ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(252)


__ADS_3

Beberapa menit Ney merasa kesal dirinya ternyata harus mengalami juga pergi ke toilet. "Sebentar ya aku ke toilet dulu, Diana," katanya lalu beranjak pergi. Tangan Rita lalu membenturkan tangannya Diana lalu Diana membalas. Dan mereka semua membenamkan wajah mereka ke atas kertas menahan tawa. Setelah Ney menjauh dengan langkah kakinya yang aneh, dan masuk toilet semuanya lalu tergelak tawa dengan keras.


"PUAHAHAHAHA!!!" Tapi tidak dengan suara yang keras masih wajar tidak seperti Ney yang benar - benar seperti menghabiskan pita suaranya.


"Aduh, stres banget aku nih dekat - dekat teman kamu, Rita! Kenapa dia jadi cerita ke aku semua sih?" Tanya Diana yang tertawa.


"Cieee Mbak Diana dapat teman bauuuu!" Kata Annisa mengakak sambil memegang perutnya.


"Guys, aku mau kasih tahu kalian jangan keluarkan makanan lebih banyak lagi, dia itu seperti yang kalian lihat kan. Makanan siapa tadi dia habiskan sendiri, kalau aku kan pasti nanya atau minta ijin, 'Aku minta ya' atau 'Ini punya siapa?' dia tidak sama sekali kan. Daripada kalian mengomel dalam hati, lebih baik keluarkan yang menurut kalian bisa ikhlas," kata Rita membuat semuanya menjentikkan jari mereka lalu mengunci tas mereka masing - masing.


"Aslinya parah banget! Aku tahu Rita kenapa dia malah senang cerita ke aku, ya dia menyombongkan diri waktu kalian belum datang ya, terus kamu juga kan ke toilet. Teman kamu yang sebut dirinya Sahabat, menjelekkan kamu, Rita. Woh, aku tidak ikhlas mendengarnya punya salah apa sih kamu sama dia? Jahat banget! Saksinya Tamada sama Linda tuh ya. Pusinglah aku tidak mau terlalu dekat dia," kata Diana dengan logat Palembangnya. Dia menepuk - nepuk kepalanya lalu mengusapnya.


"Terlihat jelas banget ya pilih temannya sepertinya dia tahu siapa yang paling branded penampilan kita," kata Siti sambil memakan chiki bola milik Tamada.


"Kamu sadar tidak sih? Sewaktu Teh Siti kasih kamu yoghurt itu tampak jelas banget kalau Ney iri orangnya. Terus kamu di kasih kentang yaaaa..." kata Linda yang memukul bahu Siti dengan lumayan.


"Hehehe buat dirumah. Maaf ya, tuh Rita masih punya banyak makanan. Kalian tidak bawa? Tumben," kata Siti ke arah Annisa dan Linda.


"Bawa dong tapi ... nanti saja sesuai apa saran Rita. Teman kamu lama tidak disininya? Aku tidak nyaman ey sama dia," kata Linda sambil cemberut.


"Mana ada yang bisa nyaman dengan nada dan topik yang diobrolkan seperti itu," kata Komariah yang membuka cemilan lain.


"Bikin dia bete saja dan jangan ada makanan lagi, pasti dia pergi," kata Rita makan wafer sambil menulis.


"Parah banget dia yang di omongin soal kamu yang ini itu, aku heran banget kok bisa sih sampai bertahun - tahun kenal kamu? Kalau dia tidak suka sifatnya Teh Rita, ya pergi saja cari yang lain tapi ini malah terus saja deketin. Aneh!" Kata Tamada sambil bergidik. Semua orang pasti begitu kalau tidak ada yang disuka ya cari yang lain buat apa bertahan memaksakan diri, apalagi kalau temannya tidak pernah melakukan hal negatif.


"Matakna kitu ge pan teu boga fren ( Makanya begitu juga kan tidak punya teman )," kata Komariah melihat jawaban Rita.


"Iya ya mun boga mah moal aya di dieu ( Iya ya kalau punya tidak akan ada disini ). Aslinya memang dia benaran tidak punya sama sekali, Rita?" Tanya Linda penasaran sambil mengunyah.


"Aya tapi ngan hiji, nu eta - eta deui. Kumaha? Normal henteu ti basa SMP nepi ayeuna sobatna teh eta weh hiji ( Ada tapi hanya satu, yang itu - itu lagi. Bagaimana? Normal tidak dari waktu SMP sampai sekarang sahabatnya yang itu saja satu )," kata Komariah yang sudah tahu ceritanya dan Rita mengiyakan.


"Kalian nih, jangan Sunda dong aku mengertinya sedikit!" Kata Diana sewot karena dia tidak bisa menangkap jelas omongan mereka.

__ADS_1


"Lupa lupa! Ya itu sama dengan yang kita bahas Diana, waktu dia angkot itu lho," kata Rita mengingatkan ya tidak jauh juga sih.


"Oh benar!" Kata Komariah juga.


Setelah itu mereka menyisakan sedikit isian chiki di tengah dan saat Ney kembali di melihat ke arah chiki dan mengambilnya tanpa ijin. Tapi terkejut melihat isinya hanya tinggal beberapa bulatan saja.


"Kok sedikit lagi sih?" Tanyanya cemberut.


"Kamu hitung kita ada berapa? Kita anak kecil bukan?" Tanya Tamada dengan suara yang jelas... jelas menantang.


"Lagian itu chiki bukan punya kamu, pemiliknya bisa menghabiskan tanpa harus ijin ke kamu kan," kata Rita memperhatikan Ney yang manyun tapi memakan sisanya.


"Iya sih," katanya sambil makan dengan agak kesal.


"Itu sudah baik lho disisain syukuri saja kenapa sih? Ingat saja kamu kan bukan teman kelompok belajar kita, aneh saja kamu tanpa malu gabung mana menghabiskan cemilan orang," kata Tamada dengan juteknya.


"Sudah! Aku butuh jawaban nih untuk nomor 5, ada yang sudah?" Tanya Rita mencari yang sudah kerjakan.


"Soal tentang isi kalimat Al Qur'an bagaimana? Kalian bawa Al Qur'an?" Tanya Linda, dirinya membawa buku yang kecil. Heran juga Rita, Linda bisa sampai membacanya dengan benar.


"Aku bawa buku Psikologi, terus buku agama sama Al Qur'an nih. Bagian ini semuanya harus menulis kalimat dalam Al Qur'an!" Teriak Rita yang hampir pingsan dan sama sekali tidak terduga sangat panjang isinya.


"Iya ya, ini Pak Adam benar - benar senang buat kita semua menderita," kata Diana yang berdecak kagum.


"Makanya kita diberi tambahan kertas bergaris kan kalau kurang tinggal ditempel saja," kata Annisa yang sudah siap dengan pensilnya.


"Aku bawa Al Qur'an saja sih," kata Siti yang kemudian mengeluarkannya dari dalam tas.


Kemudian mereka serentak mengeluarkan Al Qur'an tampak Ney yang agak risih saat tahu semuanya kompak dan melihat Rita yang Al Qur'an nya lebih besar, lalu berpikir yang negatif lain. Dia melihat yang lainnya apakah ada yang berkomentar tapi tidak ada yang berkata apapun.


"Rita kamu Al Qur'annya besar sendiri lho," kata Ney mengeraskan suaranya.


"Memang kenapa? Masalah buat lo?" Tanyanya yang mencari halaman suray yang diminta pada tugasnya.

__ADS_1


"Ya kamu tidak merasa kalau diri kamu itu sombong. Mereka bawa yang kecil tapi hanya kamu saja yang bawa bukunya besar," kata Ney sambil memakan cemilan.


"Ya Allah perihal ukuran saja jadi masalah," kata Tamada berbisik ke Komariah dan Linda.


"Teh Siti boleh pinjam Al Qur'annya sebentar?" Tanya Rita.


"Boleh," lalu lalu Siti memberikan Al Qur'annya oada Rita dengan sedikit heran. Mau apa ya?


Rita lalu membuka surat tertentu dan membuka miliknya. Lalu diperlihatkan pada Ney dengan buku punya Teh Siti sengaja, "Baca huruf yang ada di buku ini,"


Ney lalu berusaha menolak tapi melihat Rita dengan pandangan yang datar tanpa emosi membuatnya membaca huruf apa. "Kha," jawabnya lalu menatap Rita dengan jutek dan menantang.


Rita menyengir lalu memperlihatkan halaman dan bagian huruf yang sama ternyata itu bukan Kha melainkan Ya. "Tahu perbedaannya? Dari apa yang kamu baca saja salah jelas - jelas itu hurufnya kecil. Sedangkan Al Qur'an yang aku punya, huruf besar. Itulah kenapa aku membawa yang ini karena tulisannya besar, aku tidak bisa baca yang hurufnya kecil. Kalau maksa, kamu tahu salah baca saja artinya berbeda sama halnya yang kamu sebut huruf tadi itu salah! Masa sih sudah segede ini kamu masih belum bisa baca Al Qur'an? Oh maaf masih Iqra ya?" Tanya Rita yang tersenyum penuh ejekan pada Ney lalu mengembalikan Al Qur'an milik Teh Siti.


Telak sekali balasannya dari Rita membuat Ney tersedak makanannya. Teman - temannya mengacungkan jempol. 'Rasain lu! Macam - macam sama gue, belum tahu saja aku punya banyak jalan buat membalas kamu!' Pikir Rita sengaja agar Ney bisa membacanya. Ney memang membacanya lalu menatap Rita yang tertawa sambil menulis tugasnya.


"Makanya neng, jadi orang jangan gampang punya pikiran negatif. Tanya dulu kenapa Al Qur'annya berbeda jangan menyimpulkan hanya dari pikiran sendiri. Rugi kan," kata Komariah yang menyengir juga.


Ney mendengus mendengarnya, benar juga harusnya dia sadari itu dulu sebelum menyerang Rita. Akhirnya dia lagi yang malu. Setelah itu semuanya berfokus pada tugas kelompok lagi dan tiba - tiba ada pemuda tampan menghampiri kelompok mereka.


"Sedang apa nih? Pengajian? Eh, maaf satu tidak pakai jilbab," kata pemuda yang lewat itu. Dia berada di antara Siti dan Linda, Ney yang melihatnya terpana ( Lagi ). Wajahnya benar - benar putih mulus tanpa cacat pakai skincare apa ya? 😂😂, suaranya lembut sekali tapi tidak dibuat - buat, dia memakai kemeja kerja dengan celana panjang berwarna hitam.


"Kita lagi mengerjakan tugas kelompok, kang," jawab Siti karena semuanya tampak fokus menulis huruf arab dari Al Qur'an.


Ney agak malu sendiri hanya dia saja yang tidak memakai jilbab dan baju pendek. Dia terpana melihat penampilan pemuda itu yang sedang bertanya. Sebisanya dia ingin sekali mendapat perhatian dari pemuda itu namun nampaknya dia lebih tertuju pada semua yang sedang menulis tugas. Lelaki itu kemudian melirik pada Linda dan Rita tapi sayangnya mereka berdua sama sekali tidak menyadarinya.


Sekali Rita menghentikan gerakan tangannya karena meminta lihat jawaban lain. "Lihat nomor 12 sampai 15 dong! Aku tidak mengerti, huruf ini kalau disambung jadi bagaimana?" Tanyanya menunjukkan soalnya.


"Ini aku sudah, lagipula soalnya kan sama semua," Siti lalu memberikan jawabannya.


"Owh asyiiik!" Jawab Rita. Serentak semuanya ikut melihat dan berganti nomor jawaban. Lelaki itu masih memperhatikan Rita dan Linda lalu tersenyum, Ney kepanasan melihatnya, 'Kenapa sih semuanya selalu Rita? Dia itu apa istimewanya? Kalau dia tahu saja dia itu aslinya lemot pasti kena tinggal. Lihat saja!' Pikirnya sebal banget.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2