
"Ney, kamu sedang sibuk atau tidak?" Tanya Arnila yang iseng.
"Lagi persiapan sih tidak begitu sibuk. Ada apa?" Tanya Ney.
"Aku sudah kirim email permintaan maaf ke Rita. Alhamdulillah dia sudah lama memaafkan aku. Kamu sudah?" Tanya Arnila.
"Oh," kata Ney tidak peduli. Dia sibuk memilih baju pengantin , dirinya memang tidak ada niat meminta maaf. Baginya tetap Rita yang salah semua yang telah dia buat hanya untuk dirinya.
Toh Arnila dimaafkan sudah pasti dirinya juga jadi tidak perlu mengirimkan apapun.
"Jangan bilang kamu sibuk ya. Aku hanya peringatkan sudah banyak orang yang kamu sakiti termasuk Rita dengan kelakuan sok tahu kamu. Aku tahu kamu orangnya anti minta maaf meski memang itu salah kamu sendiri. Supaya rumah tangga kamu nanti tidak banyak masalah," kata Arnila yang melihat ternyata kehidupan rumah tangga Ney tidak normal.
"Sudah dulu ya aku sibuk nih," kata Ney yang mematikan netnya.
Bulan berikutnya, tanpa ada kabar apapun dan Rita masih dengan Alex. Saat itu Arnila berada di pernikahannya Ney, dia mencari Rita tapi anehnya tidak ada.
"Kenapa sih kamu? Cari siapa?" Tanya Ney yang bersiap dengan gaun pengantinnya.
"Kamu undang Rita tidak?" Tanya Arnila.
"Aku undang kok lewat WhatApp, dia lagi sibuk kali kan sudah dapat pekerjaan," kata Ney tidak memandangi Arnila.
"Oh ya?" Tanya Arnila memandangi luar ruangan.
Lalu acara pun berlanjut sampai pukul 11 Arnila tidak melihat kedatangan Rita. Lalu karena agak tidak percaya Ney, dia menghubungi Rita.
"Assalamualaikum, Rita?" Tanya Arnila dalam teleponnya.
"Yaaa walaikumsalam. Ada apa, Arnila?" Tanya Rita yang kelihatannya baru bangun.
"Kamu kok tidak datang? Lupa ya?" Tanya Arnila.
"Hah? Datang kemana? Hoaaaa," jawab Rita yang menguap.
"Pernikahannya Ney dong. Aku tunggu kamu fari tadi nih," kata Arnila dengan aneh. Tampaknya Rita kok santai ya?
"Hah!? Dia nikah hari ini? Aku tidak tahu, aku tidak diundang," kata Rita yang sadar dia tidak diberi undangan apapun.
"Serius?" Tanya Arnila kemudian kesal karena sudah dibohongi.
"Tidak aneh sih dia seperti begitu see? Dia sendiri tidak menganggap aku seperti kamu. Email yang kamu tanyakan juga sampai sekarang tidak ada. Biarlah aku juga tidak peduli sama anak sombong itu," kata Rita.
"Kata dia sudah dikirim lewat WA. Masa tidak ada?" Tanya Arnila.
Rita lalu mengirimkan dari hari sebelumnya sampai sekarang. "Aku tidak bohong, kalau ada ya pasti ada buat apa juga aku hapus," kata Rita.
"Ya Allaaah ughhhh aku sudah bilang dia beberapa kali. Lalu bagaimana dong? Mau aku kirim souvenirnya?" Tanya Arnila.
"Ihh amit-amit buat apa? Tidak perlu, tidak penting juga. Aku ogah deh punya barang dari dia," kata Rita bete.
"Jangan begitu Rita, bukan salah barangnya orangnya saja yang memang ya begitulah," kata Arnila tertawa.
"Sudah ini kamu buat grup ya aku mau sindir dia," kata Rita.
"Oke deh tapi kalai tetap tidak ada minta maaf bagaimana?" Tanya Arnila.
"Biar Allah yang urus," kata Rita.
"Oke deh kalau begitu." Arnila mengakhiri teleponnya. Dia kesal bukan main siapa yang salah coba?
Setelahnya Arnila mengajak Imron untuk pulang karena ternyata Rita tidak datang.
"Eh, kok pulang sih? Temenin aku samapi selesai dong," kata Ney dalam balutan baju pengantin Jawa.
"Ada urusan lagian Rita ternyata tidak kamu undang," bisik Arnila di telinga Ney.
Membuat senyum Ney menghilang lalu Arnila pamit kepada orang tua Ney. Dan pulang saat itu juga, Ney menunduk dia terpaksa senyum pada beberapa orang. Dins terlihat bahagia lalu mereka duduk.
"Kamu kenapa?" Tanya Dins.
"Arnila marah sama aku," kata Ney menunduk.
"Karena?" Tanya Dins.
"Aku tidak mengundang Rita," kata Ney.
"Kenapa kamu tidak undang? Bukannya kalian berteman baik?" Tanya Dins yang juga heran.
"Ya karena Rita tidak pernah mau nurut sama apa yang aku sarankan jadi untuk apa diundang kan. Aku tidak salah kan?" Tanya Ney ke suaminya itu.
Wajah Dins agak bete juga. "Sudah ke depannya kamu jangan dekat lagi dengan Rita ya, kamu sudah punya teman yang lain," katanya lalu memeriksa ponselnya.
"Kenapa memangnya?" Tanya Ney penasaran.
"Kamu tidak ada cocoknya dengan Rita. Dari awal aku lihat kamu dan dia, sama sekali tidak ada jalur yang sama. Kamu sangat egois saat Rita peduli sama kamu," kata Dins memberikan apa yang dia lihat.
__ADS_1
Ney terdiam, dia menunduk dan mengeluarkan air mata di hari pernikahannya.
"Dan Ney, satu hal lagi jangan pura-pura sedih. Aku sudah tahu senjata kamu itu air mata sayangnya tidak ada rasa saat melihatnya. Jangan kamu gunakan itu supaya mereka simpati," kata Dins dengan tegas.
Ney menghapus air matanya Dins sudah tahu dan kebal dengan perilakunya karena itulah yang dia lakukan saat mengobrol dengan keluarganya. Pantas mereka agak setengah hati menyetujuinya.
Beberapa Minggu terlewati tibalah hati Minggu lagi. Sesuai rencana, Arnila membuat grup.
"Lho? Buat grup lagi?" Tanya Ney bingung.
"Cieee selamat yaaa yang sudah jadi istrinya Dins. Bagaimana pengalaman hari pertama?" Tanya Arnila.
Rita belum menyapa karena sedang diberikan tugas rumah oleh ibunya.
"Wah, pokoknya heboh deh!" Kata Ney. Dia lalu menceritakan malam pertamanya seperti apa. Dan ada rencana bulan madunya juga.
Rita baca semuanya. "Ney, minta alamat rumah kamu," katanya.
"Eh, iya Rita kenapa kamu tidak datang? Alamat untuk apa?" Tanya Ney.
"Hah? Kapan kamu undang tidak ada pemberitahuan kemarin Arnila tanya. Aku mau kirim kado. Maaf ya, aku tidak datang soalnya tidak diundang kan aku tahu dirilah. Mana mungkin kamu undang kan aku bukan teman kamu," kata Rita langsung to the point.
Ney panik masalahnya Arnila ada di sana juga. Dia tidak membalas pertanyaan Rita. Dia baru mengerti kenapa grup ini diadakan lagi.
"Ini Rita," kata Arnila memberikan alamat rumah Ney.
"Hahhh parah ya Nil, tidak diundang eh yang beri alamat rumah malah kamu. Yang salah siapa ya kalau kamu tidak mau jadi teman aku, bilang saja dari awal kita kenal. Kalau kado aku sampai, kasih tahu ya tapi kalau kamu takut aku kirim santet, doakan saja pakai ayat Kursi. Eh memangnya kamu bisa baca Ayat Kursi?" Tanya Rita langsung menyindir dengan pedas.
"Aku sibuk, Rita kan harus mempersiapkan segalanya jadi lupa aku tidak tulis nama kamu," kata Ney membela diri.
"Masa sih? Menulis nama Arnila tidak lupa kan aneh ya? Tidak masalah kuga sih dari awal juga kamu yang memang benci aku, aku kan sering kamu tipu. Heran ya sejeleknya kamu, aku masih bisa tahan," kata Rita jutek.
"Bukannya yang menyiapkan persiapan pernikahan itu pihaknya Dins? Kamu tinggal duduk saja deh. Lalu yang buat undangan kan Ibu kamu, tidak mungkin untuk Rita terlupakan," kata Arnila yang melihat semuanya sebelum pernikahan.
"Aku masih ada nih undangannya. Mau aku kirim ya," kata Ney tidak menggubris.
"Ney, sadar dong acaranya sudah lewat. Kamu itu keterlaluan sekali, sejeleknya Rita menurut kamu, dia yang pertama kamu kenal waktu di SMP. Hanya karena beda pendapat tidak seharusnya membuat kamu tidak mengundangnya," kata Arnila.
"Ya kali kamu mau lihat buktinya nih ada. Baru nemu tapi souvernirnya sudah habis," kata Ney.
"Tidak perlu, tidak ada gunanya dan sudah tidak penting," kata Rita menghela nafas.
"Ya sudah. Eh, aku bulan depan mau ke Malaysia bulan madu. Ada yang mau titip tidak?" Tanya Ney gembira.
Arnila memijat dahinya, Rita tidak peduli. Dia menitip kado terserah adiknya mau apa untuk Ney. Setidaknya Alex juga sudan tidak memperdulikan soal Ney karena memang dia lihat orangnya parah.
Rita tidak membalas karena memang tidak ada kepentingan juga dia di dalamnya.
"Alex kan orang Malaysia sepertinya aku mau janjian bertemu dia saja deh kalau Dins sedang kerja," kata Ney sengaja membuat masalah menjadi keruh lagi.
"Mulai deh baru juga menikah. Aku lapor Dins ya hati-hati lu," kata Arnila.
"Biarkan saja Nil, biar dia di cerai sekalian. Kasihan Dins punya istri kaya dia. Miris hidupnya," kata Rita membuat Ney diam.
"Tanyain dong Rita, aku tidak bisa hubungi dia," kata Ney punya niat untuk memanasi Rita lagi.
Tapi Rita lebih memilih mengerjakan pekerjaannya daripada harus membalas omongan Ney. Ney lalu berusaha meng-hack email Rita tapi anehnya tidak bisa.
"Rita, nama email kamu apa sih?" Tanya Ney yang memang tidak peduli apa kata Rita tadi.
"Buat?" Tanya Rita keheranan.
"Ya aku mau bilang ke Alex ketemuan pakai email kamu," kata Ney yang keceplosan sama sekali tidak sadar kalau aksinya sudah ketahuan.
"Oh jadi karena aku tidak mau kasih tahu, kamu berniat mau pura-pura jadi aku? Jahat ya pikiran lu. Aku kira kalau sudah menikah otak kamu setidaknya sudah upgrade jadi lebih baik ternyata sama saja!" Kata Rita.
Ney yang menyadari sudah salah mengetik, mengutuk dirinya sendiri. "Ya kamu kan tidak bisa ke sana jadi biar aku saja maksudku begitu," jelas Ney berusaha.
"Sori deh daripada kamu terus urusi urusan orang lebih kamu mulai urusi hidup kamu deh. Belum tentu benar juga kan keputusan kamu menikah," kata Rita dengan bete.
"Ih, apa sih ya aku kan cemas tahu sampai sekarang kamu masih belum laku saja, aku ini kan baik hati ya aku jadi pengganti kamu buat ketemu sama Alex. Hanya itu kok jadi panjang ya urusannya," kata Ney bete juga.
"Tidak butuh perhatian palsu kamu. Kalau memang kamu cemas dari awal kamu dukung aku sama Alex bukan plin plan macam permen nano-nano," kata Rita.
"Sudah sudaaaaah! Apa yang Ney katakan bagus sih tujuannya tapi apa yang Rita bilang juga ya aku setuju. Intinya Ney, sudah cukup kalau Rita tidak mau dibantu kamu tidak perlu memaksa. Kalau ikhlas pun kamu maju tapi lakukan dengan benar bukan cari untuk dipuji atas usaha kamu. Berhenti kepo soal urusan mereka berdua, kapan sih kapok?" Tanya Arnila menengahi mereka lagi.
"Ya aku kan hanya memberi pilihan. Memangnya kamu tidak malu masih jomblo?" Tanya Ney yang mengetawakan.
"Rita mau jomblo sampai berapa abad itu bukan urusan kamu, Ney. Toh kamu bantu dia juga pakai hitungan, pantas saja Rita muak," kata Arnila.
"Aku kira kamu sudah menikah pemikirannya dewasa bisa bijak eh sama saja seperti anak SMP. Mana sudah ada niat jelek juga baru menikah," kata Rita.
"Oke oke! Aku tidak akan meminta lagi daripada semakin panjang. Urusan Alex jadi urusan kamu, oke? Aku mundur jangan minta tolong lagi sama aku!" Kata Ney kesal akhirnya.
"Ah, kamu mah cuma ngomong doang nanti juga pasti balik kepo lagi. Aku yakin. Ney, rasa iri itu tidak akan pernah hilang kalau dari awal kamu tidak ada niat berbesar hati. Penyakit iri yang paling sulit dihilangkan," kata Rita mengingatkan.
__ADS_1
Ney terdiam. Memang dia iri dengan kehidupan yang Rita miliki, yang Arnila miliki juga. Dia merasa insecure sebenarnya bisa mengenal mereka berdua. Apalagi sekarang Rita akan lebih tinggi nanti, hatinya yang menghitam semakin hitam. Akan semakin buta dan tidak bisa melihat apapun selain terus iri dengan kehidupan orang lain.
"Kamu pernah iri tidak sih dengan orang lain?" Tanya Ney.
"Ya pasti selalu ada," jawab Rita.
"Apa?" Tanya Ney ingin tahu.
"Tidak perlu kamu tahu karena kamu bukan orang yang punya pemikiran baik. Oh iya ini foto Alex," kata Rita memberi tahu fotonya.
"GILAAAA GANTENG PARAH!!" Teriak mereka berdua.
"Kenapa kamu baru beritahu sekarang sih?" Tanya Ney merasa terkhianati. Apalagi kini lebih panas lagi hatinya.
"Tidak perlu merasa kalah atau panas, Ney. Wajar Rita mendapatkan Alex seganteng ini," kata Arnila menangkap aura membara dari Ney.
"Kapaaaaannn si Ney tidak kepanasan? Kita dingin dia panas sendiri," kata Rita yang tahu pasti dia kepanasan.
"Bagus kan Rita beritahu waktu kamu sudah menikah. Memangnya ada efek kalau dia beritahu kamu belum menikah?" Tanya Arnila.
"Tidak ada sih," kata Ney. Meski dia akan berusaha mendapatkan Alex pun, hatinya tidak ada untuknya dan tidak berminat juga.
"Sudah kamu pantasnya sama Dins. Dia kan hasil doa kamu makanya bisa menikah," kata Rita puas sekali membuat Ney sebal.
Awal dia SMP ke SMA Ney selalu memamerkan semua kekasihnya yang berganti. Lalu juga mengejek Rita karena masih saja tidak memiliki kekasih tidak seperti dirinya. Kekasihnya memang ganteng semua tapi tidak ada yang seperti Alex, berduit atau kaya.
Rita tidak peduli dan tidak pernah mengatakan apapun yang ada dia mengubah arah haluannya untuk mencari sahabat yang lain. Saat Ney tersadar, Rita sudah berada jauh dengan sahabat dan teman dekatnya yang baru. Sedangkan Ney masih saja di alur yang sama.
Sekarang gilirannya yang membuat dia diam kalau Allah itu Adil. Memperlihatkan gadis jomblo yang menurutnya norak luar dalam, disukai Alex yang anak milyuner apalagi paling pintar otaknya.
Menyukai Rita yang pemikirannya sederhana tidak pernah ada yang macam-macam.
Apalagi Alex menyukainya karena Rita terjaga luar dalamnya, hal itulah yang tidak dimengerti hanya oleh Ney.
"Ini asli dia?" Tanya Ney takjub. Dari masih mudanya saja sudah buat mata silau apalagi usia sekarang.
"Itu usia dia di 18 tahun, yang sekarang sih rahasiaaa," kata Rita.
Ney bengong. "Ini usia 18 tahun lalu!? Usia segini saja sudah buat aku jantungan. Wah gila si Rita," pikir Ney kesal. Dia jadi menyesal sudah memaksa Rita memperlihatkan fotonya.
"Aku sengaja memperlihatkannya saat kamu sudah menikah. Supaya kamu tahu aku yang norak dan Nerd ternyata bisa kan dihinggapi lelaki lebih berkelas dari kamu," kata Rita dengan bangga.
"Wah! Jadi kamu pernah dikatakan begitu?" Tanya Arnila.
"Pernah tapi aku tidak peduli. Dia tidak tahu kalau aku berdoa suatu hari nanti Allah akan membalas semua perbuatannya. Nih keluar, kasihan deh lu," kata Rita tertawa akhirnya saat itu terbalaskan.
"Iya yang ini mah gila benar deh. Salut deh jadinya kita belajar rendahkan kalimat jangan menghina," kata Arnila. Dia juga selalu menjaga omongan dan perilaku katena kita tidak akan pernah tahu ke depannya bagaimana.
Ney diam dia marah, kesal apalagi cemburu kelas berat. Alex masuk ke dalam tipe yang dia cari sejak dulu tapi.. diakuinya dalam hati Alex memang hanya ada Rita seorang. Apalagi ibunya yang memakai hijab juga Alex mencari wanita yang berhijab.
"Kalau kamu nanti menikah sama dia jangan lupa ya undang aku. Terus bayarin juga pesawat terbang kita, hotel dan lainnya. Dia itu kaya buat dia tidak akan masalah. Janji," kata Ney yang bertingkah.
"Tidak mau. Itu mah kamu saja yang buat janji, aku punya rencana lain," kata Rita menolak.
"Kok kamu begitu sih?! Masa teman kamu lupakan saat senang?" Tanya Ney.
"Siapaaaaaa ya yang tidak undang aku ke pernikahannya? Ah yaaa aku memang bukan teman dia juga sih, malahan tidak pernah dianggap. Tahu tidak Nil, waktu dia tahu aku kenal Alex saja baru dianggap ada," kata Rita menyindir.
"Iya aku juga tahu itu kok. Beberapa teman grupnya juga ada yang tidak dia undang kok Rita. Aneh kan ya," kata Arnila.
"Jadi buat apa aku undang orang itu ke nikahan aku? Aku saja tidak penting bagi dia, malas ah," kata Rita.
"Lihat saja ya Rita kamu tidak akan pernah jadi dengan Alex! Kamu sama dia tidak ada jalan takdirnya! Kalau kamu mau bahagia, kamu harus undang aku!" Kata Ney marah.
"Ooogaaaah. Diancam seperti itu memangnya aku tidak bisa. Hidup kamu juga tidak akan pernah baik-baik saja. Rasain!" Ucap Rita sudah lepas kendali.
"STOOOPPP!!! Ini kenapa sih pada nyumpahin begitu? Suruh siapa kamu tidak undang Rita, kalau dia menikah bukan urusan kamu juga dia mau undang atau tidak. Sudah deh Rita, kamu juga jangan ikut-ikutan sampai sumpahin hidupnya begitu," kata Arnila pusing.
"Tuh teman kamu tuh mulut kotor dipelihara. Heran aku kok bisa-bisanya bertahan sama dia mengaku teman, separah ini!" Kata Rita sebal.
"Kamu juga Ney bisa tidak sih tidak menyumpahi orang keluar lagi kebiasaan kamu. Segininya ya kamu punya dendam sama Rita, hidup dia sama kamu itu pasti selalu ada naik turun untuk apa kamu sumpah segala? Iri kamu Rita bisa dapatkan tipe kamu?" Tanya Arnila yang juga marah.
"Aku kan sudah bilang sibuk makanya tidak bisa undang dia," kata Ney yang juga sudah marah.
"Sibuk? Dins yang bilang ya kerjaan kamu hanya jalan-jalan dengan teman lain. Padahal yang lain sibuk menyiapkan acara. Aku juga dapat laporan kalau kamu cerita ke mereka soal Alex, yang dia suka sama kamu. Itu bukannya cerita Rita ya?" Tanya Arnila.
Ney diam tidak bisa membalas apapun lagi semuanya terbongkar langsung. Dins juga tahu dan memang 2 hari mau menikah, sudah ada pertengkaran juga. Tapi akhirnya Ney memutuskan untuk terus melanjutkan pernikahannya dan berjanji untuk setia kepadanya saja.
"Wahahahahaha cerita orang bisa-bisanya kamu plagiat. Tidak heran deh skripsi saja dia 8x di plagiat. Aku off dulu," kata Rita mematikan netnya.
"Siapa yang bilang?" Tanya Ney menggigiti jempolnya.
"Orang yang pernah kamu tipu waktu datang ke pernikahan aku," kata Arnila.
Semuanya hening.
__ADS_1
Bersambung ...