
Ney : "......"
Arfa : "Jadi apa hak dia harus menerima pertemanan dari kamu, setelah kamu seenaknya sakiti dia hanya karena dia lemot, tidak peka? Apa ada hak kamu yang merasa orang paling penting dalam hidupnya? Tidak perlu jadi pribadi yang sok tahu deh sama dia, yang kamu pedulikan hanya rasa senang-senang saja. Yang selalu menemani dia dari susah sampai senang bukan kamu,"
Ney : ".... Siapa kalau bukan aku? Selama ini kan dia hanya dekatnya sama aku saja,"
Arfa : "Eling Neng, Eling! Sadar! Teman dekat dia semasa SMP, SMA, kuliah sampai sekarang dia bekerja. Mereka yang selalu ada. Mereka tidak masalah kalau Rita ini lemot atau tidak peka,"
Ney diam mendengarnya, dia tidak ingin tahu kalau memang benar Rita selama ini tidak berbohong mengenai teman-temannya. Dan dia masih tetap saja percaya kalau satu-satunya teman yang selalu ada.
Arfa : "Saat dia ada masalah dengan laki-laki asing ini, yang paling dia pikirkan bukan kamu, bukan Arnila tapi teman-teman dekatnya,"
Ney : "Lho, kenapa? Kan aku kenal Alex,"
Arfa : "Kamu banyak meracuni pikiran dia, paham? Kamu banyak mengatakan hal-hal negatif yang membuatnya sakit. Apa ada orang yang bisa bertahan dengan orang seperti kamu?"
Ney: "Toh ada Arnila,"
Arfa : "Arnila juga sama kamu racun pikiran dia semenjak kenal kan? Aku heran ya kenapa kamu kenalkan Arnila ke Rita, kalau ujungnya kamu hancurkan mereka berdua? Kamu yang iri sendiri mereka berdua jadi teman yang sesungguhnya. Terus kamu racuni pikiran mereka,"
Ney tidak bisa berkata apa-apa lagi, Toh apa yang dikatakan Arfa semuanya tepat sasaran. Kenapa Arnila harus dikenalkan pada Rita kalai itu malah membuatnya semakin panas?
Arfa : "Menurutku ya sayang sekali kamu sampai menyakiti mereka berdua, di jaman sekarang ya sosok teman seperti mereka semakin langka lho. Arnila menurut aku anaknya baik sekali, sama dengan Rita ini,"
Ney : "Menurut aku tidak, aku yakin Arnila pasti mau merebut Alex kan dia pernah bilang suka juga,"
Arfa : "Itu hanya basa basi saja dia mau menyindir kamu untuk sadar. Alex ini tidak mungkin suka sama kalian berdua sih,"
Ney : "Kenapa? Apa ada yang kurang sama aku?"
Arfa : "Ya bukan kriteria lagian dia tahu kalau kamu lebih suka laki-laki yang dompetnya tebal, mau sejelek apapun yang penting isi saku tebal. Cocok sih sebenarnya kamu sama si laki-laki itu,"
Ney : "SERIUS!? Tapi... kenapa jadinya dia sama Rita?"
Arfa : "Rita menarik, dia sangat unik orangnya dan misterius,"
Ney : "Kalau misalkan aku belum menikah, kira-kira bisa jadi tidak sih?"
Arfa terdiam dan mencoba meramal.
Arfa : "Hmm tidak akan juga,"
Ney tampak lemas. Lah, kalau mereka cocok jangan-jangan Ney memikirkan untuk punya PIL? ( Pria Idaman Lain ).
Arfa : "Soalnya dia tahu kamu matre jadi tidak mungkin sih. Dia ribet orangnya, banyaaaak kriteria dalam otaknya tapi sama sekali belum menemukan yang dia cari,"
Ney : "Apa Rita kriterianya?"
Ney tampak penasaran.
Arfa : "Aku tidak bisa bilang. Yang tahu itu semua hanya Tuhan, aku tidak akan memberitahukan apapun karena penyakit KEPO kamu sangat parah,"
Ney : "Yaaa Arfa ayo kasih tahuuuuu," ( kembali semangat )
Arfa : "TIDAK! Itu bukan urusan kamu intinya kenapa sih kamu senang sekali bisa menghancurkan hidup orang? Kamu bilang kamu ingin orang bahagia seperti kamu, tapi kamu juga yang ada niat menjatuhkan. Ney, kapan kamu mau tobat menyakiti orang dengan mulutmu?"
Ney bete, Arfa sulit dibujuk. Alhasil rasa penasarannya lagi-lagi harus terhenti di tengah jalan. Dia tidak mempedulikan pertanyaan dari Arfa, Arfa juga tidak masalah toh bukan temannya.
Ney : "Lalu apa Arnila tidak akan bisa kembali ke aku lagi?"
Arfa : "Buat apa? Injek-injek dia? Pasang santet? Kamu sudah sangat keterlaluan ya sama mereka berdua. Kamu yang berbuat onar, kamu lemparkan ke mereka saat keadaan mulai kacau,"
Ney : "Ya aku tidak mengira kalau akan separah itu,"
Arfa : "Pelaku Playing Victim yang sebenarnya selama ini adalah kamu! Dalam grup kita kan kamu selalu begitu, kita semua lihat kamu paling gencar mencaci maki. Tapi setelah semuanya kacau, kamu kabur dan timpakan ke anggota lain. Kamu ini memang hobinya mencari kambing hitam untuk disalahkan ya?"
__ADS_1
Ney menatap Arfa dengan kesal tapi tidak bisa membantah. Yaaahh semuanya malah terbuka deh apa yang sering dia lakukan selama ini.
Arfa : "Yang kamu lakukan, yang kamu katakan, kamu lempar ke mereka. Karena kamu tidak mau bertanggung jawab dengan kesalahan kamu. Kalau kamu merasa sudah dewasa, hadapi masalah kamu tanpa membebani ke orang lain,"
Ney hanya diam, berkali-kali rasanya dia ingin menyudahi ramalan ini nyatanya malah membuat dirinya diceramahi. Tapi well, tetap saja masih ada yang mengganjal.
Arfa : "Kalau kamu memang teman yang baik, melihat teman kamu diserang orang lain, usaha dong jadi penengah menjernihkan situasi bukan kabur. Untungnya mereka berdua itu kuat sudah terbiasa mengatasi masalah beda sama kamu,"
Ney : "Ya bagus kan,"
Arfa : "Saat nanti kamu bertemu dengan mereka, segalanya akan berubah. Mereka bukan orang yang sama lagi,"
Ney : "Alaaah aku tidak percaya tuh. Apalagi Arnila dia gampang memaafkan. Lihat saja aku pasti dia maafkan kok,"
Arfa : "Hentikan kebiasaan kamu memanfaatkan air mata dengan niat hati mereka luluh dan mengalah. Mengeluarkan air mata dengan niat membodohi orang, hukumannya berat,"
Ney hampir mau melakukannya tapi tidak jadi. Selama ini itu adalah senjatanya pada siapapun, sebagian ada yang terlena tapi sebagian memilih meninggalkannya.
Ney : "Memangnya kenapa?" ( Menantang )
Arfa : "Air mata adalah salah satu karunia yang Tuhan limpahkan kepada setiap manusia. Benda sakral yang tersembunyi dalam tubuh kita. Ia akan keluar ketika manusia merasa hatinya terluka, bersedih atau tersentuh oleh keadaan,"
Ney : "Aku juga begitu. Aku sedih kok sama mereka berdua yang ingin meninggalkan aku," ( nada sedih )
Arfa : "Aku setuju kalau mereka meninggalkan kamu. Lebih baik mereka cari teman lain yang tidak toxic dan Fake, seperti kamu. Kamu mau jadi atau anggap mereka kalau mereka punya uang banyak,"
Ney : "Tahu apa kamu?! Kenal aku juga tidak,"
Arfa : "Tahu dong sejak kamu datang ke sini, otomatis kamu tidak keberatan kalau aku bisa membuka semua masalah kamu. Tentang kamu, siapa suruh juga datang,"
Arfa menantang balik. Yah, ini sih bukan klien lagi tapi memang seperti bertemu musuh bebuyutan.
Arfa : "Yang aku lihat air mata kamu jadikan sebagai senjata sudah dari kecil. Kamu dimanja kan oleh orang tua jadinya saat dewasa manjanya itu masih melekat. Tidak sedikit yang sudah kenal kamu, mereka memilih pergi kan termasuk setengah anggota grup,"
Arfa : "Teman kamu si Rita dan Arnila juga sudah mencap air mata kamu sebagai air mata buaya. Karena kamu menangis tidak pakai hati, seperti dalam film FTV ya. Kamu itu ada masalah kejiwaan yang harus segera di tangani, Ney,"
Ney : "Enak saja! Jangan macam-macam ya kalau bicara!" ( menggebrak meja )
Arfa : "Kalau marah, berarti benar. Saran aku kamu harus pergi ke psikiater bukan mereka berdua yang normal. Kamu ada sikap memanipulasi orang dengan semua khayalan kamu. Kamu itu sangat senang jadi pusat perhatian, kamu juga yang bilang ke Rita kalau cukup percaya kamu saja kan. Memangnya dia mau?"
Ney menahan genggaman kepalan tangannya. Macam di sidang di pengadilan karena kejahatannya. Padahal Rita bisa ya melaporkan perundungan itu ke polisi saat itu, tapi dia hanya masih syok kalau Ney sangat tega melakukan itu kepadanya.
Ney : "Aku benar kok. Aku lihat teman-temannya itu dekat sama dia karena ada niat tidak baik,"
Arfa : "Mereka memang baik. Teman yang punya niat jelek itu kan kamu, Ney. Saat dia miskin, kamu tinggalkan, ada masalah kamu kabur. Sekarang dia kenal laki-laki kaya, kamu datang sebagai sahabat atau teman dekat. Itu sudah kelihatan sekali, niat kamu memang jelek,"
Ney : "Aku pikir kan seharusnya kalau ada masalah ya lebih baik dia cari sendiri solusinya,"
Arfa : "Tapi kamu maksa dia lho untuk dengar cerita sedih kamu yang lebay itu. Bukankah sebaiknya kamu juga urus masalah kamu sendiri? Kok maksa dia buat dengar?"
Ney tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sering kali dia pintar bicara tapi tidak pernah memikirkan bagaimana atau yang sudah pernah dia katakan. Yah, pokoknya perkataan dia sendiri malah jadi jebakan batman buat dirinya.
Arfa : "Tidak bisa jawab kan? Semua orang bukan solo player di dunia ini. Kamu bisa berkata seenaknya atau berpikiran, mereka juga bisa. Kamu bisa membaca pikiran orang dan menjatuhkan, mereka bisa lakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda,"
Ney : "......"
Arfa : "Soal kelakuan kamu itu membuat keluarga besar Rita marah besar,"
Ney : "Hah?"
Arfa : "Kamu tidak tahu? Banyak tante dan omnya yang memiliki kemampuan supranatural tinggi. Termasuk ibunya jadi mereka tidak butuh melihat chat kalian. Kamu sama sekali belum aman, Ney. Kasihan,"
Arfa menunjukkan kartu pada Ney. Ney kaget sekali, dia tidak menyangka keluarga Rita adalah orang-orang yang memiliki kemampuan juga.
Ney : "Terus mereka mau apa?"
__ADS_1
Arfa : "Semuanya tidak ikhlas melepas kamu begitu saja. Mereka menginginkan peng hakiman. Apa sih enaknya merundung orang? Kamu sudah sering melakukannya, tidak takut kalau suatu hari ada yang mendatangi kamu sambil membawa polisi?"
Ney : "Masa mereka juga sih?" ( nada ketakutan dan dia merapihkan rambutnya dan gelisah )
Arfa : "Kamu mau tahu saran aku?"
Ney mengangguk cepat.
Arfa : "Minta maaf pada ibunya dan keluarga. Cukup pada adik dan kakaknya, bapaknya juga karena entah bagaimana mereka tahu apa yang kamu lakukan sama Rita ini. Bukan Rita,"
Jawaban itu membuat Ney syok berat. Dia memegang taplak meja dan minum air sambil habis.
Ney : "Kenapa juga mereka ikut campur sih sama urusan anaknya?"
Arfa : "Karena mereka semua menyayanginya. Arnila saja yang ada salahnya sedikit, mau bertemu ibunya untuk minta maaf. Kok kamu yang pelaku sebenarnya malah cuma berani minta maaf ke mantan teman kamu ini?"
Ney melongo.
Ney : "Mantan teman?"
Arfa : "Iyalah karena dia sudah tidak ada ikatan apapun lagi ke kamu. Jadi ya memang mantan kan? Teman bukan, teman dekat tidak mungkin. Ya hanya orang luar saja,"
Ney : "Bohong! Mana mungkin dia menganggap aku begitu?! Ini pasti cara licik kamu saja kan?"
Arfa : "Haaah? Buat apa? Kalau niat aku menjatuhkan kamu, itu sangat mudah! SEMUA ya keluarga dia sampai saudara sepupunya, tahu bagaimana kelakuan kamu!"
Ney : "SEMUA!?"
Arfa memandangi Ney tanpa mengulang lagi.
Arfa : "Seharusnya dulu kamu terima dia jadi teman tanpa syarat sama halnya saat kamu dikenalin ke laki-laki asing ini. Sikap kamu netral bukan jadi ajang lain. Kamu bicara ke dia ingin lihat Rita bahagia, tapi sikap kamu ke Rita tidak semestinya,"
Ney : "Jadi Alex menyadari semuanya? Apa itu alasannya dia tidak pernah mengobrol lagi sama aku?"
Arfa : "Iya. Dia muak sama kamu, karena kamu bersikap bak pengertian padahal hanya ingin dilihat bagus oleh dia. Kamu menukarkan pikiran ke dia dan melawan Rita karena pasti berkata jujur. Kasihan Rita dia menghadapi kalian bertiga sendirian, tidak ada yang membelanya. Bahkan teman palsu seperti kamu yang hanya ingin menumpahkan hobi tukang bully,"
Ney : "Aku..."
Arfa : "Kamu ungkapkan semua kekurangan dan kelemahan dia di depan Arnila, itu kan tidak pantas,"
Ney : "Aku sudah bicarakan dengan Rita secara pribadi,"
Arfa : "Terus kamu paksa dia untuk mengubah karakternya? Ney, kamu itu sakit jiwa! Serius kalau aku ada disana saat itu, aku akan habisi kamu mati-matian! Meski aku dan mantan kamu bertolak belakang, tapi perbuatan kamu sangat keterlaluan!"
Arfa memarahi Ney dengan suara sangat keras. Ney tidak bisa membantah, dia agak terisak. Sentakan suara dari Arfa membuatnya mengusap air mata. Sekeras itukah Ney? Harus dimarahi keras baru mengerti? Ter-La-Lu!
Asisten menyalakan kipas angin yang membuatnya berusaha tenang. Ney hanya terdiam sambil sesekali menangis pelan.
Arfa : "Haiyaaaa aku ingin ini segera berakhir tapi masih ada pesan untuk kamu. Tolong ya kamu gunakan otak kamu dengan benaaaar. Kalau kamu sudah tahu, kamu jaga hubungan pertemanan kalian! Laki-laki asing itu datang, kamu malah membela dia! WTF!"
Ney : "Oke Fa, kali ini aku mau berubah! Jadi orang yang lebih baik lagi," ( suara serak )
Arfa : "Tidak ada gunanya! Itu hanya bulshit! Meski kamu ada niat berubah, kesempatan kamu untuk kembali pada Rita ini, itu sudah tidak ada. Kalau kamu memang temannya, sejak dulu kamu mengubah kebiasaan,"
Ney : "Ya tidak bisa secepat itu,"
Arfa : "Tidak bisa? Kenapa? Kamu juga memaksakan hal yang sama ke mantan teman kamu. Aku minta kamu, kok bilangnya tidak bisa secepat itu?"
Ney : "Butuh waktu, butuh proses!"
Arfa : "Kamu mengerti tapi tidak mau bersabar. Buat apa? Supaya kamu bisa pansos ke semua orang!? Pantas kamu langsung ditinggalkan sama dia begitu saja,"
Arfa pergi sebentar untuk menenangkan pikiran. Sisi lain, Arfa senang karena dapat mengetahui banyak hal masalah yang Ney lakukan kepada temannya sendiri. Sisi lain Arfa merasa kasihan pada kedua korbannya.
Bersambung ...
__ADS_1