
Happy Reading.
Vera berjalan memasuki sebuah restoran di mana dia sudah ada janji dengan salah satu sahabatnya yang tidak lain adalah Jimmy.
Vera bisa melihat pria tampan menggunakan kemeja flanel berwarna cream duduk di sudut restoran itu.
Sejak dulu pria itu memang sangat tampan.
Jimmy melambaikan tangannya ketika melihat Vera berjalan ke arahnya. Cantik, satu kata yang selalu di ucapkan oleh pria itu namun hanya dalam hatinya.
"Hai, Jim!" sapa Vera yang merupakan teman kuliah Jimmy yang juga satu jurusan dengannya.
"Akhirnya, lo mau dateng," ucap Jimmy tersenyum lebar sampai memperlihatkan lesung pipitnya.
Vera hampir saja terpana oleh pesona seorang Jimmy yang sejak dulu sudah wanita itu kagumi.
Ini nih, yang tidak disukai oleh Vera ketika bertemu dengan Jimmy, perasaan yang hampir bisa dia lupakan, akan selalu tumbuh lagi jika melihat pria itu dalam jarak dekat.
Tapi Vera tahu bahwa Jimmy mencintai seorang wanita, bahkan mereka sudah berteman sejak kecil, kabar pertunangan Jimmy juga sempat membuatnya terkejut karena ternyata pria itu tidak bertunangan dengan wanita yang dicintainya, itulah cerita dari cowok berlesung Pipit ini, karena Vera termasuk tempat curhat cowok itu.
"Mau di gratisin, ya tentu aja gue mau, dong," jawab Vera menyembunyikan kegugupannya.
Mendudukkan dirinya di kursi yang menghadap langsung ke arah Jimmy.
"Dari dulu elo tuh emang sama, ya? nggak pernah berubah," Jimmy berdecak. "kalau ada yang gratis-gratis pasti lo langsung mau, padahal bapak lo pengusaha tajir dan emak lo pemilik rumah sakit di Jakarta ini!" Jimmy menopang dagu memperhatikan sahabatnya yang memiliki wajah cantik berbentuk oriental itu.
"Gue yakin kalau lo nggak pernah kekurangan uang dari sejak lo lahir sampai sekarang," Lanjut nya.
Vera mengibaskan tangannya di depan pria itu, ditatap oleh Jimmy secara instan seperti ini membuatnya gugup setengah mati, "ya nggak gitu juga kali, nyatanya gue kerja buat bisa dapat uang sendiri, kalau cuma dari papa sama mamaku itu rasanya kurang sreg, gini-gini gue pernah nggak dikasih uang jajan loh sama papa," jawab Vera yang sudah bisa menguasai detak jantung nya yang tadi sempat jumpalitan hanya karena senyum receh dan pandangan maut dari cowok di depannya ini.
__ADS_1
'ingat Vera, dia itu sahabat lo, mana ada sahabat yang saling jatuh cinta, paling-paling cinta bertepuk sebelah tangan, buktinya Jimmy yang mencintai sahabat kecilnya sampe sekarang tapi wanita itu hanya menganggapnya sebagai sahabat, huh, dan ini nasib gue yang mencintai bukan dicintai!' batin Vera nelangsa.
"Gue tadi udah pesenin menu kesukaan lo, jadi nggak perlu nunggu lama lagi buat lo milih menu makanan," ucap Jimmy membuyarkan lamunan wanita itu.
'tuh kan, gimana gue nggak meleleh kalau dia tuh seperhatian itu sama gue, makanan kesukaan gue aja dia masih hafal dari sejak jaman kuliah, duh hati! kuatkanlah dirimu! jangan sampai meleyot!'
"Heran gue, kok lo bisa hafal banget sama makanan kesukaan gue? apa jangan-jangan lu ngefans ya, ngaku aja deh!" hanya dengan bersikap seperti ini yang bisa menutupi seluruh perasaan Vera terhadap Jimmy dengan gaya sok pd-nya.
Jimmy terkekeh mendengar ucapan Vera, "gue emang ngefans sama lo, siapa juga cowok yang nggak suka sama seorang Vera Gabriela!"
Deg!
Vera hampir saja merasakan jantungnya copot saat mendengar ucapan Jimmy, tapi untung saja dia sudah terbiasa mengendalikan dirinya agar pipinya tidak merona merah.
Untung saja kecanggungan itu tidak bertahan lama karena makanan pasangan mereka datang.
"Wah ini bener-bener makanan kesukaan gue, thanks ya Jim, Lo tuh emang sahabat gue yang paling baik dan paling pengertian," ucap Vera memperhatikan makanan di atas meja dengan mata yang berbinar.
"Ayo makan, dari dulu gue emang perhatian sama elo, lo-nya aja yang gak peka!" ucap Jimmy menyendok nasi ke piring Vera.
"Eghem,, katanya lo mau cerita," Jimmy mengambil beberapa tusuk sate sapi dan ia letakkan di piring Vera.
"Jujur sebenarnya dari awal dijodohkan sama wanita itu, gue udah ngerasa nggak cocok," ucap Jimmy.
"Ya terus kenapa lo mau dijodohin sama perempuan itu kalau lo aja nggak cocok?"
Jimmy mengedikkan bahunya, jelas saja dia tidak suka dengan keluarga Lidia karena menurutnya keluarganya itu hanya memanfaatkan keluarga besar Sailendra.
"Gue nggak mau ngecewain orang tua, mereka udah suka sama Lidia dari sejak pertama kali bertemu," jawab Jimmy yang tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya kepada Vera.
__ADS_1
Vera memasukkan daging sapi rendang ke dalam mulutnya dan itu terasa lumer dan empuk.
"Kalau menurut gue, lo tuh harus kejar kebahagiaan lo sendiri, jangan hanya nurutin apa kata orang tua meskipun banyak yang mengatakan kalau kita nanti bakalan cinta sama orang yang dijodohkan dengan kita itu, tapi kalau hati kita tidak siap yang ada nantinya kalian akan saling menyakiti," Vera menjeda sejenak untuk menelan makanannya. "Gue tahu lo belum bisa move on sama cinta pertama yang sudah nikah itu 'kan?"
Jimmy menggeleng kan kepalanya, membuat Vera benar-benar yakin kalau pria itu masih mencintai teman masa kecilnya itu.
"Gua udah move on kok, entah kenapa melihat dia sekarang lebih bahagia bersama suaminya membuat hati gue tenang seakan semua beban udah lepas dari pundak gue, bisa lihat dia bahagia bersama suaminya itu udah cukup," jawab Jimmy tulus.
Vera hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan irisan daging sapi yang telah dibakar dan diolesi sambal kacang
Tapi entah kenapa mendengar ucapan Jimmy soal dia 'merasa seolah beban di pundaknya sudah hilang,' seperti menggambarkan seorang kakak yang menjaga adiknya dengan penuh kasih sayang ikhlas melepaskannya bersama dengan orang yang dicintai.
"Terus rencana ke depannya lo mau apa? Secara, pertunangan lo batal dan cewek yang lo suka udah nikah dan lo udah ikhlas?" Tanya Vera penasaran.
Jimmy nampak mengerutkan keningnya terlihat sedang berpikir. "Gimana kalau kita coba pacaran, gue pengen bisa lebih dekat sama lo, Ver?"
Seketika Vera merasa tubuhnya menegang tetapi persekian detik kemudian wanita itu tertawa terbahak-bahak menertawai ucapan Jimmy yang janggal.
"Gak usah ngadi-ngadi deh lo, emangnya gue mau cuman lo jadiin pelampiasan?" seru Vera.
Sebenarnya Jimmy memang sangat mengagumi kecantikan sahabatnya ini, tapi tentu saja dia tahu diri siapa Vera Gabriela itu
Vera Gabriela dan Vero Gabriel lahir dari rahimnya seorang wanita yang berprofesi sebagai dokter yang bernama Nita dan juga sang Ayah yang merupakan seorang CEO bernama Nathan Gabriel.
Keluarga konglomerat yang bisnisnya seperti gurita, merambat ke mana-mana. Dan juga keluarga dari sang ibu yang memiliki rumah sakit besar dan juga beberapa cabang rumah sakit yang ada di beberapa kota Indonesia.
Tentu saja Jimmy bukan apa-apa dibandingkan dengan mereka, tapi entah kenapa dia seberani itu mengajak Vera untuk berpacaran?
Bersambung.
__ADS_1
Hai akak reader semuanya, masih ingat sama Nita dan Nathan di novel othor yang berjudul My Ex Wife 'nah, Vero sama Vera ini adalah anak mereka yaaa dan tentunya saudaranya Keill Abraham.