ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
372


__ADS_3

Setelah mereda, dia dengan lahap memakan hidangan penutup dengan senang tak lama kemudian ponselnya berbunyi. Ney membaca isinya dan hanya terdiam apalagi dia melihat foto dirinya yang tengah keluar dari Cafe itu untuk pulang.


Makannya pun terhenti dan entah harus membalas apa lagi. Salah satu temannya yang bernama Tika mengirimkan pesan.


"Cafe ini namanya keren lalu suasananya juga pol habis. Yang anehnya waktu aku tanya apa ada pegawai mereka bernama Ney, mereka bilang memang ada tapi hanya pegawai lepas bukan TETAP. Dan ini foto yang tak sengaja kakakku ambil, ini kamu kan," katanya.


"Agak mirip sih," kata Ney yang masih belum mau mengakui kalau di foto itu dirinya. Dia memegang dahinya dengan satu tangannya, moodnya kembali tidak enak.


"Masa sih? Aku yakin ini kamu, Ney. Jujur saja kenapa sih harus terus menutupi? Kenapa kamu malu ternyata kita tahu kamu kerja di Cafe bukan Perusahaan besar? Coba kamu bilang dari awal tidak akan kita semua penasaran kali," kata Tika membalas chatnya.


Tika adalah orang yang paling berani membuktikan apapun yang orang katakan, baginya pembenaran lebih penting daripada hanya sembarang bicara. Apalagi sudah banyak yang Tika buktikan mengenai apa yang dikatakan oleh Ney. Dan Tika orang yang paling dibenci Ney karena dialah yang paling tidak percaya pada kata-katanya.


"Ya aku hanya merasa itu mirip saja memang aku bekerja di perusahaan kok bukan Cafe. Dari mana juga aku bilang begitu," kata Ney yang masih mengelak.


"Nih ya buktinya kamu bilang begitu ke kita semua. Toko bukan perusahaan kamu gengsinya besar ya sama sekali tidak mau mengakui kalau kamu memang kurang bisa dipercaya omongannya. Jujur susah ya kelihatannya untuk hati dan mulut kamu," kata Tika kemudian mengirimkan rekaman kata-kata Ney saat di kampus.


Adaaaa saja caranya Tika untuk membuktikan semua pernyataannya, yah bukan sekali dua kali sih Ney selalu menggembar-gemborkan sesuatu yang kenyataannya terbalik.


Ney tidak membalas apapun, semuanya sudah ketahuan belangnya kalau dengan Tika ini. Dia hanya membaca saja isinya, sama halnya dengan Rita. Itulah kenapa Ney juga tidak dekat dengannya.


"Benar-benar deh ya nih anak menyebalkan sekali si Tika," kata Ney mengepalkan tangannya dengan marah. Marah karena yah apa yang dia katakan tidak sesuai kenyataan.


"Kenapa dia?" Tanya Arnila tertawa nyengir.


"Tika teman kampus kalian?" Tanya Rita tapi langsung di tutup mulut oleh Arnila dan menchatnya.


"Tika itu bisa kamu bilang musuhnya deh. Soalnya anaknya kritis sekali orangnya tidak percaya jadi harus ada pembuktian. Kalau aku bilang sih memang mirip sama kamu deh," kata Arnila dalam pesannya.


Rita memandang bengong pada Arnila yang dibalas anggukan kepala. Rita mengerti kenapa Ney selalu kesal ternyata dalam kampusnya pun ada yang mirip dirinya dan terlebih lagi selalu membuat dia kesal. Karena tidak mau menambah beban amarahnya Rita mendengarkan saja.


"Kenapa dia?" Tanya Arnila lagi menatap Ney.


"Jelas-jelas aku sudah suruh dia pulang karena aku kan lagi tidak kerja eh dia malah bilang sudah ada di dalam tempat kerjaku," kata Ney dengan suara juteknya memandang ke arah Rita.


"Memang itu tutup? Kalau dia ada di dalamnya berarti buka dong. Kamu beneran masih kerja di sana?" Tanya Arnila membuat Ney tidak berkutik.


"Makanya bicara jujur dong apa salahnya sih? Gengsi dipelihara sekali ketahuan bolongnya, yang bisa dilakukan mengelak terus. Malu bekerja di Cafe dikatai bekerja di perusahaan, malu itu kalau kamu kemana-mana tidak pakai baju. Bohong dipakai untuk kebutuhan, aneh sekali kamu," kata Rita yang cuek sambil makan makanannya.


Arnila dan Ney terdiam, Arnila tentu saja membaca isi pesan yang Tika kirimkan. Mereka bengong apa yang dikatakan oleh dirinya sama persis dengan Tika.


"Aslinya kamu kembaran sama si Tika. Ya Allaaah satu saja sudah pusing eh ini nambah lagi, mimpi apa aku nih," kata Ney sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


Arnila tertawa keras. "Apa yang kamu katakan sama dengan Tika ini bilang. Memang kembarannya Rita tapi satu jurusan dengan kita," kata Arnila menyenggol tangannya Ney.


"Memangnya mirip sekali?" Tanya Rita.


"Iya. Setiap hari debat terus sama Ney. Kalau kamu sih kalem tapi kalau Tika lebih suka debat makanya kalau lagi diskusi, Ney sama Tika mulai panas tidak ada habisnya deh. Betul tidak, Ney?" Tanya Arnila.


"Sebetulnya tidak ada mirip atau kembar tapi memang begitu kan orang yang lebih memprioritaskan kebohongan semua sama saja apalagi kalau sampai sering. Misalkan aku banyak bohong pasti kamu juga sudah bisa menduga kan, Arn kalau aku pasti bohong," kata Rita yang meminta tambahan air teh hijaunya.


"Iya juga ya jadi karena sudah terbiasa jadinya membuat beberapa orang yakin kalau itu pasti bohong kan," kata Arnila cengengesan.


"Ya aku sih tidak bermaksud bohong," kata Ney.

__ADS_1


"Kamu pasti cerita bekerja di perusahaan bukan Cafe. Kalau cerita pengalaman itu sesuai dengan yang kamu lihat dan rasakan, ya pantas tuh orang kritik pedas kamu. Respon teman kamu bukan karena kita kembar tapi memang begitu respon orang yang sudah sering dengar kamu banyak bulshit," kata Rita membuat Ney makin kesal tapi ditahannya karena dia bisa makan enak hari ini.


Sebelum Ney meledak lagi, Arnila berusaha menerjemahkannya. "Maksudnya tuh kalau mau cerita jujur saja sesuai yang kamu lihat. Jangan menambahkan kalimat atau tokoh. Iya kan?" Tanya Arnila pada Rita.


Rita mengangguk. Lalu Ney tenang kembali. "Katanya kamu tidak sensitif buktinya dibilang begitu kamu kesal kan. Kalau kamu merasa tidak sensitif, baperan artinya kamu bukan manusia," kata Rita.


"Iya sih. Perempuan kan memang wataknya ada yang seperti itu. Aku juga kan begitu," kata Arnila.


"Aku tidak kok, yang baperan itu paling parah ya kamu Rita," kata Ney. Arnila menghela nafas sama dengan Tika yang senang mendebatkan banyak hal begitu juga dengan Rita.


"Kalau begitu kenapa kamu marah apa yang aku bilang? Atau teman kamu yang mengungkapkan kebenaran? Kalau bukan baper kamu akan luruuuus wajahnya tidak ada kesal, sebal atau marah," kata Rita berhasil skak mat Ney.


Cuma bedanya kalau Rita benar-benar bisa membuat bualan Ney mati kutu sedangkan Tika memperpanjang terus debat. Jadinya memang terus rame tapi kalau Rita paling malas debat panjang lebih baik dimatikan sekaligus, meski nanti alhasil jadi beberapa episode.


Masih dilanjutkan Tika terus mengirimkan pesan kepada Ney. "Kakak aku kerja juga di sekitar sini, Ney jadi dia tahu itu alamatnya dimana. Dia juga sering sekali lihat kamu hanya kamu tidak pernah lihat kanan kiri," katanya lalu mengirimkan lagi bukti Ney memang bekerja di Cafe itu.


Kali ini foto yang menampakkan Ney yang terlihat mengganggu beberapa pegawai disana terutama ada foto Rita. Masalahnya tidak mungkin dia mengelak lagi karena Arnila pun melihat ada Rita disana meskipun Tika tidak kenal.


"Nah kalau ini memang aku," kata Ney yang agak panik.


Tika lalu mengirimkan lagi foto sebelumnya dan menyamakan apa yang Ney pakai memang sama. "Memang itu kamu! Dari tadi mengelak terus, heran gue! Kamu tuh Bohong dijadikan kebutuhan sehari-hari tidak malu apa ya? Sudah ketahuan eh tidak mau mengaku," kata Tika SAMA dengan apa yang Rita bilang.


"Ih asli ini mah mirip Rita. Sudah deh jangan debat lagi kamu baca saja kalau tidak mau balas karena kesal," kata Arnila yang menahan tawa lalu kembali ke tempatnya.


"Gila deh harus menghadapi orang yang sama dengan dia, ini sama sekali dengan yang tadi dia bilang. Kenapa sih harus ketemu sama dia?" Tanya Ney kesal dan marah tapi menyuap es krim yang belepotan ke bibirnya.


"Terus ya gaji disana itu bukan yang kata kamu pernah bilang deh. Kamu yakin gajinya setara Direktur? Lowongan untuk sekretaris hanya Rp 1.900.000 disini tidak ada tuh lowongan Marketing," kata Tika mengirimkan lagi lembaran persyaratan.


"Ya kamu kan pernah hina pekerjaan dia saat diskusi makanya sampai sekarang dia ya balas terus ke kamu. Dia masak apa, kamu komen jelek ya sudah kena ditantang terus," kata Arnila.


Ney sudah malu sekali segalanya orang itu buktikan sampai melampirkan foto isi gajinya segala. Sampai akhirnya mau tidak mau Ney balas juga.


"Iya memang begitu sori deh aku salah lihat keterangannya, waktu aku beritahu kebetulan lagi kedatangan Haid jadi ya lu tahulah seperti apa rasanya," kata Ney dengan jutek.


"Ohhh lagi haid tapi kan biasanya kamu haid juga tetap saja tukang debat plus tukang koar ya. Kok aku tidak percaya ya atau kamu pusing karena dipecat ya? Hahaha kasihaaaan," kata Tika yang membuat Ney malah tambah marah.


Arnila dan Rita hanya memperhatikan Ney dari gerak geriknya sudah total marah karena dia menggebrak meja. Setelahnya dia matikan ponselnya dan melemparkannya kedalam tasnya. Makanan semua sudah habis kemudian Ney berdiri.


"Mau kemana?" Tanya Rita dan Arnila.


Ney beranjak menuju pintu keluar dan pergi begitu saja. Arnila mengejarnya namun Ney menghempaskan tangan Arnila dan menaiki angkot. Arnila masuk kembali ke Raacha dengan wajah yang memerah karena kesal.


Oke inilah percakapan mereka di luar. "Kamu mau kemana? Pergi begitu saja," kata Arnila.


"Duh, aku tuh ya kesaaaaal sekali sama itu dua anak. Tika sama Rita dua-duanya sama!" Kata Ney menyebalkan.


"Ya itu kan lu juga yang salah buat apa sampai bohong segala? Kalau kamu mau pulang, kamu harus bilang dulu. Tidak sopan," kata Arnila menarik tangan Ney.


"Halah! Untuk apa sih? Semenjak kamu kenal Rita ya kamu jadi berubah tahu tidak," kata Ney marah.


"Berubah? Aku sama saja kok kamu tuh yang dari awal juga tidak ada kesopanan sama sekali makanya mana ada yang mau dekat sama kamu. Rita dan aku tuh, satu-satunya yang masih mau tahan sama kamu," kata Arnila yang wajahnya sudah memerah.


"Ya kan belum kenal Rita, kanu selalu nurut aku sekarang? Mulai berani lawan aku," kata Ney yang kelepasan. Arnila kaget mendengarnya. "Eh maksud aku bukan begitu, Arnila," kata Ney yang berusaha memperbaiki.

__ADS_1


"Ingat ya Ney, aku begini sama kamu itu bukan kemauan aku juga. Hanya aku tahu bagaimana rasanya selalu sendiri, yang kamu lakukan pada Rita itu sama sekali bukan kelakuan teman yang baik. Dan kalau kamu pergi tanpa mengatakan apapun, jangan harap Rita mau memberi makan gratis lagi," kata Arnila kemudian meninggalkan Ney sendirian.


Ney menggarukkan kepalanya mau kembali tapi gengsi sudah keluar, akhirnya ya sudahlah dia berhentikan angkot dan pergi pulang.


Dalam Raacha. "Kenapa sih dia? Pulang? Kok tidak bilang? Terus kamu bagaimana?" Tanya Rita menatap Arnila.


"Tidak tahu! Biarkan saja deh setelah ini kamu juga mau pulang?" Tanya Arnila yang kebingungan. Dia sebagai datang dari Jakarta hanya untuk main dengan mereka berdua tapi sekarang ...


"Mau jalan-jalan sih. Ikut?" Tanya Rita.


Arnila tersenyum kemudian setelah selesai, mereka menuju Bandung Istana Plaza yang kita kenal BIP dan masuk dari toko ke toko lainnya. Saat mereka sedang makan cemilan di sebuah Cafe, tiba-tiba Tika datang sendirian.


"Hai, Arnila. Lho mana kembaran lu?" Tanya Tika dengan suara cerewetnya.


Rita menatap Tika yang Blink sekali dandanannya mirip dengan istri Angga temannya di episode lalu. Gaya bajunya juga simple agak tomboi sama dengan Rita tapi memang beda.


"Jangan tanya setelah lu kasih banyak pesan, dia ngilang gitu saja," kata Arnila kesal dan menawari makanannya ke dia.


Tika ambil kue itu sambil cengengesan dan memakannya dengan biasa saja. "Ya elah mengaku doang susahnyaaa minta ampyun deh teman lu. Kok kamu mau sih masih sama itu anak? Orangnya tidak bisa dipercaya lho, kalau aku sih No," kata Tika.


"Aku juga mana mau, kan dia sendiri yang mendatangi aku waktu awal kuliah. Dari situ dia yang mengekori aku terus mana geng aku juga hancur gara-gara dia," kata Arnila yang terlihat berbeda Rita lihat.


"La, aku kesana dulu ya mau lihat kue yang lain," kata Rita tidak mau mengganggu.


"Oh iya, oke deh aku duduk sini dulu," kata Arnila.


"Itu mirip yang ada di foto. Ney kenal?" Tanya Tika yang langsung menuju intinya.


Akhirnya Arnila menceritakan segalanya pada Tika dan Tika bengong memandangi Rita. "Anak sebaik itu mau sama Ney? Gila apa ya. Dia cocoknya sama kamu, Arnila. Serius kamu jadi sial kalau dekat dengan Ney," kata Tika dengan polosnya.


Arnila tertawa. "Dia juga karena kasihan. Menurut kamu dia anaknya baik?" Tanya Arnila lagi. Tika lebih banyak bergaul dan bersosialisasi dengan banyak orang jadi pasti bisa menilai orang lain.


"Iya baik sekali. Orangnya terlihat polos dan tidak peka ya. Tapi itu kalau dengan lelaki saja sih beda sama anak yang satu lagi. Kalau dari cerita kamu sih, Ney sirik sama teman ini karena yah lihat saja lah beda sekali sama dia," kata Tika.


Arnila bengong dia baru dengar Tika tanpa memprotes orang lain. Apalagi Tika juga jarang mengatakan kalimat negatif pada Rita dan dengan tenang memakan lagi kue yang ditawari Arnila.


"Aku cocok sama dia bukan Ney?" Tanya Arnila terdiam. Iya sih Arnila berpikir juga begitu karena apapun masalah Arnila, Rita selalu mendengarkan. Dan pergi dengannya juga seru sekali, senang bercanda dan benar-benar memperhatikan kebutuhan orang lain.


"Iya cocok sama dia karena dia orangnya menerima siapapun tanpa status. Mau lu miskin, sedang atau atas dia mah lurus saja. Aku heran waktu kenal kamu, sifat kamu yang baik jadi ketutup gegara bergaul sama orang kurang baik," kata Tika.


"Tapi tidak mungkin Tika bisa dekat dia," kata Arnila.


"Kenapa? Kalau kamu suka ya hak kamu," kata Tika tidak mengerti lalu... "Ney ya? Karena dia sirik kamu takut dia melakukan sesuatu yang aneh sama orang ini?" Tanya Tika yang langsung konek.


Arnila mengangguk dan Tika menghela nafas. "Kamu itu kelamaan sama Ney mirip pembantu dia tahu. Ini untuk kebaikan kamu juga ya jangan terlalu dekat sama dia meski ada orang yang bilang dia anggap kamu sahabat atau apapun. Yang aku lihat, orangnya aneh dan kepribadiannya kurang bagus," kata Tika yang selesai makan.


Akhirnya sampai sore, Tika dan Arnila pamit pulang bareng ke Jakarta dan Rika pun pulang membeli beberapa kue untuk orang tuanya. Mereka berbeda jalur dan Arnila banyak bercanda dengan Tika yang memang orangnya Welcome. Ternyata saat itu Ney berada di seberang lain dan melihat Arnila dengan Tika dan Rika pulang sendiri. Kesal sekali dan menyesal dengan apa yang dia katakan.


Ney kirim pesan pun sama sekali tidak dibalas oleh Arnila. Ditelepon pun ditolak sama sekali, dia sedih sudah salah bicara. Kirim pesan ke Rika juga sama saja alhasil, dia harus menerima akibat dari perbuatannya. Lalu membuka akun Pacebuknya dan melihat postingan Rita yang sedang makan bersama keluarganya.


"Jadi dia beli untuk pulang? Kok tidak bilang sih, Tahu begitu kan... AAAAARGHHHH!!" Teriak Ney di tengah jalan. Beberapa orang melihat dan berbisik lalu pergi menjauh.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2