bu Siti mengangguk. Ah, Rita jadi tidak enak melihatnya. Agak menunduk.
"Tenang, saya tahu maksudnya kamu hanya cerita kan. Tampaknya kamu dan dia ada masalah ya? Toh, dia tidak pakai jilbab," kata Bu Siti.
Rita menghela nafas. Selanjutnya Rita dan Ney sama sekali tidak pernah dipertemukan karena Rita bekerja di kantor yang lain. Lalu lewatlah Ney bersama Bu Kepala Sekolah, memperkenalkan ruangan dimana Rita berada.
"Ini tempat karyawan yang mengurusi sekolah. Ada Bu Tani, Bu Siska, Bu Rima dan Bu Rita. Mereka berempat tugasnya sangat banyak kadang mereka saya tukar menjadi pengurus yang lain. Untuk membuat karya juga ada Bu Sinta, Pak Ridho, Pak Aji, Pak Sena, Bu Ratih. Mereka juga saya tukar," kata Ibu Kepala Sekolah.
Mereka semua menatap Ney dan menundukkan kepalanya pelan termasuk Rita. Ney menatap matanya Rita yang agak "Nih gue masuk sini," tapi Rita mengacuhkannya dan kembali bekerja.
"Oh bagian pengurusan sekolah apa setiap hari kerjanya, Bu?" Tanya Ney agak bengong.
"Iyalah, karena setiap hari kan ada data anak yang mau masuk, bayar biaya. Lalu ada pemasukan data dari yayasan juga, disini kami membutuhkan karyawan bukan guru sih untungnya mereka berempat bisa menangani segalanya," kata Ibu Kepala menunjukkan banyak data di atas karpet.
"Kamu tahu Ney melamar kerja lagi di tempat aku bekerja?" Tanya Rita lewat email nya.
"HAH!? LAGI!? Terus bagaimana? Aku tidak tahu lho dia bilang diterima kerja lah aku tidak tahu itu tempat kamu," balas Arnila di email.
__ADS_1
"Aku jamin kalau dia diterima pun tidak akan tahan sih. Soalnya banyak yang keluar," kata Rita. Dia mengirimkan foto keadaan di dalam kantornya.
"BUSETTT!! Itu kerjaan kamu?" Tanya Arnila kaget.
"Makanya setiap kamu atau Ney buat grup, aku capek! Belum soal Alex, sakit pinggang aku nih saking lelahnya aku sering rebahan di ruangan sebelah sama karyawan lain. Capek!" Balas Rita.
"Ya Allaaah, maaaafkaaaan! Pantas kamu selalu emosi terus sama Ney. Terus sekarang bagaimana dong? Dia pasti akan mendatangi kamu lagi, Rita," kata Arnila agak cemas. Benarlah mereka semua sudah salah paham.
"Biarkan saja kalau diterima jam pulangnya juga akan berbeda sih, terus dia tidak akan bisa leluasa," kata Rita tertawa.
"Hah?" Tanya Arnila agak tegang.
"Nanti juga dia banyak cerita," kata Rita lagi lalu menutup obrolannya dan membalas email dari guru lain.
Kemudian mereka keluar dan mendengar obrolan Ney.
"Kamu saya terima dan dari sekarang bisa bekerja kan?" Tanya Kepala Sekolah.
"Oh, bisa. Apa di kantor ini?" Tunjuk Ney ke arah tempat Rita berada.
"Oh, bukan. Di sini sudah cukup isinya, tempat kamu di atas. Ayo saya tunjukkan," kata Ibu Kepala Sekolah.
Ney agak kecewa dan melihat ke samping, Rita melambaikan tangannya lalu bekerja lagi.
"Fiuh, untuk dia tidak disini. Mau di taruh dimana juga coba," kata Bu Tani menunjukkan file.
Mereka semua setuju. "Bagus deh," kata Rita. Mereka tertawa.
Seperti yang diduga, Ney bekerja disana hanya bertahan beberapa bulan setelahnya keluar. Ney mengeluh pada Arnila kalau dirinya terus diawasi. Seperti yang mereka tahu Ney selalu datang tidak sesuai jadwal masuk dan banyak alasan. Dirinya diminta memakai rok panjang dengan kemeja panjang. Karena semua karyawan tidak ada yang berbaju pendek.
Pekerjaan sudah menunggu di mejanya, menumpuk meski tidak sebanyak punya Rita, kadang juga sangat sedikit. Ruangannya hanya ada 8 orang, ada juga lelaki yang ganteng disana membuat Ney mulai pendekatan.
Saat pekerjaannya dirasa sudah selesai Ney berjalan keluar menuju kantor Rita. Saat itu Rita tengah memasukkan dan menghitung barang sekolah ke dalam sebuah kotak. Dibantu oleh Bu Siska yang memasukkannya ke dalam buku laporan.
"Hai, kalian masih sibuk?" Tanya Ney masuk kesana.
"Kenapa Ibu kesini? Memangnya pekerjaannya sudah selesai?" Tanya Rima agak jutek.
"Iya sudah selesai makanya aku datang ke sini. Eh Rita, nanti kita mengobrol ya," kata Ney secara langsung.
Rita sedang fokus pada pekerjaannya tidak mendengarkan Ney, dia sedang menghitung harga secara manual. Karena Rita tidak menjawab, Ney menghampirinya.
"Rita," kata Ney menepuk bahunya.
"Iya dengar aku dulu. Kita mengobrol nanti ya kan aku sekarang satu tempat sama kamu," kata Ney agak merajuk.
"Ha? Bodoh amat kamu mau 1 tempat 1 pekerjaan tapi jangan ganggu kalau aku sedang bekerja. Balik deh kamu ke kantor sendiri gih, pasti sudah menumpuk pekerjaan lain. Keluar ruangan kalau belum ada yang mengijinkan, jangan keluar," kata Rita cemberut.
"Iya Bu, disini beda sistemnya apalagi kalau sampai terlambat masuk berkali-kali. Kok aneh ya ada perempuan tidak bisa bangun pagi," Kata Bu Siska.
Ney keki mendengar komentar itu. Dia masih diam di ruangan Rita alhasil Rita harus mengulanginya lagi.
"Saya ingat ko sampai mana tinggal diteruskan saja," kata Bu Tani yang mengikuti menghitung.
"Ohh syukurlaaah," kata Rita kembali mengerjakan lagi.
"Istirahat juga berbeda ya apalagi kantor kita kadang tidak bisa bertemu teman lain yang guru, karena pekerjaannya berbeda juga," jelas Bu Rima.
"Lho, Bu Ney kok ada disini?" Tanya Bu Siti keheranan. Agak kesal sih.
"Oh, maaf karena pekerjaan saya sudah selesai makanya saya ke sini mau bantu mereka," kata Ney berdiri dan berhadapan dengan Bu Siti.
"Selesai?? Hahaha tidak ada pekerjaan yang selesai di sekolah ini, Bu. Ayo saya ada pekerjaan lain untuk Ibu kerjakan. Jangan masuk ke sini kalau mereka belum rebahan di kelas sebelah ya," ajak Bu Siti.
Ney menurut mengikuti Bu Siti. Di dalam ruangan Rita mereka semua menertawakan Ney.
Kembali ke kantornya, benar saja beberapa orang menunggu Ney dan tumpukan pekerjaan banyak ditambah yang dibawa oleh Bu Siti.
"Bu Ney jangan keluar ruangan kalau belum saya suruh ya karena pekerjaannya akan berhenti di jam 4. Istirahat juga akan ada pemberitahuan," jelas guru lain.
Ney bengong kaget jadi kalau sudah selesai juga lebih baik menunggu di ruangan. Ney mengangguk dan mulai mengerjakan pekerjaannya.
"Gilaaaa banyak sekaliii," kata Ney mengirimkannya ke grup dan Arnila.
Istirahat tiba Ney memang sudah sangat lapar, dan ikut ke ruangan lain mengikuti guru lain untuk makan. Ney mencari Rita tapi tidak ada padahal teman 1 ruangannya ada.
Ney masuk dan kaget dengan dalamnya. Seperti pesta pernikahan, semua sajian ada. Puding dan 8 jenis jus dan air lainnya. Ada juga obat untuk booster semangat. Komplit!
Makannya disiapkan karpet mereka makan di bawah secara bersama.
__ADS_1
"Rita kemana ya?" Tanya Ney ke temannya tadi.
"Oh, Bu Rita masih ada pekerjaan gara-gara tadi diganggu seseorang jadi dia memastikannya lagi. Paling terakhir," kata Bu Siska.
Kepala sekolah datang dan ikut makan. Yang belum ada hanya Bu Rita, sudah terbiasa Bu Rita selalu datang terakhir untuk makan.
"Pak Aji, ingatkan Bu Rita buat makan ya," kata Bu Siti.
"Baik, Bu," Pak Aji lalu berdiri.
"Bu, biar saya saja yang panggil," kata Ney yang sudah selesai makannya.
"Jangan jangan sudah biasa disini Bu Rita kalau bekerja kadang memang suka lupa waktu makan. Jangan cemas nanti juga Bu Rita makan," kata Bu Siti menyuruh Ney duduk.
Pak Aji turun ke bawah dan beberapa menit kemudian Rita datang juga dengan agak kecapean. Kemudian Rita mengambil makanan dan minuman.
Lalu keluar pemberitahuan kalau waktunya bekerja lagi hanya Rita yang masih makan dan diberi waktu 15 menit. Ney ingin berbicara tapi tidak mungkin Rita sama sekali tidak mau menatapnya.
Saat Ney mendekatinya, dan duduk depan Rita datanglah Bu Ratih membawakan banyak buku rapot anak-anak.
"Bu Rita, bantu saya ya menebalkan tulisan saja," katanya.
"Oke, sekarang?" Tanya Rita.
"Kalau pekerjaan di bawah sudah selesai saja saya nanti tulis pakai pensil, kamu pakai pulpen," katanya senyum.
"Boleh sudah selesai sih. Sebentar aku makan dulu," kata Rita menunjuk ke makanannya.
"Oke oke, aku tunggu deh kalau begitu. Ibu baru ya?" Tanya Bu Ratih pada Ney.
Terlihat Ney sebal kedatangan ibu itu dan kini mereka mengobrol banyak sambil Rita fokus makan dan minum jus. Rita kadang ikut menjawab lalu rehat sebentar.
"Rita, nanti pulangnya bareng ya," kata Ney memotong pembicaraan mereka berdua.
"Pulang? Hari ini sama gitu jadwal pulang dengan yang atas?" Tanya Rita ke Ratih.
"Ya selama saya kerja disini sih ada beberapa waktu bisa bareng tapi kebanyakan beda," kata Ratih.
"Oh iya kabar kamu sama Alex masih? Kemarin kita mengobrol lho dia tidak ada cerita? Banyak sekali," kata Ney yang terus membicarakan soal Alex di depan Bu Ratih.
Bu Ratih tidak menyukai Ney karena dia selalu memotong pembicaraannya apalagi sekarang tampaknya sengaja menceritakan orang lain di depannya.
"Bu Ratih, Yuk. Aku sudah selesai makan. Mau kerjakan dimana?" Tanya Rita yang selesai membereskan piringnya.
"Di bawah saja sebentar ke kelas aku dulu ya. Soalnya hehehe banyak sih, kita nyicil saja mengerjakannya," kata Bu Ratih berdiri dan mereka berdua keluar ruangan itu.
Ney mengikuti dan agak mengomel karena dirinya tidak dipedulikan. "Maaf ya Bu Ney, menurut saya tidak seharusnya Ibu menceritakan orang lain yang Bu Rita kenal. Ibu sengaja ya mau pamer atau bagaimana, hanya karena Ibu kenal si Alex ini bukan berarti Ibu bisa seenaknya bertanya. Apalagi tampaknya Bu Rita tidak suka Bu Ney menceritakannya. Saya tadi dengar juga Ibu menceritakan jeleknya Bu Rita. Tahu kan seperti apa sopan santun itu," kata Bu Ratih yang ayu itu marah.
Ney lalu jalan duluan dengan menabrak bahunya tidak ingin mendengarkan apapun. Rita membiarkannya lalu mereka pergi ke kelas bawah.
Bu Ratih terkenal dengan bahasa lembutnya tapi kalau sudah marah nyelekit sekali makanya Rita memang bekerja disana lebih baik banyak diam saja.
Beberapa hari Ney bekerja pekerjaannya semakin banyak dan dirinya bosan sudah. Gajinya lumayan dapat 2 juta tapi merasa kurang, sama dengan Rita dapat bonus 2 bulan sekali, lalu biaya transportasi dan lainnya. Lama kelamaan dia datang bekerja pukul 10 pagi mengira dirinya baik-baik saja, tentu ada laporan.
Kadang Rita pulang lebih dulu kadang sampai malam. Kalaupun bisa pulang bareng, itu hanya sekali dua kali setelahnya Rita sering banyak alasan.
Saat pulang bersama dengan Ney, Rita lebih banyak diam sedangkan Ney terus bicara soal Alex lagiii lalu menyombongkan diri akan menemuinya atau apalah. Lalu mulai menyalahkan Rita tapi tetap Rita hanya diam.
"Arnila tuh sudah tidak mau berteman lagi sama kamu tahu. Dia itu sangat kecewa berat, aku juga sama. Kamu sadar tidak sih kalau kamu mau dengan Alex, kamu harus reset ulang deh semua kepribadian kamu. Kepribadian kamu tuh yang begini jelek, jangan terlalu baik sama orang. Sahabat kamu itu semuanya palsu aku yang paling terbaik. Aku bisa kok jadi sahabat kamu yang paling bisa diandalkan. Jadi kalau nanti kamu jadi sama Alex, aku juga bangga. Benar, Rita kamu dengar aku kan," kata Ney memegang tangannya lalu Rita hempaskan begitu saja.
Setelah itu Rita memutuskan pulang lebih awal, dirinya capek kalau harus pulang bersama Ney apalagi orang lain pun sepertinya mengalami kejadian tidak mengenakkan dengannya.
Akhirnya 6 bulan bekerja disana, dia mengundurkan diri karena tidak sanggup. Ibu kepala sekolah memberikan laporan terakhir pada Ney berupa semacam laporan tiap bulan dalam amplop cokelat serta gaji akhir.
Saat semua karyawan tahu, mereka bersorak yah bukan soal penampilannya hanya sikapnya selama berada di lingkungan kerja sama sekali tidak bisa diajak bekerjasama. Selalu mengoreksi bahwa idenya paling benar.
Ney membuka amplop itu saat di rumah dan terkejut.
Minus :
Datang Bekerja pukul 10, selalu membolos, banyak mengeluh bekerja paling banyak, makan piring tidak dibersihkan, mengganggu kinerja orang lain, memaksa kehendak guru lain dan karyawan, tidak bisa bekerjasama dengan tim, selalu menganggap yang paling benar, kurang bersosialisasi dengan siapa saja, tidak ada sopan santun dengan yang lebih tua, kurang hormat, gaji selalu merasa kurang, pekerjaan dicicil padahal sedikit, tidak punya rasa tanggung jawab, tidak rapih, makan belepotan, tidak ada rasa malu.
Positif :
Pekerjaan yang dikerjakan bagus semua namun dalam hal sosial sangat kurang.
NB :
"Yang saya tulis tolong kamu introspeksi ya. Kepribadian kamu harus diperbaiki banyak sayang sekali padahal pekerjaan kamu bagus sih. Satu hal lagi saya ada kesan Rita terganggu oleh sikap kamu, lebih baik hentikan memaksakan seseorang untuk menjadi teman itu sangat buruk. Cobalah untuk menghargai apa yang dia berikan sama kamu. Perbanyak sedekah dan perbaiki sholatmu. Dekati Allah supaya hidupmu tenang jangan banyak menyalahkan masalah kamu pada orang lain. Sorot mata kamu mengungkapkan bahwa kamu tidak bahagia dengan hidupmu."
__ADS_1
Pesan yang membuat Ney harus menerimanya.
Bersambung ...