
"Boleh aku..." tunjuk Ney yang tangannya gatal ingin mencoba.
Syakieb mempersilakannya dan Ney membuka kotaknya dan memegang satu per satu perhiasan itu. Yang paling menarik perhatiannya adalah hiasan kepala yang berbentuk bunga kecil dan besar, Ney mencoba memasang mahkota itu di kepalanya. Syakieb membawa cermin besar dan menyandarkannya di dinding lalu Ney bercermin sambil berpose.
Pikirnya dia nampak begitu cantik dan terlihat mewah memakai mahkota itu. Berhiaskan banyak permata kecil di tengah - tengah bunga. Dia menyukainya namun ragu untuk menerimanya apalagi untuk menginginkannya, dia harus setuju menjadi anak adopsinya. Tanpa Ney sadari, dia memakai semua perhiasan itu di tangannya yang kurus.
Syakieb tersenyum hambar melihatnya kemudian diam - diam merekam Ney yang sedang tenggelam dalam balutan perhiasan mewah. Kemudian Syakieb kirimkan kepada Alex. Perhiasan itu memang dipilih sendiri oleh Alex sampai ibu dan kakaknya heran buat apa Alex berbuat berlebihan seperti itu.
"For what?" Tanya Kakaknya yang keheranan melihat Alex sedang memilah perhiasan.
"Something." Kata Alex sambil tersenyum penuh makna.
Kembali ke kediaman Syakieb, Ney masih belum bosan mencoba semua perhiasan. Ney merasa lebih pantas memakainya daripada siapapun. "Jadi bagaimana? Kamu bisa memiliki semuanya kalau kamu..."
Syakieb mendorong kertasnya lagi di atas meja ke Ney. Ney tersadar dirinya kembali ke realita nyata untuk bisa mendapatkan semuanya dia harus menandatangani. Ney kemudian dengan keputusan melepaskan semua perhiasan namun lupa melepaskan mahkotanya.
"Kalau aku harus menjual keluargaku sendiri, aku tidak bisa," kata Ney dengan yakin.
"Siapa yang mau membeli keluarga kamu? Ini kontrak adopsi sampai usia kamu tua akan kami anggap sebagai anak. Meski kamu sudah menikah pun, rumah kamu adalah bersama kami. Keluarga asal kamu akan selalu ada tapi kamu bisa pulang setiap 6 bulan sekali," kata Syakieb dengan mantap.
6 bulan sekali!? Itu sih sama saja secara perlahan dia akan melupakan semua anggota keluarganya, pikir Ney. Tapi dengan menerimanya secara otomatis Rita akan terkalahkan begitu juga Arnila. Dia akan punya banyak barang mewah yang semua temannya tidak bisa beli. Tapi di sisi lain... dia harus merelakan dirinya terjajah menjadi anak pungut di keluarga lain dan pastinya banyak aturan.
"Pikirkan saja dulu. Keluarga kamu tidak bisa memberi kamu barang semewah yang aku bisa berikan. Kamu bisa berbuat apa saja pada orang - orang, kami tidak akan melarang. Kamu bisa membalaskan dendam pada orang yang pernah membuat kamu menderita. Kamu akan sangat bahagia menjadi putri kami, kamu bisa kemanapun tanpa harus mencemaskan biaya. Suami pun akan kami urus, menjodohkan kamu dengan lelaki kaya. hanya tinggal duduk dan mematuhi apa yang aku berikan. So?" Tanya Syakieb yang menunggu keputusan Ney.
Terlihat jelas pada wajahnya Ney ketakutan hidup dengan aturan justru sama sekali dia tidak suka. Itu terlihat saat dirinya bekerja di perusahaan manapun berakhir dengan pemecatan.
__ADS_1
"Tapi..." kata Ney yang tidak bisa berpikir apa - apa. Dia mengigiti jari jempolnya dan membuat Syakieb kesal melihatnya. Segala perilaku kebiasaan Ney pastilah membuat banyak orang terganggu bagi yang mengerti.
"Kamu bisa lebih dekat dengan Alex juga, saya tahu kamu sangat menyukainya meski tidak tahu apa itu dengan hati yang tulus atau kamu hanya ingin pamornya saja. Saya akan membuat kamu seperti layaknya Princess. Baju yang mewah dengan perhiasan yang berkilauan layaknya bintang yang ada di langit. Alex senang dengan perempuan yang berkelakuan seperti seorang princess," kata Syakieb lagi.
"Kalau Rita bagaimana? Dia jauh dari kata Princess begitu juga dengan sifatnya yang senang memberontak. Kebiasaan dan perilakunya juga tidak jauh dengan aku tapi kok bisa sih Alex lebih kena dengan dia? Padahal kalau aku lihat, aku itu lebih tahu banget Alex maunya bagaimana," kata Ney yang agak cemberut.
"Kenapa kamu harus memikirkan Rita? Pikirkan saja untuk diri kamu sendiri. Kamu kan memang tidak pernah memikirkan orang lain, yang kamu pentingkan hanya diri sendiri," kata Syakieb yang menyandarkan dirinya ke kursi.
Ney terdiam sejenak, dia menyadari kalau selama ini segalanya hanya dirinya sendiri yang dia pikirkan. Semua keinginan yang dia mau harus selalu dituruti bukan hanya pada orang tua tapi begitu juga ke arah Rita. Bagi dia Rita sangat sulit dijinakkan untuk terus patuh pada perkataannya. Sekarang malah lebih sulit semenjak dia berkenalan dengan Alex, kalau dulu Rita apapun selalu percaya pada Ney sampai dirinya sering dimarahi orang tuanya karena terlalu percaya.
Sekarang Rita berubah sangat berbeda dengan dulu. Ney sama sekali dilawannya tanpa ada kata kalah dari mulut Rita. Rita yang sekarang sudah bisa melihat aslinya Ney dan akan lebih parah ke depannya.
"Soalnya Rita kan saingan aku," kata Ney dengan pelan.
"Ya jadi buat apa juga kamu memikirkan nasib dia? Kalau kata saya sih yang saya lihat Rita itu berbeda. Dia memiliki kemampuan yang mengagumkan bisa menarik dinginnya Alex lalu membalikkannya menjadi hangat, saya tahu Alex sering diusili oleh dia tapi dengan hati. Itulah yang membuat Alex semakin betah dengannya, Rita selalu berhati - hati dan memperlakukan Alex dengan lembut. Sayang Alex terlalu salah paham kepadanya yah namanya juga berbicara di media sosial. Dia memang sangat jauh sekali dari tipenya Alex tapi dia itu Bunglon," kata Syakieb sesuai dengan penglihatannya selama sekilas bertemu dengan Rita waktu itu.
Syakieb menghela nafas bagaimana bisa mengaku teman tapi sama sekali tidak bisa melihat hal yang semudah itu dari temannya sendiri. Bahkan orang lain yang bukan temannya saja jelas terlihat, ini kok teman yang dekat tapi sama sekali tidak mengerti? Aneh banget! Pikir Syakieb sambil memiringkan satu alis matanya ke arah Ney.
"Kamu itu benar temannya Rita atau hanya mengaku saja?" Tanya Syakieb.
"Aku benar temannya dia kok. Sahabatnya!" Kata Ney sambil sedikit terbata.
"Are you sure? Karena yang aku lihat sepertinya kamu sama sekali tidak bisa membaca sifat teman sendiri padahal sangat mudah lho kalau soal Rita. Aku yakin kamu hanya sekedar teman dalam artian kata saja," Syakieb yakin sekali dengan perasaannya kalau Ney hanya mengada - ada menyebutkan dirinya teman.
"Ya Anda kan baru lihat aku sama Rita, pasti tidak akan tahu," kata Ney yang mulai gelisah dan panik.
__ADS_1
Meski Syakieb masih merasa aneh akhirnya dia menepis pemikirannya. "Maksudku bunglon itu binatang yang bisa merubah warnanya dimanapun dia berada kan. Rita juga begitu dia dengan mudahnya bisa menyesuaikan diri sendiri tanpa diminta. Menurut saya, kenapa dia senang memperhatikan orang adalah agar dia bisa tahu situasi sekelilingnya seperti apa, lalu dia akan menempatkan dirinya untuk mulai mengganti warnanya tapi tetap menjadi dirinya sendiri,"
"Kalau begitu dia palsu dong, syukur aku punya teman lain," kata Ney dengan bangga.
"Dia tidak termasuk orang yang palsu. Saya sudah bilang tadi meski berganti warna dia tetap menjadi dirinya sendiri kan. Dia sesosok teman Real yang bisa menerima orang lain dari berbagai golongan dan status. Harusnya sih kalau kamu sudah sama dia cukup lama, kamu bisa langsung tahu tapi kok malah sampai tidak tahu sama sekali?" Tanya Syakieb yang memiringkan alisnya.
"Aku juga bisa kok kalau seperti itu," kata Ney yang tidak mau kalah.
"Kamu tidak ada kemampuan seperti itu. Kamu tidak cocok dengan Rita. Rita dari awal memang tidak perlu dilatih karena dia mudah mengerti. Suatu hari nanti kalau bertemu dengan Alex dan lingkungannya, dia akan bisa langsung menyesuaikan diri jadi aku sama sekali tidak khawatir. Hanya yang jadi masalahnya adalah Alex dia terlalu tidak berperasaan," kata Syakieb sambil berpikir.
Ney sama sekali tidak suka mendengar hal baik mengenai Rita dan itu tertampak dari wajahnya yang berubah, Syakieb menangkapnya langsung.
"Rita dan kamu sangat berbeda. Kalau menurut kamu hidup tidak adil, karena kamu hanya melihatnya dari luar kulit. Perbedaan kamu dan Rita sangat jelas terlihat dari perawatan badan misalnya. Maaf bukannya aku menjudge kamu seperti apa, tapi sebagai perempuan aku merasa aneh, kamu sama sekali tidak tertarik untuk melakukan perawatan," kata Syakieb menatap tajam Ney.
Ney tampaknya agak risih melihatnya. "Dia itu matre segala macam produk dibeli. Sama sekali tidak bisa menabung," kata Ney yang mengatakan apapun yang nonsense.
"Itu kebiasaan kamu ya mengatakan hal yang terselubung hanya untuk menjatuhkan teman sendiri. Rita bukan perempuan matre, itu sebenarnya kamu. Rita itu lebih suka yang biasa, teman yang bisa saling berkomunikasi baik kalau memiliki teman yang senang berdebat, pasti akan dia tinggalkan. Kamu menurutku yang matrealistis," kata Syakieb yang agak tertawa.
Ney kaget mendengar Syakieb mengatakan itu. Tapi Ney terdiam memang iya dia sangat senang uang daripada hati.
"Selama ini kita baru kenal beberapa minggu, kamu sudah berani meminta dibelikan ini itu, aku sampai sedikit simpati sama kamu. Tapi aku tahan saja memang perempuan seperti itu kan. Tapi harusnya kamu punya harga diri pada seorang lelaki dewasa, jangan meremehkan apalagi menganggap kamu seperti perempuan yang lebih baik. Itu menyedihkan menurutku, dan .... aku sama sekali tidak suka perempuan yang tidak punya harga," Syakieb memalingkan wajahnya dan membersihkan beberapa hiasan.
Ney sedikit memerah wajahnya mengingat memang benar juga dia seperti itu. Baru beberapa hari pun dia berani meminta pulsa kemudian minggu berikutnya meminta dibelikan hal lain. Dia terlalu kelewat percaya diri, merasa lebih pantas bersanding dengannya. Ternyata Syakieb sama sekali tidak nyaman dengan keberadaannya.
"Dari awal saya hanya diperintahkan untuk mengambil paket saja. Tapi kamu yang datang tanpa saya minta, seperti meminta aku untuk menerima lebih kehadiran kamu. Apa ingin menyaingi teman kamu sendiri? Padahal teman kamu memiliki hati yang tulus ingin menerima sebagai teman kamu tapi kamu menolak. Kamu bersyukur kan dia tidak peka?" Tanya Syakieb yang menaruh teko isi air teh di meja.
__ADS_1
Ney sama sekali tidak berkutik saat itu, dia sama sekali tidak bisa berkata apa - apa semuanya diutarakan Syakieb begitu saja. Pandangannya kosong tidak menyangka sama sekali, semua orang bukan hanya Syakieb tapi kebanyakan bertanya kenapa dia bisa memiliki teman padahal kelakuannya sangat miris. Ney banyak bertanya kenapa semua orang memandang Rita sebagai sosok orang yang baik dan mereka seperti menyanjungnya. Bahkan keluarganya sendiri, apa kurangnya dia?
BERSAMBUNG ...